
Ketika matahari timur sudah setinggi dengan pelupuk mata. Seluruh penduduk Lokapatti sudah berkumpul gerbang Lokapatti. Setelah bersorak-sorai melihat Abuba yang berlari mengelilingi kota—tanpa pakaian, mereka bergegas menuju arah padang Varsani membawa para jenazah korban perang. Sementara mereka yang lainnya membawa tengkorak-tengkorak rakshasa yang dagingnya sudah bersih karena terbakar api semalaman.
Setelah tiba di pada Varsani tepatnya di bukit dewi Daru, mereka berhenti dan memasukkan jenazah ke dalam pusara besar yang baru dibuat. Sementara di sekeliling bukit dewi Daru terpajang puluhan tengkorak kepala rakshasa di atas sebatang tiang. Ini adalah persembahan penduduk bagi mereka yang gugur, agar mereka tahu bahwa kematian mereka tidak sia-sia, bahwa manusia memenangkan perang ini.
"Warga Lokapatti." Suara Adipati Sena memecah keheningan. "Hari ini kita menguburkan 37 mereka yang telah gugur di medan perang. Kita menguburkan kekasih, ayah, anak, paman dan teman. Mereka gugur demi masa depan kita semua. Biarlah semua tahu bahkan dewa sekalipun bahwa kematian mereka tidak sia-sia. Mereka adalah pahlawan Lokapatti dan mereka akan hidup selamanya di dalam diri kita. Nama-nama mereka akan terukir di tembok kota Lokapatti agar kita tidak lupa pada siapa kita berhutang." Adipati Sena menghela napasnya.
"Beristirahatlah dengan tenang pahlawanku, yakinlah bahwa perjuanganmu akan kami teruskan. Akan kami jaga keluarga yang kau tinggalkan agar mereka bisa merasakan masa depan yang kau perjuangkan. Beristirahatlah dengan tenang pahlawanku dan kita akan bercengkrama lagi disaat kita bertemu lagi."
Adipati Sena menaburkan bunga di atas pusara, diikuti penduduk lainnya. Hari ini, hari yang akan selalu dikenang terus oleh penduduk Lokapatti. Setiap tahun di hari yang sama mereka akan menyanyikan lagu dan menceritakan kisah tentang 37 orang pahlawan yang gugur perang melawan rakshasa.
Setelah Tivara, menaburkan bunga di atas pusara sebagai rasa belasungkawanya. Dia beranjak pergi ke arah barat.
"Bagaimana bisa kau pergi sendiri tanpa mengajak aku?"
Tivara menghentikan langkahnya dan menolehkan mukanya ke arah sumber suara.
"Balapati Sakya," jawab Tivara saat tahu bahwa Sakya yang bicara. Dia membungkukan badannya, "Aku pamit pergi sebentar karena ada keperluan pribadi.”
“Bratha Tivara akan pergi mencari anak-anakmu kan?”
“Ah, itu memang rencanaku.” Tivara menggaruk kepalanya
“Aku tahu, terus mengapa tidak mengajakku?”
“Bagaimana aku bisa mengajakmu. Kau seorang Balapati. Kehadiranmu dibutuhkan semua orang."
"Ha ha, Bratha Tivara tidak perlu khawatir. Kota Lokapatti akan baik-baik saja, dan aku sudah berjanji padamu. Jangan khawatir, aku juga sudah memberi tahu adikku dan Abuba apa yang harus dilakukan. Lagian kita hanya akan pergi sebentar. Ayo kita selamatkan anak-anakmu!"
"Aku berterima kasih atas bantuanmu," ucap Tivara tulus. Dia membungkuk sekali lagi pada Sakya.
“Jadi … kemana sekarang kita akan pergi?”
“Ke barat, itu jejak terakhir yang aku temukan,” jawab Tivara.
“Baik, kita ke barat. Ayo! kudanya aku simpan di bawah bukit.” Sakya menunjuk ke satu arah.
“Ah … Tapi aku tidak punya kuda.”
“Jangan khawatir, aku sudah menyiapkan 2 ekor. Kita akan bergerak lebih cepat.”
Mereka berdua akhirnya pergi ke arah barat.
__ADS_1
✤✤✤
Di kerajaan Mahodara. Di ruangan singgasana, Raja Suranala yang merupakan raja para rakshasa sedang duduk menerima laporan dari Aghira yang berlutut di hadapannya.
"Jadi kau kehilangan kota Lokapatti dan 50 anggotamu karena kau kalah melawan manusia?" tanya Suranala.
Suara tawa yang hadir terdengar ketika Suranala bertanya pada Aghira.
"Benar yang mulia. Maafkan hamba."
"Dan kau katakan ada seorang manusia yang menjadi praboditha? Satu orang? Dan kau kalah?"
Suara tawa terdengar lagi memenuhi ruangan singgasana.
"Benar yang mulia. Maafkan hamba."
"Dan kau berhasil lari karena dia membiarkanmu lari terbirit-birit?"
"Benar yang mulia. Maafkan hamba."
"Dan kau bersikeras tetap hidup karena ingin memberitahu hal tersebut padaku?"
"Benar yang mulia. Maafkan hamba," jawab Aghira sambil tetap berlutut dan menunduk.
"Baiklah, beritanya sudah aku terima. Kau bisa mati sekarang." Kemudian Suranala meremas kepala Aghira hingga hancur. Akhirnya Aghira mati mengenaskan. Dua rakshasa langsung mendekat dan mengangkat mayat Aghira. Tidak ada pemakaman untuk seorang ketua klan yang gagal menjalankan tugas.
"Baik, yang mulia." Haraga pamit keluar singgasana.
✤✤✤
Sementara itu di utara benua Pangea, tembok es tinggi membentang dari ujung barat sampai ke ujung timur. Tembok yang begitu tinggi sampai puncaknya tidak terlihat dari jangkauan mata. Memisahkan antara daerah yang bercuaca dingin di dalamnya dan hangat yang berada di luar tembok.
Sebuah benda bersinar muncul di angkasa. Semakin mendekat benda tersebut semakin besar. Semakin dekat semakin jelas bahwa itu sebuah bintang jatuh maha besar yang dikelilingi oleh api.
DHUARR!
Bintang tersebut menghantam tembok es yang sebelumnya berdiri kokoh selama ribuan tahun hancur berkeping-keping. Bumi bergetar, dan debu tabrakan naik ke angkasa seperti jamur menutupi matahari yang sedang bersinar terik. Bumi menjadi gelap, siang berubah menjadi malam dalam sekejap.
Daya tabrakan yang dahsyat membelah tanah dan menciptakan gempa yang mampu menggoyang segalanya. Angin yang terhempas menumbangkan pohon-pohon besar yang ada di depannya dan terus menerjang tanpa berhenti. Disusul gelombang air yang berasal dari tembok es yang mencair karena panas dari bintang jatuh menghanyutkan segalanya.
Daerah yang semula penuh dengan pepohonan kini tidak tersisa apapun, tidak ada pohon besar yang menjulang tinggi bahkan lumut sekalipun yang biasanya tidak tersentuh oleh angin. Yang tersisa hanyalah api dan debu yang masih berterbangan di udara menghalangi sinar matahari menyeruak.
✤✤✤
Diceritakan di hutan Stana, tempat tinggal ras Nara. Seorang yang duduk di singgasana pohon menghentikan bicaranya ketika seseorang masuk dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Yang mulia Pavitra, hamba minta maaf mengganggu pertemuan yang mulia. Hamba membawa pesan penting."
"Bicaralah!" titah yang mulia Pavitra.
"Hari Pralaya telah tiba yang mulia, hari Pralaya telah tiba." Si pembawa pesan mengulang perkataannya sambil berlutut.
Dalam sekejap semua orang yang duduk di dalam singgasana berdiri dengan roman muka marah.
"Apa yang kau bicarakan, Dutaka. Ini bukan lelucon."
"Hentikan omong kosongmu, kau lihat ada yang tertawa? Pergilah sebelum yang mulia Pavitra menghukummu!"
"Aku mengatakan yang sesungguhnya. Sebuah bintang maha dahsyat sudah jatuh di benua Pangea. Seperti yang tertulis dalam prasasti." jawab Dutaka.
"Ada banyak bintang jatuh di benua ini, apakah semuanya merupakan pertanda kedatangan hari Pralaya? Sadarlah Dutaka atas kesalahanmu."
"Tapi bintang jatuh yang ini menghancurkan tembok Mahvakaksa di utara Pangea."
Semua orang langsung terdiam.
"Apa katamu Dutaka?" tanya yang mulia Pavitra.
"Tembok Mahvakaksa telah hancur yang mulia oleh sebuah bintang jatuh. Seperti yang tertulis dalam prasasti. Hari Pralaya akan datang."
Pavitra terduduk di singgasananya. Sambil menopang kepala dengan tangan kirinya dia berkata,"Segel semua pintu masuk hutan Suci! Mulai sekarang kita akan menutup diri dari dunia luar."
"Tidak ayah, jangan!" Sebuah suara terdengar dari belakang yang mulia Pavitra.
"Apa maksudmu Ramania? Kau ingin kita semua musnah?" tanya Pavitra.
"Ayah, menyegel hutan Vanya tidak akan membuat kita selamat dari hari Pralaya. Kita akan hidup sedikit lebih lama tapi pada akhirnya kita akan musnah. Kita bisa mencegah kedatangan hari Pralaya."
"Tidak ada yang bisa mencegah hari Pralaya, apa yang kau bicarakan?" Suara Pavitra mulai meninggi.
"Tepat sekali, meskipun kau menyegel hutan ini. Jika hanya ras Nara mungkin kita tidak bisa menghentikan hari Pralaya. Tapi jika bersama-sama dengan seluruh ras yang ada di benua Pangea mungkin kita ada kesempatan. Kita kumpulkan seluruh ras yang ada di benua Pangea ini untuk ikut bertarung sehingga kita semua bisa terus hidup. Kita harus mencobanya!" ungkap Ramania bersemangat.
"Tidak ada ras lain yang lebih kuat dari ras Nara, kita tidak bisa menggantungkan harapan pada ras yang lebih lemah dari kita. Aku sudah membuat keputusan. Segel hutan Suci besok. Walaupun hanya akan memberi tambahan waktu lima tahun kita hidup, setidaknya kita bisa menghabiskannya dengan orang yang kita cintai."
"Kami siap melaksanakan titah mu yang mulia Pavitra," jawab semua orang yang hadir di ruangan tersebut. Kemudian mereka meninggalkan singgasana Pavitra bersama-sama.
✤✤✤
Yea … Akhirnya novel ini mencapai 50.000 kata. Jumlah kata maksimal jika ingin naik penerbit.. Terima kasih pada semua yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca novel pertama saya. Saya akui ada beberapa kekurangan seperti PUEBI dan plot yang bolong yang harus diperbaiki dan saya tidak ingin bersembunyi di balik kalimat ‘maklum novel pertama’ tapi saya akan berusaha lebih baik lagi kedepannya.
Episode ini menutup novel Sakya Paraka: Sang Pembebas volume I. Setelah itu break sebentar (research untuk pengembangan cerita) dan berlanjut ke Volume II
__ADS_1
ETA Episode Selanjutnya terbit Sabtu 27 Juni 2020 Jam 08.00 WIB