
Rakshasa yang mulai berpencar. Hal tersebut membuat manjanik kehilangan efektivitasnya. Seperti harimau yang mendekati mangsanya, satu persatu mulai mendekati pasukan tempur.
"Mundur! Semua prajurit mundur ke pos 2!" Abuba cepat memberi perintah. Keringat mulai mengucur di dahinya.
Pos 2 hanya 20 meter di belakang mereka. Merupakan tempat yang telah ditanami batang-batang pohon besar setinggi 2 meter dengan tujuan menghambat pergerakan rakshasa. Disini rakshasa tidak bisa mengayunkan gadanya.
Sementara prajurit tempur mundur ke pos 2. Pasukan yang berada di menara dan gerbang kota memberikan perlindungan dengan menembakkan puluhan panah pada rakshasa yang mendekat.
Para rakshasa semakin liar. Mereka penuh dengan amarah. Panah manusia kali ini menancap lebih dalam. Mereka tidak mati sekaligus, namun rasa sakitnya tidak berhenti. Yang lebih parah adalah rasa gatal yang timbul dari luka tersebut. Keinginan untuk mencabut dan menggaruk sangat besar, tapi jika mereka berhenti untuk menggaruk, akan semakin banyak anak panah di tubuh mereka.
Mereka semakin mendekat dan bergerak semakin cepat.
Argh, mereka menggunakan racun, sejak kapan manusia menggunakan racun? tunggu sampai aku …. Para rakshasa mulai memikirkan berbagai macam siksaan yang akan mereka berikan pada manusia. Tapi sayangnya, saat ini mereka hanya bisa menjerit untuk mengurangi penderitaan yang mereka rasakan.
Dengan penuh kebencian para rakshasa mulai mengejar manusia yang ada di dekatnya. Namun untuk beberapa alasan, manusia-manusia itu sepertinya sengaja ingin dikejar olehnya. Sebut saja beberapa manusia yang saat ini berada di depannya, mereka menari-nari sambil menepuk pantat-pantat mereka dan berteriak-teriak "Ouy ... Ouy!"
Apa itu? Baiklah kau ingin mati? Awas kalian, akan kukejar kalian.
Sayangnya ketika sang rakshasa mengejar, dia merasakan sakit di pergelangan kakinya. Sebelum dia jatuh, dia sempat menoleh dan melihat beberapa manusia, dengan sebilah benda tajam di tangannya, membabat urat yang ada di pergelangan kakinya. Kemudian mereka pergi, bahkan sebelum tubuh rakshasa jatuh berdebam di atas tanah yang berdebu.
"???"
'Operasi Tangkap Kucing' Sebuah strategi yang dijalankan saat para prajurit tempur masuk ke pos 2. Strategi ini membagi para prajurit dalam kelompok-kelompok kecil 6-7 orang. Mereka akan bekerjasama dengan kelompok lain. Satu kelompok menarik perhatian rakshasa dan kelompok lain akan menyerang dengan cepat pergelangan kaki rakshasa. Tugas mereka hanya melumpuhkan. Tugas membunuh hanya untuk balista dan pemanah.
__ADS_1
"Strategi gila! Bagaimana mungkin rakshasa terpancing dengan strategi semacam itu! Itu bunuh diri." Abuba masih mengingat jelas perkataannya saat Sakya menjelaskan apa yang harus mereka lakukan di pos 2.
Sakya memandang tajam, saat Abuba memberi komentar. "Bisakah kau melaksanakannya?"
"Balapati Sakya, apakah kau yakin itu akan berhasil?" tanya Abuba sambil mengusap keringat dinginnya.
"Jika gagal, aku yang akan turun tangan sendiri dan menyelesaikan perang ini. Bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan jika itu berhasil?"
"Jika itu berhasil, aku akan berlari tanpa sehelai pakaian mengelilingi kota Lokapatti dan berteriak balapati Sakya hebat."
Sekarang dia melihat secara langsung strategi yang dia anggap gila, mampu melumpuhkan belasan rakshasa. Jantungnya berdetak semakin kencang memikirkan bahwa dia harus berlari mengelilingi kota Lokapatti tanpa sehelai pakaian.
"*******\," kutuk Abuba. Dia mengakui kehebatan Sakya. Dia berjanji di masa depan tidak akan mempertanyakan lagi perintah Sakya lagi.
Sayangnya harapan hanya akan terwujud saat kita memiliki kekuatan, kegigihan dan rencana yang tepat. Kehadiran Aghira seorang dwi praboditha mengubah segalanya.
Aghira seperti seorang veteran perang yang ikut campur dalam perang pedang-pedangan anak balita. Bahkan jika balita-balita tersebut memutuskan untuk bersatu, mereka tetap tidak bisa menang melawan Aghira. Apalagi jika dia hanya memihak satu pihak. Kemenangan absolut.
Setelah Aghira menghancurkan tiga menara tempat balista dan gerbang utama Lokapatti dengan batu manjanik yang dilemparkannya kembali. Dia memperhatikan jalan pertempuran anggotanya. Hatinya miris. Bagaimana tidak, dia membawa hampir 50 anggota klannya dan yang tersisa hanya tinggal 15 anggota, itu pun penuh dengan luka dan darah yang melekat di badan mereka.
Perang ini seharusnya mudah. Ini bukan pertama kali dia menghancurkan sebuah kota. Biasanya hanya dengan 20 anggota dia bisa menghancurkan seluruh kota dengan kematian anggota maksimal hanya 2 orang. Tapi saat ini, dia melihat kebalikannya.
Dia mengepalkan tangannya dan mendengus. Urat-uratnya di lehernya membesar. Dia benar-benar marah.
__ADS_1
Tidak sanggup lagi melihat kenyataan yang ada di depan matanya, Aghira melesat ke arah pasukan tempur Lokapatti, dan menghantam tanah dengan keras. Prajurit tempur Lokapatti dalam radius 15 meter terbang terhempas. 3 orang prajurit Lokapatti mati di tempat, yang lainnya terluka dalam.
Aghira melesat ke tempat lainnya dan menghempaskan kembali pasukan tempur Lokapatti yang ada di sekitarnya.
Situasi di pos 2 sangat buruk bagi prajurit Lokapatti. Abuba hanya mampu melihat kedigjayaan Aghira meluluhlantakan prajuritnya. Bagaimana cara melawannya?
"Aaaakh, demi Lokapatti!" Abuba maju menyerang Aghira. Dia hunuskan pedangnya ke arah Aghira. Di lubuk hatinya dia tahu bahwa serangannya akan sia-sia. Tapi dia terus maju, karena dia tidak ingin prajuritnya jadi korban. Abuba hanya berharap bisa menunda 2 detik agar prajurit lain bisa lari. Hanya 2 detik saja
BUK!
Sebelum serangan Abuba tiba, tangan Aghira menghantam tubuhnya terlebih dahulu.
Abuba terhempas menghantam tiang batang pohon hingga hancur. Waktunya sudah tiba, Abuba menarik napas panjang sebelum berhenti bernapas. Dia menunggu matanya tertutup, dan napasnya berhembus untuk terakhir kalinya. Namun momen tersebut tidak datang-datang.
"Demi Ekadeva, Abuba jika kau ingin tidur bukan disini! Bangun, pilih 30 orang prajurit terbaikmu untuk melawan dia. Sisanya tetap lakukan operasi tangkap kucing!"
Tidur? Bagaimana aku bisa tidur? Tidakkah kau melihat aku sekarat disini? Abuba saat ini sedang kebingungan, dia tidak mengerti apa yang terjadi. Dengan jelas dia terpukul, tapi dia masih belum mati. Pikirannya berpikir bahwa dia seharusnya mati, tapi tubuhnya berkata sebaliknya. Dia tidak merasakan sakit, malahan tubuhnya terasa ringan, segar dan penuh dengan tenaga. Apa yang terjadi?
Suara Sakya terdengar di seluruh daerah pos 2. Meskipun perintah ditujukan pada Abuba, seluruh prajurit Lokapatti mendengar keinginan Sakya. Sekitar 30 orang bergerak mendekati Abuba, diantaranya Tivara, Nayaka, Yamala dan Yamaka.
"Abuba, bergembiralah. Ekadeva memberikan berkahnya pada 30 dari kalian. Di Pertempuran kali ini kalian tidak akan mati. Sekarang maju dan bunuh rakshasa itu."
Sakya mengeluarkan perintah lagi. Kali ini Abuba tidak berpikir lagi. Sakya hanya menyuruhnya menerima pukulan Aghira, masih lebih baik daripada disuruh lari tanpa pakaian ke sekeliling kota. "Serang!" Dia menerjang Aghira. Ke 30 orang lainnya mengikuti Abuba mengepung Aghira.
__ADS_1