SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Persembahan di Bukit Varsani


__ADS_3

Di bukit dewi Daru, lima belas rakshasa setinggi empat meter mulai bermunculan di segala arah. Mengepung para peserta perayaan. Tanpa gada di tangannya, mereka dengan mudah menangkap para peserta yang kesulitan berlari karena berat dengan barang persembahan yang mereka bawa.


Sakya yang sudah merasakan kehadiran rakshasa. Dengan cepat mengambil pedang ksidranya dan membunuh satu rakshasa di dekatnya.


"Bratha Tivara, bawa yang lain ke sini!" teriak Sakya pada Tivara.


Tivara yang sedang menuruni bukit mendengar teriakan Sakya. Dia melihat Sakya berada di bawah bukit dan seorang rakshasa tergeletak di sampingnya. Bagaimana dia melakukannya? Apakah itu pedang?


"Semuanya ikuti aku!" Tivara segera bertindak. Dia tidak mempunyai waktu untuk memikirkan cara Sakya membunuh rakshasa. Dia memanggil para peserta yang tersisa.


Dalam situasi  genting, waktu adalah hal yang penting. Semakin cepat merespon peluang maka semakin besar kemungkinan untuk tetap hidup, dan saat ini Tivara melihat peluang untuk meloloskan diri.


Sakya bergerak untuk membunuh rakshasa yang kedua, dengan tujuan memperlebar jalan keluar. Sebenarnya, Sakya bisa membunuh semuanya dengan mudah. Namun karena alasan tertentu dia berusaha menahan diri.


Dua rakshasa sudah jatuh, jalan keluar semakin lebar. Para penduduk sudah tiba di tempat Sakya. Melihat Sakya berhasil membunuh dua rakshasa mereka berusaha bersembunyi di belakang Sakya.


"Lari ke arah prajurit Lokapatti!" teriak Sakya. Dengan cepat para peserta berlari ke arah Lokapatti.


"Aku akan membantumu!" teriak Tivara langsung mengambil kuda-kuda.


"Pergilah! Bawa yang lain ke tempat aman! Aku akan menghalau mereka! Jangan khawatir aku akan menyusulmu," teriak Sakya langsung menyerbu kelompok rakshasa yang sedang berlari ke arahnya.


Mengetahui bahwa dia hanya akan memperlambat Sakya karena dia tidak memegang senjata, Tivara langsung balik badan dan lari mengikuti para peserta lainnya. "Hati-hati Sakya!"


Sakya dengan lincah menghindari sergapan rakshasa. Bagi Sakya, para rakshasa bergerak sangat lambat sekali. Sakya menggiring mereka ke tempat yang tersembunyi di sisi bukit lainnya, dan mulai membunuhnya satu persatu.


Rakshasa lain yang terpisah  mendengar teriakan temannya langsung datang mendekat. Seperti temannya, mereka yang datang hanya mengantar nyawa mereka.


Hanya satu rakshasa yang tersisa, dan dia berjalan mundur dengan perlahan. Berharap Sakya tidak menyadari. Bagaimana mungkin dia tetap melawan sementara sebagian temannya mati dengan kepala terpisah dan yang lain mati terbelah dua. Bahkan jika dia diberi nyawa sembilan, dia yakin tetap akan mati sembilan kali.


"Berhenti! Aku tidak akan membunuhmu. Aku memerlukanmu hidup."  Sakya memberi perintah pada si rakshsasa.


"Kau bicara bahasa kami?" tanya rakshasa kaget. Ini pertama kalinya seorang manusia berbicara bahasa rakshasa.

__ADS_1


Sakya tidak bicara bahasa rakshasa. Dia hanya menyampaikan 'pesan' dalam prananya melalui telepati. Dia terpaksa berbicara melalui telepati karena si rakshasa bukan seorang praboditha, sehingga dia tidak bisa menangkap pesan dalam prana yang keluar saat Sakya berbicara. Sedangkan bahasa yang dikatakan oleh si rakshasa dapat Sakya pahami.


"Jawab pertanyaanku. Kenapa kalian ada disini?"  Sakya langsung bertanya. Akan menghabiskan banyak waktu jika dia harus menjawab pertanyaan si rakshasa.


"Ini—ini  yang kami selaku lakukan setiap tiga bulan. Ka—kami mengambil persembahan manusia yang diserahkan oleh pemimpin kalian," jawab si rakshasa gugup. Aura yang dipancarkan dari tubuh Sakya membuatnya ketakutan. Entah mengapa, mulut dan lututnya terasa lemas.


"Jelaskan padaku lebih rinci lagi!" titah Sakya, sedikit berteriak.


"A—Aku tidak tahu banyak, yang aku tahu adipatimu menawarkan ketua klan kami persembahan manusia setiap dua bulan sekali secara terus menerus dan jumlahnya akan terus bertambah dengan syarat kami tidak menyentuh kotanya," ungkap rakshasa jatuh terduduk.


Akhirnya kecurigaan Sakya terbukti. Sejak awal dia sudah merasa curiga, bagaimana mungkin sebuah kota dengan dinding kayu bisa bertahan selama ini tanpa serangan dari para rakshasa? 


Nyatanya kota Lokapatti hanyalah sebuah peternakan, dan manusia adalah ternaknya.  Tentu saja ketua klan rakshasa menyetujuinya, mereka bisa mendapatkan pasokan manusia yang terus berkelanjutan tidak ada habisnya. Hal tersebut  lebih baik daripada terus berburu dengan resiko kehabisan sumber makanan.


Bagi Sakya berita yang paling mengejutkan adalah tentang ketua klan yang bisa berkomunikasi dengan adipati Sena. Hal itu menandakan pasti bahwa ketua klan rakshasa adalah seorang dwi praboditha karena Sakya tahu bahwa adipati Sena bukanlah seorang praboditha.


Manusia mungkin mempunyai kesempatan menang melawan rakshasa dalam pertempuran jarak jauh menggunakan busur panah, akan tetapi melawan rakshasa praboditha sama seperti seekor kucing yang berusaha mendorong pohon beringin yang besar. Mereka tidak akan pernah berhasil menumbangkannya.


"Apa yang kalian lakukan terhadap manusia yang kalian ambil?" tanya Sakya.


Konyol, bilang pekerja padahal budak, bebaskan dari derita padahal dimakan ah .... Bibir Sakya berkedut mendengar jawaban rakshasa. Dia mulai terkesan dengan kecerdasan rakshasa yang ada di depannya.


"Kau bilang kalian mempunyai raja? Ceritakan padaku seberapa kuatnya dia!" titah Sakya. Dia perlu mengetahui semua informasi yang bisa digunakan di masa depan.


"Tentu saja dia sangat kuat ah, Ba—bayangkan saja! Untuk menjadi raja, dia harus mengalahkan sepuluh orang ketua klan secara bersamaan.  Oh iya, kami terdiri dari lima puluh klan artinya kami punya lima puluh ketua klan. Bayangkan! untuk menjadi ketua klan, kau harus mengalahkan sepuluh orang rakshasa lainnya. Emm ... apakah aku sudah bilang kami punya lima orang Jenderal? Bayangkan! Untuk ...."


"Cukup!"


Huh, menceritakan tentang ketua klan dan Jenderal untuk menakutiku. Kau pikir aku takut?


"Kau boleh pergi tapi sampaikan pesanku pada ketua klanmu! Katakan bahwa adipati Sena sudah tidak akan mengirim persembahan manusia lagi. Kota Lokapatti milik manusia sekarang! Jika kalian datang kami akan membunuh kalian. Pergilah!" seru Sakya menendang rakshasa sampai terjungkal.


"Tunggu ... Tu—tunggu, kau cukup kuat untuk seorang manusia, ketua klanku senang orang kuat. Bayangkan kau menjadi adipati baru di Lokapatti ... Tidak ...  seorang raja, raja manusia. Kami masih punya lima peternakan ... Eh ma—maksudku lima daerah binaan dan kau akan jadi rajanya. Bagaimana?" tawar si raksasa.

__ADS_1


"Pergi! Jika masih bicara akan aku potong satu kakimu. 'Bayangkan' kau pulang meloncat-loncat sampai kotamu. Aku tidak berurusan dengan yang lemah," seru Sakya sambil mengirimkan tendangan lainnya


Si rakshasa langsung balik badan dan berlari tanpa bicara sepatah kata lagi. Sakya melihatnya pergi dan tersenyum. Kemudian dia berjalan ke balik bukit.


Di balik bukit, ada gerobak kereta besar yang ditarik oleh dua ekor gajah mengangkut kerangkeng bambu yang berisi manusia yang ditangkap para rakshasa tadi.


Sakya membebaskan mereka dan menyuruh mereka kembali ke arah kota Lokapatti.


"Terima kasih Bratha, kau kakaknya vaidya Shrie? Kalian adalah penyelamat hidupku. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk membalasnya," ucap seorang kakek yang  mendatanginya dan membungkuk padanya.


Sakya mengenal kakek ini. Dia adalah kakek Vatsa yang kini menjadi pelayan Shrie.


"Kakek tidak berhutang apapun. Ayo kita pergi!" Sakya tersenyum. Sakya membebaskan semua dan bersama-sama mereka menuruni bukit dewi Daru.


 


✤✤✤


 


Abuba adalah seorang kapten  prajurit Lokapatti. Dia memiliki lima puluh orang prajurit sebagai bawahannya. Setiap dua bulan sekali  pasukan yang dia pimpin bertugas untuk mengawal para peserta persembahan dewi Daru ke padang Varsani.


Setelah mengantar para peserta sampai perbatasan, biasanya mereka menunggu dan menunggu di bawah pohon beringin yang tinggi dan rindang sambil berbincang-bincang.


"Kapten, bisakah kita kembali sekarang?" tanya seorang prajurit yang berhidung pesek pada abuba.


"Kita jalankan perintah seperti biasa. Kita tunggu sampai sore baru kita kembali ke kota," jawab Abuba. Matanya lurus ke depan ke arah bukit di padang Varsani.


"Tidak  ada yang pernah lolos, Kapten. Jika kita pulang sekarang kita bisa menghabiskan lebih lama waktu di kedai 'Wahah Dwipa', he he," saran si prajurit hidung pesek sambil tersenyum. Teman-temannya mengangguk dan ikut tertawa kecil.


"Diam! Ah sial, ada yang berhasil kembali. Semuanya bersiap! Tahan mereka hidup-hidup tapi sebelumnya pastikan mereka tidak punya lagi tenaga untuk lari …," seru Abuba murka. Dia mengumpat sambil berdiri mengambil tombak kayunya.


"Haiz ... Rakshasa-rakshasa itu, apa sih yang mereka kerjakan?"

__ADS_1


Para prajurit Lokapatti langsung sigap berdiri dan mengambil tombak mereka.


__ADS_2