SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Kota Lokapatti


__ADS_3

Pesta penobatan berakhir sebelum matahari terbit.  Mereka sudah jatuh tertidur berselimut pasir yang diterbangkan angin, berbantalkan tubuh yang terbaring di sebelahnya. Masuk ke dalam alam bawah sadar dimana mereka menitipkan harapan indah menjalani era baru yang datang.


Ketika langit mulai mengenakan pakaian jingga, mata mereka mulai terbuka.


Sakya dan Shrie yang tertidur di sebelah Karka mulai bangkit dan meregangkan tubuh yang terasa kaku.


"Kemana kita akan pergi?" tanya Shrie pada Sakya.


"Kita akan ke luar hutan Vanaya, Jatarupa mengatakan kalau ada kota manusia di arah utara," jawab Sakya.


Semalam Sakya cukup terkejut ketika manusia berhasil memiliki sebuah kota. Terutama karena jaraknya yang masih bisa dicapai oleh sattva di hutan Vanaya hanya dalam hitungan hari. Kenyataannya adalah bahwa kota tersebut masih berdiri karena sattva yang ada disekitarnya menganggap manusia tidak memiliki nilai sama sekali.


Sebagai sumber makanan, manusia memiliki lebih banyak tulang dan cairan dibanding dagingnya, apalagi sebagai sumber prana, kandungan prana yang dimiliki manusia sangatlah kecil.


Mereka melihat manusia seperti halnya manusia melihat semut. Tidak peduli seberapa banyak jumlahnya, semut tidak berharga untuk dijadikan sumber makanan. Terutama jika kita memiliki sumber makanan lain.


"Ayo kita pergi, aku ingin tahu seperti apa kota manusia itu!" ujar Shrie menarik tangan Sakya.


Shrie hidup di desa kecil selain itu dia terjebak di hutan Vanaya selama lima tahun. Hal ini menyebabkan keinginan untuk melihat peradaban dan manusia lain sangatlah besar.


"Ha ha, baiklah. Aku akan bicara dengan Jatarupa dulu," ungkap Sakya. Seperti Shrie, Sakya pun sangat penasaran untuk melihat kota manusia.


Sakya kemudian membangunkan Jatarupa dan bertanya, "Mengapa di hutan Vanaya ini tidak ada sattva panca praboditha?"


Panca praboditha  adalah orang yang telah membuka lima titik chakranya. Titik chakra kelima adalah chakra Visuddhi yang terdapat di pangkal tenggorokan.


 "Yang mulia, dulu memang ada legenda tentang seorang sattva bernama Prathama. Dia bahkan seorang sat praboditha, dia  yang pertama kali berhasil membuka titik chakra Ajna,” jawab Jatapura kemudian dia mengambil napas panjang dan melanjutkan ceritanya, "Pada suatu hari dia menghilang. Tidak ada yang tahu apakah dia pergi atau mati. Sayangnya, pengetahuan untuk membuka titik chakra Visuddhi dan Ajna belum sempat dia sampaikan pada penerusnya. Itulah yang menyebabkan  sampai saat ini, ras sattva hanya bisa mencapai catur praboditha, karena ilmu pengetahuan kami miliki hanya sampai disitu." Jatapura menjelaskan panjang lebar.


"Dengarkan baik-baik! Aku, adikku dan Karka akan pergi. Aku memberimu tugas untuk mengumpulkan bunga-bunga dan akar-akaran tertentu. Jika sudah terkumpul kau bisa menghubungiku. Aku akan membuatkan pil agar kau, Sagara dan Bhati bisa membuka titik chakra Visuddhi," titah Sakya. Kemudian dia mengeluarkan gulungan dari kulit binatang yang berisi nama bunga dan akar yang dibutuhkan.


"Yang Mulia, apa yang mendasarimu sehingga berbuat seperti ini?" Jatapura bertanya setelah menerima gulungan kulit binatang dari Sakya.


"Hari Pralaya akan tiba. Aku perlu teman yang kuat untuk mencegahnya. Bertarunglah bersamaku saat waktunya tiba," jawab Sakya.


"Ah ...Hari Pralaya. Yang mulia keinginanmu adalah perintah. Akan aku cari bahan-bahan ini. Bahkan jika harus sampai ke luar hutan Vanaya. Kita akan menghentikan hari Pralaya." Jatarupa berjanji.


Semua sattva sudah tahu legenda tentang hari Pralaya. Hari dimana semua kehidupan akan berakhir. Hari itu pasti akan datang hanya saja tidak ada yang tahu kapan pastinya,  Jatapura tidak mengira dalam waktu dekat ini. Bisakah kita mencegah hari Pralaya? Meskipun dia ragu, Jatapura akan tetap melaksanakan perintah Sakya, walaupun nyawa taruhannya.


"Yang mulia, bagaimana kalau kami mengantarmu? Perjalanannya  akan lebih cepat." Jatarupa menawarkan tumpangan pada Sakya.


"Tidak perlu. Ada yang harus aku lakukan dalam perjalanan. Kau selesaikan tugas yang aku berikan secepatnya. Jika perlu bantuan, kau bisa menghubungi penguasa lainnya. Mereka adalah sekutuku," titah Sakya. Kemudian Sakya memberikan tanda sihir pada Jatarupa jika dia perlu berkomunikasi dengannya.

__ADS_1


"Baiklah yang mulia. Aku akan langsung bekerja." Jatapura bergegas mengumpulkan anak buahnya yang baru.


Sakya, Shrie dan Karka segera pergi ke arah utara keluar hutan Vanaya setelah semuanya siap.


Dalam perjalanan menuju kota, Sakya melakukan apa yang direncanakan sebelumnya, yaitu  mengajari Shrie bagaimana menggunakan kekuatannya. Sakya tahu meskipun Shrie seorang tri praboditha, dia sama sekali tidak tahu cara menggunakan prana. Seperti seorang bayi yang diberikan kekuatan tubuh yang kuat, pukulan dan tendangan maha dahsyat. Tapi, tidak tahu apa yang bisa dilakukan dengan kekuatan tersebut.


Melawan rakshasa yang bukan praboditha tentulah sangat mudah, tapi jika melawan praboditha lain walaupun hanya dwi praboditha, Shrie hanya akan menjadi sumber isi ulang prana.


Selama mengajari Shrie, Sakya menyadari bahwa Shrie sama sekali tidak memiliki bakat bertempur. Akan tetapi, Shrie ternyata cukup menonjol dalam menguasai sihir.


Tentu saja Shrie senang mempelajari sihir. Dengan sihir, dia bisa membuat bunga-bunga tumbuh dengan cepat dan melihat mereka bermekaran. Menurunkan hujan terutama saat dia teringat akan kedua orang tuanya dan bahagia kala melihat pelangi yang muncul setelahnya.


Akhirnya, Sakya memutuskan untuk fokus mengembangkan kemampuan sihir Shrie bergantian bersama Karka. Bagaimana memanfaatkan prana untuk melakukan sihir.


Hari ini adalah hari keempat mereka melakukan perjalanan. Dua hari yang lalu mereka keluar dari hutan Vanaya. Sekarang mereka mengarungi Padang rumput yang luas. Shrie meminta izin untuk membersihkan diri saat mereka melihat  sebuah sungai kecil. Di tempat ini Sakya memutuskan mereka beristirahat terlebih dahulu.


"Kita sudah hampir tiba di kota, saatnya kita berpisah sementara," kata Sakya pada Karka, setelah Shrie pergi.


"Kenapa?" Karka bertanya lirih, wajahnya tampak sedih.


"Aku meminta bantuanmu untuk melakukan sesuatu untukku," ucap Sakya sambil mengelus kepala Karka.


"Apa itu?" Karka bertanya kembali.


Sattva liar adalah sattva yang tidak tergabung dalam sebuah kelompok. Di benua Pangea masih banyak sattva yang tersebar, mereka berburu dan hidup terpisah dari kawanannya.


"Tidak bisakah kita melakukannya berdua?" pinta Karka. Hatinya terasa berat harus berpisah dengan Sakya.


"Aku rasa kita sudah tidak memiliki banyak waktu, sementara kau menemukan sattva, aku akan menyiapkan manusia agar sanggup menghadapi hari Pralaya," ungkap Sakya.


Saat ini, ras manusia hanyalah beban dalam sebuah pertempuran. Cara berpikir dan kekuatan mereka terlalu jauh tertinggal di antara ras yang lainnya. Sakya berencana untuk merubahnya.


"Aku mengerti." Karka menjawab sambil menundukkan kepalanya.


Tidak lama kemudian Shrie kembali dari sungai kecil. "Aku sudah siap. Kapan kita lanjutkan perjalanan?" tanyanya.


"Kita pergi sekarang,” jawab Sakya.


"Aku pergi juga sekarang. Sampai jumpa lagi Sakya … Shrie ..." ucap Karka.


"Kau mau kemana? Kenapa pergi?" pekik Shrie. Shrie mengenal Karka baru beberapa hari namun terasa seperti sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. Kini hanya sekejap mata mereka harus berpisah.

__ADS_1


"Ada sesuatu yang harus aku lakukan sendiri. Jangan khawatir, kita akan bertemu kembali secepatnya. Kabari aku kalau ada yang menyakitimu," pinta Karka, dia merebahkan badannya agar Shrie bisa memeluknya.


Shrie akhirnya melepas pelukannya. Dia tidak bisa membujuk Karka lagi. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Aku mencium bau manusia di arah timur laut. Aku harus pergi sekarang. Jaga diri kalian baik-baik. Kita akan bertemu lagi secepatnya," ucap Karka, seraya bangkit dan langsung berlari ke arah barat.


Sakya dan Shrie memandangi Karka yang makin lama makin mengecil dan akhirnya menghilang di garis cakrawala.


"Ayo kita pergi. Mereka mungkin tahu arah ke kota," ajak Sakya pada Shrie. Mereka berlari ke arah timur laut.


Tidak lama kemudian Sakya dan Shrie berhasil memotong jalur penunggang kuda. 3 orang berkuda memperhatikan dan mulai mendekati Sakya dan Shrie.


"Apakah kalian tersesat?" Salah satu pengendara bertanya pada Sakya.


"Iya, bisakah Bratha menolong kami?" Sakya menjawab sementara Shrie diam berdiri di samping Sakya.


"Tentu ... Kalian mau kemana?" tanyanya.


"Aku Sakya dan ini Shrie adikku. Kami dari desa Paraka sebelah tenggara pinggiran hutan Vanaya. Bisakah kau menunjukkan kami ke kota terdekat?" Sakya memperkenalkan diri.


"Aku Nayaka, dan mereka adalah rekanku, Yamala dan Yamaka. Mereka kakak beradik. Kami adalah petugas keamanan kota Lokapatti, jika kau mau, kami akan bawa kalian ke kota," tawar Nayaka.


Nayaka merupakan pemuda dengan wajah berbentuk oval. Rambutnya hitam pendek disisir dengan rapi. Kulitnya coklat terbakar menunjukkan bahwa dia sering berada di ruang terbuka.


Sementara Yamala dan Yamaka sama-sama memiliki bentuk wajah bulat, wajahnya hampir mirip, hanya tahi lalat di bawah bibir Yamaka yang membedakan mereka. Rambut mereka keriting panjang sebahu.


Pakaian mereka panjang selengan,  celana  yang panjangnya sampai di bawah lutut. Keduanya  berbahan kulit yang sudah disamak. Mereka mengenakan rompi pelindung dada terbuat dari beberapa lapis kulit trenggiling yang di lem.


"Kami tidak ingin merepotkan, Bratha Nayaka bisa menunjukkan arahnya, selebihnya kami bisa berjalan," kata Sakya.


"Tidak merepotkan, kalian bukan manusia pertama yang kami temukan dan kami tolong. Itu sudah tugas kami. Yamaka berikan kudamu pada Shrie, kau naik bersama Yamala! Dan Sakya, kau bisa berkuda bersamaku. Perjalanan kita cukup jauh ... Kita akan tiba saat sore," terang Nayaka. Saat ini, matahari bersinar tepat di atas mereka.


Yamaka segera turun dari kudanya. Dia membantu Shrie naik kudanya, kemudian  naik kuda bersama kakaknya. Setelah semua siap mereka berkuda ke arah utara.


Mereka tiba di kota Lokapatti menjelang sore hari. Pintu gerbang terbuat dari kayu setinggi 3 meter berdiri dengan gagahnya. Batang pohon setinggi 4 meter  berbaris rapi dan rapat.  Dinding kayu ini yang melindungi kenyamanan yang ada di dalam kota dari bahaya yang ada di luar.


Dinding kayu  berbentuk setengah lingkaran dan setengah lingkaran lagi, terbentuk dari dinding alami yang merupakan tebing berbentuk setengah lingkaran.


"Selamat datang di Lokapatti ... Buka gerbangnya!" Nayaka berteriak pada penjaga gerbang.


‘Dreeeddd’ Bunyi gerbang kota Lokapatti yang terbuka secara perlahan-lahan.

__ADS_1


Shrie terlihat sangat penasaran, matanya berbinar-binar, dia menggigit daun bibir merahnya dan mengepalkan tangannya. Berharap pintu gerbang terbuka dengan cepat dan memperlihatkan bagaimana kehidupan manusia di kota Lokapatti.


__ADS_2