SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Memburu Durta Vaghra Sattva


__ADS_3

Perburuan Durta vaghra sattva dimulai. Bersama Karka, Sakya melacak jejak peninggalan sang vaghra dan kebanyakannya hanyalah sisa-sisa bangkai buruan Durta.


Durta merupakan vaghra sattva. Dia adalah seorang  dwi praboditha. Seseorang yang sudah membuka dua titik chakra yaitu Muladhara dan Svadhisthana.


Sekitar enam purnama yang lalu, Durta mencoba membuka titik chakra Munipura. Titik ini merupakan titik ketiga yang terletak pada bagian pusar tubuh astral makhluk hidup. Untuk membukanya dia harus semedi dalam tanah. Saat itu, Durta harus bisa menyerap prana menggunakan tubuhnya agar dia bisa bertahan hidup.


Semedi di dalam tanah lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Sendirian dalam gelap yang jadi musuh adalah diri sendiri. Rasa takut, kesepian dan keheningan melahirkan rasa tidak percaya akan kemampuan diri sendiri dalam menghadapi tantangan. Pada akhirnya Durta berhasil membuka chakra Munipura namun dia keluar dari semedinya sebelum mendapatkan kemampuan untuk menyerap prana dengan tubuhnya.  Durta telah gagal dan dia harus menerima konsekuensinya.


Semakin banyak titik chakra yang terbuka maka tubuh astral akan membesar dan membutuhkan aliran prana semakin banyak.  Tubuh astral semakin membesar maka genangan prana juga akan semakin membesar. Semua berjalan secara harmoni apabila  genangan prana bisa memenuhi aliran prana yang diperlukan tubuh astral. Akan tetapi, bagaimana jika seorang praboditha tidak bisa mengisi genangan prana tersebut? Masalah inilah yang dialami oleh Durta.


Durta harus menyerap prana dalam jumlah besar setiap hari untuk cadangan tubuh astralnya.  Karena tubuhnya tidak bisa menyerap prana, maka dia harus menyerap prana dengan cara lain yaitu makan.


Selama tiga purnama ini, Durta berburu sattva yang sudah membuka titik chakra Muladhara dan Svadhisthana. Hal itu disebabkan karena dalam tubuh mereka terkandung prana yang cukup banyak. Sayangnya berapapun yang sudah dia buru tidak bisa memuaskan rasa laparnya pada prana. Dia membunuh dan terus membunuh.


Hari ini Durta berburu di hutan Vanaya bagian barat, karena sattva dan binatang pemakan tumbuhan sangat berlimpah di padang savana terluas yang ada di benua Pangea.


Sekawanan edaka sattva sedang berkumpul menikmati rumput hijau, tidak menyadari bahaya yang mengintai mereka. Gemerisik rumput yang tertiup angin menyamarkan bunyi gerak Durta. Dia mengendap melawan angin agar baunya tidak tercium.


Setelah jarak cukup dekat, Durta langsung menerjang edaka di depannya. Kaki depan kanannya menghantam kepala edaka yang langsung roboh.  Kawanan edaka sattva terkejut dan langsung lari berhamburan, akan tetapi Durta langsung menyerang edaka terdekatnya dengan kaki kiri depannya. edaka sattva tahap dwi praboditha menghantam badan Durta dengan tanduknya. Durta terhempas, sang edaka tidak menyia-nyiakan kesempatan langsung menghampiri mencoba menanduk Durta untuk kedua kali. Durta yang terhempas membalikkan badannya dengan cepat, merebahkan diri kemudian menerjang edaka yang berlari ke arahnya. Durta menanamkan taringnya ke sang edaka "Krek" terdengar bunyi tulang leher yang patah. Sang edaka dwi praboditha terkulai roboh.


Durta tidak memiliki kesempatan lagi untuk membunuh karena edaka sattva yang lain sudah kabur. Jadi dia berniat langsung  menikmati hasil buruannya saat dia mendengar suara, "Tinggalkan padang sabana ini Durta! Kehadiranmu tidak diinginkan disini."


Seekor resana sattva berwarna coklat datang mendekat. Di Belakangnya masih ada dua ekor resana berwarna abu-abu.

__ADS_1


Durta melihat ketiga resana yang datang. Yang coklat sudah dwi praboditha sementara dua ekor lainnya masih tahap eka praboditha.


"Jika kau mempunyai kemampuan kau boleh mengusir aku. Jika tidak pergilah, aku mau makan."


"Maka matilah!!!" Resana coklat langsung menerjang Durta.


Durta langsung mengaum. Auman Durta langsung menghempaskan tiga resana lainnya.


"Tri praboditha..." Resana coklat menyadari bahwa ternyata Durta merupakan tri praboditha. Seseorang yang telah membuka chakra Munipura. Sementara dia hanya dwi praboditha, walaupun hanya berbeda dari titik chakra yang terbuka, akan tetapi kekuatan mereka jauh berbeda. Tri praboditha mampu mengubah prananya kedalam bentuk fisik.


"Kalian larilah, beritahu Yang mulia Bhati... Cepat!" Resana coklat memerintahkan dua ekor temannya untuk pergi.


"Terlambat, matilah kalian!" Dengan cepat Durta menyerang mereka. Dia tidak ingin Bhati datang dan mengganggu makannya. Durta sadar dia tidak akan menang melawan Bhati sang penguasa hutan Vanaya bagian barat.


Durta kaget, dia menyangka Bhati telah datang, namun setelah melihat resana yang datang berwarna putih, kepercayaan dirinya bangkit kembali. Durta menarik napas lega, karena yang datang ternyata bukan  Bhati, karena  Bhati adalah resana berwarna hitam.


"Satu lagi calon resana mati datang. Bhati akan sedih empat resana kawanannya akan mati" Durta memperhatikan resana yang datang. Dia bertekad membunuh semua resana yang ada di sini.


"Oh aku bukan dari kawanan Bhati... Aku bersama manusia ini." Ternyata yang datang adalah Karka dan Sakya. Setelah melacak Durta ke tempat ini. Mereka berdua tiba tepat sebelum Durta membunuh resana lainnya. Ketiga resana masih ada di tempat tersebut mereka memperhatikan tamu yang baru datang.


Durta melihat manusia yang tiba di sebelah Karka dan mencium bau Sakya. Dia  teringat akan masa lalu.


"Kau anak manusia yang selamat karena jatuh ke sungai waktu itu... Ha ha ha dan sekarang kau mengantarkan nyawamu lagi? Ingat tidak ada sungai dan rimbun pohon disini. Kau akan lari kemana?"

__ADS_1


"Aku bukan mengantarkan nyawaku, aku kesini untuk mengambil ksidramu." Sakya menjawab sambil melipat tangannya di depan dadanya.


"Kau dengan tubuhmu yang kecil mau mengambil ksidraku? Ha ha ha kau bicara besar untuk orang kecil."


Durta menganggap tidak masuk akal seorang yang tubuhnya tidak lebih dari 2 meter mampu mencabut ksidra miliknya.


 "Hu hu ... cuma seekor kucing kecil tapi bicara keras, mana ngeongmu?" ejek Karka sambil tertawa.


Tanpa banyak bicara, Durta langsung menyerang Karka. Dia mengaum dan aliran prananya langsung menerjang Karka.


Auman prana Durta merupakan prana yang dipadatkan kemudian dilemparkan. Prana yang dilemparkan seperti sebuah batu. Batu akan sangat berbahaya jika sasarannya lebih lemah. Akan tetapi, apa yang terjadi apabila batu kerikil dilemparkan ke seekor gajah? Tidak ada pengaruhnya sama sekali. Karka dengan mudah menepis auman Durta dengan ekornya dan serangan prana kembali ke arah Durta lebih cepat dan menghantamnya.


Durta terjungkal lima langkah ke belakang. Dadanya kembang-kempis menahan sakit. Durta heran, dia tahu kalau Karka adalah seorang tri praboditha seperti dirinya, namun mengapa kekuatan mereka berbeda jauh?


Durta tidak tahu bahwa selama Karka di kuil Vanuya selalu makan buah Kalvaraksa bersama Sakya.  Buah Kalvaraksa mengandung prana yang melimpah sehingga khasiatnya langsung menambah cadangan prana dalam tubuh astralnya.


Idealnya, saat membuka satu titik chakra maka  prana membentuk  genangan di bawah bunga teratai chakra. Apabila membuka dua titik chakra maka tubuh astral akan membesar dan genangan prana akan melebar dua kali lipat dan seterusnya.


Berkat bunga Kalvaraksa, genangan prana Karka telah berubah menjadi kolam kecil. Saat ini Karka telah membuka tiga titik chakra yang artinya kolam prananya membesar tiga kali lipat. Itu artinya Karka bisa mengalirkan lebih banyak prana untuk membuat tubuhnya atau serangannya lebih kuat.


Durta mulai ketakutan melawan Karka. Dia sadar tidak akan menang. Diam-diam Durta mengalirkan prananya ke kaki-kakinya, dia berniat untuk lari tapi udara tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin. Dia merasakan darahnya mulai melambat dan ototnya mulai kaku. Kemudian tubuhnya berhenti dan tidak bisa bergerak.


"Kau mau kemana? Kalau mau pergi tinggalkan dulu ksidramu!" Karka berkata sambil berjalan menghampiri Durta.

__ADS_1


Ksidra adalah sumber kehidupan sattva, meminta ksidranya sama saja dengan meminta nyawanya. Durta tidak akan menyerahkannya pada siapapun bahkan pada induknya sekalipun. Durta sekuat tenaga berusaha untuk lari akan tetapi es mulai melapisi keempat kakinya. "Ini sihir es" batin Durta,  ternyata lawannya adalah tri praboditha yang menguasai sihir, Durta merasa hidupnya akan berakhir hari ini. Dia hanya bisa pasrah pada takdirnya.


__ADS_2