
"Gha gha ...." Aghira tertawa melihat mereka maju menyerang. Dia memukul Abuba, menghempaskan sebagian prajurit. Menangkap Tivara dan melemparkannya ke batu. Menginjak Nayaka dan menendang Yamala dengan kakinya. Dia tertawa sekali lagi ketika tidak ada prajurit yang tersisa.
Tivara yang terlempar dengan cepat bangkit berdiri. Dia mengecek seluruh badannya dan semuanya masih baik-baik saja. Apakah ini berkah Ekadeva?
"Ekadeva melindungi kita. Serang!" Tivara langsung menyerang Aghira. Hal yang sama terjadi pada 30 prajurit lainnya. Nayaka terbangun dari tanah. Dia pikir dia mati dengan tubuh hancur. Bahwa dia terbangun hanya rohnya saja karena dia tidak merasakan sakit. Akan tetapi ketika dia memastikan bahwa tubuhnya nyata, Nayaka tersenyum kemudian dia menyerang Aghira kembali.
Aghira terkejut melihat para prajurit yang dia luluhlantakan bangkit kembali. Bahkan terlihat sehat tanpa luka sedikitpun. Dia mengalirkan prananya lebih banyak lagi agar pertempuran lebih cepat selesai.
Saat ini, pertarungan antara Aghira dan 30 prajurit Lokapatti sudah memasuki babak ke 5. Aghira mulai merasa jerih. Dia sudah menginjak berkali-kali seorang prajurit dengan seluruh kekuatannya. Namun, seperti kecoa, prajurit tersebut kembali bangkit dan menyerangnya. Ada apa ini?
Aghira mulai mengusap keringat yang membasahi wajahnya dan memandang sekeliling area depan kota Lokapatti. Pandangannya berhenti pada seorang pemuda yang tengah tersenyum padanya. Sebagai seorang praboditha, Aghira mampu merasakan aliran prana yang keluar dari tubuh pemuda tersebut.
"Kau yang melakukan ini?" tanya Aghira melalui telepati.
"Ya, Itu aku. Apakah kau menyerah?" jawab pemuda yang ternyata adalah Sakya.
Rencana Sakya untuk tidak ikut terlibat dalam perang ini berubah. Kehadiran Aghira sebagai seorang praboditha mengubah segalanya. Seorang praboditha tidak memiliki tempat di perang ini, karena dia bisa mengubah semuanya. Dan Sakya tidak bisa menerimanya. Di perang ini manusia harus menang.
Sakya memerlukan kemenangan ini. Dia ingin meningkatkan kepercayaan diri seluruh penduduk Lokapatti. Dengan kemenangan ini, manusia akan tahu bahwa rakshasa pun berdarah. Mereka bisa dibunuh dengan senjata dan strategi yang matang.
"Gha ... Gha ... " Aghira tertawa. "Aku tidak menyangka kalau manusia sudah memiliki seorang praboditha. Aku tahu sekarang, kau melindungi prajurit-prajurit ini dengan pranamu. Gha gha ... Kau pikir berapa lama kau bisa melindungi mereka sebelum pranamu habis?"
"Selama yang dibutuhkan.” jawab Sakya tersenyum.
*"Gha gha ... Tunggu sampai pranamu habis dan aku akan mencabik-cabik tubuhmu dan seluruh penduduk kota."
Aghira menghentakkan kakinya, daratan di sekellingnya bergetar, kemudian dia melesat menyerang kembali prajurit tempur yang mengurungnya. Dengan kekuatan penuh dia mencoba menembus prana perlindungan Sakya.
Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan dia lancarkan ke para prajurit. Seperti daun tertiup angin, para prajurit beterbangan. Tapi, mereka kemudian bangkit lagi. Tersenyum sebentar, kemudian kembali menyerangnya.
Tidak lama kemudian pertempuran mulai memasuki babak ke 10. Aghira mulai merasakan prananya mulai menipis. Jika dia kehabisan prana, maka dia hanya seperti rakshasa biasa. Besi yang tajam di tangan para prajurit itu bisa melukainya nanti. Dia menggertakan giginya. Harapan sudah terbang dari hatinya – Sebentar lagi nyawanya.
__ADS_1
"Ayo kemarilah! Ayo bertarung! Prajurit-prajurit ini tidak bisa membunuhku. Aku bisa menunggu seharian." Aghira mencoba memprovokasi Sakya. Mati di tangan prajurit, menyentil harga dirinya. Dia tidak ingin mati memalukan. Tapi, jika di tangan seorang Praboditha, mungkin lebih bermartabat. Aghira tidak ingin mendekati Sakya, karena dia tidak mau mati konyol. Jika dia mati, setidaknya dia mati dengan caranya sendiri. Mati bermartabat, bukan memalukan maupun konyol. Dia bahkan melambaikan tangannya pada Sakya seperti seorang kekasih yang memanggil cintanya.
"Siapa yang berencana untuk membunuhmu? Aku tidak pernah mengatakan akan membunuhmu. Aku hanya ingin mengalihkan perhatianmu sementara prajurit-prajuritku yang lain membunuh sisa anggotamu. Tapi kalau kau memutuskan untuk tinggal, kurasa saat sore hari prajuritku bisa membunuhmu." Sakya tersenyum nyinyir.
Aghira terdiam. Matanya bergerak memandang ke sekelilingnya. Tidak ada satu anggotanya yang masih hidup. Dia bahkan melihat beberapa prajurit masih berusaha memotong kepala anggotanya. Dia marah tapi dia tidak berdaya, ingin lari tapi malu, mau mati tapi takut. Beginikah rasanya kalah?
"Manusia, siapa namamu?"
"Aku Sakya dari Paraka," jawab Sakya.
"Sakya ... Akan aku ingat. Kerajaan Mahodara akan membalas kekalahan ini. Aku pergi, kau tidak perlu mengantarku." Tanpa menunggu balasan Sakya, Aghira melesat pergi keluar dari pertarungan, menjauhi kota Lokapatti. Dia berlari secepat dia mampu walaupun masih kalah cepat dibanding dengan detak jantungnya.
Rasa khawatir mulai berkurang saat Aghira tidak merasakan ada yang mengikutinya. Mungkin hari ini dia tidak perlu mati kecolongan.
Sakya hanya memandangi punggung Aghira yang mulai menjauh. Dia tidak mengejar untuk membunuh Aghira. Bukan karena tidak mampu, tapi Sakya memiliki rencana lain. Akan ada waktu yang tepat untuk membunuh Aghira. Sekarang waktunya untuk memastikan apakah tujuan dia memicu perang ini sudah tercapai?
Tidak ada lagi rakshasa hidup di area pertempuran di depan gerbang kota Lokapatti. Tidak ada suara, yang terdengar hanya suara angin yang bertiup dan berbau darah.
"Perang sudah selesai. Kita menang!” Ucapan Sakya terdengar ke penjuru kota Lokapatti.
Prajurit yang lain masih mencoba mencerna perkataan Abuba. Menang perang melawan rakshasa. Apakah ini kenyataan? Mereka yang cepat menyadari bahwa ini kenyataan merayakan kemenangannya bersama Abuba.
"Kita menang!"
"Hidup Lokapatti!"
"Hidup Ekadeva!"
Pertempuran besar telah berakhir. Dan mereka berhasil. Beberapa dari mereka selamat tanpa luka, mereka membantu sebagian prajurit yang cedera. Sementara sebagiannya telah menjadi pahlawan bagi mereka yang masih hidup. Ini perang, dan korban adalah kenyataan.
"Kumpulkan mayat prajurit yang meninggal di medan, kenali mereka dan kabarkan pada keluarganya. Perlakukan mayat mereka dengan baik karena mereka berhak untuk itu. Besok kita akan berikan mereka pemakaman yang layak." titah Sakya.
Setelah mengumpulkan mayat para prajurit yang telah mati. Mereka semua kembali ke dalam kota bersama prajurit yang terluka untuk diobati Aida dan Shrie.
__ADS_1
Puing-puing bangunan berserakan di sepanjang perjalanan ke alun-alun. Rasa khawatir terpancar di muka para prajurit. Yang membuat hati mereka trenyuh bukan bangunan hancur yang bisa dibangun kembali, tapi nyawa keluarga mereka yang ada di dalam dan di sekitar bangunan. Apakah mereka baik-baik saja?
Ketika mereka tiba di alun-alun, puluhan penduduk yang sudah disembuhkan oleh Aida Dan Shrie sedang meletakkan jenazah penduduk yang mati sebagai korban saat serangan Aghira.
Shrie berlari memeluk Sakya sama halnya seperti keluarga lainnya yang memeluk keluarganya yang selamat dari pertempuran.
"Apakah perang benar-benar sudah berakhir?" tanya Adipati Sena yang mendekati Sakya.
"Untuk sekarang. Tapi jenazah mereka yang meninggal belum kita kuburkan," jawab Sakya lirih.
"Mereka adalah para pahlawan. Besok kita akan berikan mereka pemakaman yang layak di bukit dewi Daru." Kemudian Adipati Sena memeluk Sakya dan berkata, "Terima kasih, kau sudah merubah kehidupan kami."
"Adipati Sena tidak perlu berterima kasih terlebih dahulu. Akan banyak perang lainnya menyusul." ucap Sakya lirih.
"Setidaknya kita tidak akan takut lagi dan memiliki kesempatan untuk menang. Kemenangan di perang ini akan menjadi acuan kita di perang mendatang." Adipati Sena tersenyum memandang wajah Sakya.
"Ya, kita akan jauh lebih siap pada perang di masa depan," tegas Sakya.
Shinta yang berada di belakang adipati Sena mulai mendekati Sakya. “Terima kasih, Bratha Sakya karena telah menolong kami.” Dia mulai mendekat, semakin dekat sampai Sakya bisa merasakan hembusan napas Shinta di mukanya.
Dengan gerak yang sigap Sakya mundur 1 langkah. Menjaga jarak dari Shinta. Dia ingat betapa berbahayanya Shinta yang mampu menembus pertahanannya walaupun dengan tarian.
Shinta terkejut dengan tindakan Sakya. Pipinya mulai merona merah saat Sakya tiba-tiba menjauh. Shinta hanya ingin memberikan ciuman tapi Sakya menghindar. Seluruh dunia seolah runtuh, ketika dia memikirkan semua yang hadir melihat kejadian tersebut. Begitu memalukan. Pemuda ini benar-benar bodoh … ah, umpat Shinta dalam hatinya.
"Sakya, kau bersama prajuritmu istirahatlah! Biar kami yang mengurus sisanya,” ucapan adipati Sena mencairkan suasana di alun-alun Lokapatti.
"Terima kasih Adipati. Aku pamit." Sakya kemudian meninggalkan alun-alun kota menuju komplek rumah adipati Sena untuk bersemedi.
Shrie mendekati Shinta yang sedang menunduk. Shinta menatap tanah seolah lebih indah dari bulan.
“Maafkan kakakku, dia kuat tapi dia memang bodoh menghadapi perempuan,” ucap Shrie, meletakkan tangannya di pundak Shinta.
“Aku begitu malu … Ah,” ucap Shinta, menutupi mukanya yang kini merah dengan kedua tangannya.
__ADS_1
✤✤✤
Nantikan Episode "selanjutnya hari Rabu 24 Juni 2020 jam 08.00 WIB