
Setelah membunuh dua puluh prajurit Pinggala, Sakya menarik napas terlebih dahulu. Kelompok musuh yang datang berikutnya pasti dua puluh satu orang.
Saat ini jumlah musuh sudah bukan masalah bagi Sakya. Dia sanggup membunuh berapapun yang datang. Bagi Sakya, semua prajurit bergerak sangat lambat sehingga dia bisa dengan mudah menghindari serangan mereka.
Masalah selanjutnya adalah apakah prananya cukup sampai dia membunuh jendral Pinggala? Sementara Sakya melihat masih ada ribuan prajurit antara dia dan jendral Pinggala. Dia melihat kolam prananya hanya tersisa setengah lagi. Sakya tidak memiliki waktu untuk berurusan dengan ribuan prajurit Pinggala.
Sakya melesat langsung ke jantung pertahanan musuh. Sayangnya bahkan untuk Sakya seribu prajurit masih terlalu sulit untuk dilewati. Seperti kecoa, mereka selalu ada datang lagi dan lagi. Selama prananya masih ada, Sakya tidak dalam bahaya. Masalahnya, prananya hampir tidak bersisa.
Tiba-tiba terompet perang berbunyi panjang. Prajurit Pinggala dan Nikala serentak berhenti mengayunkan senjata. Mereka menyarungkan senjata dan mundur bergabung dengan pasukannya masing-masing.
"Apa yang terjadi? Mengapa kita berhenti?" Sakya bertanya pada seorang prajurit Nikala yang sudah cukup berumur. Terlihat dari kendurnya kulit muka yang tertutup darah.
"Perang hari ini selesai. Perang akan dilanjutkan besok pagi. Sekarang kita akan mengumpulkan prajurit Nikala yang mati agar bisa dikuburkan dengan layak. Mereka yang mati hari ini adalah para pahlawan. Tubuh mereka tidak layak untuk di injak-injak saat perang berlanjut besok pagi,” jawab prajurit paruh baya tersebut. Kemudian dia berjalan mendekati mayat terdekat dan menggotongnya ke suatu tempat.
Hari sudah sore. Matahari sudah di ufuk barat. Lembayung senja terlihat bertabur cahaya kuning, merah dan jingga. Begitu indah dipandang, kontras dengan pemandangan di padang Gabbala yang penuh dengan darah dan mayat.
Sakya memandang prajurit di sekelilingnya. Tidak ada lagi baju zirah yang berwarna keperakan. Semuanya berwarna merah darah. Bahkan muka dan rambutnya. Hanya bola mata dan gigi yang masih putih. Sakya bertanya pada dirinya sendiri apakah dirinya terlihat seperti itu?
Semua darah yang melekat pada rambut, muka dan badan Sakya adalah ilusi namun terasa nyata bagi Sakya. Dia memaksakan diri untuk mandi di sungai. Setelah segar Sakya meditasi untuk menyerap prana di alam sekitarnya dan mengisi cadangan prananya sudah hampir kosong.
Pagi mulai tiba. Tidak ada seorang prajurit pun yang menyambutnya. Seolah tahu kehadirannya tidak diharapkan, pagi ini, cuaca gelap dan mendung.
__ADS_1
Situasi di perkemahan prajurit Nikala mulai ramai dengan berbagai aktivitas. Hari ini mereka akan mulai mempertaruhkan nyawa kembali. Tidak ada prajurit yang tersenyum kecuali Sakya, hari ini dia akan langsung ke tempat jendral dan menyelesaikan Ilusinya.
Genderang tanda perang mulai ditabuh. Sakya langsung melesat ke tengah pertempuran mendahului pasukan berkuda yang ada di depannya. Dia mengayunkan pedangnya ke prajurit Pinggala. Setiap ayunan pedangnya mengirim lawan ke alam baka.
Seperti seorang penari, tubuh Sakya meliuk-liuk menghindari anak panah dan ayunan pedang, melompat ke kanan dan kiri untuk menusukkan pedangnya. Gerakannya begitu indah diiringi jeritan kematian sebagai musiknya.
Sakya tidak bisa dihentikan oleh prajurit Pinggala. Dia tenggelam dalam rasa puas, bangga, lega. Perasaan yang dia dapat seperti ketika dia harus menyelesaikan sebuah tugas dan berhasil menyelesaikannya dengan baik, hal tersebut memberinya ketenangan. Ketenangan yang didapatkan dalam situasi perang dimana nyawa bisa hilang dalam hitungan detak jantung sungguh tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Dua kata yang cukup mendekatinya adalah ‘luar biasa’.
Sakya semakin cepat mendekati posisi jendral musuh. Tidak lama lagi dia akan mendapatkan kepala sang jendral. Cadangan prananya masih ada setengah kolam lagi. Lebih dari cukup untuk membunuh sang jendral.
Sang Jendral perang pasukan Pinggala berada di belakang ribuan prajurit Pinggala. Duduk di atas kuda putih lengkap dengan baju zirah berwarna emas senada dengan warna helmnya. Jubah merahnya berkibar tertiup angin.
Dibelakang sang jendral masih ada pasukan elit Pinggala. Jubah merah yang ada di punggung mereka yang membedakan mereka dengan pasukan Pinggala biasa. Tugas mereka adalah melindungi sang jendral, itulah sebabnya mereka belum terjun ikut perang. Semuanya berubah saat Sakya mulai mendekat ke sang Jendral. Satu orang prajurit mulai maju dan berdiri di antara Sakya dan Sang jendral.
Belum habis rasa terkejutnya, lawan membenturkan kepalanya ke kepala dia. Sakya mundur dua langkah, kepalanya terasa berdenyut. Kemudian dia meloncat lima langkah kebelakang mencoba mencari aman dari serangan berikutnya.
Di luar dugaan Sakya, lawan tidak mengejarnya. Seolah dia menunggu Sakya menyerang kembali. Sakya menajamkan matanya untuk melihat tameng dan pedang lawan, ada prana yang melapisi keduanya.
Sakya menduga prajurit elit penjaga jendral adalah seorang eka praboditha, sama seperti dirinya. Ketenangan dalam dirinya mulai hilang.
Sakya mulai menyerang lawan kembali. Dia salurkan prananya secara maksimal. Ayunan pedangnya semakin kuat, gerakannya semakin cepat. Akan tetapi, lawan sepertinya mampu mengimbangi Sakya. Tidak peduli seberapa kuat dan cepat serangan Sakya, lawannya selalu bisa memberikan serangan balasan. Pertarungan mereka terlihat seperti saling bergantian menyerang musuh.
__ADS_1
Pertempuran tidak berakhir meskipun berlangsung cukup lama. Sakya berupaya untuk langsung membunuh sang jendral sayangnya sang jendral seperti sudah mengetahui maksudnya. Sekarang dia sudah ada di belakang puluhan pasukan elit. Sakya mengurungkan maksudnya dan tetap fokus menghadapi lawannya.
Sakya tahu serangan biasa tidak akan mampu melumpuhkan lawan, dia perlu melakukan hal yang baru.
Sakya mundur sepuluh langkah, kali ini prananya hanya dialirkan ke kedua kakinya jalan jumlah besar. Dia melesat dan meloncat ke arah lawan dengan cepat, kemudian seluruh prananya dia salurkan hanya ke tangan kanan dan pedangnya. Dia ayunkan pedangnya ke kepala lawan. Lawan mengangkat tamengnya akan tetapi pedang Sakya tidak terhentikan terus turun dari atas ke bawah. Membelah tameng dan tubuh prajurit elit.
Sakya menang dengan konsekuensi seluruh cadangan prananya habis. Sakya terbaring tidak berdaya karena tidak memiliki tenaga untuk bangkit dan berdiri. Kejadian selanjutnya sudah bisa Sakya prediksi. Dua orang prajurit elit akan maju untuk membunuh dirinya. Kali ini Sakya beruntung, perkiraannya sangat tepat.
"Selamat datang kembali di balai Vanuya."
✤✤✤
Sakya telah menyelesaikan ilusi dalam 20 hari. Dia mati empat puluh kali dalam pertarungan melawan prajurit elit Pinggala. Untungnya, membunuh sang jendral tidak sesulit yang dibayangkan. Hanya membutuhkan satu ayunan pedang dan ilusi pun berakhir.
Selanjutnya, Varna menawarkan Sakya untuk belajar membuka titik chakra Svadhisthana agar bisa menjadi seorang dwi praboditha.
Setelah selesai berburu bersama Karka dan menyiapkan segalanya, Sakya masuk balai Vanuya untuk semedi dalam waktu yang lama berusaha membuka titik chakra Svadhisthana.
__ADS_1
✤✤✤