SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Pertempuran di alun-alun Lokapatti


__ADS_3

Di alun-alun kota Lokapatti.


Waktu tidak terasa terus berputar. Hari sudah menjelang sore. Shrie sudah menyembuhkan belasan penduduk yang datang padanya. Barang-barang yang diberikan oleh penduduk yang berterima kasih atas jasa Shrie semakin menumpuk di belakang.  Penduduk yang datang pun semakin banyak.


"Minggir! Minggir! Beri jalan!" Sekelompok orang yang menggunakan tombak dan tameng tiba, membuka kerumunan penduduk yang sedang melihat Shrie bekerja.


Melihat siapa yang datang, penduduk mulai menyingkir membuka jalan. Tidak lama kemudian Daurjana datang melenggang diikuti beberapa orang penjaga.


"Attika Vaidya, aku sakit ... Sangat sakit. Sudilah kiranya menyembuhkan hamba terlebih dahulu." Daurjana berkata pada Shrie. Senyumnya mengembang memperlihatkan bagian gigi-giginya. Matanya yang sebelumnya memandang Shrie kini beralih fokus pada tumpukan barang yang ada di belakang Shrie.


Shrie melihat siapa yang datang, instingnya berkata bahaya mendekat. Seperti perkiraannya, Sakya bicara padanya melalui telepati, "Dia akan membawa masalah, saat itu terjadi aku ingin kau diam. Aku yang akan membereskannya dan para penjaganya."


"Duduklah Bratha ... Apa keluhanmu?" Shrie mempersilahkan Daurjana duduk di depannya.


"Hatiku ... hatiku sakit sekali melihat Vaidya membuka meja pengobatan tanpa izin padaku. Kepalaku sakit karena tahu Vaidya meminta pembayaran setelah mengobati." Daurjana berdiri dari kursinya kemudian memegang tangan Shrie, "Kau aku tahan atas nama kota Lokapatti. Penjaga ambil hasil pembayarannya sebagai bukti. Ha ha ..."


‘Kraak' Belum selesai dia tertawa tiba-tiba dia merasakan sakit yang luar biasa pada kedua tangannya.


"Akhhhh …," raung Daurjana, meraung  saat melihat kedua tangannya lunglai lemah tidak berdaya. Dia tidak bisa menggerakkan kedua tangannya.


Penonton yang ada disekitarnya menjerit. Ketika tangan Daurjana berusaha menarik kedua tangan Shrie tiba-tiba kedua tangan Daurjana lunglai terlihat seperti terlepas dari  pangkal lengannya sendiri. Sihir apa ini? Pikiran mereka mulai dipenuhi rasa takut.


"Apa yang kau lakukan padaku? ... Apa kau tahu siapa aku? Aku Daurjana, anak balapati Mara. SEMBUHKAN AKU CEPAT! atau kau terima akibatnya. Penjaga tangkap dia!"  Daurjana panik, dia tidak mengerti apa yang terjadi. Mengapa tangannya tiba-tiba lunglai tidak berdaya?


Para penjaga seolah bangun dari mimpinya, mereka langsung berlari ke arah Shrie. Tapi setelah berlari tiga langkah mereka semua merasakan benturan di belakang kepala mereka. Mereka terjatuh dan tidak sadarkan diri.


Lagi ... Penonton  terkejut dengan kejadian yang terjadi di luar nalar mereka. Delapan penjaga jatuh secara tiba-tiba. Tidak ada gada yang memukulnya, pedang yang menusuknya, mereka jatuh bersamaan. Mereka semakin mundur, takut bila mereka mengalami hal yang sama.


Daurjana sudah tidak bisa berpikir lagi. Rasa sakit hanya ingin membuatnya menjerit dan sisa penjaga empat orang yang masih mematung tetap diam tidak bergerak.


Keadaan di alun-alun Lokapatti begitu rusuh penuh dengan teriakan. Tiba-tiba terhenti saat suara menggema, "Pandita Sava tiba!"


Tiga puluh prajurit tiba, di belakangnya duduk seorang pria duduk di atas tandu yang dipanggul oleh empat orang.

__ADS_1


Semua penonton semakin mundur. Mereka tahu siapa yang datang. Salah satu penguasa kota Lokapatti, pandita Sava.


"Kaum sesat, kau sudah mengotori kesucian kota Lokapatti anugerah dari dewi Daru. Kalian pantas mati." Pandita Sava berteriak di atas tandu sambil menunjuk Shrie.


"Ekadeva  melindungi adikku dari siapapun yang akan menyakitinya. Sebaiknya kalian pergi!" Suara Sakya bergema di belakang Shrie.


"Ekadeva ... Kau dan dewa palsumu akan mati disini. Pengawal bunuh mereka!" Pandita Sava berteriak.


Sebanyak dua puluh pengawal langsung bergerak maju mendekat ke arah Shrie.


Shrie kemudian berdoa, atas perintah kakaknya Sakya melalui telepati.


"Oh Ekadeva ...


Aku hanyalah hamba-Mu yang lemah


Tolonglah aku dari mereka yang pongah


Terkaparlah!"


 


 


Angin kencang langsung menerjang para pengawal. Berbeda dari angin biasanya yang meskipun kencang tapi hanya mampu menggerakkan rambut, Angin datang menghantam muka para prajurit seperti gada membuat mereka terjungkal. Kemudian menghantam tandu pandita Sava sampai terbalik. Pandita Sava jatuh berguling di tanah.


"Beraninya kalian kaum sesat ... Kalian akan menyesal. Aku orang suci perwakilan dewi Daru. Kalian terkutuk!" teriak pandita Sava. Dia tidak terlihat suci lagi ketika tanah mengotori pakaiannya.


"Kalian boleh kirim pengawal sebanyak yang kalian mau, dan itu tidak akan merubah apa-apa. Siapapun yang akan menyakiti Adikku, akan menerima murka Ekadeva ... Kita pergi Shrie!" Sakya melangkah pergi meninggalkan alun-alun Lokapatti.


"Bagaimana dengan barang-barang pemberian penduduk?" tanya Shrie melalui telepati.


"Tinggalkan saja, tujuan kita sudah tercapai," ungkap Sakya.

__ADS_1


Shrie termenung mendengar jawaban Sakya. Shrie tidak bisa memahami maksud perbuatan Sakya. Akan tetapi dia mempercayai kakaknya. Pasti ada alasan mengapa kakaknya belum menjelaskan apapun padanya. Dia akan terus di belakang Sakya, mendukungnya sampai Sakya mau bercerita alasannya.


Sakya memang sampai saat ini belum bercerita pada Shrie mengenai hal yang akan dia lakukan, terlebih lagi mengenai hari Pralaya yang akan tiba. Sakya tidak ingin saat ini Shrie merasa terbebani. Jika Shrie sudah siap, maka dia akan menceritakannya.


Sakya dan Shrie kembali lagi ke balai penampungan untuk beristirahat.


Hari ini di Lokapatti, berita tentang Vaidya Shrie beserta dewanya Ekadeva, menyebar ke seluruh kota Lokapatti. Seluruh penduduk kota mulai membicarakannya. Beberapa menceritakan kejadian sebenarnya, beberapa menceritakan dengan sedikit tambahan bahwa Ekadeva adalah dewa angin dan Shrie adalah istrinya, siapapun yang menyakitinya akan mati.


Dari seluruh cerita tersebut, seluruh penduduk kota mempunyai kesimpulan yang sama. Ada dewa yang lebih hebat dan kuat selain dewi Daru.


✤✤✤


Di pendopo salah satu bagian kota Lokapatti, Daurjana sedang berlutut di hadapan balapati Mara. Umurnya sudah mencapai paruh baya. Wajahnya tampak keras ditambah dengan kumis tebal di atas bibirnya yang menambah aura wibawanya semakin terpancar.


"Ayah ... Kau harus balaskan perlakuan mereka pada anakmu ini. Beraninya mereka melakukan itu  padaku." Daurjana memohon pada ayahnya.


"Kau anak tidak berguna, kau bahkan tidak bisa menyelesaikan masalahmu sendiri. Kau memalukan martabat keluarga ini!" semprot balapati. Dia benar-benar marah.


"Ayah mereka punya dewa yang melindungi mereka ... Bahkan pandita Sava tidak berdaya terhadap mereka. Kirimkan semua prajurit Ayah. Mereka berbahaya," sanggah Daurjana.


"Huh, dewa? Kau tahu sendiri tidak ada dewa di dunia ini. Bahkan Daru sendiri ada karena kita yang membuatnya," jawab balapati Mara.


"Ayah, kekuatannya benar-benar nyata. Kau harus berhati-hati ..."


"Diam ... Pergilah ke kamarmu! Minta Aida menyembuhkanmu! Kau benar-benar mengecewakanku." Balapati Mara memotong pembicaraan Daurjana sebelum selesai.


"Yasa!" Kemudian balapati Mara memanggil salah satu bawahannya.


"Apa perintahmu balapati?" Seorang prajurit tiba dan menghaturkan salam pada balapati Mara.


"Siapkan semua prajurit besok pagi. Kita berangkat saat matahari terbit!" titah balapati Mara.


"Baik balapati." Setelah memberi salam kembali, dia meninggalkan pendopo.

__ADS_1


__ADS_2