
Seorang wanita muda datang mendekati arah Shrie dan Asih menunggu.
"Salam ... Aku Shinta, putri pertama adipati Sena. Kau pasti Shrie, kau cantik sekali," puji Shinta, tersenyum pada Shrie.
Shrie membungkuk pada Shinta, "Terima kasih, attika Shinta juga cantik sekali," balas Shrie.
Shrie memang cantik dengan keunikannya sendiri, kehidupan di hutan yang keras menempa sisi keras yang terpancar dari wajahnya. Shrie terlihat tegas dan berani. Sementara Shinta, dengan kulitnya yang putih bersih, bentuk muka bulat dan mata yang bundar ditambah dengan gerakan gemulai serta senyum yang selalu terkembang dari wajahnya memberi kesan kecantikan yang begitu anggun dan elegan.
"Panggil aku Kakak, Ayah sudah bicara padaku tentang rencananya mengangkatmu menjadi anak angkatnya. Artinya kita akan menjadi saudara," tutur Shinta, "Di kota ini tidak akan ada yang berani menyakitimu dan aku akan melindungimu."
"Baik, Kakak," jawab Shrie.
"Bagus, Ayo kita jemput kakak kandungmu," ajak Shinta, memegang tangan Shrie.
Ketika mereka tiba di tempat Sakya beristirahat, Sakya sedang duduk menunggu di depan teras rumah. Sakya bangkit dari duduknya ketika Shrie mendekat.
"Shrie, kau cantik sekali," puji Sakya.
"Terima kasih. Oh ini kakak Shinta, dia anak dari adipati Sena. Beliau akan menemani kita ke alun-alun Lokapatti." Shrie memperkenalkan Shinta pada Sakya.
"Salam ... Aku Sakya dari Paraka. Senang berkenalan denganmu." Sakya membungkuk sedikit pada Shinta.
"Salam ... Senang berkenalan denganmu." Shinya membalas bungkukan hormat Sakya. "Kalau semua sudah siap, mari kita pergi ke alun-alun," ajak Shinta, mempersilahkan Shrie dan Sakya.
Mereka mengikuti jalan setapak keluar komplek perumahan adipati Sena. Di ujung jalan sebuah kereta kuda menunggu mereka.
Shrie dengan cepat naik ke dalam kereta, meskipun pakaiannya agak menghambat ketika dia akan mengangkat kakinya. Sementara Shinta mematung di depan pintu kereta menatap pada Sakya sambil tersenyum. Sakya membalas senyumannya kemudian diam menunggu.
Di depan pintu kereta Shinta tetap tidak bergerak. Dia hanya diam sambil menatap Sakya. Sakya mengernyitkan keningnya. Adakah sesuatu di wajahku?
"Apakah kau tidak akan membantu aku?" tanya Shinta ketus.
"Mengapa?" tanya Sakya. Ada apa dengannya? Mungkinkah dia sakit? Sakya bertanya pada dirinya sendiri.
Kini, Shinta yang mengernyitkan keningnya. Serius ... apa dia benar seorang pria? Seluruh pria di kota ini akan berebut membantuku hanya agar bisa memegang tanganku, bahkan ada yang rela menjadi pijakan kakiku. Tapi dia? ... Apakah dia tinggal di hutan?
"Emm ... Tidak apa-apa, lupakan saja," desah Shinta, menggelengkan kepala. Kemudian dia berusaha naik ke kereta kuda dengan susah payah.
__ADS_1
Shrie sangat menikmati perjalanan di dalam kereta kuda, meskipun jalannya sangat lambat. Di hutan Vanaya, Shrie biasa menaiki Sagara atau Arda. Akan tetapi, pemandangan di hutan hanya pohon-pohon yang tinggi besar serta sedikit gelap karena sinar matahari sulit menembus rapatnya dedaunan. Sementara di kota, dia bisa melihat keramaian orang yang beraktivitas. Hal tersebut memberikan sensasi yang berbeda.
"Kita akan bertemu banyak orang disana, bagaimana ya? aku agak sedikit gugup," ungkap Shinta memecah keheningan dalam kereta.
"Attika Shinta bisa menarik napas panjang dan keluarkan melalui mulut secara perlahan, itu ...," jawab Sakya.
"Kakak ... Kau harus puji dia!" tukas Shrie melalui telepati.
"Mengapa? Dia hanya gugup." Sakya mengernyitkan keningnya.
"Ugh ... Kakak memang ... Sudahlah," cela Shrie.
"Kakak Shinta benar-benar cantik hari ini. Bibirmu begitu merah menawan. Sudilah memberitahu adikmu ini bagaimana caranya," puji Shrie, memegang tangan Shinta.
"Aih, adikku ini sudah cantik pandai memuji pula." Kemudian Shinta mengambil sesuatu di tas yang ada di belakang kereta kuda."Aku menggunakan ubi merah ini, dia tidak hanya memerahkan tapi menjaga kelembaban bibirmu. Biar, aku olesi ..." Shinta memotek sebagian buahnya dan mengoleskannya pada bibir Shrie.
Ada apa dengan wanita-wanita ini? Mereka mengatakan yang lain padahal menginginkan jawaban yang lain? Huh, Varna bilang perbedaan wanita dan pria hanya pada bentuk bagian anggota tubuh saja. Otak kami jelas terbuat dari bahan yang sama. Tapi kenapa pikiran mereka tidak bisa kutebak? Sejak kapan adikku berubah?
Sakya menggaruk kepalanya, kemudian mulai mengalihkan pikirannya pada hal lain.
Peresmian penduduk baru kota Lokapatti merupakan hal yang paling menarik dilaksanakan. Apalagi peresmian yang dianugerahkan langsung oleh adipati Sena, dapat dipastikan bahwa orang tersebut memiliki bakat yang luar biasa. Setiap penduduk akan sangat tertarik melihat anggota baru keluarga mereka.
Pada peresmian sekarang, calon anggota penduduk baru mereka juga seorang Vaidya. Ada kemungkinan bahwa dia akan membuka pengobatan secara cuma-cuma juga.
Di sebelah utara alun-alun Lokapatti terdapat dataran yang lebih tinggi. Di situ sudah disediakan banyak kursi untuk duduk para penguasa kota Lokapatti dan keluarganya.
Barisan pertama hanya ada tiga kursi diisi oleh balapati Mara, adipati Sena dan pandita Sava. Barisan kedua diisi oleh keluarga penguasa. Daurjana dan Vaidya Aida dan beberapa orang sudah menduduki beberapa kursi dan sisanya masih banyak yang kosong. Mereka semua menunggu tamu utama tiba.
Alun-alun Lokapatti sudah penuh dengan penduduk yang sudah datang. Sebagian penduduk datang untuk memberikan berkah karena mereka merasa berhutang telah disembuhkan oleh Shrie. Kebanyakan lainnya hanya ingin melihat seperti apakah seorang Vaidya Shrie yang namanya sudah menggema di seluruh kota Lokapatti.
"Kudengar Vaidya Shrie seorang gadis yang sangat cantik. Selain itu keahliannya sangat luar biasa, lebih hebat dari Vaidya Aida."
"Tetanggaku kemarin datang ke alun-alun. Sebelumnya dia sakit batuk yang panjang, sekarang dia sudah sembuh. Dia bilang Vaidya Shrie kemarin menyembuhkan semua yang sakit di alun-alun secara bersamaan. Apa kau mengerti betapa hebatnya dia?"
"Aku harap dia sehebat yang dibicarakan orang. Aku akan memintanya menyembuhkan hatiku."
"Memangnya kenapa dengan hatimu?"
__ADS_1
"Hatiku sakit karena rindu dan hanya akan sembuh jika Vaidya Shrie mau menikah denganku."
"Santoloyo! Tidak hanya hatimu yang sakit tapi pikiranmu juga sakit. Dia masih kecil. Kau mati saja sana ...!"
Ketika kereta kuda adipati Sena tiba. Alun-alun Lokapatti tiba-tiba hening. Saat Shrie turun dari kereta, para penduduk mulai berebut mendekati Shrie. Untungnya para prajurit sudah siap dengan barisan pengaman membentuk jalan bagi Shrie, Shinta dan Sakya yang ada di belakangnya menuju barisan kursi sebelah utara.
Daurjana yang pertama berdiri saat mereka tiba, "Attika Shanti, duduklah dekatku! Sudah lama kita tidak berbicara. Mungkin kita bisa mengenang masa lalu," ajak Daurjana hanya pada Shinta. Dia tidak melirik sedikitpun pada Shrie dan Sakya.
"Maaf, Bratha Daurjana. Kau tahu kalau pandangan matamu yang menggerayangiku membuat kulitku terasa gatal-gatal. Aku rasa aku akan duduk jauh-jauh darimu," cibir Shinta sedikit membungkuk pada Daurjana.
Huh, Kau bisa sombong sekarang, tunggu waktunya tiba. Aku pastikan bibirmu itu tidak pernah tersenyum lagi. Daurjana kembali duduk, tangannya terkepal bergetar dan wajahnya merah menahan marah. Sementara Shinta pergi mencari kursi kosong yang jauh dari Daurjana diikuti Shrie dan Sakya.
"Kakak Shinta apakah kau membenci Daurjana?" bisik Shrie.
"Huh, dia hanya sampah di kota ini. Menggunakan kekuasaan ayahnya untuk mendapatkan apa yang dia mau. Kuda tercepat, wanita cantik dan yang lainnya. Sudah banyak korbannya. Salah satunya Vaidya Aida. Kakak sarankan kau menjauh darinya! Tidak ada hal yang baik darinya!" ungkap Shinta.
"Apa yang terjadi dengan Vaidya Aida?" tanya Shrie penasaran.
"Vaidya Aida sama sepertimu, seorang pendatang. Karena dia berbakat, ayah menjadikannya penduduk kota. Sayangnya dia terpedaya tipu rayu Daurjana. Dia jatuh cinta dan menikah dengannya. Sekarang Vaidya Aida harus menderita sampai mati," ucap Shinta lirih.
"Mengapa?"
"Dia menjadi budak Daurjana. Dia harus bekerja menyembuhkan orang-orang yang hanya bisa membayar Daurjana, setiap malam dipukuli, dan entah berapa sumpah serapah yang sudah dia terima."
"Kenapa adipati Sena tidak menolongnya?" tanya Shrie murka, melihat arah Daurjana.
"Haiz, Vadya Aida pernah mengadukan perlakuan Daurjana pada ayah, tapi beliau tidak bisa melakukan apa-apa karena beliau bukan siapa-siapa Aida Dan Aida pun sudah menjadi istri Daurjana.
"Seorang istri adalah tanggung jawab suaminya. Itulah sebabnya sekarang kau diangkat sebagai anak angkat beliau. Beliau tidak ingin hal yang sama terulang. Karena masih banyak Daurjana-Daurjana lainnya di kota ini," ungkap Shinta.
"Aku mengerti. Kenapa Kakak belum menikah sampai saat ini?" tanya Shrie mengalihkan pembicaraan.
"Aku belum menemukan lelaki yang cukup kuat untuk melindungiku. Kau tahu apa yang akan terjadi saat ayahku mati? Serigala-serigala yang ada di kota ini akan menerkamku. Saat itu terjadi, siapa yang harus melindungiku? Hanya suamiku. Jadi jika dia tidak cukup kuat, aku hanya akan menjadi harta rampasan orang lain." Shinta mendesah panjang.
"Kakak bisa menikah dengan kakak kandungku," bisik Shrie.
"Ah ... Walaupun dia kuat, tampaknya di dalam pikiran kakakmu tidak ada lagi ruang tersisa untuk seorang wanita. Kau tahu? Ada sesuatu yang memenuhi pikirannya," sindir Shinta.
__ADS_1
Shrie terdiam. Dia tahu memang ada sesuatu di pikiran Sakya yang belum diceritakan padanya. Semua itu terpancar dari wajah Sakya. Shrie akan menunggu beberapa hari lagi sebelum dia akan memaksa Sakya bercerita. Selain itu, kakaknya memang bodoh jika menghadapi perempuan.
Mereka ini … Ah, Mereka bicara seolah aku tidak ada di sini. Aku disini ... Ah. Mereka harus membayarnya nanti .... Sakya hanya bisa membatin.