
Terdengar jeritan kesakitan sebelum akhirnya makhluk tersebut diam tidak bergerak. Jeritan menggema di sekitar lorong, tidak lama kemudian terdengar jeritan lain seolah menyahut. Makhluk sejenis mulai berdatangan. Mendekat dengan cepat. Kali ini 3 ekor.
Sakya bersiap-siap dengan posisi bertempur. Ketika makhluk-makhluk tersebut tiba, pedangnya mengayun dengan cepat membunuh ketiga makhluk tersebut.
SKREEET!
Terdengar jeritan kematian lagi. Sakya mulai berpikir bahwa mungkin itu bukan jerit kesakitan tapi meminta bantuan. Perkiraannya benar, terdengar jeritan lainnya yang menyahut. Dia bisa merasakan beberapa dari makhluk tersebut mulai datang mendekat. 5 ekor, pikir Sakya.
Kali ini Sakya tidak menunggu mereka datang. Dia langsung melesat lari ke arah makhluk-makhluk tersebut. Alasannya sederhana, dia tidak ingin mayat mereka menumpuk menghalangi lorong tambang.
Ketika mereka bertemu, jeritan-jeritan mulai terdengar lagi. Sakya tidak peduli, dia mengayunkan pedangnya tanpa berhenti berlari. Ketika satu rombongan mulai datang lagi, “Agni Ardhachandra.(1)” Api keluar dari tangan Sakya langsung melalap rombongan yang baru datang.
__ADS_1
Hal yang sama terjadi terus-menerus, Sakya mengira akan terjadi pertempuran tanpa akhir di lorong selebar 2 meter itu, namun kali ini dia tidak merasakan ada makhluk yang datang lagi. Sakya berhenti berlari untuk mengambil napas. Dia kembali ke arah tubuh makhluk yang telah mati. Dia perlu mengetahui seperti apa makhluk yang menyerangnya.
Dia menyalakan api dengan tangannya. Kini terlihat jelas ada batang obor di pinggir gua, Sakya mengambilnya dan menyalakannya. Makhluk yang tergeletak mati kini terlihat jelas. Kening Sakya mengernyit melihat makhluk yang ada di depannya.
Makhluk tersebut hidup di dalam tanah tidak memiliki mata seperti cacing. Sedangkan badannya seperti ulat, sedikit gemuk di bagian tengah. Duri-duri tajam mengelilingi bagian atas tubuhnya seperti duri pada batang bunga mawar. Yang paling menyeramkan adalah bagian mulutnya dimana terdapat rentetan gigi yang tajam.
Tidak mengherankan jika makhluk tersebut disebut sebagai ‘yang terlupakan’. Tidak pernah ada catatan tentang mereka. Sakya memukul tubuh makhluk tersebut dan mengambil kesimpulan bahwa makhluk tersebut mempunyai kekuatan sepadan dengan level eka praboditha. Anehnya mereka tidak memiliki ksidra.
Setidaknya ada dua alasan yang bisa Sakya pikirkan saat ini. Pertama ada makhluk yang memiliki kekuatan setara dengan level catur praboditha atau bahkan lebih kuat. Yang kedua mungkin karena jumlah mereka terlalu banyak. Apapun alasannya, dia harus masuk lebih dalam ke dalam tambang untuk mengetahui jawabannya.
Cahaya obor menerangi lorong tambang. Dinding lorong kini mulai terlihat lebih jelas. Terlihat beberapa batu berkerlap-kerlip memantulkan cahaya obor. Batu permata, gumam Sakya. Masih ada sisa batu permata di tambang ini walaupun ukurannya kecil. Sakya berharap semakin ke dalam ada yang berukuran lebih besar. Batu permata yang dia perlukan untuk rencananya ke depan.
__ADS_1
Secara perlahan, Sakya melanjutkan perjalanannya dengan hati-hati semakin masuk ke dalam tambang. Keheningan kembali menyelimuti lorong tambang batu permata tua.
Secara perlahan, Sakya melanjutkan perjalanannya dengan hati-hati semakin masuk ke dalam tambang. Keheningan kembali menyelimuti lorong tambang batu permata tua.
Perkiraan Sakya benar. Semakin ke dalam tambang ‘yang terlupakan’ semakin kuat. Kini mereka yang datang memiliki kekuatan dwi praboditha. Lebih kuat, lebih cepat dan lebih besar.
Sakya memilih untuk melemparkan panah api dibanding dengan mengayunkan pedangnya. Tampaknya mereka lebih rentan terhadap api. Asap mengepul dari bangkai-bangkai yang mulai menghitam. Mengurangi besar tubuh mereka yang semula lebar 1 m dan panjang 2 m menjadi setengahnya karena mengkerut. Sakya tidak perlu lagi mengkhawatirkan jalan kembali tertutup bangkai.
________
Catatan:
__ADS_1
(1) Panah api