
HOONGGG
Suara terompet berbunyi setelah ayam jantan berkokok di penjuru kota Lokapatti.
Tidak lama kemudian para penduduk kota keluar dari rumahnya. Tanpa berbicara dengan yang lain, mereka langsung menuju ke pos mereka masing-masing.
Selama dua hari ini, mereka semua sudah berlatih tentang peralatan apa yang harus mereka bawa. Kemana mereka harus pergi. Apa yang harus mereka kerjakan. Pada siapa mereka harus melapor saat ada masalah. Mereka semua sudah siap, tanpa keraguan.
Ketika matahari mulai menampakkan diri, penduduk Lokapatti sudah siap di pos masing-masing.
250 prajurit tempur berdiri membuat 5 barisan 100 meter di depan gerbang kota Lokapatti. 100 prajurit sisanya berada di pos mesin tempur dan di menara-menara yang ada di pinggir gerbang.
Sakya dan Shrie berada di salah satu menara tersebut.
"Kakak, apakah benar kita harus membiarkan mereka bertempur?"
"Shrie, kita sudah pernah membahas ini. Tugas mereka untuk membunuh para rakshasa. Di perang ini, tugas kita adalah menjaga hidup mereka selama mungkin. Kita akan ikut di perang selanjutnya, tapi untuk sekarang, perang ini adalah langkah pertama umat manusia dalam merubah takdirnya."
"Baiklah kak. Aku akan kembali ke posku bersama Aida."
Shrie turun dari menara. Dia memahami maksud dari Sakya. Dia tahu bahwa kelangsungan umat manusia adalah tanggung jawab semua orang. Menanggung beban tanggung jawab seluruh umat manusia walaupun mampu, hanya akan sedikit memperlambat kehancuran saja dan tidak akan merubah kenyataan apapun.
Tapi Shrie hanyalah seorang wanita, dia tidak peduli perhitungan Sakya. Dia hanya peduli pada beberapa penduduk yang akan jadi korban hari ini. Berapa orang yang terluka atau bahkan mati? Apa yang akan terjadi pada keluarga mereka?
"Vaidya Shrie, kau sudah kembali?" Pertanyaan Aida menyadarkan Shrie dari lamunannya.
"Vaidya Aida. Apakah kau siap?" Shrie tersenyum berusaha menghilangkan rasa kekhawatirannya.
"Aku akan berusaha semampunya. Akan kuselamatkan sebanyak yang aku bisa."
__ADS_1
"Oh aku hanya berharap tidak ada korban di perang ini."
Shrie menarik napas panjang. Tugasnya dan Aida dari Sakya hanyalah diam di alun-alun Lokapatti dan selamatkan mereka yang terluka saat perang nanti. Mereka yang terluka akan dibawa oleh penduduk yang tidak bisa ikut berperang.
Sementara anak-anak Lokapatti yang tinggal, mereka berada di belakang kota Lokapatti bersama Shinta yang dilindungi oleh adipati Sena dan Bayana.
✤✤✤
Matahari sudah mulai meninggi. Angin yang membawa genderang perang mulai terdengar. Suara langkah puluhan rakshasa terdengar bergemuruh. Kumpulan debu semakin lama semakin mendekat. Semua penduduk Lokapatti menahan napasnya. Mencoba menahan agar roh tidak keluar raga karena takut.
Para rakshasa berhenti 500 meter di depan pasukan tempur Lokapatti. Dengan gada ditangan, mereka menyeringai dan tertawa. Menertawakan usaha manusia yang mereka pikir kesia-siaan saja.
Teriakan rakshasa menggelegar saat mereka berlari maju menyerang. Tidak ada pengaturan strategi, atau pembagian tugas. Strategi ... Apa perlu strategi? Hanya menghancurkan sebuah kota manusia. apanya yang sulit? Kita sering melakukannya dan tidak pernah gagal.
Sakya berteriak memberi perintah saat para rakshasa di posisi tertentu.
Puluhan anak panah api melayang membakar alang-alang dan batang pohon kering yang sudah disiapkan. Api dengan cepat menyebar dan semakin tinggi.
Api bukan menyala diantara rakshasa dan prajurit tempur, akan tetapi menyala di antara samping kiri dan kanan para rakshasa. Membatasi mereka untuk menyebar. Semakin mendekati prajurit tempur lokapatti maka lintasan api kiri dan kanan semakin menyempit.
Jalan keluar para rakshasa hanyalah terus maju menuju prajurit tempur Lokapatti yang hanya berjarak 100 meter dan itupun hanya cukup untuk 5 orang rakshasa. Akhirnya para rakshasa harus menunggu mereka yang di depan keluar terlebih dahulu.
Beberapa rakshasa yang tidak sabar melompat ke kanan atau kiri mereka dan menemui lubang jebakan yang berisi kayu runcing di dalamnya. Kayu runcing di kaki mungkin tidak akan membunuh rakshasa. Tapi, setidaknya mereka tidak sanggup bertempur untuk saat ini. Teriakan kesakitan mereka terdengar oleh yang lainnya, akhirnya yang lain memilih menunggu dengan sabar.
"Baris satu, tembak!" Abuba memberi perintah ketika 5 rakshasa mulai keluar dari kepungan api.
__ADS_1
50 anak panah melesat ke arah lima rakshasa. 4 rakshasa langsung jatuh tersungkur karena beberapa panah menancap di tempat vital. Sementara seorang rakshasa berhasil melindungi bagian vitalnya.
"Baris dua tembak! Baris satu mundur! Baris tiga tembak! Baris dua mundur ..." Abuba terus memberi perintah tanpa jeda. Ini adalah perang dimana setiap detiknya sangat berarti.
50 anak panah kembali melesat ke arah rakshasa yang masih hidup dan 5 orang rakshasa yang baru keluar dari kepungan api.
Sementara prajurit tempur yang dipimpin Abuba menahan rakshasa yang keluar dari kepungan api dan mulai mendekat, Sakya sudah memerintahkan pasukan manjanik dan balista mulai menembak.
‘WUNG’ Suara tiga buah batu seberat 25 kilo melayang jatuh di kerumunan rakshasa yang sedang mengantri. Berat batu hanya 25 kilo namun karena keras dan dibantu gaya gravitasi, rakshasa yang berusaha menangkap batu harus merasakan tulang-tulang tangan dan dadanya retak. 3 rakshasa mati di tempat dalam satu serangan manjanik. Dan korbannya akan terus bertambah.
Sementara itu 3 panah balista sebesar tombak menancap dengan tepat pada 3 orang rakshasa. Menembak balista ke tengah kerumunan rakshasa tidak perlu membidik. Tembak dimana dan 3 rakshasa dapat dipastikan tidak bisa mengikuti pertempuran lagi.
Dalam waktu singkat belasan rakshasa mati dan beberapa diantaranya sudah tidak bisa bertempur lagi. Aghira, Ketua klan yang memimpin penyerangan ini mulai menggertakkan giginya. Kejadian di depan matanya sungguh di luar dugaan. Mayat rakshasa bergelimpangan, batu-batu besar terbang dan tombak melesat dengan cepat. Sejak kapan manusia memiliki kekuatan untuk melempar batu dan tombak dengan kuat? Jika dibiarkan, pasukan yang dibawanya akan habis.
Dengan cepat Aghira mendekat ke lintasan api. Aghira adalah seorang dwi praboditha. Api biasa tidak terlalu berbahaya untuknya selama dia tidak berdiam di dalamnya. Dengan kekuatannya dia menendang alang-alang dan dahan pohon kering yang menyala, membuat celah diantaranya.
Mengetahui ada jalan lain, rakshasa berhamburan keluar lewat celah yang baru. Salah seorang rakshasa jatuh ke lubang menjadi pijakan temannya menyebrang dengan selamat.
Aghira tidak berhenti disitu saja. Dia menangkap batu yang terbang dan melemparkannya ke arah kota Lokapatti, mengenai bangunan dekat alun-alun dan melukai penduduk yang ada di dekatnya.
Satu lagi batu besar yang tergeletak menindih mayat prajuritnya diambil, dan dilemparkan ke arah menara tempat diletakkannya mesin balista.
Menara balista hancur. Menghempaskan 5 orang prajurit jatuh ke tanah. Satu prajurit tidak beruntung, mati di tempat tertusuk pecahan kayu mesin balista.
Mengetahui bahwa serangan sudah masuk ke dalam kota, Shrie meninggalkan alun-alun Lokapatti.
"Vaidya Shrie, kau akan kemana?"
"Vaidya Aida, Aku akan ke dekat gerbang kota. Ada banyak yang terluka disana dan mungkin memerlukan pengobatan cepat. Kau tunggu disini!" jawab Shrie. Dia tahu serangan mulai datang, mereka yang terluka mungkin tidak akan bertahan saat dibawa ke alun-alun untuk diobati.
__ADS_1
"Hati-hati!" roman khawatir terlihat di muka Aida. Tugas mereka menunggu yang terluka dibawa petugas kesehatan ke alun-alun. Akan tetapi situasi perang memang tidak selalu sesuai harapan, Aida memahami maksud Shrie.
Serangan balik rakshasa mulai datang. Korban berjatuhan dan akan terus bertambah karena rakshasa yang lolos dari kepungan api mulai menyerang pasukan tempur di bawah pimpinan Abuba.