
Sakya, Shrie dan Karka melihat kepergian Sagara. Bagi Shrie sangat berat meninggalkan Sagara. Sagaralah yang menemaninya dan mengurusnya selama lima tahun ini.
Sebenarnya setelah kepergian keluarganya, Shrie sudah tidak ingin hidup lagi. Karenanya, di awal-awal pertemuannya dengan Sagara, Shrie selalu membuat kesal Sagara dengan memukul hidungnya. Tapi Sagara begitu sabar menghadapinya.
Di tahun pertama, Shrie sering menghabiskan malam di luar dengan menatap bintang, Sagara membuka titik chakra Muladhara Shrie dan menjadikannya eka praboditha dengan alasan agar dia tidak mudah sakit dan semakin kurus.
Di tahun kedua, Shrie tidur di dekat Sagara. Sagara selalu bercerita tentang masa lalunya, pertempuran-pertempuran yang dia alami dan betapa hebatnya dia. Meskipun ceritanya penuh dengan darah, cerita-cerita itulah yang menemaninya tidur.
Di tahun ketiga, Shrie sering menjelajah hutan ditemani Arda. Inilah saat dia bertemu dengan kawanan ras rakshasa kembali. Ditelan rasa amarahnya Shrie menyerang kawanan tersebut. Sayang sebagai eka praboditha dia hanya mampu seimbang melawan satu orang rakshasa. Pada akhirnya, Arda harus turun tangan dan menolongnya.
Pada tahun inilah Sagara pertama kalinya marah besar padanya. Sagara merendamnya di sungai seharian. Tapi, pada malam harinya, Sagara membuka titik kedua chakra Svadhisthana menjadikannya dwi praboditha.
Pada tahun keempat, Shrie menjadi pembantai rakshasa yang masuk ke dalam hutan Vanaya bagian timur. Dia sering pulang ke gua dengan luka memar dan gores. Sagara mulai sering marah-marah dan mulai memukuli Arda sebagai pelampiasan. Tahun keempat adalah tahun yang sangat berat bagi Arda.
Tahun kelima Sagara membuka titik ketiga chakra Munipura dan menjadikannya tri praboditha. Tahun ini adalah tahun keemasan bagi Shrie. Namanya mulai terkenal di kalangan ras rakshasa sebagai pembantai. Di tahun inilah Shrie mau berbicara kembali, kata-kata pertama yang diucapkan pada Sagara adalah : "Terima kasih."
Semua berakhir ketika Shrie bertemu dengan Kacana yang berhasil menculiknya karena penasaran atas perlakuan Sagara kepada Shrie. Jangankan Kacana, Shrie sendiri bahkan tidak tahu jawabannya.
Saat mereka bertiga masih mengejar cerita tentang apa yang terjadi selama lima tahun ini, Jatapura datang.
"Yang mulia, hamba telah menyerap sebagian besar prana di pil tersebut. Hamba siap membuka titik chakra keempat titik anahata," ucap Jatapura.
"Baiklah, kita berangkat!"
“Silahkan naik ke punggungku.”
Sakya dan Shrie untuk naik ke punggungnya. Sementara Karka tetap diam.
“Karka? Apakah kau akan ikut?”
__ADS_1
“Huh, aku sattva darat. Aku tidak terbiasa di udara. Kalian pergilah! Aku akan mengikuti kalian.”
Sekitar 1 jam kemudian, mereka tiba di sebuah gunung berapi yang tidak terlalu tinggi. Mereka mendarat sebelum di puncaknya. Beberapa titik Api bumi terlihat membara di lereng gunung.
"Karka, kurasa sudah waktunya kau membuka titik chakra Anahata!" ucap Sakya.
"Baiklah, aku sudah siap sekarang," jawab Karka, penuh semangat.
Sebenarnya Karka bisa membuka titik chakra anahatanya sebelum dia meninggalkan balai Vanuya. Namun Karka memilih menundanya karena dia ingin memperdalam pemahamannya dalam menggunakan prana di tahap tri praboditha.
Seperti halnya saat membangun rumah, meskipun atap rumah sudah bisa dipasang namun harus dipastikan bahwa pondasi dan tiang sebagai penyangganya mampu menahan beban atap tersebut.
Karka mengharapkan kesempurnaan agar tidak menjadi titik lemah saat dia menjadi catur praboditha.
Saat ini, Sakya memintanya untuk membuka titik anahatanya, Karka yakin ada maksud tertentu mengapa dia meminta hal tersebut. Mungkin Sakya memerlukan kekuatannya sebagai catur praboditha.
Langkah untuk membuka titik chakra anahata sebenarnya cukup sederhana. Jatapura hanya tinggal mengalirkan prana dari titik chakra munipura yang ada di titik pusar ke titik chakra anahata yang ada di titik tengah dadanya. Namun prosesnya yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian.
Prana seperti aliran air. Selalu mengalir selalu ke tempat rendah, bagaimana caranya menyalurkan prana ke atas titik pusar ke titik dada? Jatapura harus menekan genangan prana di titik munipuranya sehingga mendorong prananya naik ke saluran astral yang menghubungkan antara titik munipura dan titik anahata. Dorongan tersebut haruslah sangat kuat agar bisa langsung membuka titik chakranya.
Hal apa yang dapat menyebabkan kematiannya? Dia harus melakukannya sembari semedi di dalam api bumi. Jika Jatapura tidak berhasil, dia akan hangus terbakar.
Sebelum masuk ke api bumi, Jatapura mengalirkan prananya keseluruh tubuhnya untuk melindunginya dari panas api. Setelah siap, dia masuk ke dalam api bumi dan semedi.
Api bumi mencoba membakar bulu-bulunya yang keemasan, dengan lindungan prananya, bulu-bulunya tetap bertahan. Di tubuh astralnya, Jatapura mulai menekan permukaan genangan prana yang ada di titik munipura namun hanya menimbulkan riak dan gelombang. Kemudian dia menekan lebih keras dan lebih keras lagi, prananya naik ke saluran astral namun turun lagi sebelum mencapai titik anahata.
Keningnya mulai berkerut, sementara keringatnya sudah menguap oleh panasnya api. Dia sudah menekan beberapa kali tapi prana yang naik ke saluran astral chakra anahata turun lagi sebelum mencapai puncaknya. Dia sudah mencoba beberapa kali, hasilnya tetap gagal.
Bulu-bulu Jatapura sudah mulai terbakar api. Jatapura harus merelakan bulu-bulunya hangus karena dia sudah tidak bisa mengalirkan prana untuk melindungi bulu-bulunya. Jatapura tidak bisa mengalirkan prana yang berlebihan karena dia membutuhkan genangan prananya tetap penuh agar lebih cepat naik ke saluran astral penghubung. Jika genangan prananya menyusut maka daya tekan semakin berkurang dan jarak saluran astral antara titik munipura dan anahata tidak akan terlewati. Hal itu sama saja dengan bunuh diri.
__ADS_1
Jatapura memutuskan untuk menekan prananya dengan menggunakan ritme. Seperti penabuh genderang menabuh permukaan kulit genderangnya dengan ritme semakin lama semakin cepat. Prananya mulai naik perlahan-lahan sampai mendekati titik anahata saat itulah ritme kecepatan mencapai puncaknya dan di tutup dengan satu hentakan keras. Prananya mencapai titik anahata namun sayangnya belum cukup kuat untuk memutar chakra anahatanya. Prananya turun kembali.
Jatarupa ingin menjerit tapi dia tidak punya waktu untuk menjerit. Semua bulunya sudah hangus terbakar. Kini Api mulai membakar kulit dan dagingnya. Bau sangit daging yang terbakar mulai tercium. Dia akan mati jika dia tidak mengambil resiko.
Jatapura mulai menekan genangan prananya dengan ritme seperti sebelumnya, makin lama semakin cepat. Ketika ritme sudah mencapai puncaknya dia tutup satu hentakan keras, prananya kembali mencapai titik puncak, sebelum prananya turun kembali, sisa prana pil Kalvareksa yang belum diserap dia masukkan ke genangan prananya dan mengisi kekosongan akibat prana yang naik ke titik anahata. Karena genangan prana yang di titik Munipura penuh, prana yang sudah ada di saluran astral tidak bisa turun lagi malahan terus terdorong ke atas akibat sisa prana yang terus mengisi genangan prana munipuranya.
'Buum' Aliran prana yang kencang masuk ke titik anahata memutar chakra anahata Jatapura. Mengalirkan prana yang terus masuk ke seluruh tubuh Jatapura. Jatapura kini menjadi catur praboditha. Daging yang sudah meleleh karena api mulai beregenerasi membentuk daging yang baru lebih cepat dari pada api yang membakarnya. Kulitnya tumbuh kembali menggantikan kulit yang terbakar. Lebih kuat dari kulit sebelumnya.
Jatapura membuka matanya. Ternyata langit sudah menjadi gelap. Dia bertarung dengan maut selama setengah hari. Dia melihat semua orang sedang menunggunya, bahkan Karka ada di antara mereka. Sebenarnya dia bisa keluar dari api bumi, akan tetapi Jatapura memutuskan untuk menunggu bulunya tumbuh kembali. Akan sangat aneh apabila seorang garuda berjalan tanpa bulu sehelaipun.
Sambil menunggu bulunya tumbuh Jatapura melihat tubuh astralnya yang semakin membesar dua kali lipat. Genangan prananya melebar seukuran kolam kecil. Tubuhnya yang telah ditempa api bumi menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Dia sangat berterima kasih pada rajanya yang baru. Kesetiaannya pada Sakya semakin terpatri di hatinya.
Setelah bulunya tumbuh kembali, Jatapura keluar dari api bumi.
"Owh, kami sudah cukup lama menunggumu," sindir Karka. "Bisakah kita pergi sekarang ke tempat nyaman untuk beristirahat?"
"Lama? Memangnya kau menghabiskan waktu berapa lama membuka titik anahatamu?" Jatapura penasaran, karena dia menghabiskan waktu sampai setengah hari.
"Oh, hanya 30 menit. Bisakah kita berangkat sekarang?" jawab Karka dengan nada bosan.
" ..." Jatapura tidak sanggup berkata-kata.
"Baik, kita pergi sekarang," ucap Sakya.
"Sesuai perintahmu yang Mulia, silahkan naik ke punggungku." ujar Jatapura.
"Oh, aku sudah melihatmu tanpa bulu. Maaf sepertinya saat ini aku kurang nyaman untuk naik di punggungmu. Aku naik garuda yang lain," kata Sakya.
" ..." Jayapura pun tidak sanggup berkata-kata lagi.
__ADS_1