
Kacana yang merasa tidak digubris mulai marah. Pada saat dia akan menyerang, mendadak Sakya mengayunkan pedang ke arahnya. Api keluar dari pangkal pedang Sakya, menerjang ke arahnya. Gelombang udara panas menyebar ke seluruh ruangan. Kacana dengan cepat melompat ke kanan. Api menghantam dinding gua meninggalkan noda terbakar.
"Karka selamatkan adikku!" Sakya langsung memerintahkan Karka untuk menyelamatkan adiknya, sementara dia langsung menerjang Kacana dengan pedang ksidra di tangannya berada di tengah antara Kacana dan Shrie.
Karka dengan cepat menyambar Shrie, mendudukkan punggungnya dan melesat keluar gua. Walaupun mulut gua berada di ketinggian, saat ini bukan masalah bagi Karka, dia mempunyai cara agar bisa mendarat dengan selamat. Masalah Karka saat ini adalah anggota garuda sattva yang berada di luar gua. Mereka tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
Setelah Karka mendarat bersama Shrie yang ada di punggungnya, sekelompok garuda sattva langsung menyerangnya. Mereka mendengar suara pertarungan di dalam gua dan resana putih keluar dari gua bersama tawanan milik rajanya. Tidak terlalu lama bagi mereka untuk menyimpulkan bahwa sesuatu telah terjadi di sarang Kacana.
Mereka menyerang Karka dengan cakarnya, sementara yang lain berusaha mengambil Shrie kembali.
Karka hanya bisa menghindari serangan mereka. Dia sedikit kesulitan membalas karena Shrie ada di punggungnya.
Pengejaran berhenti ketika terdengar suara menggelegar di sarang Kacana. Puncak tebing yang menjadi atap sarang Kacana hancur berantakan. Kacana terlihat melesat terbang ke angkasa, disusul oleh Sakya.
Ketika melawan Sakya di dalam sarangnya, Kacana kesulitan untuk menghindar dan melakukan serangan. Sarangnya memang luas akan tetapi tidak cocok untuk sebuah pertarungan.
Kacana berusaha untuk keluar gua, namun sepertinya lawannya mengetahui maksudnya dan melakukan serangan sehingga dia harus mundur dan tetap di dalam gua. Kacana tahu jika situasi ini tidak berubah maka dia akan celaka. Akhirnya Kacana mengumpulkan prana dan berteriak dengan. Prana yang terkumpul meledak ke segala arah begitu dahsyat sampai menghancurkan atap guanya.
Kacana yang kini berada di angkasa mulai merasakan panas di dadanya. Dia belum pernah merasa semarah ini. Sarangnya hancur hanya karena seorang manusia. Ras kecil yang berada di bawah rantai makanan, dia bahkan tidak ingin memakannya meskipun kelaparan. Sebagai seorang penguasa dia tidak pernah merasa dipermalukan seperti ini.
Kacana ingin mengakhiri pertarungan ini secepatnya. Dia ingin menenangkan diri dan bersiap menghadapi pertempuran dengan Sagara.
"Chakravata prapata!" Kacana merapal sihirnya.
__ADS_1
Langit yang cerah sekonyong-konyong berubah penuh dengan awan-awan hitam. Awan-awan yang tersebar itu kemudian bersatu menjadi sebuah awan hitam besar yang menghalangi matahari menyinari gurun. Awan hitam tersebut seperti memiliki ekor yang terus memanjang sampai ke tanah. Seketika angin kencang berhembus ke segala arah. Menerbangkan pasir, pepohonan, dan sattva-sattva yang ada di sekitarnya. Kacana menciptakan angin ****** beliung dengan sihirnya.
Sattva yang mengejar Karka langsung berhamburan mencari selamat. Karka menggembos aliran prananya pada keempat kakinya dan melejit dengan cepat menjauh dari pusaran angin.
Sakya mulai terseret terbawa angin. Tubuhnya mulai terangkat dan terlontar ke udara. Pasir-pasir yang berterbangan menghalangi pengelihatannya.
'Buuk' Sesuatu menghantam tubuhnya. Sakya yakin bahwa itu Kacana. Kacana menyerang saat dia tidak berdaya di udara. Tubuh Sakya terhempas ke dinding tebing. Tebing batu itu hancur berantakan. Kemudian ‘bumm’ suara tubuh Sakya yang terhempas jatuh di tanah.
Sakya bangkit dengan cepat dan terbatuk dua kali. Darah meleleh dari bibirnya. Jika Sakya tidak memperkuat tubuhnya dengan prana, hari ini adalah hari kematiannya. Mengetahui bahwa dia sudah tidak bisa mengandalkan matanya, Sakya menajamkan indera yang lainnya.
Angin kencang terus menerpa tubuhnya. Sakya dengan cepat merapal sihir dalam hatinya, "nakha bumi." Sebuah sihir yang merapatkan kakinya ke bumi seperti paku. Kemudian dia merapal satu sihir lagi, "nirusnatam nayati."
Udara dingin langsung menyebar ke segala arah. Meliputi daerah pertarungan Sakya dan Kacana.
Sihir hanya bisa dilakukan oleh tahap dwi praboditha ke atas. Cara kerjanya hampir sama seperti telepati, jika telepati adalah mengirimkan informasi berisi pikiran dalam prana kepada seseorang, maka sihir adalah mengirimkan informasi berisi perintah pada elemen-elemen yang ada di bumi ini seperti air, api, tanah dan yang lainnya.
Untuk membuat angin ****** beliung, Kacana memberikan perintah pada udara dingin yang ada di angkasa untuk berkumpul dan turun ke permukaan tanah, hal ini menyebabkan udara gurun yang hangat di bawahnya terdesak naik keatas dan menyebabkan putaran, maka terjadilah angin ****** beliung.
Jika tidak malu, Kacana ingin menangis sekarang. Untuk menciptakan angin ****** beliung sebesar itu, dia harus menghabiskan seperempat cadangan prananya.
Hal ini membuatnya khawatir karena dia masih harus melawan Sagara. Hari ini dia hanya bisa membuat dua kali lagi, jika itu masih gagal untuk membunuh Sagara maka sisa prananya akan dia gunakan untuk kabur.
Belum selesai Kacana berpikir untuk rencana selanjutnya, angin ****** beliungnya mulai mengecil. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Angkasa merupakan daerah kekuasaannya dan saat ini sesuatu terjadi di luar kuasanya. Kacana melihat Sakya sedang tersenyum ke arahnya. Apakah ini ulah dia? Kurang ajar, dia bahkan masih bisa tersenyum ...
__ADS_1
"Chakravata prapata!" Kacana merapal lagi sihirnya. Emosinya sudah tidak terbendung lagi seperti gunung berapi yang meletus. Dipikirannya Sakya harus mati hari ini dengan cara apapun, bahkan jika prananya harus habis.
Awan hitam mulai berkumpul lagi, ekornya mulai turun namun sebelum mencapai permukaan tanah, ekornya kemudian naik lagi. Tidak ada lagi angin ******-beliung.
Sakya kembali tersenyum. Dia tersenyum karena tahu apa yang telah terjadi. Sakya tahu angin ****** beliung terjadi apabila ada perbedaan suhu udara antara dingin dan panas. Yang dia lakukan hanyalah menyamakan suhu udaranya. Dengan sihir, Sakya mendinginkan udara di permukaan gurun sehingga udara tidak naik ke atas.
Saat ini, Sakya ingin berterima kasih pada Varna. Sakya tidak menyangka bahwa pengetahuan yang disampaikan oleh Varna bisa bermanfaat dalam pertarungan. Pengetahuan adalah kekuatan, dengan mengetahui cara kerja sesuatu, maka kita bisa mengetahui cara mengatasinya.
Tentu saja prana yang diperlukan untuk mendinginkan udara gurun sangatlah banyak, tapi bagi Sakya, jumlah prana tidak akan pernah jadi permasalahan. Saat daya tampung prana praboditha lainnya hanya sebesar genangan, daya tampung prana Sakya sudah sebesar kolam berkat bunga Kalvaraksa. Sekarang setelah titik chakranya terbuka semakin banyak, daya tampung prananya sudah sebesar danau. Mendinginkan udara di gurun bahkan tidak menghabiskan seperempat prananya. Sakya bisa mendinginkan udara gurun seharian terus-menerus jika dia suka.
Kacana sudah kehilangan akal dan cara. Tidak ada lagi serangan yang dapat membunuh Sakya.
Untuk melampiaskan amarahnya, Kacana melancarkan serangan terakhir sebelum kabur. Dia kibaskan dua sayapnya ke arah Sakya. Puluhan bulu berwarna keemasan melesat ke arah Sakya. Sakya memasang tameng pelindung prananya dan merapal,"megharapa avapat". Dengan sihirnya Sakya menciptakan petir.
Sakya mendekatkan kedua awan hitam yang dipanggil Kacana sebelumnya. Dua awan hitam mulai merapat, kemudian terdengar suara guntur yang langsung disusul dengan kilatan petir. Sakya masih tidak mempunyai kemampuan untuk mengarahkan petir, tapi karena Kacana sedang terbang di udara, kemungkinan besar petir akan menyambar yang paling dekat terlebih dulu. Saat ini dia hanya menyerahkan pada keberuntungannya saja.
Hari ini, tampaknya Sakya sedang beruntung. Ketika Kacana melihat ke arah awan, semuanya sudah terlambat. Tubuh Kacana terasa lumpuh saat petir menyambar dirinya.
‘Bumm’ Kacana terjatuh berdebam ke tanah. Bulu-bulunya yang kuning keemasan kini berubah hitam hangus terbakar. Sedikit bau daging terbakar mengalun di udara. Tentu saja satu sambaran petir tidak akan langsung membunuhnya, tapi dua kali sambaran petir di udara membuatnya tergeletak tidak berdaya. Dia hanya bisa menatap Sakya berjalan mendekatinya.
"Bunuh aku!" ujar Kacana. Dia tidak tahu harus disimpan di mana mukanya saat semua tahu bahwa sang penguasa Vanaya bagian utara, Seorang catur praboditha yang telah membuka empat titik chakra kalah oleh seorang manusia.
"Jangan khawatir, aku akan membunuhmu."
__ADS_1
Sakya mengayunkan pedang ksidra ke leher Kacana. ‘Wuut’ Kepala Kacanapun terpisah dari tubuhnya.
Hari ini hutan Vanaya kehilangan salah satu penguasanya.