
Selepas kedatangan Shrie, Shinta dan Sakya, adipati Sena berdiri dari duduknya dan berbicara kepada penduduk Lokapatti: "Penduduk Lokapatti, hari ini adalah hari istimewa bagi kota Lokapatti. Hari ini kita akan menerima anggota keluarga baru yang akan menambah kejayaan kota Lokapatti, bahkan umat manusia seluruhnya. Dia adalah Vaidya Shrie."
Adipati Sena berhenti dan melihat ke arah Shrie. Shinta dengan sigap menyuruh Shrie datang ke tempat adipati Sena. Setelah berdiri di samping adipati Sena, dia melanjutkan pidatonya, "Shrie merupakan ... Aku mengangkatnya sebagai anak angkat dan aku berharap ...."
Intinya, adipati Sena bercerita tentang kemampuan Shrie sekaligus mengangkat Vaidya Shrie menjadi anak angkatnya dan berharap penduduk lain memperlakukannya dengan baik.
"... Lokapatti, terimalah anakku, Shrie." Adipati Sena menghentikan pidatonya dan semua Penduduk Lokapatti bertepuk tangan.
Shrie hanya berdiri mematung. Kali ini giliran dia untuk berbicara. Dia benar-benar tidak siap untuk berbicara di depan banyak orang. Tidak sekarang, bahkan tidak di masa depan.
"Vaidya Shrie sembuhkan aku!"
"Kumohon Vaidya Shrie, sembuhkan suamiku."
"Vaidya Shrie, sembuhkan aku!"
Penduduk kota yang sakit mulai memohon pada Shrie untuk disembuhkan. Shrie tetap diam, yang bergerak hanya rambut dan pakaiannya yang tertiup angin.
"Kita sembuhkan mereka yang sakit sekaligus. Kau hanya perlu berdoa, aku yang menyembuhkannya dengan pranaku," perintah Sakya melalui telepati terdengar.
Shrie kemudian menyanyikan doanya,
“Oh ... Ekadeva,
dewa segala dewa
Penguasa seluruh makhluk bernyawa
Yang mengatur hidup dan mati
Dengarkanlah permintaan sepenuh hati
Oh ... ekadeva
Berikanlah aku kekuatan
Memperpanjang kehidupan
Seorang hamba-Mu yang penuh kelemahan.”
Sakya mulai mengeluarkan prananya menyebar ke seluruh alun-alun Lokapatti.
Penduduk mulai terdiam saat tubuh mereka terasa hangat. Mereka yang sakit, merasakan sakitnya berangsur-angsur mulai berkurang. Mereka yang tidak sakit merasakan tubuhnya semakin bugar. Keajaiban ini tidak hanya dirasakan oleh para penduduk namun oleh mereka juga yang duduk di kursi sebelah utara.
Semua mulai bertanya-tanya dalam hati, apakah ini kemampuan Shrie sendiri? Atau kemampuan dewanya? Manusia seperti apa yang sanggup menyembuhkan ratusan orang dan membuat ribuan orang menjadi segar kembali? Jika ini karena Ekadeva, lantas bagaimana dengan dewi Daru yang selama ini mereka sembah?
Begitu banyak pertanyaan tanpa jawaban. Satu hal yang pasti, penduduk semua mulai percaya kehebatan Vaidya Shrie dan keberadaan Ekadeva. Dengan sedikit keajaiban lagi mungkin mereka akan langsung menyembah Ekadeva dan meninggalkan dewi Daru.
__ADS_1
Baik balapati Mara, adipati Sena dan terutama Pandita Sava mulai mengernyitkan keningnya. Dia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada agama yang dipimpinnya. Apa yang akan terjadi saat penduduk meninggalkan dewi Daru dan mulai menyembah Ekadeva?
"Adipati Sena, bagaimana ini? Kalau ...,"
Adipati Sena mengangkat tangannya memotong ucapan pandita Sava. "Kita selesaikan satu-persatu."
"Apa yang kau pikirkan, Adipati? Seharusnya kita bunuh mereka," bisik balapati Mara.
"Jaga mulutmu Mara! Jika sesuatu terjadi pada anak angkatku, aku pastikan kita hancur bersama. Kau lupa alasan mengapa aku mendirikan kota ini? Pergilah!" Adipati Sena bicara dengan suara yang hanya didengar oleh balapati Mara.
Balapati Mara langsung berdiri dan meninggalkan alun-alun. Daurjana yang melihat ayahnya pergi langsung mengikutinya.
"Ayah, apa yang terjadi?"
"Daurjana, coba kau pikirkan cara yang tepat untuk menyingkirkan adipati kemudian diskusikan lagi denganku!" jawab balapati Mara.
"Baik, Ayah. He he, bagaimana dengan Shinta dan Shrie? Emm bolehkah aku memiliki mereka?" bisik Daurjana, mulutnya menyeringai lebar seperti ular.
"Huh, kau dan penyakit gilamu itu. Lakukan yang kau mau," sindir balapati Mara.
Kemudian mereka naik ke kuda mereka dan pergi.
Setelah berpura-pura menyembuhkan penduduk di alun-alun, Shrie kembali ke tempat duduknya. Adipati Sena menggantikan tempat dia berdiri dan berkata, "Penduduk Lokapatti, sekarang waktunya untuk berpesta, selamat menikmati."
Gendang-gendang dan alat-alat tiup dari bambu mulai berbunyi. Para penari mulai tampil dan beraksi. Penduduk Lokapatti pun mulai sibuk melihat-lihat barang dagangan yang dijajakan di sekitar alun-alun, sementara yang lainnya ikut menari bersama para penari.
"Kalian tidak ingin melihat-lihat sekitar alun-alun?" tanya Shinta.
"Tentu saja, kalian bukan tahanan. Pergilah! Dan selamat menikmati." Shinta pergi ke arah ayahnya sambil tertawa.
Adipati Sena kini duduk sendiri karena tidak lama setelah balapati Mara pergi, pandita Sava ikut pamit pergi.
"Ayah, kekuatan Ekadeva sungguh luar biasa. Apakah ayah yakin tidak akan ada masalah?" tanya Shinta pada adipati Sena.
"Tidak masalah pada dewa manapun kita menyembah, selama cara hidup kita tidak berubah," jawab adipati Sena.
"Yang kumaksud dengan pandita Sava," tukas Shinta. "Dia akan kehilangan pekerjaannya. Dia tidak akan melakukan hal yang gila kan?" Shinta kembali bertanya.
"Untuk saat ini dia tidak akan berani. Tapi, aku tidak yakin dengan Mara. Ayah merasa dia sudah tidak kuat menahan keserakahannya untuk cepat berkuasa," jawab adipati Sena lirih.
"Aku akan melindungi Shrie. Aku mengerti betapa pentingnya dia bagi kota ini."
"Tidak hanya kota ini, tapi untuk seluruh umat manusia. Kau tahu jika ada Aida dan Shrie, ada kemungkinan ada Aida dan Shrie-Shrie lainnya di dunia ini. Aku curiga Sakya juga mempunyai satu keistimewaan dari manusia lain," gumam adipati Sena, seraya menatap Shinta.
"Dia ... Tidak—tidak, dia terlalu bodoh untuk menjadi manusia istimewa," cela Shinta menggelengkan kepalanya.
"Ha ha, sudahlah. Mari kita pulang, biarkan mereka berdua melihat-lihat kota, mereka bisa pulang sendiri," kata Adipati.
__ADS_1
✤✤✤
"Achu ...." Tiba-tiba saja hidung Sakya gatal dan bersin. Apakah aku akan sakit? Sakya merasa aneh karena sudah lima tahun ini dia tidak pernah sakit.
"Vaidya Shrie, tunggu ...!" Seorang anak kecil berumur sepuluh tahun berlari mengejar Shrie. Shrie dan Sakya menoleh kebelakang dan menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Nak? Apakah kau sakit?" tanya Shrie sedikit membungkuk.
"Tidak Vaidya. Kau sudah menyembuhkanku. Aku menemui Vaidya untuk menunaikan janji kakekku," ungkap si anak.
"Oh, janji apakah itu?" Shrie mengernyitkan keningnya. Dia tidak ingat ada seseorang berjanji padanya. Dia baru tiga hari berada di kota Lokapatti.
"Namaku Vatsa, kemarin Vaidya menyembuhkanku di alun-alun Lokapatti. Kakek sudah berjanji, apabila ada seseorang yang menyembuhkanku maka dia bersedia menyerahkan hidupnya. Emmm ... Karena kakekku sudah tua, aku yang akan menggantikannya. Ijinkan aku melayanimu seumur hidupku Vaidya Shrie." Vatsa langsung berlutut di hadapan Shrie.
"Haiz, tidak perlu ... Sungguh tidak perlu ... Kalian tidak berhutang apapun padaku. Pergilah! Sana temani Kakekmu," ujar Shrie.
"Tidak bisa, Vaidya. Kata Kakekku, janji harus ditepati, kalau tidak di tepati maka selamanya kita akan ditimpa kesialan," tukas Vatsa. Wajahnya begitu serius.
"Hmmm, baik, Vatsa kau bisa melayaniku. Sekarang aku perintahkan kau melayani Kakekmu. Pergilah! Laksanakan perintahku," titah Shrie pada Vatsa.
"Baik Vaidya, besok aku akan menemui lagi," kata Vatsa.
"Tidak perlu! Perintahku temani Kakekmu seumur hidupnya!"
"Iya Vaidya Shrie. Tapi besok adalah hari terakhir Kakek ada di kota ini. Besok Kakek sudah terpilih untuk ikut perayaan dewi Daru. Aku tidak bisa ikut dan mereka yang ikut perayaan tidak pernah kembali ke kota ini," ungkap Vatsa.
"Mengapa?" Shrie terkejut.
"Kakek bilang, dewi Daru membawa mereka ke tempatnya yang indah. Jadi hari ini adalah hari terakhir aku bersama kakekku."
Vatsa terdiam, kemudian menunduk. Sepertinya dia berusaha menahan untuk tidak menangis tapi, Shrie dan Sakya bisa mendengar isaknya.
Shrie menatap Sakya dan Sakya hanya mengangguk dan tersenyum.
"Vatsa, hari ini kau temani Kakekmu dulu dan besok kau boleh mencariku!" titah Shrie pada Vatsa.
"Terima kasih Vaidya Shrie." Vatsa langsung pergi.
"Apakah kau yakin akan baik-baik saja Kak?" tanya Shrie pada Sakya.
"Ha ha ha, kau pikir masih ada yang sanggup menyakitiku?" Sakya tertawa lepas, "kau tidak perlu khawatir."
"Baik, jika kau tidak kembali, aku pastikan kota ini hancur. Akan ada banyak darah ... Banyak mayat bergelimpangan dan banyak ..."
"Hei, Aku pasti kembali. Kau tenang saja ah. Kau seorang perempuan, harus penuh kasih sayang ah. Kau pura-pura tidak tahu saja sampai aku kembali." Sakya berusaha menenangkan Shrie yang mulai menunjukkan emosinya.
"Oh, Aku akan penuh dengan kasih sayang. Aku akan membunuh mereka dengan cepat, tanpa rasa sakit, akukan perempuan ah," gumam Shrie, langsung pergi meninggalkan Sakya.
__ADS_1
"..."
Huh, Varna pasti menyembunyikan sesuatu tentang perempuan. Tidak pernah sangka kalau mereka sangat berbahaya. Menakutkan.