SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Persiapan Perang


__ADS_3

 


Shrie beserta Vatsa ditemani Shinta dan Asih duduk di alun-alun Lokapatti bagian timur. Mereka menunggu laporan penduduk wanita yang memutuskan untuk tinggal.


Beberapa penduduk sudah mulai memberikan laporan. Akan tetapi, dikarenakan sistem penulisan belum ada di ras manusia, mereka tidak mencatat nama. Shrie hanya memberikan perintah bahwa besok pagi mereka harus berkumpul kembali di alun-alun kota untuk perintah selanjutnya. Selain dari itu, Shrie berusaha menenangkan kekhawatiran para perempuan yang tinggal bahwa kota Lokapatti akan melalui bencana ini dengan selamat.


"Vaidya Shrie, aku datang untuk melapor."


"Vaidya Aida? Apakah kau kesini sendiri?"


Shrie terkejut melihat kedatangan Vaidya Aida Yang hendak melapor padanya. Shinta langsung mendekati Vaidya Aida dan bertanya, "Aida, apa yang telah terjadi?"


"Akhirnya aku terbebas, attika Shinta," jawab Aida lirih.


Aida kemudian menceritakan kejadian yang terjadi.   Bagaimana dia mencuri kesempatan lari saat Daurjana dan keluarganya sibuk mempersiapkan pelarian keluar dari Lokapatti.


"Kau tidak perlu khawatir lagi. Kami akan melindungimu. Para rakshasa akan datang, tapi kita bisa memenangkan perang ini. Aku yakin." Shrie memegang tangan Aida dan membawanya ke tempat teduh.


"Aku tidak takut mati. Aku lebih baik mati daripada hidup jadi budak. Aku ingin ikut membantu. Apa yang harus aku lakukan?" ungkap Aida.


"Kau bisa ikut bersama kami." Shinta berkata seraya tersenyum pada Aida. Dia dapat merasakan keteguhan hati Aida yang benar-benar ingin membantu. Dia senang akhirnya Aida terbebas dari Durjana Tidak dapat menolak keinginan Aida.


 


✤✤✤


 


 


Menjelang siang, para penduduk yang sudah melapor pada Sakya, Shinta dan Bayana sudah kembali ke rumah menunggu perintah selanjutnya. 


"Balapati Sakya, sekitar 500 orang tinggal dan siap membantu. Sayangnya usia mereka menjadi halangan untuk ikut berperang. Beberapa terlalu tua dan sisanya terlalu muda. Diantara mereka yang memiliki keahlian yang kau cari ada sekitar 10 orang pandai batu dan 20 orang pandai kayu." Bayana tiba di hadapan Sakya dan langsung memberi laporan.


"Baik, untuk pandai batu, aku ingin mereka membuat tungku tanah setinggi 2 meter, ini adalah gambar dan ukuran yang harus mereka buat." Sakya memberikan sebuah kulit binatang yang sudah dibersihkan pada Bayana. Di atas kulit tersebut terdapat dua gambar. Pertama gambar sebuah tungku tanah yang berbentuk seperti cangkir yang terbalik dengan satu lubang disisi bawahnya dan satu lagi lobang di atasnya.  Gambar kedua adalah gambar cangkir seukuran dengan besar lubang di atas tungku tanah. Masing-masing gambar memiliki ukuran lebar dan tinggi sendiri. "Pastikan bahwa bahan yang dipakai berasal dari tanah liat!" lanjut Sakya.


"Apa ini? Dan untuk apa?" Bayana tidak mengerti saat melihat gambar Sakya. Dia tahu tungku tanah, tapi ukuran yang sebesar ini, Bayana belum bisa membayangkan fungsinya.


"Tungku tanah ini akan kita gunakan untuk melelehkan batu. Kau akan mengerti setelah mereka selesai membuatnya. Dan kau tidak perlu khawatir, aku akan mengawasi pembuatannya."

__ADS_1


"Baik. Bagaimana dengan tukang kayu? Apa yang balapati inginkan?" tanya Bayana meskipun penjelasan Sakya belum memuaskan dia.


Sakya memberikan dua buah kulit binatang lagi pada Bayana. Seperti kulit yang pertama, di dalamnya terdapat gambar-gambar beserta ukurannya.


"Yang pertama harus dilakukan oleh tukang kayu adalah membuat batangan-batangan kayu sesuai dengan bentuk dan ukuran yang ada di kedua gambar tersebut. Mereka bisa mulai siang ini. Aku harapkan besok siang semua batang kayu sudah siap! Aku akan mengecek kembali siang besok."


"Baik." Kali ini Bayana tidak bertanya lagi karena dia mengira jawabannya akan semakin membingungkan melihat gambar keseluruhan yang ada di kulit binatang tersebut. "Bagaimana dengan sisanya yang lain? Apa yang harus mereka lakukan?"


"Bagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama pergi ke luar gerbang kota dan mulai menggali lubang sebanyak-banyaknya. Setiap lubang harus sedalam 2 meter dengan lebar yang sama.  Kelompok kedua pergi berkeliling mencari sisa-sisa dari batu langit jika ada, atau mencari batu yang berwarna hitam dan bawa ke kota kembali. Ingat semakin hitam semakin bagus."


"Mencari batu???" Bayana memijat keningnya dengan jari-jari tangannya. Dia memiliki banyak pertanyaan  tetapi dia tahu bahwa tidak cukup waktu untuk memuaskan rasa keingintahuannya. Bayana yakin bahwa dia akan mengetahui jawabannya nanti. Bayana pamit setelah tidak ada instruksi lagi dari Sakya.


Sakya memperhatikan keadaan alun-alun Lokapatti yang mulai sepi. Di sebelah timur, Shinta dan yang lainnya telah selesai menghitung jumlah wanita yang tinggal. Tidak lama kemudian Sakya menghampiri Shinta.


"Berapa orang yang memutuskan untuk tinggal?" tanya Sakya pada Shinta.


"Siang Bratha Sakya, perempuan yang memutuskan tinggal hanya sekitar 700 orang. Kurasa itupun hanya keluarga prajurit perang dan keamanan Lokapatti," jawab Shinta. "Namun kita beruntung, Vaidya Aida memutuskan untuk tinggal," lanjutnya.


"Oh itu kabar baik, katakan padanya aku ingin bicara." Ungkap Sakya.


"Baik. Bagaimana dengan perempuan yang lain?"


"Kita akan membuat racun? Untuk rakshasa?" Shinta memastikan bahwa perintah yang dia dengar tidak salah.


"Ya, racun dan senjata lainnya akan sangat berguna walaupun efeknya hanya memperlambat rakshasa."


"Aku mengerti. Aku akan panggilkan Vaidya Aida."


Tidak lama, Aida tiba di hadapan Sakya.


"Bratha Sakya ingin berbicara denganku?"


Sakya memperhatikan Aida. Sakya dapat merasakan aliran prana di dalam tubuh Aida, walaupun samar. Dia menyadari hal tersebut saat melihat Aida pertama kalinya di alun-alun Lokapatti.


Aida adalah manusia istimewa. Biasanya, seseorang yang memiliki prana dalam tubuhnya adalah seorang praboditha. Seseorang yang telah membuka titik chakranya. Akan tetapi , ada kemungkinan dalam 1:100.000 seseorang akan terlahir dengan karunia dapat merasakan prana dan mengalirkannya. Meskipun bukan seorang praboditha.


Semenjak kecil Aida sudah bisa merasakan prana dan saat dia mengalirkan prana kepada seseorang secara ajaib luka atau sakit orang tersebut akan sembuh dengan cepat. Karunia tersebut menjadikannya seorang Vaidya. Sayangnya, sampai saat ini, Aida masih belum menyadari apa yang membuatnya istimewa.


Sakya mengetahui hal tersebut. Karenanya, dia bermaksud mengajari Aida menjadi seorang praboditha. Apabila Aida berhasil menjadi seorang praboditha maka umat manusia mendapatkan satu lagi kekuatan yang bisa membantu membebaskan diri dari genggaman rakshasa.

__ADS_1


Aida merasa canggung melihat Sakya memperhatikannya dengan teliti. Pipinya mulai memerah.


"Bratha Sakya, apakah ada yang salah denganku?"


Mengetahui kecanggungan Aida, Sakya tersadar. Dia memalingkan wajahnya dan berkata, "Oh Maaf, Vaidya. Ikutlah denganku! Ada yang ingin kusampaikan."


Aida mengikuti Sakya dari belakang. Sakya berhenti ketika mereka sudah tiba di luar gerbang kota, tepat di bawah pohon beringin yang besar. Kemudian Sakya berbalik padanya dan bertanya, "Vaidya Aida, katakan padaku apa yang kau rasakan saat ini?"


Selepas berkata, Sakya melepas prana dari tubuhnya yang setara dengan kekuatan dwi praboditha.


Aida tiba-tiba merasakan kekuatan yang menekan tubuhnya. Ketika dia melihat Sakya, tubuhnya bergetar karena rasa takut  mulai memasuki pikirannya. Tanpa sadar dia jatuh terduduk.


"Aku takut Bratha Sakya," jawab Aida.


"Dan sekarang apa yang kau rasakan?"


Aida merasakan kekuatan yang mengalir sejuk menjalar keseluruh tubuhnya. Menghilangkan rasa takutnya dan memberinya kesegaran.


Aida mengenal kekuatan ini. Dia biasa menggunakannya saat mengobati orang-orang yang sakit. Kekuatan ini berada disekitarnya dan dia bisa menyalurkannya pada orang sakit. Akan tetapi saat ini, kekuatan yang dia rasakan sangatlah besar. Aida yakin kalau dia memiliki kekuatan sebesar ini, dia bisa menyembuhkan lebih besar dan penyakit yang lebih berat.


"Aku merasa tenang dan badanku menjadi segar."


"Vaidya Aida, kekuatan yang kau rasakan saat ini adalah prana yang terdapat dalam diriku. Kau bisa menggunakannya untuk berbagai hal dan salah satunya untuk mengobati orang lain, seperti yang biasa kau lakukan. Katakan padaku apakah kau ingin mengembangkan kekuatanmu? Semakin kau kuat, semakin cepat dan banyak orang yang bisa kau sembuhkan," tanya Sakya.


"Apakah aku bisa?"


"Aku yakin kau bisa. Maukah Vaidya mencoba?


Aida menganggukan kepalanya. Sakya kemudian memberitahu semua tentang prana, titik chakra dan mengajarkan cara pernapasan dan semedi untuk menyimpan prana di titik chakra.


"Vaidya Aida, kau bisa bersemedi di sini. Aku membawamu ke bawah pohon beringin ini agar kau bisa lebih fokus merasakan aliran prana disekitarmu dan pohon ini istimewa karena ada banyak prana disekitarnya. Semoga berhasil."


"Bratha Sakya, sampai berapa lama aku harus semedi?" Aida menghentikan Sakya yang hendak pergi.


"Untuk orang biasa yang belum merasakan prana, mereka membutuhkan waktu sekitar 25 hari. Tapi karena kau sudah terbiasa aku yakin kau bisa melakukannya dalam tujuh hari ini."


"Terima kasih Bratha Sakya. Aku akan berusaha," jawab Aida.


Sakya kemudian melanjutkan langkahnya ke arah timur untuk menemui pasukan tempur dan keamanan yang sudah berkumpul di bawah komando Abuba.

__ADS_1


 


__ADS_2