
Di dalam kereta, Shrie bertanya pada Sakya melalui telepati, "Kakak, aku tidak mengerti mengapa kau menyakiti mereka?"
"Kau salah Shrie. Aku justru menyelamatkan mereka."
"Menyelamatkan mereka? Menyelamatkan dari apa?" Shrie semakin bingung.
"Dari hal yang buruk yang akan datang,” jawab Sakya menarik napas panjang. "Shrie apakah kau percaya padaku?" tanya Sakya lirih.
"Tentu saja aku percaya, tapi aku tidak mengerti tentang semuanya ... Tentang Ekadeva ... Atau tentang kau yang melukai mereka. Mengapa? Jika kau ingin kekuasaan bukankah dengan kekuatanmu kau bisa mendapatkannya dengan mudah?" ungkap Shrie. Matanya mulai berkaca-kaca. Mengapa Sakya tidak memberikan penjelasan padanya.
"Aku tidak menginginkan kekuasaan. Shrie aku meminta kau percaya padaku. Berikan aku waktu beberapa hari. Dalam beberapa hari ke depan kau akan tahu semuanya. Percayalah, semua akan baik-baik saja." Sakya berusaha menenangkan Shrie. Dia belum bisa menceritakan pada Shrie semua rencananya karena menurutnya, Shrie belum siap mendengar semuanya.
Shrie hanya menundukkan kepalanya tanpa berkata apapun. Hanya Sakya keluarganya yang tersisa. Shrie akan lakukan apapun untuk membantunya, bahkan jika harus menghancurkan kota sekalipun. Sakya hanya tinggal memintanya. Akan tetapi, mengapa Sakya tidak mempercayainya?
Kereta kuda sudah berhenti di depan sebuah pendopo. Adipati Sena mempersilakan mereka duduk. Kemudian dia menyuruh semua pengawalnya pergi.
"Sekarang hanya tinggal kita bertiga. Biar ku jawab pertanyaanmu. Jawabannya tetap sama, ha ha ha. Aku menyelamatkan mereka bukan sebaliknya,” kata Adipati Sena.
"Dan apa alasan Adipati Sena mengundang kami kesini?" tanya Sakya.
"Untuk mencegah mereka berbuat hal yang semakin bodoh. Jika mereka tidak mengganggu kalian, mereka tentunya tidak akan terluka,” jawab Adipati Sena sambil meminum air yang sudah disediakan.
"Adipati, jadi anda bermaksud menyelamatkan mereka dengan mengurung kami disini?" sindir Sakya, tersenyum memandang Adipati Sena.
"Ha ha ha, kau pintar sekali! Sayangnya aku tahu aku tidak bisa mengurung kalian. Jadi aku ingin menawarkan kalian sesuatu.” jawab Adipati Sena."Aku akan menjadikan Vaidya Shrie sebagai penduduk Lokapatti. Memberikan dia tanah, rumah beserta isinya. Dan untuk melindunginya dari balapati dan pandita, aku juga akan mengangkat Shrie sebagai anak angkatku." Dia memberikan penawarannya.
"Bagaimana dengan Kakakku?" tanya Shrie, karena dia tidak mendengar penawaran untuk Sakya.
"Sakya, boleh aku tahu apa keahlianmu?" tanya Adipati Sena.
"Aku hanya pemburu biasa," jawab Sakya. Dia mengambil gelas di dekatnya dan meminumnya.
Adipati Sena berdiri dari kursinya, kemudian berjalan lima langkah dengan kedua tangan di belakang punggungnya. Dia berhenti sementara pandangan matanya menatap jauh ke kota Lokapatti.
"Sejujurnya aku harus adil pada semua orang, alasan aku menawarkan pada Vaidya karena kau begitu unik. Kemampuanmu merupakan berkah bagi seluruh umat manusia. Tidak ada yang akan meragukan keputusanku. Akan tetapi, Sakya hanya pemburu seperti yang lainnya, dan seperti yang lainnya, dia harus mengikuti perayaan Dewi Daru untuk menjadi penduduk Lokapatti. Itu hukum di kota ini. Jika aku melanggarnya, yang lain akan menjadikannya contoh. Tanpa hukum yang dijunjung, kota ini akan runtuh." Dia menarik napas panjang dan menatap Sakya.
"Aku mengerti maksud Adipati Sena." Sakya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kau beruntung, perayaan Dewi Daru akan dilaksanakan dua hari lagi. Aku yakin kau bisa mendapatkan anugerah-Nya sehingga bisa cepat berkumpul kembali dengan adikmu," ucap Adipati Sena."Besok aku akan mengumumkan peresmian Shrie sebagai penduduk Lokapatti sekaligus pengangkatan dia sebagai anak angkatku. Itu akan menjamin keselamatannya di kota ini."
"Aku berterima kasih atas pengaturan, Adipati Sena. Kutitipkan adikku dalam penjagaanmu." Sakya bangkit dari kursinya dan membungkuk pada Adipati Sena.
"Haiz, hanya itu yang bisa aku lakukan, semakin banyak manusia yang memiliki bakat seperti adikmu, maka umat manusia akan bangkit dari keterpurukannya," ungkap Adipati Sena.
"Bayana, Kemarilah!" teriak Adipati Sena memanggil seorang bawahannya.
Seorang pria datang memberi salam pada Adipati Sena. "Apa titahmu Adipati?"
"Aku ingin kau mengumpulkan penduduk kota besok di alun-alun. Ada yang akan aku umumkan, dan antarkan mereka ke kamar tamu untuk beristirahat!" Adipati Sena mengeluarkan perintah.
"Baik Adipati." Bayana mengangguk. Dia kemudian mempersilahkan Shrie dan Sakya untuk mengikutinya.
"Kami pamit, Adipati" ucap Sakya dan Shrie, memberi salam kemudian mengikuti Bayana dari belakang.
Mereka keluar dari pendopo melalui jalan setapak berbatu dan mulai masuk ke komplek rumah Adipati. Ada beberapa bangunan kayu di komplek tersebut. Bayana membawa Sakya ke salah satu bangunan rumah kecil yang ada di komplek tersebut. Sementara Shrie menempati rumah kecil lainnya.
"Kakak, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Suara Shrie menggema di benak Sakya.
"Lakukan seperti apa yang biasa kau lakukan. Jika ada yang akan menyakitimu kau boleh membela diri. Kau tidak perlu khawatir tentang aku," jawab Sakya.
"Shrie, kau akan tahu beberapa hari lagi. Aku hanya perlu memastikan satu hal terlebih dulu," ungkap Sakya.
"Sudahlah aku malas bicara dengan Kakak. Aku tidak akan bertanya-tanya lagi." Kemudian hening.
Sakya mengambil mengambil posisi duduk sila. Dia bermaksud untuk menghabiskan malam dengan semedi. Menyerap prana di sekitarnya untuk menggantikan sedikit prana yang digunakan untuk merundung para prajurit Lokapatti di alun-alun.
Di ruangan yang lain, Shrie melakukan hal yang sama dengan Sakya. Dia semedi menyerap prana untuk menggantikan prana yang digunakan untuk menyembuhkan penduduk yang sakit.
Bagi seorang praboditha, semedi merupakan cara beristirahat yang lebih baik dibanding tidur biasa. Dengan semedi, selain dapat mengembalikan prana dan kebugaran tubuh dan pikiran, semedi tetap menjaga kesadaran akan lingkungan sekitar. Hal itu membuat seorang praboditha lebih cepat bertindak saat bahaya muncul di sekitarnya.
✤✤✤
Matahari terbit dalam sekejap mata. Shrie membuka matanya dan saat dia merasakan seseorang mendekat.
Tidak lama terdengar suara ketukan pintu, "Vaidya Shrie, aku Asih. Apakah kau sudah bangun?"
__ADS_1
"Ya, ada yang bisa kubantu?" tanya Shrie.
"Hamba diperintahkan Adipati Sena untuk membantu Vaidya Shrie bersiap-siap. Hari ini peresmian Vaidya Shrie menjadi penduduk kota Lokapatti. Bolehkah hamba masuk?"
Shrie membukakan pintu untuk Asih, seorang gadis berumur delapan belas tahun berdiri di depan pintu, dia membawa sesuatu yang berwarna putih terlipat rapi dan daun pisang untuk membungkus bunga-bunga yang berwarna-warni. Kemudian dia masuk kedalam.
"Hamba membawakan pakaian untuk Vaidya Shrie. Jika Vaidya Shrie mau, hamba bisa membasuh punggung Vaidya," tawar Asih.
"Apa ...? Oh, tidak apa-apa. Aku bisa sendiri." Shrie merasa canggung ketika harus dimandikan oleh orang lain. Dia sudah berumur enam belas tahun. Apakah semua orang kota seperti itu? Shrie menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu hamba siapkan dulu airnya," kata Asih, kemudian dia masuk ke dalam sebuah ruangan. Tidak lama kemudian Asih keluar lagi.
"Vaidya Shrie, airnya sudah siap, dan ini untuk pakaian gantinya." Asih memberikan barang yang dibawanya. "Hamba akan menunggu disini kalau Vaidya Shrie masih memerlukan hamba" ujar Asih sambil menunjuk ke arah ruangan kemudian dia memberi dia langsung duduk di sebuah kursi.
Shrie langsung berjalan ke ruangan yang Asih tunjukkan. Ruangannya cukup besar, sebesar kamar tidurnya. Lantainya beralaskan batu alam berwarna hitam. Ada kolam kecil di tengah ruangan berisi air dan bunga-bunga yang mengambang di atasnya. Sepertinya, Asih yang menaburkannya tadi. Shrie membuka pakaiannya dan masuk kedalam kolam.
Airnya terasa segar, baunya harum semerbak dan Shrie merasa aman. Ini pertama kalinya Shrie mandi di ruang tertutup. Sejak kecil di desa Paraka, dia selalu mandi di sungai bersama teman-temannya. Hal yang sama dia lakukan ketika dia di hutan Vanaya, hanya saja dia mandi sendirian. Sepertinya kehidupan di kota akan menyenangkan, Shrie tersenyum geli.
Setelah selesai berendam Shrie keluar dari kolam. Diambilnya pakaian putih pemberian dari Asih. Shrie penasaran karena bahannya tipis dan lembut tidak seperti pakaian kulit miliknya. Shrie kebingungan karena tidak ada lubang untuk memasukkan tangannya dan tidak ada celananya. Pakaian itu hanya berupa persegi yang panjang yang benar-benar panjang. Bagaimana cara aku memakainya?
"Asih, bisakah kau masuk?" pinta Shrie.
"Ada apa Vaidya?" Asih masuk ke dalam ruangan.
"Bisakah kau membantuku memakaikan pakaian ini?" Shrie berkata lirih.
"Oh tentu, Vaidya,"
Asih sangat terampil memakaikan pakaian tersebut seolah memang terbiasa. Wajah Shrie merona merah dia merasa sangat canggung. Untungnya wajah Asih yang tetap datar membuat hatinya sedikit lega.
Seolah tahu rasa penasaran Shrie terhadap pakaian yang sedang dipakaikan padanya, Asih bercerita sambil membelitkan pakaian tersebut ke tubuh Shrie, "pakaian ini hanya ada enam di kota ini. Hanya keluarga Adipati Sena yang menggunakannya. Kabarnya, pembuat mengambil bahannya dari kepompong ulat tertentu. Dia mempelajarinya ketika dia menjadi budak dari ras Vamana. Sayangnya dia belum bisa membuat alat pembuatnya, jadi pakaian ini dia tenun dengan tangan dan alat seadanya. Bayangkan, selama sepuluh tahun tinggal di kota Lokapatti, dia hanya mampu membuat enam buah pakaian dan semuanya dibeli oleh adipati Sena untuk anaknya attika Shinta. Nah, attika Shinta memberikan baju ini sebagai hadiah untukmu," tutur Asih panjang lebar.
Setelah Asih selesai memasangkan pakaian Shrie. Pakaian tersebut seolah menempel di tubuh Shrie, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang belum sempurna terbentuk. Pakaian tersebut melilit sampai ke atas dada, memperlihatkan pundak sampai lengan kirinya sementara pundak kanannya tertutup ujung pakaian yang disampirkan ke bahunya.
"Vaidya tampak cantik sekali," puji Asih, matanya tak lepas memandangi Shrie.
"Terima kasih," jawab Shrie tersipu malu.
__ADS_1
"Sebentar lagi attika Shinta akan datang menjemput dan mengantarmu ke alun-alun. Mungkin kita bisa menunggunya di luar?"
"Baik." Shrie melangkah keluar rumah diikuti Asih.