SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Menyelamatkan Milik Sagara


__ADS_3

Sakya menajamkan seluruh inderanya, dia tidak ingin memberi Sagara kesempatan untuk menyerangnya disaat lengah.


Cairan racun menerjang Sakya dari arah kiri. Sakya cepat membuat pelindung prana. Serangan disusul dengan kibasan ekor Sagara yang datang dari arah belakang, Sakya melompat ke arah kanan dan lolos dari serangan Sagara.


Serangan-serangan Sagara cepat dan mematikan, namun Sakya dapat menghindarinya. Sesekali Sakya berhasil memukul badan Sagara, akan tetapi kulit Sagara sangat keras bahkan jika menggunakan pedang dari besi pun Sakya tidak yakin bisa melukainya.


Meskipun pukulannya tidak berpengaruh, Sakya tetap memukul badan Sagara hanya untuk menunjukkan pada Sagara bahwa dia bisa melawan. Tentu saja hal tersebut membuat Sagara semakin marah.


Tidak bisa menahan marahnya, tiba-tiba muncul 4 ekor Sagara yang mengelilingi Sakya dari segala arah. Menutup jalan lari Sakya. Secara bersamaan mereka mematuk Sakya dari segala arah.


Sakya hanya melambaikan tangan kirinya di depan wajahnya dan keempat Sagara menghilang.


"Ilusi tidak akan berhasil padaku," sindir Sakya, tersenyum pada Sagara.


"Aku yakin yang mulia masih memiliki beberapa ilmu yang belum dikeluarkan, tapi apa yang mulia yakin mau menghabiskan prana hanya untuk main denganku?"


Setelah bicara, Sakya kemudian memutar badannya dan api keluar dari sekitar badannya menerjang ke segala arah. Uap air yang menjadi kabut menguap terbang karena panas dan kabut yang tebal mulai menipis dan hilang.


 


 


Sagara mulai jerih melawan Sakya. Dia lebih kuat dari yang dia kira. Mungkin untuk mengalahkannya dia harus mengerahkan seluruh kekuatannya, itu pun belum tentu dia menang dengan kondisinya saat ini.


"Apa maumu?" tanya Sagara.


"Dengarkan aku! Yang mulia mungkin menang melawanku, tapi apakah yang Mulia masih punya prana untuk menghadapi Kacana? Aku menawarkan bantuan untuk mengambil milikmu dari Kacana, jika aku kalah maka yang mulia akan melawan Kacana yang sudah kehabisan prananya. Bukankah itu menguntungkan yang mulia?"


"Jika kau menang?"


"Jadilah sekutuku menghadapi hari Pralaya," jawab Sakya.


"Ha ha, Kau ingin menghentikan hari Pralaya? Baiklah, kita lihat kemampuanmu dulu. Yang mulia ini menyarankan kau segera bergegas. Yang Mulia ini tidak pernah mengandalkan orang lain begitu pula saat ini. Jadi Jangan sampai yang mulia ini mendahului kalian." Sagara menyetujui permintaan Sakya dan berbalik masuk ke gua.


"Arda, Apakah kau tahu sarang Kacana?" tanya Sakya pada Arda di depan gua.


"Sarang Kacana berada di tebing tertinggi di daerah Utara," terang Arda.


"Terima kasih, ayo Karka, kita pergi." Sakya mengajak Karka langsung melesat pergi ke arah utara.

__ADS_1


Sepeninggal kepergian Sakya dan Karka, suara Sagara terdengar di dalam gua, "Arda... Apakah semua pasukan sudah siap?"


"Kita tinggal menunggu pasukan yang berasal dari arah timur laut  yang mulia," jawab Arda.


"Suruh mereka langsung ke Utara! Siapkan pasukan yang ada, kita pergi sekarang!"


"Baik yang mulia." Arda langsung  mengumpulkan pasukan ayata sattva.


✤✤✤


Sakya dan Karka berlari secepat mungkin ke arah utara. Karena rimbunnya pepohonan, Sakya mengayunkan pedang ksidra ke depan. Seberkas sinar prana menerjang pepohonan di hadapannya membuat jalan setapak untuk Sakya dan Karka. Mereka terus berlari mengejar sinar prana, mengikuti jalan setapak yang terbentuk olehnya.


"Mengapa kita terburu-buru ke arah utara?" tanya Karka.


"Sagara dan Kacana adalah penguasa hutan Vanaya. Jika mereka bertarung, yang menang jadi arang dan yang kalah jadi debu. Hal itu tidak menguntungkan untukku. Aku memerlukan keduanya sebagai sekutu," jawab Sakya.


Sakya membutuhkan sekutu yang banyak dan kuat. Ketika dua penguasa bertarung, dapat dipastikan walaupun menang mereka akan menderita luka berat dan yang kalah akan menemui kematian. Mereka tidak akan bisa membantu Sakya nanti.


Setelah berlari selama dua hari, mereka tiba di perbatasan hutan timur dan utara. Pemandangan rimbunnya pepohonan mulai berkurang, tidak lama kemudian berganti menjadi  sebuah gurun yang kering.


Hanya ada pepohonan kaktus, kurma dan semak-semak  di sekitar gurun. Binatang melata  terlihat di balik batu-batu menunggu pengerat muncul mencari makan.


Sakya dan Karka memperhatikan tebing-tebing  yang tersebar di sekitar gurun. Sebagian memanjang, sebagian lagi  bagai pohon menjulang tinggi ke angkasa. Mereka berhasil menemukan tebing yang paling tinggi, tanpa membuang waktu mereka bergegas pergi.


"Kita akan masuk sembunyi-sembunyi, pastikan kau menyembunyikan auramu," pinta Sakya pada Karka.


Sakya kemudian merapal sihir perlindungan. Agar lebih aman, Sakya menyebarkan prananya untuk membuat Ilusi apabila seorang tri praboditha melihat Sakya dan Karka maka mereka akan terlihat seperti binatang biasa lainnya yang hidup di gurun.


Sakya memutuskan untuk mengambil milik Sagara secara diam-diam guna menghindari konflik dengan Kacana. Dia membutuhkan Sagara dan Kacana untuk menjadi sekutunya.


Setelah satu hari perjalanan, Sakya dan Karka tiba di bawah tebing sarang Kacana. Sarang Kacana tepat di bawah puncak tebing. Terdapat mulut gua yang cukup besar. Untuk mencapainya, Sakya dan Karka harus mendakinya.


Di sarang Kacana. Kacana duduk batu besar di tengah ruangan gua. Di depannya duduk seorang wanita. Bentuk wajahnya tirus, hidung mancung dengan lesung pipit di sebelah kanan pipinya.


Walaupun rambut hitam yang panjangnya sepinggang sedikit berantakan. Untuk


manusia, tidak diragukan bahwa wanita tersebut termasuk seorang wanita yang cantik.


"Katakan padaku apa yang membuatmu sangat berharga untuk Sagara?" tanya Kacana pada wanita di depannya.

__ADS_1


"Tidak ada, aku hanya makanan di matanya," jawab wanita tersebut.


"Jangan berbohong padaku... Untuk penguasa seperti Sagara dan aku, makanan setahap tri praboditha bisa dengan mudah didapatkan. Kenapa sampai bersusah  payah membesarkanmu bahkan  sampai membuka tiga titik chakra di tubuhmu menjadi tri praboditha hanya untuk memakanmu?" hardik Kacana semakin curiga.


"Kau akan tahu jawabannya setelah kau memakanku." Tanpa takut wanita tersebut menantang Kacana untuk segera memakannya.


"Hahaha, aku akan memakanmu tapi tidak sekarang. Aku tahu kalau titik chakramu terbuka bukan karena usahamu sendiri. Kau bahkan tidak bisa ilmu bela diri. Cakhramu terbuka karena Sagara memberikan prananya padamu.  Ha ha ha, dan kau tahu dengan memberikan prana padamu dia menjadi lemah. Aku bisa membunuhnya dengan mudah sekarang. Oh satu lagi, saat aku mengalahkannya dan dia sudah tidak berkutik, aku akan memakanmu di depannya ha ha ha … Kau mengerti sekarang?" ujar Kacana tertawa keras.


Untuk membuka titik chakra, ada dua cara yang bisa dilakukan. Cara pertama adalah seseorang  bermeditasi mengumpulkan prana yang digunakan untuk membuka titik chakra dan melewati tantangan yang ditentukan di setiap titiknya. Semakin banyak titik yang dibuka maka semakin banyak prana yang dibutuhkan. Cara seperti itu adalah cara yang biasa digunakan seorang praboditha.


Sedangkan cara kedua adalah seorang praboditha memberikan prananya untuk membuka titik chakra praboditha lainnya. Cara ini terdengar mudah akan tetapi penuh dengan resiko dan tidak masuk akal. Siapa yang cukup gila untuk memberikan prana yang dia serap bertahun tahun kepada orang lain?


Semua praboditha tahu bahwa prana yang sudah diberikan tidak akan bisa diambil kembali, dan untuk menggantinya diperlukan waktu yang sama seperti saat dia menyerapnya pertama kali.  Seorang praboditha yang kehilangan prananya akan menjadi lemah. Inilah cara yang digunakan oleh Sagara yang membuat Kacana penasaran. Mengapa Sagara melakukan hal tersebut?


Sakya yang mendengarkan ucapan Kacana jadi mengingat kembali pertarungannya dengan Sagara. Tidak heran mengapa Sagara begitu lemah saat melawannya. Prananya mungkin hanya tinggal sedikit lagi. Seperti halnya Kacana, Sakya pun mulai penasaran mengapa Sagara melakukan hal tersebut.


"Aku memilih mati sekarang!" Wanita tersebut menggerakkan tangannya ke arah kepalanya sendiri seperti memukul. Akan tetapi, sebelum tangannya sampai, tiba-tiba dia tidak bisa bergerak.


"Ha ha ha, tidak semudah itu... Kau dipanggil Shrie kan? Bukan sekarang waktumu mati!"


"Shrie..." Saat Sakya mendengar nama Shrie, hati Sakya bergetar. Wanita itu namanya sama dengan nama adiknya yang meninggal bersama dengan orang tuanya. Apakah mungkin adiknya masih hidup? Atau hanya wanita yang sama namanya?


Siapapun dia, namanya membuat Sakya kehilangan konsentrasinya. Aura yang ditahannya mulai bergejolak. Aura yang terpancar dapat dirasakan oleh Kacana.


"Siapa di sana?" Kacana melihat ke arah mulut gua, dia tidak melihat apapun. Akan tetapi, dia bisa merasakan aura seseorang tepat di mulut gua.


Kacana mengibaskan sayapnya dan segumpal prana melesat ke arah mulut gua. Sakya dan Karka yang sedang bersembunyi dengan sihir berada di lajur prana tersebut. Dengan cepat Sakya membuat pelindung prana.


'Bumm... ' Ledakan akibat prana yang beradu menghancurkan daerah sekitar beserta sihir dan ilusi Sakya.


Kacana kini melihat seorang manusia dan resana sattva di depannya. "Siapa kalian?" tanya Kacana pada Sakya dan Karka.


Sakya tidak menjawab Kacana namun dia hanya memandang wanita yang kini melihat ke arahnya. Wajahnya adalah wajah yang Sakya kenal lima tahun lalu. Rambutnya memang lebih panjang dan badannya lebih tinggi, namun wajah tirus dan lesung pipit di pipi kanan tidak akan pernah Sakya lupakan. Itu adalah wajah adiknya Shrie.


"Shrie?" ujar Sakya.


Ternyata wanita tersebut memang Shrie. Sama seperti halnya Sakya, Shrie mengenal wajah pemuda yang ada di depannya. Memang garis wajahnya lebih menegas, tubuhnya meninggi dan lebih besar tapi itu adalah kakaknya Sakya.


Shrie berpikir bahwa kakaknya sudah mati. Lima tahun lalu ayahnya dan kakaknya pergi berburu di pinggiran hutan Vanaya dan hanya ayahnya yang kembali sementara kakaknya menghilang entah kemana. Dia tidak menyangka melihat kakaknya ada disini.

__ADS_1


"Kakak... Lari!" jerit Shrie. Tangisnya terlepas saat itu juga. Jika situasinya tidak seperti sekarang, Shrie pasti berlari memeluk kakaknya sambil tersenyum. Akan tetapi dengan Kacana ada disini, timbul rasa takut dalam diri Shrie bahwa kejadian yang sama terulang lagi saat keluarganya mati di hadapannya. Kali ini dia tidak ingin melihat kakaknya mati dihadapannya.


__ADS_2