
Shinta terdiam memandang bulan yang bersinar. Tidak peduli apa yang dilakukan makhluk hidup yang ada di bawahnya, sang bulan akan terus menemani langkahnya, bersinar menerangi jalan mereka seterang yang dia mampu. Tanpa pernah meminta balasan. Bisakah aku menjadi bulan? Yang selalu menerangi jalan disetiap langkah Sakya. Shinta mendesah lirih.
✤✤✤
Ketika pagi menjelang, Nayaka tiba di pendopo dengan perbekalan di pundaknya.
“Bratha Nayaka, maaf aku harus merepotkanmu,” sapa Sakya.
“Tidak … Tidak merepotkan sama sekali, aku memang berencana liburan seminggu ini. Akan menyenangkan berada di alam terbuka setelah pertempuran kemarin,” jawab Nayaka dengan senyum yang lebar.
“Bagaimana kalau kita berangkat sekarang? Kita bisa tiba besok siang.” lontar Nayaka.
“Baik. Mari.”
“Kakak, Aku tidak ikut ya, ada yang harus kulakukan dengan Aida. Jadi pastikan kau hati-hati dalam perjalanan!” tutur Shrie yang datang bersama Aida.
“Aku akan kembali.” Sakya tersenyum pada Shrie. Dia senang Shrie sudah menemukan tempat yang nyaman di kota ini.
“Bratha Sakya, kumohon bawa ini untuk bekal di perjalananmu. Aku juga sudah menyiapkan kuda terbaik untuk kau gunakan.” Shinta datang dan menyerahkan bungkusan sambil sedikit membungkuk. “Aku minta maaf atas sikapku semalam. Aku berdoa semoga kau bisa kembali dalam keadaan tidak kurang sesuatu apapun. Tolong berhati-hatilah.”
Melihat Shinta dengan matanya yang bulat dan berbinar, Sakya merasa terenyuh. Teringat akan anak kucing dengan matanya yang memandang memelas karena ingin dibelai. Tanpa sadar Sakya mengulurkan tangannya, tapi kemudian dia menarik tangannya sebelum menyentuh rambut Shinta.
Ilusi?
Sakya dengan cepat mengambil bungkusan dari Shinta. “Terima kasih attika Shinta. Aku akan berhati-hati.”
“Mmm.” Shinta menarik kembali kepalanya yang secara tidak sadar terjulur seakan hendak menyambut tangan Sakya.
“Aku pamit semuanya. Salam.”
__ADS_1
Sakya dan Nayaka segera meninggalkan pendopo langsung mengambil kuda yang sudah disiapkan Shinta. Tidak lama kemudian mereka berdua pergi bagai angin.
“Bukankah dia bilang akan menunjukkan pada kita cara membunuh rakshasa dengan menulis?” ujar adipati Sena setelah Sakya pergi.
“Ya, tapi mungkin dia lupa.” Shinta cekikikan.
✤✤✤
Sakya dan Nayaka hanya berhenti saat beristirahat. Selain itu, mereka memacu kudanya berpacu dengan waktu. Sakya sudah meminta Nayaka agar mereka bisa tiba di tambang dengan cepat. Jika bisa, Sakya ingin kembali lagi ke Lokapatti dan melanjutkan rencana pembangunannya.
Ketika malam telah dan jalanan terlalu gelap, Sakya dan Nayaka memutuskan untuk beristirahat. Nayaka seorang petualang sejati, begitu istirahat dia langsung mencari tempat yang aman untuk istirahat, menyiapkan tempat untuk tidur, mencari kayu bakar, menyalakan api unggun dan dia meminta Sakya untuk tetap duduk beristirahat.
“Balapati sangat beruntung.” ujar Nayaka.
“Oh, kenapa?”
“Anda bisa memakan masakan attika Shinta langsung. Dia terkenal dengan keahlian memasaknya. Penduduk Lokapatti selalu menunggu acara yang diadakan oleh adipati Sena, karena disitu ada masakan Shinta. Tentu saja dengan tariannya.” Bola mata Nayaka berputar ke kiri seolah memanggil kembali bayangan Shinta sedang menari di pelupuk matanya.
“Bayangkan! Shinta seorang putri Adipati dan dia cantik. Di Lokapatti ataupun kota lainnya, aku yakin tidak ada yang sebanding dengannya. Kecuali anda, Balapati. Aku rasa kalian bisa menjadi pasangan yang hebat,” lanjut Nayaka.
“Hah …?”
[Ingat baik-baik kata-kata ayah, saat kau mencari istri, carilah wanita yang pandai memasak.]
[Kecantikan hanya bertahan satu dekade, sementara keahlian memasak akan bertahan selama beberapa generasi. Kau ingat seorang nenek bukan karena cantiknya, kau ingat dia karena masakannya. Ingatlah, Nak! Kecantikan hanyalah bonus.]
Sakya menggelengkan kepalanya seolah ingin menolak ucapan ayahnya dari kepalanya.
__ADS_1
Ya. Shinta bisa memasak, tapi Sakya tidak bisa menebak apa yang ada dipikirannya. Dia tidak bisa memperkirakan apa yang akan dia lakukan. Shinta adalah variabel yang tidak bisa Sakya perhitungkan, dan itu sangat berbahaya. Dia bisa memprediksi adipati Sena, atau balapati Mara tapi tidak Shinta. Hal tersebut membuat dirinya resah.
Sakya mempunyai tujuan untuk menghentikan hari Pralaya, dia tidak ingin hal yang diluar perhitungannya merusak rencananya. Begitu banyak yang dipertaruhkan disini. Ada kehidupan mereka yang dia sayangi dan kehidupan di benua Pangea.
“Sebaiknya kau istirahat terlebih dahulu. Aku akan berjaga terlebih dahulu.” Sakya mengalihkan pembicaraan.
“Baik, aku aku istirahat dulu. Maaf kalau ada ucapanku yang menyinggung, Balapati.” Nayaka merasa bersalah karena rupanya Sakya tidak suka membicarakan Shinta.
“Kau tidak melakukan hal yang salah. Istirahatlah!”
✤✤✤
Menjelang siang mereka tiba di tambang batu permata tua. Sebuah lubang besar yang menembus badan bukit. Mulut tambang membentuk setengah lingkaran dengan pinggirannya melengkung rapi dan dipenuhi berbagai semak dan tumbuhan. Sementara bagian dalam hanya diselimuti oleh lumut.
“Terlihat menakutkan. Balapati yakin mau masuk ke dalamnya?” Nayaka memperhatikan mulut tambang. Matanya jujur memancarkan ketakutan.
“Ya. Kau boleh kembali ke kota. Terima kasih.” Sakya membalikkan badannya dan mulai berjalan memasuki mulut tambang.
“Balapati! jika diizinkan aku akan menunggumu sampai kau keluar. Kita bisa kembali ke kota bersama-sama,” pinta Nayaka sambil teriak.
“Tiga hari ... Beri aku waktu tiga hari! Setelah itu, apabila aku belum keluar maka kau pulang ke kota sendiri. Yang terakhir itu bukan permintaan tapi perintah.”
“Siap, Balapati,” ujar Nayaka.
Setelah mendengar Nayaka, Sakya melanjutkan langkahnya masuk ke dalam tambang. Semakin ke dalam keadaan semakin gelap. Sakya mulai menajamkan kelima inderanya karena dia sudah tidak bisa mengandalkan matanya lagi.
Lorong tambang sangat dalam dan berliku. Terkadang turun ke bawah, ke kiri atau ke kanan. Sakya sudah berjalan cukup dalam dan semakin dalam, lorong lubang semakin mengecil. Sampai akhirnya tiba di percabangan lorong.
Sakya mengambil jalan ke kiri. Jika dia menemukan persimpangan lagi dia akan selalu mengambil ke kiri. Hal ini akan mempermudah dirinya untuk mencari jalan keluar dikarenakan saat ini dia tidak memiliki alat untuk membuat peta.
Ukuran lebar lorong hanya sekitar 2 meter. Gelap dan Lembab. Sakya menghentikan langkahnya saat dia merasakan ada sesuatu yang bergerak dengan cukup cepat mendekat ke arahnya. Indera keenamnya mengatakan bahwa makhluk yang datang ingin membunuhnya. Dengan cepat Sakya mengeluarkan pedang ksidranya.
Ketika makhluk tersebut mulai mendekat, Sakya mengayunkan pedangnya secara horizontal.
SKREEET!
__ADS_1
Terdengar jeritan kesakitan sebelum akhirnya makhluk tersebut diam tidak bergerak. Jeritan menggema di sekitar lorong, tidak lama kemudian terdengar jeritan lain seolah menyahut. Makhluk sejenis mulai berdatangan. Mendekat dengan cepat. Kali ini 3 ekor. Sakya bersiap-siap dengan posisi bertempur. Ketika makhluk-makhluk tersebut tiba, pedangnya mengayun dengan cepat membunuh ketiga makhluk tersebut.