
Kening Sakya mulai berkerut. Seberapa kuat kira-kira makhluk yang berada di ujung tambang ini? Bagaimana mungkin mereka bisa sekuat praboditha? Sementara mereka tidak memiliki ksidra. Tanpa ksidra mereka tidak bisa menyerap prana dan memutar titik chakranya. Satu hal lagi, mereka tidak memiliki kesadaran dan kemampuan untuk berpikir.
‘Yang terlupakan’ memiliki otak, tapi memiliki otak bukan berarti dia bisa berpikir. Seperti seekor ayam, memiliki otak namun tidak bisa berpikir. Tanpa berpikir mereka tidak punya kesadaran. Bergerak hanya dengan naluri mereka.
Untuk menjadi seorang praboditha, makhluk tersebut harus memiliki kesadaran dan kemampuan untuk berpikir. Karena hanya dengan kesadaran dia bisa melihat tubuh astralnya. Hanya dengan berpikir dia bisa menyerap prana, mengalirkannya melalui saluran astralnya, memutar titik chakranya dan menjadi praboditha—seorang yang ‘tercerahkan’.
Rasa keingintahuan yang besar untuk mengetahui jawabannya, menggiring kakinya untuk terus melangkah. Segerombolan makhluk ‘yang terlupakan’ datang lagi. Panah api langsung menyambut mereka.
Sakya mengambil kesimpulan kalau mereka memiliki daerah masing-masing. Mereka yang selevel eka praboditha menempati lorong dekat ke permukaan, sementara yang lebih kuat lagi berada di area dalam. Dia berjanji di dalam hati jika sampai menemukan ‘yang terlupakan’ sekuat panca praboditha, maka dia akan lari. Tidak ada gunanya batu permata jika dia mati.
__ADS_1
Sakya mengusap keringatnya. Dia baru saja membunuh segerombolan ‘yang terlupakan’ dengan panah api. Bau daging terbakar terus menyerang indera penciumannya. Ini yang terakhir? batin Sakya. Dia tidak merasakan lagi ada makhluk yang mendekatinya.
Tidak lama kemudian, dia harus menghentikan perjalannya. Di depannya sudah tidak ada jalan. Lorong tambang berakhir sampai disini. Rasa kecewa terlihat di roman wajahnya. Bukan karena dia tidak bertemu dengan ‘yang terlupakan’ sekuat panca praboditha, tapi karena harapannya tidak terpenuhi. Dia berpikir sebagai bekas tambang ras Vamana, akan ada banyak sisa batu permata dengan ukuran besar yang mungkin belum tertambang.
Alas, hanya batu permata kecil yang ada dengan jumlah yang tidak banyak. Rasanya masih tidak sepadan dengan usaha yang sudah dia keluarkan. Tapi, bersyukur juga merupakan salah satu teknik semedi—bersyukur menenangkan hati.
Shrie pasti menyukainya ini, pikirnya. Membayangkan bagaimana Shrie yang meloncat-loncat kegirangan ketika menerima sekantung penuh berisi batu permata.
Dengan obor di tangan kiri dan pedang ksidra di kanannya, Sakya mencongkel batu-batu permata yang menempel di dinding. Dia menghentikan pekerjaannya ketika dia melihat hal yang aneh di atas lorong.
__ADS_1
Dia tidak melihat apapun saat pertama lewat, kemungkinan karena dia terlalu fokus terhadap mereka yang datang. Sekarang dia melihat sebuah lubang ukuran 2 meter terletak di atap lorong.
Sakya mengamati lubang yang ada di atasnya. Lubang tersebut nyata, tapi Sakya masih belum bisa memikirkan alasan mengapa ada di atas. Dia tahu tidak mungkin penambang Vamana menggali lubang ke arah atas. Tebakan liar Sakya bahwa itu adalah lorong yang dibuat oleh 'yang terlupakan'.
Sakya melemparkan obor ke atas. Obor terlempar ke atas menerangi lubang sampai terbentur atap lubang. Ternyata lorong lubang tidak menembus sampai ke atas, dia berbelok lagi membuat tikungan.
Sakya melompat dan naik ke tepi lubang. Lorong baru terpampang di hadapannya dengan lebar 2 meter. Lorong di atas lorong. Setelah mematikan obornya dan menyembunyikan auranya, Sakya menelusuri lorong baru.
Awalnya jalan lorong datar, tidak lama kemudian menurun makin masuk ke dalam ke perut bumi. Sakya percaya dirinya kini sudah berada di bawah lorong tambang utama.
__ADS_1
Ketika bau udara mulai berubah, Sakya tahu bahwa dia hampir tiba di ujung lorong. Bau menyengat menusuk hidungnya. Ketika dia tiba di ujung lorong, Sakya tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat.