
Di pendopo komplek perumahan adipati Sena, Shinta sedang berbicara dengan ayahnya yang duduk di depannya, "Apa yang akan kita katakan padanya, Ayah?" tanya Shinta lirih.
"Musibah sering terjadi dalam perjalanan ke padang Varsani dan sayangnya itu terjadi hari ini." jawab adipati Sena menarik napas panjang.
"Akankah dia mempercayainya? Dia akan sangat marah saat mengetahui kejadian yang sesungguhnya," guman Shinta yang terdengar oleh adipati Sena.
"Tujuan Ayah hanya menjaga Shrie tetap hidup sehingga saat Lokapatti memerlukannya dia ada untuk membantu. Jika dia membenci Ayah, Ayah terima konsekuensinya," ungkap adipati Sena.
"Kenapa Ayah memisahkan mereka berdua?" tanya Shinta.
"Mengurus satu orang lebih mudah. Jika mereka bersatu, mereka akan menjadi faktor yang tidak bisa Ayah prediksi," jawab adipati Sena.
"Adipati, Vaidya Shrie minta izin untuk bertemu." Seorang prajurit masuk memberi kabar.
"Biarkan dia masuk!" titah adipati Sena.
Sang prajurit pamit. Tidak lama kemudian Shrie datang. Di belakangnya Vatsa mengikutinya.
"Salam Adipati Sena. Aku ingin meminta ijin pergi ke gerbang kota untuk menunggu kakakku kembali," pinta Shrie sambil membungkuk.
"Ah tentu saja, Shrie. Kau bebas pergi kemana saja. Aku berharap kakakmu kembali dengan selamat," jawab adipati Sena.
"Tentu saja dia akan kembali dengan selamat. Dia bisa menjaga dirinya sendiri." Shrie tersenyum lebar. Jika saja mereka tahu kalau kakaknya adalah salah satu penguasa hutan Vanaya, mereka pasti akan mulai memujanya. Sampai saat ini Shrie masih belum bisa memahami mengapa kakaknya harus menyembunyikan dan berpura-pura tentang semuanya.
"Aku pamit, Adipati Sena." Shrie membungkuk dan beranjak melangkah keluar.
"Kemana kau akan pergi? Sementara kakakmu ada disini."
Shrie langsung menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah sumber suara dan melihat Sakya yang sedang berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Kakak ...." Shrie berlari dan langsung memeluk kakaknya.
"Kita baru berpisah setengah hari tapi mengapa seperti berpisah tahunan? Tapi tidak apa-apa. Rasanya nyaman." Sakya tertawa dengan tingkah Shrie. Sementara adipati Sena dan Shinta tampak kaget dan bangkit dari duduknya.
"Kau kembali?"
Adipati Sena memandang Sakya dengan tajam seolah-olah dia mulai meragukan pandangan matanya.
"Tentu saja, apa kau pikir lima belas rakshasa bisa menghentikanku?"
"Ada rakshasa, Kak? Bawa aku kesana!" Shrie antusias mendengar kata rakshasa. Sudah cukup lama dia tidak melampiaskan amarahnya pada rakshasa.
"Terlambat. Aku sudah membunuh mereka," tolak Sakya.
"Bu—bunuh mereka? K—kau bunuh mereka semua?"
Apa yang Sakya ucapkan semuanya terasa seperti omong kosong bagi adipati Sena. Seorang manusia membunuh lima belas rakshasa, sesuatu yang belum pernah terdengar sebelumnya, bahkan dia yakin bahwa tidak ada yang pernah memikirkannya.
"Benar. Karena kita akan menjadi sekutu, akan kuceritakan apa yang terjadi. Silahkan duduk," ucap Sakya sambil tersenyum lebar.
"Ceritanya, Aku membunuh hampir semua rakshasa kecuali satu. Aku perintahkan dia untuk menyampaikan berita bahwa mulai saat ini Lokapatti tidak akan memberikan mereka persembahan manusia lagi. Mulai saat ini kota Lokapatti bebas dari perbudakan rakshasa."
"Kau ... Apa kau sadar yang telah kau lakukan?" teriak Adipati Sena. Mukanya memerah. Shinta menyodorkan lagi secangkir air putih padanya.
"Kau akan menghancurkan kota Lokapatti dan membunuh semua penduduk di dalamnya."
"Tunggu …," potong Shrie. "Kau mengorbankan para peserta persembahan dewi Daru pada rakshasa. Bagaimana mungkin kau setega itu?" teriak Shrie seolah tidak percaya. Bagaimana mungkin mereka sanggup mengorbankan nyawa orang lain hanya untuk keselamatannya sendiri.
"Memangnya kenapa? Kau pikir aku salah?Aku korbankan lima puluh orang agar lima ribu orang tetap hidup. Hati nuraniku bersih. Jika aku harus memilih lagi, aku akan memilih hal yang sama," jawab Adipati Sena murka. Shinta menyodorkan secangkir air putih lagi padanya. Kali ini adipati menolak meminumnya.
Adipati Sena tidak merasa bersalah. Meskipun hal tersebut bukan jalan yang terbaik tapi itu jalan yang tepat saat ini. Jalan yang memastikan agar umat manusia tetap lestari.
__ADS_1
"Kakak, ijinkan aku menghancurkan kota terkutuk ini. Bagaimana mungkin ...."
"Cukup." Sakya mengangkat tangannya menghentikan ucapan Shrie. "Adipati Sena, aku tidak berkata kau salah, tapi sekarang kau bisa berhenti melakukan hal itu."
"Kau tidak mengerti kekuatan ketua klan rakshasa. Ketika aku muda seumurmu, aku bersama seratus orang lainnya berusaha membunuhnya. Hanya dengan sendirian dia membunuh semuanya kecuali aku. Aku dibiarkan hidup untuk memimpin kota ini dan memberikannya persembahan. Jika dia datang, kota ini tidak akan selamat."
Adipati menceritakan pengalamannya yang pahit tentang bagaimana dia jadi seorang adipati kota Lokapatti.
"Bah, jika hanya soal membunuh seratus manusia, aku juga bisa membunuh ribuan manusia dan kakakku bisa membunuh lebih. Kau perlu bukti? Aku bisa buktikan ...."
"Shrie!" Sakya memotong kembali ucapan Shrie. "Apapun yang telah terjadi kita lupakan saja, sekarang kita semua adalah teman, mari kita berbicara dengan bijak."
Bijak? Bijak kepalamu. Kau membawa masuk harimau ke rumahku dan sekarang kau bicara tentang bijak ... Bah. "Katakan padaku mengapa aku harus jadi sekutumu?" tanya Adipati Sena.
"Oh, aku belum selesai bercerita ya. Jadi setelah aku melepas rakshasa, aku bertemu prajurit Lokapatti. Aku melepas mereka agar dapat memberi tahu balapati Mara secepatnya. Maaf, Adipati Sena tapi kita sama-sama tahu seberapa besar ambisinya untuk menjadi seorang adipati. Ah, setelah dia tahu bahwa persembahan telah gagal dan Adipati sudah tidak menjadi kunci keselamatan kota ini ... Ah, jika dia pintar seperti perkiraanku, aku yakin saat ini dia sedang menyiapkan prajuritnya untuk datang menjemputmu."
"K—kau ... Argh."
Shinta menyodorkan lagi secangkir air putih padanya. Kali ini Adipati Sena mengambil tempat airnya yang cukup besar dan meminumnya langsung.
"Tentu saja sebagai seorang teman aku tidak akan lepas tangan begitu saja. Aku akan melindungimu." lanjut Sakya sambil tersenyum.
Adipati Sena benar-benar tidak mengerti dari mana Sakya berasal. Dia tidak habis pikir kalau di dunia ini ternyata ada lelaki yang tidak punya batas malu.
Kau sudah masukkan harimau ke rumahku dan sekarang kau undang buaya juga. Kemudian, kau bilang kau akan melindungiku? Kau yang menyebabkan semuanya ah ...
Adipati Sena merasa rambutnya memutih seluruhnya. Dia berusaha tidak bicara karena takut muntah darah. Meskipun dia pikir ide bagus untuk menyembur muka Sakya yang sedang tersenyum.
Adipati Sena tidak takut mati. Baik oleh rakshasa maupun oleh balapati Mara. Akan tetapi keselamatan keluarganya, Shinta dan anaknya yang lain adalah hal yang paling penting. Dia tidak sanggup meninggalkan mereka dalam bahaya.
"Apa yang kau inginkan?"
__ADS_1
"Ayo kita berteman." Sakya mengulurkan tangan kanannya.
"Huh ... Apakah aku punya pilihan?" adipati Sena meminum air putihnya.