SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Menara Pembuktian Mantra Sadhaka


__ADS_3

“Sakya, Mahaguru Vadika mengharapkan kehadiranmu di kantornya.” Seorang siswa bertubuh kurus dengan jubah yang kedodoran menghentikan Sakya saat dia hendak masuk ke dalam balai. Sakya menganggukkan kepalanya dan berjalan langsung ke arah kantor Mahaguru Vadika. 


Tidak lama kemudian Sakya sudah berdiri di depan sebuah pintu kayu berwarna coklat dengan plang nama Mahaguru Vadika di depannya. Kemudian dia mengetuk tiga kali. 


TOK! TOK! TOK!


“Masuk!” 


Sakya melihat Mahaguru Vadika sedang duduk di belakang mejanya sementara di belakangnya berdiri Mahaguru Wira. Mahaguru Wira adalah seorang guru yang mengajarkan siswa bertarung menggunakan mantra.


“Salam Sakya, silahkan duduk!” Mahaguru Vadika tersenyum pada Sakya.


"Ada yang bisa kubantu, Mahaguru Vadika?"

__ADS_1


"Ya, aku memerlukan bantuanmu … Sebenarnya, kami membutuhkanmu. Apakah kau melihat menara baru di samping menara lama?”


“Ya, Mahaguru. Aku melihatnya.” Jika aku tidak melihatnya maka aku adalah orang yang buta, pikir Sakya.


“Bagus. Menara tersebut kami namakan Menara Pembuktian. Pada akhirnya nanti, menara tersebut akan berfungsi sebagai prasyarat kelulusan siswa Mantra Sadhaka. Artinya, semua siswa harus memasuki menara pembuktian jika ingin lulus dari balai ini.”   Mahaguru Vadika berhenti sebentar dan mengambil cangkir teh yang ada di depannya. 


Sakya tetap terdiam tidak mengatakan sesuatu. Sementara Mahaguru Vadika menunjukkan senyum puas dan meletakkan kembali cangkir teh ditempatnya. Asap air teh hangat masih mengepul menebar wangi yang memberikan sedikit ketenangan pada Sakya yang menciumnya.


“Baik, Mahaguru Vadika. Kapan aku bisa mulai?” ucap Sakya. Dia tidak mau bertanya mengapa dia yang terpilih untuk tes tersebut. Jawabannya sudah jelas, tes tersebut memang sudah diperuntukkan olehnya.


“Oh … Kau setuju. Bagus. Ha ha ha … Aku suka keberanianmu. Mahaguru Wira mengatakan hal-hal yang baik tentang dirimu dan aku percaya bahwa penilaiannya benar. Oh, tentu saja kami akan memberikan penghargaan untukmu. Setelah kau keluar dari menara Pembuktian, kau kami nyatakan lulus dan jika kau tertarik, kau bisa menjadi asisten pengajar di balai ini. Mahaguru Wira akan senang menerimamu. Mengenai tesnya, Kita bisa mulai setelah kau siap.” Mahaguru Vadika tersenyum, kali ini lebih lebar begitu pula dengan Mahaguru Wira.


“Aku sudah siap sekarang juga Mahaguru. Apakah tidak masalah jika tes dilaksanakan sekarang?” pinta Sakya.

__ADS_1


“Kau yakin, Sakya? Kau tidak akan mati di tes ini tapi kau bisa terluka. Terburu-buru tidak akan membawa kebaikan padamu.” Kali ini Mahaguru Wira yang bicara. Selama 8 tahun ini dia memperlakukan Sakya dengan sangat baik. Mengajarinya dengan sabar,  walaupun dia sebuah ilusi, Sakya bisa merasakan kebaikan hatinya, dan itu sudah cukup.  Di dunia ini bagi Sakya dia bagai ayah keduanya.


“Aku sudah siap. Aku memang berencana untuk lulus tahun ini jadi aku sudah mempersiapkan semuanya. Mahaguru tidak perlu khawatir, kita bisa mulai hari ini.” ucap Sakya tanpa keraguan.


“Ha ha ha … Sekarang tidak hanya Mahaguru Wira yang menyukaimu, aku juga. Baiklah, kita ke menara Pembuktian sekarang.” Mahaguru Vadika bangkit dari kursinya, dia berjalan keluar kantornya diikuti oleh Sakya dan Mahaguru Wira.


Menara putih yang megah setinggi 50 meter berdiri di hadapan mereka bertiga. terbuat dari batu-batu marmer yang besar memberi kesan kokoh dan tidak terhancurkan. Mantra tertulis bercahaya keemasan mengelilingi seluruh dasar menara menambah kemewahan menara Pembuktian. Mantra-mantra tersebut yang memastikan bahwa menara berfungsi seperti yang diharuskannya. 


“Menara ini memiliki 3 lantai. Kau harus menyelesaikan tes di lantai dasar untuk naik ke lantai 2 dan seterusnya. Ketika kau menyelesaikan tes terakhir di lantai 3 maka kau akan otomatis keluar dari menara Pembuktian. Jika kau terluka cukup berat sampai membahayakan nyawamu maka kau juga secara otomatis keluar dari menara. Menara ini dilengkapi dengan mantra teleportasi yang akan bekerja secara otomatis. Jadi kau tidak perlu khawatir,” ucap Mahaguru Wira.


“Bagaimana jika aku gagal dalam tes?” ucap Sakya dengan nada khawatir.


“Kau tidak perlu khawatir tentang itu. Jika kau gagal artinya tes terlalu berat untuk diselesaikan dan kami akan menurunkan tingkat kesulitannya. Berhasil atau gagal, kau tetap akan mendapatkan hadiahmu. Semoga berhasil,”  jawab Mahaguru Wira menepuk pundak Sakya.

__ADS_1


__ADS_2