
Pagi di Lokapatti hari ini dimulai lebih awal. Suara kentongan pasukan keamanan dan pengumuman untuk berkumpul di alun-alun membangunkan penduduk kota lebih cepat dibanding sinar mentari.
Tidak seperti pagi lainnya dimana setiap penduduk sibuk dengan keperluannya masing-masing, hari ini mereka berkumpul dengan para tetangganya.
"Apa yang terjadi? Kenapa ribut sekali pagi ini?"
"Kurasa adipati Sena akan menjelaskan kejadian sore kemarin tentang kematian Balapati Mara yang mati dengan kepala terpenggal."
"Kau sebaiknya hati-hati bicara. Atau pasukan tempur Lokapatti akan menangkapmu," bisik lawan bicaranya.
"Itu yang sebenarnya. Adikku adalah seorang pasukan tempur. Dia melihat dengan mata dan kepala sendiri."
"Kurasa bukan itu saja yang ingin adipati Sena sampaikan. Kalian tahu mengapa sampai saat ini kota kita selalu aman dari serangan rakshasa?" Seorang penduduk ikut bergabung dalam kerumunan.
"Karena kota kita terpencil, dan pasukan tempur selalu berhasil menghalau para rakshasa."
"Itu yang mereka katakan pada kita. Kenyataannya, mereka selalu mengorbankan para peserta persembahan dewi Daru pada rakshasa. Akhhhh ... Aku merasa muak, karena ternyata kehidupan ini didapat dari hasil mengorbankan orang lain"
"Apa yang kau bicarakan? Apa kau mabuk? Bagaimana mungkin kau punya pikiran seperti itu?"
"Itu kenyataan, aku bertemu dengan kakeknya Vatsa. Dan dia punya saksi lima puluh peserta lainnya. Yang membuat aku muak adalah bahwa ternyata kita bisa membuat senjata yang bisa membunuh rakshasa, tapi balapati Mara tidak mau membuatnya hanya karena mengorbankan orang lebih mudah daripada berperang melawan rakshasa. Apa kau mengerti? Sebenarnya kita bisa memenangkan perang."
Seperti itulah berita yang tersebar di antara penduduk di pagi hari. Tentu saja isi berita disebarkan oleh para peserta persembahan dewi Daru yang selamat. Sejak mereka bertekad mengikuti Sakya, Dia menugaskan mereka untuk masuk ke dalam kota sembunyi-sembunyi dan menyebarkan berita tersebut.
Kota Lokapatti selalu dalam lindungan rakshasa, karenanya keadaan kota selalu aman dari bahaya. Hal ini menyebabkan penjagaan masuk ke kota sangat longgar.
Para peserta persembahan dewi Daru yang selamat hanya memiliki satu tugas dari Sakya yaitu menggiring opini baru penduduk kota Lokapatti.
__ADS_1
Intinya, Kalian mengorbankan lima puluh orang untuk keselamatan lima ribu orang? Tidak apa-apa. Memang sedikit salah, tapi bisa dimengerti. Tapi kalau kalian tetap mengorbankan nyawa padahal sangat tidak perlu dilakukan? Tentu sangat salah, dan tidak bisa dimaklumi.
Hal itu sama saja seperti dua orang manusia yang sama sekarat karena kelaparan, mereka berebut makanan yang sedikit, akhirnya satu hidup dan satu mati. Hal itu bisa dimaklumi karena kondisi hidup dan mati. Tapi kalau dia punya banyak makanan dan masih merebut makanan orang yang sekarat kelaparan sehingga menyebabkan kematian orang tersebut, terlalu ... Tidak bisa dimaklumi dan merupakan perbuatan yang terkutuk. Hanya binatang yang berbuat seperti itu.
Bagi Sakya, opini penduduk merupakan satu hal yang penting jika dia ingin merubah umat manusia. Sakya harus merubah cara pandang mereka terlebih dahulu. Bagaimana mereka memandang umat manusia yang paling lemah menjadi umat manusia yang sebanding dengan rakshasa. Manusia mungkin memiliki tubuh yang rapuh tapi manusia bisa membunuh rakshasa dengan senjata.
Para penduduk yang mendengar dan mengetahui bahwa ada senjata yang bisa membunuh rakshasa, mulai berbondong-bondong menuju alun-alun Lokapatti.
Ketika matahari mulai bersinar, alun-alun mulai penuh dengan penduduk. Mereka semua menunggu pengumuman dari adipati Sena. Tidak ada yang berdagang. Tidak ada yang bergerak kecuali anak-anak yang berlari kejar-kejaran bersama temannya.
Sakya berdiri di belakang adipati Sena di sebelah utara alun-alun Lokapatti. Sementara Shrie bersama Shinta dan Vatsa duduk di sebelah timur alun-alun dan terakhir Bayana duduk di sebelah alun-alun sebelah barat beserta beberapa prajurit keamanan Lokapatti.
Adipati Sena menunggu cahaya matahari cukup terang agar dirinya terlihat dan cuaca yang tepat, tidak terlalu dingin maupun panas. Ketika semua terpenuhi, adipati Sena naik ke atas podiumnya.
Adipati Sena berkata, "Penduduk Lokapatti, ingatlah saat-saat kalian hidup di Lokapatti. Hidup yang penuh kenyamanan. Kalian merasa aman untuk berburu, aman untuk melakukan segala aktivitas, aman untuk melahirkan dan membesarkan anak-anak kalian dan aman untuk tidur nyenyak di malam hari."
Tidak ada penduduk yang bicara. Karena mereka sudah tahu kenyataannya. Mereka hanya saling pandang. Pandangan matanya seperti berkata, apa aku bilang?
"Akan tetapi, semuanya mulai berubah. Kini manusia mampu membuat senjata yang mampu membunuh rakshasa. Untuk pertama dalam sejarah umat manusia, kita memiliki kemampuan untuk bertempur secara seimbang dengan rakshasa. Jadi bagaimana mungkin aku masih sanggup mengorbankan mereka. Apa yang akan aku katakan saat bertemu mereka di alam kematian? Seberapa banyak hutang nyawa yang akan kuwariskan pada anak-anakku? Aku masih manusia dan aku punya hati. Aku tidak bisa melakukannya."
Sebagian Penduduk Lokapatti mulai terisak-isak. Ada pula yang mulai menangis. Kebanyakan adalah kaum wanita. Mereka ingin mempertahankan kebahagiaan ini, tapi tidak dengan cara seperti ini.
"Akhirnya, aku putuskan untuk berhenti mengorbankan orang lain. Aku memerintahkan balapati Mara untuk mempersiapkan peperangan dengan rakshasa. Akan tetapi, balapati Mara mengindahkan perintahku karena mengorbankan orang lebih mudah dibanding berperang. Dia berusaha menangkapku. Maka aku menghukumnya. Kenapa? Karena aku yakin kita bisa menang di peperangan ini. Dan ini buktinya ...."
Sakya mengeluarkan mayat rakshasa di kantong visitranya dan menggantungnya dengan bantuan pasukan keamanan di tiang agar semua penduduk bisa melihatnya. Dua buah mayat rakshasa dengan menghiasi pinggiran alun-alun. Geger langsung melanda alun-alun Lokapatti.
"Penduduk Lokapatti. Sudah tiba waktunya umat manusia terbebas dari semua penindasan. Saatnya manusia hidup sejajar dengan ras-ras lainnya di benua Pangea. Tapi aku tidak bisa memenangkan pertempuran ini sendiri. Bergabunglah bersamaku! Bersama-sama kita tidak akan terkalahkan. Kita gapai kebahagiaan lagi dan kali ini dengan tangan kita sendiri. Kita bertempur demi masa depan anak-anak dan keluarga kita."
"Adipati Sena! Aku Abuba. Selama sepuluh tahun aku menjaga kota ini demi keamanan keluargaku. Meskipun balapati sudah mati, aku akan tetap menjaga kota ini siapapun pemimpinnya. Aku, Abuba, akan mengikutimu demi masa depan keluargaku."
__ADS_1
Suara Abuba lantang bergema di alun-alun Lokapatti. Diikuti sebagian besar pasukan tempur Lokapatti. Sementara penduduk biasa masih bimbang. Mereka tahu bahwa dalam peperangan, meskipun memiliki kesempatan untuk menang, selalu akan ada korban.
"Laki-laki yang memilih tinggal dan mampu berperang kalian melapor pada balapati kalian yang baru, Sakya. Laki-laki yang tinggal dan tidak bisa bertarung lapor pada Bayana. Perempuan yang tinggal lapor pada Shinta. Mereka yang ingin pergi, sebaiknya pergi sekarang karena rakshasa akan datang dalam tujuh hari kedepan. Jangan pergi ke kota lain karena kalian hanya akan menjadi persembahan. Pergilah ke alam dan cari tempat aman, mungkin kalian akan hidup lebih lama. Aku mendoakan yang terbaik. Sekarang lakukan apa yang harus kalian lakukan."
Hanya itu yang bisa kulakukan, batin adipati Sena. Dia melihat ke arah Sakya. Sakya mengangguk dan tersenyum padanya. Adipati Sena turun dari podiumnya dan kembali ke pendoponya. Tugas pertamanya sudah selesai.
Sakya tidak beranjak dari alun-alun. Sebagai balapati baru, dia menunggu penduduk yang akan datang padanya untuk mendaftar jadi prajurit.
Tidak lama, Abuba datang bersama ratusan prajurit tempur lainnya. Awalnya pasukan tempur dipimpin oleh Yasa. Sekarang posisi pimpinan kosong karena Sakya sudah membunuh Yasa. Tampaknya Abuba yang mendapat kepercayaan untuk memimpin teman-temannya saat ini.
"Lapor, Balapati Sakya. Aku Abuba, kau mungkin sudah mengenalku. Aku berbicara mewakili teman-temanku untuk mengikrarkan kesetiaan kami. Kami akan tinggal berperang atas nama kota Lokapatti."
"Aku mengingatmu, Abuba. Berapa prajurit tempur yang akan tinggal dan berperang?"
"Keseluruhan pasukan tempur berjumlah 300 orang. Sekitar lima puluh orang memastikan diri akan pergi, jadi yang tersisa hanya 250 orang," jawab Abuba.
"Baik, dengar perintahku! Aku ingin kau menemui bayana, bantu mengumpulkan penduduk yang tinggal dan bisa bertempur. Berikan mereka senjata panah kemudian perintahkan mereka dan pasukanmu untuk berkumpul saat sore di luar gerbang kota sebelah timur. Pastikan bahwa pasukanmu membawa panah juga!"
"Baik, Balapati. Aku pamit."
Setelah Abuba pergi, Nayaka datang bersama pasukan keamanan lainnya.
"Lapor, Balapati Sakya. Hamba dari pasukan keamanan Lokapatti. Sebelumnya kami dipimpin oleh Bratha Bayana, akan tetapi Bratha Bayana mengintruksikan pada kami untuk melapor pada balapati langsung."
"Aku mengingatmu," ucap Sakya tersenyum. "Berapa sisa jumlah anggota pasukan keamanan yang tinggal dan siap berperang?" tanyanya.
"Anggota pasukan keamanan berjumlah 150 orang dan kami semua tinggal dan siap bertempur,” jawab Nayaka.
"Baiklah, kirim 25 orang ke Vaidya Shrie. Mereka akan menerima perintah darinya. Dan 25 orang lagi ke Bratha Bayana. Mereka akan menerima perintah darinya. Sisanya, ambil panah kalian dan saat menjelang sore, datang ke luar gerbang bagian timur beserta panah kalian." Sakya dengan cepat memberi perintah pada Nayaka. Tidak boleh ada waktu yang terbuang sia-sia. Perang akan segera datang.
__ADS_1