
Setelah mereka pergi dari lereng gunung berapi, mereka langsung menuju sarang Jatapura dikarenakan sarang gua Kacana telah hancur. Puing-puing batu tebing yang roboh karena angin ****** beliung Kacana berserakan di sekitarnya.
Sebelumnya, Jatapura sudah mengabarkan pada anak buahnya untuk mengumpulkan warganya di sarangnya dan memberitahu bahwa ada penguasa baru di hutan Vanaya bagian utara. Sarang Jatapura lebih kecil dari sarang Kacana, namun di bawah tebingnya terdapat permukaan tanah yang lapang yang bisa dipakai untuk beristirahat dan berkumpul.
Saat Sakya dan kawan-kawannya tiba, seluruh sattva ada di hutan Vanaya bagian utara sudah berkumpul. Suara para sattva yang saling berbisik menceritakan satu sama lain mengenai kejadian yang telah terjadi, langsung menjadi senyap.
"Salam, sattva hutan Vanaya bagian utara. Kalian mungkin sudah mendengar kabar kematian Kacana. Aku pastikan bahwa itu benar. Orang yang membunuhnya adalah manusia yang ada di sebelahku. Kita, para sattva selalu mengabdi pada yang terkuat karenanya aku sarankan kalian untuk mengabdi mengucapkan Janji setia padanya." Jatarupa berhenti berbicara karena suara sattva mulai terdengar riuh.
Sattva memang selalu mengabdi pada yang kuat untuk kelangsungan hidup mereka, akan tetapi mengabdi pada seorang manusia adalah sesuatu yang baru. Hanya mereka yang langsung melihat pertempuran Sakya dan Kacana, langsung berlutut.
Beberapa dari mereka yang tidak melihat pertempuran Sakya dan Kacana merasa bahwa hal tersebut sangat menggelikan. Dimata mereka, manusia adalah makhluk terlemah bahkan mereka menganggapnya sebagai makanan. Mengabdi dan setia pada makanan kita, bukankah itu hal yang paling menggelikan?
Jatapura mengetahui apa yang mereka pikirkan. Dia berbicara lagi, "Aku sudah mengucapkan sumpah setia dan mengabdi pada yang mulia Sakya. Aku seorang catur praboditha sekarang dan aku tidak memaksa kalian untuk setia dan mengabdi. Kalian bebas untuk pergi, aku hanya memberitahukan bahwa saat ini sang penguasa hutan Vanaya bagian utara adalah yang mulia Sakya dari Paraka. Sattva yang bukan hamba yang mulia dibagian utara ini, maka aku pribadi yang akan memburunya," kata Jatapura langsung mengeluarkan aura catur prabodithanya.
Tidak ada bujuk rayu atau ajakan lagi. Kesombongan hanya bisa dihancurkan oleh kekuatan mutlak. Kau pikir kau kuat? Kau hebat? Tidak mau mengabdi? Baik, silahkan pergi tapi jika kau tetap tinggal maka aku akan memburumu.
Semua sattva merasakan aura catur praboditha Jatapura. Tubuh mereka terasa berat seperti ada beban berat di pundak mereka. Mereka kini sudah tidak akan bisa menang melawan Jatapura. Mungkin memang menguntungkan apabila mulai mengabdi.
Saat ini Jatarupa merupakan yang terkuat di wilayah utara, bahkan salah satu yang terkuat di hutan Vanaya. Meskipun yang terkuat, dia mengabdi pada manusia, maka tentulah manusia ini bukanlah manusia biasa.
Malam itu disaksikan sinar bulan purnama, satu-persatu semua sattva yang ada mulai berlutut dan menundukkan kepalanya di hadapan Sakya.
__ADS_1
"Aku sumpah setia dan mengabdi pada yang mulia Sakya."
Janji setia dan pengabdian semua sattva menggema di daerah gurun. Pertama dalam sejarah manusia bahkan bagi seluruh ras makhluk hidup yang ada di benua Pangea. Seorang manusia menjadi salah satu penguasa hutan Vanaya dan disembah ribuan sattva.
Malam tidak berakhir dengan ucap janji dan pengabdian. Warga sattva hutan Vanaya bagian utara merayakan penobatan dengan mengadakan tari-tarian yang dilakukan oleh garuda sattva betina.
Ada perbedaan mencolok antara garuda sattva jantan dan betina. Jantan hanya memiliki satu warna di tubuhnya: keemasan, coklat atau hitam. Sedangkan garuda betina memiliki bulu yang berwarna-warni seperti burung merak. Ada emas, biru, hijau dan merah. Saat mereka berdansa, bulunya bersinar warna-warni tatkala terkena cahaya bulan.
Bagi Sakya, tarian-tarian tersebut menarik hanya sebatas kerlap-kerlip cahaya yang berwarna. Namun bagi garuda sattva jantan, lebih dari kerlap-kerlip cahaya. Mereka tidak berkedip, terus menatap para penari yang mengepakkan sayapnya dan mengangkat ekornya.
Beberapa dari mereka menelan air liurnya sendiri. Seperti orang kelaparan karena belum makan selama tiga hari, kemudian menemukan sepiring daging di meja makan dan mereka tidak sabar memakannya.
Tidak lama kemudian sekelompok Meerkat sattva datang membawa beberapa tong kayu.
"Oh, yang mulia. Klan Meerkat ini terkenal dengan ramuan minumannya tidak ada duanya di benua Pangea. Yang mulia harus mencobanya,” kata Jatapura.
"Baiklah, terima kasih atas pemberian kalian,” jawab Sakya.
Ketika tong dibuka, harum wangi semerbak meliputi tempat pesta. Wangi buah-buahan dan bunga-bungaan seolah merubah suasana gurun yang selalu musim panas menjadi musim semi. Merubah suasana bagaikan berada di padang yang penuh dengan bunga.
“Ayo kita rayakan!” seru Jatapura.
__ADS_1
“Hidup Yang Mulia Sakya.”
“Malam ini kita rayakan sampai menjelang pagi.”
Ketika Sakya meminumnya, rasa manis mulai memenuhi mulutnya, kemudian rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasa lelahnya hilang. Ada sedikit prana dalam minuman tersebut. Jika manusia meminumnya, mungkin bisa dijadikan ramuan obat untuk sakit yang ringan.
Selain itu, ada perasaan bahagia dan kedekatan luar biasa dengan mereka yang ada disekitarnya. Hal yang sama terjadi pada semua orang yang hadir. Tidak ada lagi rasa canggung, permusuhan bahkan iri dan dengki. Mereka bahkan sengaja mulai menceritakan hal-hal yang memalukan dirinya sendiri hanya untuk membuat teman minumnya tertawa.
“Kau ingat kejadian saat di gunung? Oh Dewa, aku tidak akan pernah melupakannya seumur hidupku. Pemandangan Jatapura tanpa bulu akan menghantuiku seumur hidupku,” celoteh salah satu garuda sattva.
“Paruh benyot! sebaiknya kau melupakannya, atau kupastikan kau tidak mempunyai paruh lagi untuk menceritakannya lagi,” ancam Jatapura.
“Ha ha ha, tanpa kau ancam pun aku benar-benar ingin melupakannya. Oh Dewa, Sungguh mengerikan. Aku berharap minuman ini bisa melupakannya.”
“Arrkk!” jeritan Jatapura memenuhi seantero gurun.
Malam ini malam yang penuh dengan gairah dan canda tawa. Malam yang akan dikenang sebagai malam penobatan sang penguasa baru hutan Vanaya Bagian utara.
“Kurasa hari ini adalah hari yang bersejarah. Besok kita akan buat prasasti mengenai kejadian ini. Kita akan gambarkan Jatapura tanpa bulu sehelaipun,” olok Sakya.
“Yang Mulia, kumohon!” jeritan Jatapura memenuhi seantero gurun.
__ADS_1
✤✤✤