SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Hutan Stana Ras Nara


__ADS_3

Di pagi hari, Pavitra berjalan-jalan mengelilingi hutan untuk mengecek semua persiapan yang diperlukan sebelum hutan Stana disegel dan terputus hubungan dengan dunia luar.


Dia berjalan diantara pepohonan yang daunnya mulai memutih. Pepohonan di hutan Stana berbeda dengan pepohonan di hutan lainnya. Dari akar, batang, cabang dan daun semuanya berwarna putih. Bahkan lumut yang menempel di dahan pun berwarna putih.


Seperti itulah keadaan hutan Stana, selama yang dia ingat. Generasi sebelumnya mengatakan hal tersebut dikarenakan sihir yang telah dilakukan oleh leluhur mereka. Sihir perlindungan, sihir penumbuh, sihir penguat dan sihir lainnya, penggunaan prana secara konstan mengubah warna pepohonan yang ada di hutan Suci menjadi seperti saat ini. Putih, tidak peduli jenis pohon apapun itu.


Sihir tidak hanya mengubah warna pepohonan di hutan Stana, ras Nara pun memiliki kulit, dan rambut yang putih. Hanya mata mereka yang memiliki warna yang berbeda. Hijau berkilau seperti permata zamrud.


Sihir sudah melekat dalam setiap diri ras Nara. Melapisi tubuh mereka, seolah setiap ras Nara bagai bulan yang bersinar ketika malam tiba. Menenangkan hati dan mata yang memandangnya. Tidak berlebihan jika mereka disebut sebagai ras yang paling sempurna di benua Pangea.


Tidak ada bangunan batu di hutan Stana. Ras Nara tinggal di dalam rongga batang-batang pohon yang tumbuh dengan bantuan sihir. Rongga tersebut yang mereka sebut rumah. Sebuah rumah bisa terdiri dari gabungan beberapa batang pohon. Cukup besar untuk menampung sebuah keluarga, dengan ruangan terpisah. Tersedia tangga kayu yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua.


Semua rumah identik satu dengan yang lainnya. Tidak peduli dengan kedudukan sosial mereka di masyarakat. Satu rumah dengan rumah yang lainnya terhubung dengan jembatan gantung kayu yang terhubung dengan setiap balkon.


Bangunan yang berbeda hanyalah bangunan istana yang lebih besar 10 kali dari setiap rumah biasa. Mereka menyebutnya istana Putih. Tempat tinggal penguasa hutan Stana. Pelindung dan penjaga seluruh ras Nara. Saat ini, Pavitra yang menempati istana tersebut.


Sekumpulan anak bermain kejar-kejaran  di antara pepohonan.  Tertawa dan berteriak bahagia seolah merekalah penguasa sejati hutan Stana.


"Salam, yang mulia." Mereka sedikit membungkuk ketika melewati Pavitra sebelum akhirnya berlarian lagi tanpa peduli dengan  jawaban Pavitra.


Pavitra mendesah sambil membayangkan tentang masa lalunya, ketika dia masih kecil, ikut bermain di antara pepohonan tersebut. Berharap bahwa generasi berikutnya masih bisa merasakan kebahagiaan tersebut.


Pavitra tidak menyangka hari Pralaya akan tiba secepat ini. Dia mengutuk dalam hati, bertanya mengapa semua terjadi di saat dia memerintah. Pertanyaan lainnya adalah apakah keputusannya untuk menyegel hutan suci merupakan jalan terbaik? Atau sebaliknya?


Waktu yang akan menjawabnya. Waktu yang akan menunjukkan apakah dia seorang pahlawan atau penguasa yang membawa kehancuran pada rasnya.


Sejak awal pencatatan prasasti ras Nara, mereka semua tahu bahwa hari Pralaya akan tiba. Selama itu pula mereka menyiapkan segala sesuatu agar selamat ketika hari tersebut tiba. Sekarang, dengan segala persiapan selama ribuan tahun tersebut, Pavitra masih merasa sangat kurang. Dia masih tidak yakin bisa melaluinya.


Ras Nara merupakan tas terkuat di benua Pangea. Diberkati dengan kemampuan tempur yang kuat dan kekuatan sihir yang tinggi. Mereka bisa menahan angin, mengalihkan hujan, menumbuhkan pohon, tapi masih tidak bisa menghindari kematian. Selama mereka masih tersentuh oleh kematian, sangat mustahil menghentikan hari Pralaya.


Bagaimana cara menghentikan kematian? Bagaimana cara mengalihkan hari Pralaya? Bagaimana cara menghidupkan mereka yang sudah mati? Selama hal tersebut belum ditemukan caranya, Pavitra percaya bahwa menyegel hutan Suci adalah cara yang terbaik.

__ADS_1


"Lapor, yang mulia Pavitra. Kebun kehidupan sudah kami periksa dan sudah siap." Seorang pria paruh baya membungkuk di hadapan Pavitra.


"Berapa lama persediaan kita bisa bertahan?"


"Jika tidak ada yang berubah dari penambahan penduduk, 10 tahun, yang Mulia," jawabnya.


"Buka lagi lahan hutan untuk kebun kehidupan! Asumsikan penduduk bertambah 3x lipat dan hari Pralaya berlangsung lebih lama," titah Pavitra.


"Baik, yang mulia."


Pavitra melanjutkan perjalanannya menuju pinggiran hutan Stana bagian selatan.


"Bagaimana persiapannya, Digya?"


"Semua sudah siap yang mulia Pavitra. Semua segel telah diletakkan ke delapan arah penjuru mata angin mengelilingi hutan Stana. Kami tinggal menghubungkan kedelapan segel dengan kristal Samstana dan mengaktifkannya," jawab Digya.


"Berapa lama kristal Samstana mampu memberi kekuatan pada segel hutan?"


"Selama ada kehidupan di benua ini, yang mulia. Tapi jika kehidupan sudah musnah, hamba kira kekuatannya hanya mampu bertahan selama 20 tahun," ucap Digya.


Pavitra kembali dari renungannya kita dia melihat sekelebat bayangan hitam melintas di angkasa keluar dari hutan Stana.


"Siapa yang pergi keluar hutan?" Suaranya menggelegar di sekitar perbatasan hutan. Tidak ada yang menjawabnya.


"AKU TANYA SIAPA YANG KELUAR HUTAN?" Pavitra mulai emosi ketika tidak ada yang memberinya penjelasan. Hari ini merupakan momen penting bagi ras Nara. Dan seorang Nara tanpa izinnya keluar dari hutan Stana. Dia sudah sangat jelas sudah menyampaikan berita ini ke seluruh ras Nara.


"Ampun, yang mulia. Ampun, Putri Rahmania yang pergi meninggalkan hutan." Suara Dutaka terdengar dari belakang. Kemudian mendekat dan berlutut di hadapan Pavitra.


"Apa kau bilang? Putriku? Apa dia sudah gila?" Pavitra semakin berang.


"Iya, yang mulia. Dia sudah gila. Dia ..."

__ADS_1


"Diam kau!" bentak Pavitra. Bahkan jika Rahmania memang gila, hanya dia, ayahnya yang boleh mengatakannya. "Mengapa dia pergi?"


Dutaka mulai berkeringat. Haruskah dia diam atau menjawab. Dia menatap wajah temannya yang lain, tapi mereka semua menunduk.


"JAWAB!" bentak Pavitra.


"Ampun yang mulia, sebelum dia pergi, dia menyerahkan surat ini dan mengambil kalung Samstana bersamanya."


"APA? dia ambil kalung Samstana? Apa dia benar-benar gila?"


"Itu yang hamba tadi katakan, yang mulia dia sudah gi …."


"DIAM KAU!" Pavitra mengambil surat kain dari tangan Dutaka.


"Yang mulia, kalung Samstana adalah kunci untuk mengaktifkan kristal Samstana. Tanpa kalung tersebut, kita tidak bisa menyegel hutan ini." ungkap Andhika,


"Aku tahu itu, kau pikir aku tidak tahu? Diam kau!" Pavitra kemudian membuka surat dari Rahmani yang tertulis dalam selembar kain.


'Ayah, aku pergi meninggalkan hutan. Beri aku waktu untuk menyatukan seluruh ras di benua Pangea. Jika berhasil, aku berharap ras Nara bisa ikut berperang menghadapi hari Pralaya. Aku juga izin meminjam kalang Samstana, akan aku kembalikan secepatnya. Tertanda Putrimu, Rahmania.'


"Beraninya dia. Dutaka! Dan kau Andhika! Cari  dan bawa dia kembali  kesini secepatnya! Bagaimanapun caranya. CEPAT!"


"Laksanakan, yang mulia. Kami pamit." Dutaka dan Andhika.


Rahmania, apa yang telah kau lakukan? Kau bisa memusnahkan seluruh ras Nara, gumam Pavitra. Tanpa sadar dia meremas surat dari Rahmania.


Jauh di angkasa, Rahmania berdiri di atas garuda Sattva yang berwarna putih. Sattva yang telah hidup di hutan Stana dan menjadi temannya semenjak kecil.


Rambut Rahmania dan bajunya yang putih berkibar tertiup angin. Maafkan aku ayah, tapi 20 tahun hanyalah waktu yang singkat, batin Rahmania lirih. "Gaura, kita pergi ke kerajaan Surangga."


"Surangga? Membutuhkan waktu seminggu untuk tiba disana, Kau yakin?"

__ADS_1


"Ya ... Dan kita  kita harus cepat bergegas. Kumohon, kita tidak punya waktu."


"Baiklah, pegangan yang erat!" Gaura menganggukan kepalanya, dan melesat dengan kecepatan penuh  ke arah kerajaan Surangga.


__ADS_2