SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Kita Bisa Membunuh Rakshasa.


__ADS_3


"Apa yang akan kita lakukan?"


Adipati Sena sudah pasrah akan takdirnya. Dia berpikir jika terus menolak, dia takut darahnya tidak cukup  untuk dimuntahkan.


Sakya kemudian bercerita panjang lebar mengenai langkah mereka selanjutnya.


Adipati Sena mendengar panjang lebar rencana Sakya tapi dia tidak pernah mendengar rencana Sakya untuk menghadapi balapati Mara.  Bagi adipati Sena, rencana Sakya tidak akan berhasil jika mereka gagal menghadapi balapati Mara. Adipati Sena bertanya, "tunggu ... Rencanamu hanya tentang persiapan perang dengan rakshasa. Apa rencanamu tentang masalah yang sebentar lagi datang?"


"Maksudmu balapati Mara? Kebetulan sekali dia sudah datang,” jawab Sakya.


"Adipati Sena, keluarlah! Kau bersalah karena membahayakan kehidupan kota Lokapatti. Atas nama Lokapatti aku akan menangkapmu. Menyerahlah!" Suara balapati Mara terdengar ke dalam pendopo.


Sakya berjalan keluar pendopo diikuti oleh Shrie.


"Tu—tunggu apa rencanamu?"


"Laba-laba mempunyai banyak kaki, tapi jika kau potong kepalanya langsung, dia pasti mati. Ayo, kita tidak punya banyak waktu."


"..."


Adipati Sena tidak dapat berkata apa-apa. Apakah akan semudah itu?


Ratusan prajurit Lokapatti sudah menunggu di luar pendopo. Dipimpin oleh Yasa, sedangkan balapati Mara seperti biasa duduk di atas kudanya berada di barisan paling belakang. "Kau ..." Yasa terkejut saat Sakya dan Shrie keluar dari pendopo diikuti oleh Adipati Sena dan Shinta.


Tentu saja bukan hanya Yasa yang terkejut bahkan Abuba dan prajurit lainnya yang pernah berada di alun-alun Lokapatti dan bukit Varsani ikut menahan napas.


Balapati Mara adalah seorang veteran perang, hanya dengan melihat, dia tahu apa yang sedang terjadi. Dia berkata, "Jangan takut, bunuh mereka di tempat! Yang berhasil membunuhnya akan mendapatkan hadiah. Yang lari akan mati bersama keluarganya."


Sakya hanya tersenyum dan mengeluarkan pedang ksidra di kantong visitranya, kemudian dia menghilang sebelum para prajurit bergerak ke arahnya. Dalam sekejap mata dia sudah berada di depan balapati Mara. Dengan ayunan ringan, kepala balapati Mara terlepas dari badannya.


Sakya tidak ragu untuk membunuh balapati Mara. Sebagai orang yang sudah terlena dengan kekuasaan maka dia akan terus mempertahankan kekuasaannya dengan berbagai cara. Dia tidak akan bisa dirubah.


Ada banyak ilusi Varna yang menghadirkan pemimpin seperti balapati Mara. Pemimpin yang pada akhirnya  hanya akan membahayakan bahkan menghancurkan rakyatnya sendiri. Mereka tidak peduli mengorbankan nyawa manusia hanya demi keselamatan dirinya sendiri. Bagi Sakya, pemimpin seperti itu tidak layak untuk tetap hidup. Umat manusia tidak akan mencapai kejayaannya selama dipimpin oleh orang seperti balapati Mara. Kematian adalah hukuman yang tepat baginya.


Saat kepala balapati Mara jatuh ke tanah, tidak ada prajurit yang mengeluarkan suara, bahkan hembusan napas sekalipun. Pikiran mereka sedang memproses kejadian yang baru saja terjadi. Mencoba memahami apakah sesuatu yang mereka lihat dengan mata sendiri benar-benar sesuai dengan kenyataan yang terjadi? Menunggu jika ternyata balapati Mara kembali bangkit dan memberi perintah. Sayangnya, itu tidak terjadi. Balapati Mara tetap mati dengan kepala terpenggal.


Hanya Yasa dan Abuba yang cepat menyadari apa yang telah terjadi, tapi hanya Yasa yang  beraksi dengan teriakannya yang menggema, dia menyerang Sakya. Pedang ksidra mengayun lagi dengan ringan dan kepala Yasa terpisah dari badannya, terpental diantara kerumunan prajurit.


Semuanya kembali terdiam. Mencoba mencari penjelasan yang bisa mereka terima oleh akalnya. Jarak Yasa dan Sakya cukup lebar. Senjata Sakya bahkan tidak menyentuh leher Yasa akan tetapi kepalanya tetap terbang. Apakah itu sihir?


"Prajurit, Kalian boleh pergi! Apapun yang kalian lakukan di masa lalu, aku mengampuni kalian. Pergilah cepat! Sebelum teman mudaku ini memisahkan kepala kalian."

__ADS_1


Adipati Sena dengan cepat mengambil alih komando prajurit.  Pikiran para prajurit yang berhenti berpikir sejenak karena sesuatu yang tidak bisa mereka cerna, mulai menerima sugesti adipati Sena sebagai perintah. Satu-persatu, mereka mulai berlarian ke arah yang berbeda. Menuju rumahnya masing-masing. Beberapa prajurit membawa jenazah balapati Mara dan Yasa beserta kepala mereka yang terpisah.


Dalam hitungan menit, masalah selesai. Ketika semua prajurit sudah pergi, adipati memanggil orang kepercayaannya Bayana. Dia berkata, "Besok kumpulkan kembali para penduduk  di alun-alun Lokapatti. Pastikan semuanya datang. Kerahkan semua pasukan keamanan!"


"Baik, Adipati Sena. Bagaimana dengan keluarga balapati Mara?" tanya Bayana.


"Biarkan mereka, jika mereka ingin membalaskan kematian balapati, mereka bisa mendatangiku.


Setelah mereka kembali ke dalam pendopo, adipati Sena bertanya, "Sakya, kau kuat. Kau bisa mengatasi rakshasa-rakshasa itu sendiri. Tapi mengapa kau melibatkan  kota Lokapatti dalam pertempuran ini? Bisakah kau datang ke tempat mereka dan membantainya?"


"Ya aku bisa, tapi tidak akan aku lakukan. Aku bukan pahlawan tapi aku akan menciptakan banyak pahlawan. Pahlawan Adipati Sena, pahlawan Shrie dan lainnya. Dengarkan aku, ada hal yang jauh lebih buruk dari rakshasa yang akan datang. Aku ingin ras manusia siap menghadapinya."


"Apa yang lebih buruk dari rakshasa?" tanya Shrie penasaran.


"Saatnya kalian  tahu alasan mengapa aku melakukan ini semua. Pernahkan kalian mendengar tentang hari Pralaya?"


Semua terdiam. Kemudian Sakya menghadirkan ilusi mengenai hari Pralaya. Mayat-mayat yang menggunung. Gunung-gunung yang meletus, gelombang ombak yang maha tinggi. Semua terhenyak melihat gambaran yang ada.


Sakya mulai menjelaskan. "Hari Pralaya datang setiap ratusan ribu tahun berganti.  Hari dimana semua makhluk hidup di dunia di masa tersebut musnah. Tidak ada pengecualian bahkan semut dan lumut sekalipun, dan kita harus menghentikannya! Dihadapan hari Pralaya, kekuatanku tidak berarti apa-apa. Aku tidak bisa menghentikannya sendirian."


"Bahkan dengan bantuan seluruh umat manusia, sangat mustahil menghentikan hari Pralaya," tukas Adipati Sena terduduk dan menghela napas panjang.


Adipati Sena menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Di antara ras-ras yang hidup di benua Pangea, manusia menempati kasta terendah. Rapuh dan memiliki peradaban rendah.


"Mustahil dengan kondisi umat manusia saat ini, kecuali jika manusia bisa berubah. Jika manusia tidak berubah, mereka yang akan musnah terlebih dulu. Kita akan merubahnya." ucap Sakya.


Shrie memeluk punggung Sakya. Akhirnya dia tahu apa yang ada di pikiran Sakya selama ini. Tidak peduli seberapa besar dan walaupun tampak mustahil, Shrie bertekad untuk mendukungnya sampai akhir.


"Jika tidak ada pertanyaan lagi, Aku minta izin pamit ke kamarku," ucap Sakya, setelah menjelaskan panjang lebar mengenai rencananya.


"Istirahatlah," jawab adipati Sena.


Bulan sudah memancarkan cahayanya di atas kota Lokapatti.  Burung hantu dan binatang malam lainnya sudah berbunyi menggantikan suara hiruk pikuk manusia. Sakya dan Shrie sudah beranjak kembali ke pondoknya.


Kini di dalam pendopo hanya tinggal Adipati Sena dan Shinta.


"Ayah, menurutmu apakah dia akan berhasil?"


"Ayah tidak tahu. Ayah benar-benar tidak tahu. Tapi meskipun tampak mustahil, kita tidak bisa mundur. Jadi kita akan berusaha walaupun harus mati. Tidurlah, kita akan melihat besok."


✤✤✤


Di kediaman balapati Mara.

__ADS_1


Daurjana duduk beserta ibunya dan orang-orang kepercayaannya. Pembicaraan mereka terhenti ketika seorang penjaga masuk.


"Bratha Daurjana, hamba memberi kabar bahwa balapati Mara telah meninggal dunia."


"Apa yang kau bicarakan?" Daurjana marah, langsung menerjang dan menendang penjaga yang memberi kabar. "Apa kau sudah bosan hidup, huh?"


"Ampun Bratha, ampun. Hamba hanya menyampaikan pesan saja," teriak Penjaga sambil melindungi kepalanya dari serangan kaki Daurjana dengan kedua tangannya.


"Darimana kau mendapatkan kabar tersebut hah?"


"Seorang prajurit tempur tadi kembali dan menyampaikan berita. Setelah itu  dia langsung pergi kembali ke rumahnya."


"Aih, mengapa kau tidak menyuruhnya masuk terlebih dahulu. Kau benar-benar tidak berguna." Daurjana kembali berniat menyerang si penjaga, ketika penjaga yang lain masuk. "Bratha Daurjana, Abuba datang bersama beberapa prajurit tempur. Mereka ingin bertemu."


"Suruh mereka masuk langsung!"


"Selamat malam Bratha Daurjana, kami datang untuk mengantar jenazah balapati Mara."


Abuba beserta dua orang prajurit masuk mengantarkan jenazah balapati Mara ke ruangan pendopo. Seorang prajurit membopong tubuh balapati dan meletakkannya di tengah ruangan, dan satu orang lagi membawa bungkusan dari kulit binatang berlumur darah dan meletakkannya di depan jenazah balapati. Dia membuka bungkusannya dan isinya adalah kepala adipati Mara yang matanya masih terbuka.


"Suamiku."


"Ayah."


Istri balapati Mara dan Daurjana langsung mendekati jenazah tersebut karena kini mereka mengenalinya.


"Siapa yang berani melakukannya? Dimana dia? Akan aku cincang dia dan memberikan dagingnya pada anjing." Daurjana murka, matanya nanar berwarna merah.


"Dan apa yang kalian lakukan? Bukankah kalian harusnya melindunginya? Apa kerja kalian?" Seolah tidak cukup hanya dengan kata-kata, Daurjana mencoba menghajar para prajurit.


Abuba memukul jatuh Daurjana sebelum dia mendekat. "Aku sarankan kau menenangkan diri! Ayahmu sudah mati. Jika kau masih marah, kau bisa melampiaskannya pada adipati Sena. Mungkin dia akan kemari. Prajurit, ayo pergi."


"Kau akan membayarnya, Abuba! KAU DENGAR?" Daurjana berteriak sambil mengusap bibirnya yang berdarah. Kemudian dia melihat ibunya yang masih memeluk jenazah ayahnya. "Ibu, kita harus pergi cepat! Kita harus tinggalkan kota ini!" kata Daurjana berusaha membangkitkan ibunya.


Di belakang pendopo, Aida mendengarkan dan memperhatikan semua yang terjadi di sekitar pendopo. Kematian balapati Mara tidak membuat Aida sedih. Dia senang, akhirnya ada secercah harapan yang dapat membuatnya terbebas dari kungkungan ini. Aida dengan cepat meninggalkan komplek perumahan balapati Mara.


Ketika waktu tengah malam tiba, Daurjana dan seluruh keluarga balapati Mara telah siap dengan seluruh kekayaan mereka yang bisa mereka bawa. "Kita pergi! Kita akan pergi ke kota lain atau membuat kota yang lainnya. Mana Aida?" tanya Daurjana pada pembantunya.


"Ampun Bratha Daurjana, hamba tadi melihat Aida pergi meninggalkan komplek perumahan."


"Huh ... Awas kau. Ayo cepat kita pergi!" Daurjana memecut kuda yang menarik gerobaknya.


Malam itu, beberapa gerobak berjalan melintasi kota Lokapatti menuju ke gerbang utama kota dan tidak ada yang menghentikan mereka saat keluar dari kota Lokapatti.

__ADS_1


✤✤✤


Berita tentang pembunuhan balapati Mara terdengar pula oleh pandita Sava. Dengan bergegas dia mengumpulkan para pembantunya untuk mengepak semua barang  miliknya. Setelah selesai,  bersama orang kepercayaanya langsung pergi keluar kota Lokapatti.


__ADS_2