
Kokok ayam jantan membangunkan sebagian penghuni balai penampungan, kecuali Sakya dan Shrie yang memang tidak tidur semalaman karena mempelajari sihir.
Sebagai tri praboditha, ingatan dan daya pikir Shrie meningkat tiga kali lebih cepat, dia bisa mengingat apapun walau hanya dengan satu kali ucapan. Ditambah dengan minatnya yang tinggi terhadap ilmu sihir, dalam semalam Shrie mampu menyebutkan anatomi tubuh manusia dan fungsi-fungsi setiap organ yang terdapat di dalamnya.
Pagi ini mereka tiba di alun-alun Lokapatti. Shrie akan mencoba menganalisa kerusakan pada organ tertentu berdasarkan gejala-gejalanya. Setelah itu Shrie akan menerapkan penggunaan prana secara cepat dan tepat untuk memperbaiki kerusakan bagian tubuh yang rusak.
Atas bantuan dan dukungan si bapak penjual makanan, Sakya dan Shrie membuka meja pengobatan di alun-alun kota. Sakya menggambar simbol hati sebagai simbol vaidya di depan meja kayu.
Shrie duduk di bangku belakang meja sementara Sakya berdiri mengawasi Shrie. Mereka tampak hanya diam tetapi sebenarnya mereka berbicara dengan telepati.
Orang melewati meja mereka, ada yang penasaran tapi takut untuk mendekat bahkan ada juga yang mencibir. Menjadi vaidya di benua Pangea dalam usia muda seperti Shrie, jika karena bukan mukjizat maka dapat dipastikan dia adalah seorang penipu. Semua orang tahu bahwa sangat sulit menjadi vaidya, karena membutuhkan pengalaman yang panjang dalam mengobati sebuah penyakit.
Pada akhirnya, kesabaran Shrie dan Sakya membuahkan hasil.
Vati adalah seorang penduduk Lokapatti. Umurnya sekitar 30 tahunan. Sudah tiga hari ini perutnya terasa sakit. Ketika dia melihat meja simbol Vaidya di alun-alun dia memberanikan diri untuk mendatanginya.
Vati tidak punya pilihan lain karena dia tidak sanggup membayar jasa vaidya Aida, dia hanya berharap bahwa tabib yang di alun-alun ini mempunyai keahlian yang mampu menyembuhkannya.
"Nak, kudengar kau seorang vaidya? Apakah kau bisa menyembuhkanku?" tanya Vati pada Shrie
"Iya Bu, aku Shrie. Apakah kau sakit? Apa yang ibu rasakan?" tanya Shrie. Dia bangkit dari kursinya.
"Perutku sakit, mulas, mual nafsu makanku berkurang Nak." Vati menunjukkan bagian perutnya yang sakit. "Bisakah kau membantuku? Aku tidak punya apa apa, hanya ini yang bisa aku berikan." Dia menaruh sekeranjang bahan makanan di atas meja Shrie.
Shrie hanya mengangguk. Dia sebenarnya tidak ingin menerima pemberian tersebut, tetapi Sakya memaksa dia menerimanya. Percaya pada maksud kakaknya, akhirnya Shrie tersenyum pada Vati.
Shrie duduk kembali di kursi dan Vati disuruhnya duduk di seberangnya. Dipegangnya tangan Vati kemudian Shrie berdoa dengan nada seperti bernyanyi.
“Oh ... Ekadeva,
dewa segala dewa
__ADS_1
Penguasa seluruh makhluk bernyawa
Yang mengatur hidup dan mati
Dengarkanlah permintaan sepenuh hati
Oh ... Ekadeva
Berikanlah aku kekuatan
Memperpanjang kehidupan
Seorang hamba-Mu yang penuh kelemahan”
Sambil bernyanyi, Shrie menyalurkan prana penyembuhan pada perut Vati.
Sebenarnya Shrie tidak harus menyanyikan doa-doa pada Ekadeva, Shrie bahkan tidak tahu seorang dewa bernama Ekadeva. Menyanyikan doa pada Ekadeva adalah syarat Sakya pada Shrie apabila dia ingin menyembuhkan seseorang.
Vati pergi dengan wajah penuh syukur dan membungkuk beberapa kali berterima kasih pada Shrie.
Penduduk yang di alun-alun Lokapatti mulai berkerumun di meja Shrie. Mereka melihat bagaimana Shrie menyembuhkan Vati. Kemudian satu-persatu mulai duduk di kursi di depan Shrie.
Keluhan mereka bermacam-macam. Ada yang sakit gigi, nyeri dada, sakit kepala, luka yang tak kunjung mengering, semuanya sembuh oleh Shrie. Meja pengobatan Shrie semakin penuh, bukan hanya oleh penduduk yang sakit tapi oleh penduduk lainnya yang hanya ingin menyaksikan keajaiban sihir penyembuhan Shrie.
Atas perintah kakaknya Sakya, Shrie bahkan memberikan efek angin berhembus yang keluar saat Shrie menyanyikan doanya. Angin berhembus ke segala arah sampai menggerakkan rambut penonton yang berkerumun. Bagi para penonton, kekuatan ajaib Shrie sangatlah nyata karena mereka bisa merasakannya.
✤✤✤
Di sebuah pendopo terbuka yang cukup luas di dalam kota Lokapatti. Seorang Pria muda dengan rambut sebahu duduk di atas kursi berukiran harimau. Pakaiannya berbahan kulit terlihat mewah dihiasi pin yang juga berbentuk muka harimau terpasang di dada kirinya.
Di belakangnya berdiri enam orang penjaga yang berbaris dengan rapi lengkap dengan tameng dan tombak. Di tengah para penjaga duduk di atas kursi seorang wanita cantik berkulit kuning Langsat. Hiasan berbentuk bunga keemasan terselip di daun telinganya menghias rambutnya yang hitam panjang sepinggang.
__ADS_1
Di depan pria berpin harimau duduk bersimpuh seorang kakek tua dan di sebelahnya seorang anak kecil terbaring lemah tidak berdaya.
"Bratha Daurjana ... Kumohon selamatkan cucuku. Hanya dia keluargaku satu-satunya." Si Kakek memohon sambil memeluk kaki yang bernama Daurjana.
"Apa urusannya denganku? Kau bilang dia satu satu nya tapi kau hargai nyawanya hanya dengan sekeranjang sampah seperti ini?" jawab Daurjana sambil melemparkan keranjang yang berisi bahan makanan sayur mayur dan buah buahan.
"Bawa dia pergi!" titah Daurjana pada para pengawal sambil melepaskan kakinya dari pelukan si Kakek.
Dua orang penjaga langsung membawa si Kakek, sementara satu orang membawa anak yang sedang terbaring tersebut.
"Bratha Daurjana, kumohon izinkan aku menolong anak tersebut!" Wanita yang duduk di kursi tiba-tiba bicara dan berdiri. Wajahnya memelas saat melihat Daurjana.
"Selamatkan cucuku, Vaidya Aida! Kumohon." Si Kakek berteriak saat digiring keluar oleh dua penjaga
"Diam ... Aida, untuk apa kau peduli? Dia sendiri tidak peduli pada nyawa cucunya. Masa nyawa cucunya hanya seharga sayur-mayur. Bawa dia keluar!” jawab Daurjana menghardik di Kakek.
"Aida, jika kau mau terus menolong orang tanpa memberikan keuntungan padaku, akan kupastikan kau keluar dari Lokapatti ini. Jadi diam dan duduklah!" lanjut Daurjana, menghardik Aida sambil menunjuk mukanya.
Aida langsung terduduk, matanya tampak berkaca-kaca dan wajahnya langsung pucat. Sangat terlihat bahwa dia takut apabila harus keluar dari kota Lokapatti.
Setelah keributan selesai seorang penjaga baru dari luar tiba tiba masuk ke dalam pendopo.
"Hamba hendak melapor bratha Daurjana!" Si penjaga menempelkan kedua telapak tangannya di dadanya.
"Bicaralah!"
"Ada kabar bahwa di alun-alun kota ada seorang Vaidya ... Dia seorang gadis pengungsi yang baru datang."
"Hmmm ... Apakah berita ini benar?" tanya Daurjana.
"Menurut saksi yang memberi tahu hamba, Vaidya tersebut sudah menyembuhkan beberapa orang. Dia benar-benar bersumpah demi dewi Daru," jawab si penjaga.
__ADS_1
"Menarik ... Ha ha ha. Ayo kita pergi kesana!" titah Daurjana kemudian bergegas pergi keluar pendopo.