SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Peperangan di Padang Gabbala


__ADS_3

Para prajurit Nilaka berbaris menuju padang Gabbala.  Padang Gabbala merupakan padang rumput luas yang berada di antara kerajaan Nikala dan kerajaan Pinggala. Keduanya sepakat untuk melakukan perang di sini.


Barisan terdepan pasukan Nilaka adalah pasukan penabuh genderang dan pemegang bendera di kiri dan kanannya. Di belakangnya  pasukan berkuda berbaris rapi lengkap dengan ksatria berbaju baja dan tombak di tangannya. Selanjutnya  pasukan pejalan kaki dengan tombak, tameng dan pedang di pinggang mereka. Disusul dengan pasukan pemanah. Barisan terakhir adalah alat-alat perang berukuran raksasa yang belum pernah Sakya lihat sebelumnya.


Konon kabarnya berdasarkan obrolan antara prajurit yang satu  unit dengannya, perang terjadi karena seorang wanita. Pangeran Nikala menculik tunangan dari  pangeran Pinggala karena kecantikannya.


Kesalahan dari pangeran Nikala hanya satu, dia tidak mempunyai kekuatan untuk membenarkan tindakannya. Kenyataannya, kerajaan pinggala lebih besar dan mempunyai prajurit lebih banyak daripada kerajaan Nikala dan mereka bersumpah akan menghancurkan kerajaan Nikala dan memperbudak anak-anak serta wanita yang ada di kerajaan Nikala. Alasan ini membuat Sakya bertanya-tanya seberapa cantiknya wanita yang diperebutkan mereka. Seberapa nikmatnya masakan yang dia buat?


Akhirnya mereka tiba di Padang Gabbala. Pasukan Nikala dibariskan berjajar dan Sakya berada berada di barisan pasukan pejalan kaki. Di seberang mereka terdapat pasukan pinggala dengan jumlah dua kali lipat pasukan Nikala.


Bendera lambang kerajaan pasukan Nikala berkibar kencang tertiup angin. Debu berterbangan ke udara dan suara yang terdengar hanyalah deru angin.


Sakya baru pertama kali mengikuti perang, bahkan ini baru pertama kalinya dia melihat perang. Dia takut,  jantungnya berdetak kencang dan tangannya mulai berkeringat. Ketika Sakya memandang prajurit di sebelahnya, dia melihat ada takut dan marah di wajahnya. Mungkin jika ini kenyataan, dia pun akan marah apabila dikirim ke medan perang hanya karena wanita yang bahkan bukan miliknya.


Seorang jendral maju ke depan barisan prajurit Nikala. Dia mengucapkan beberapa kalimat untuk membangkitkan semangat para prajurit Nilaka. Tapi semua prajurit tahu alasan kenapa mereka berperang,  jadi hanya sebagian yang mengangkat senjata ketika Sang jendral berteriak, "demi raja!" prajurit yang lain hanya terdiam. Bahkan, mungkin mengumpat dalam hati. Bagaimana tidak, mereka harus bertarung mengorbankan jiwa dan raga mereka, meninggalkan anak istri mereka sementara sang raja dan pangeran duduk menunggu kabar di istana dengan gerbang yang terkunci.


Terompet mulai ditiup. Sang jendral sudah memberikan aba-aba. Pasukan berkuda langsung maju menyerang. Hal yang sama terjadi pada pasukan Pinggala. Anak panah mulai berdesing dan turun bagai air hujan. Tanpa  diketahui oleh Sakya, pasukan Pinggala melemparkan batu-batu berukuran besar dengan alat yang mereka sebut Manjanik.


Sakya terkejut melihat sebuah batu besar tiba-tiba jatuh dan menggelinding ke arahnya dan tidak berhenti sampai menabrak tubuhnya.


Sakya merasakan rasa luar biasa sakit  di dada dan kakinya. Begitu pandangannya kabur. Tiba-tiba ilusi Varna berakhir.


"Kau sudah mati."  Suara Varna terdengar oleh Sakya.


Sakya mengeluarkan sumpah serapah segala macam kata yang menurut ayahnya tidak baik untuk diucapkan. Tapi Sakya tidak peduli, saat ini perasaan sakit terasa sangat  nyata, dan dia sangat ketakutan.


Setelah dia melihat bahwa tubuh dan kakinya baik-baik saja barulah dia merasa tenang.


"Jadi aku gagal?" Dia bertanya pada varna sambil menggaruk kepalanya.


"Ya, kau gagal. Apakah kau ingin mengulang lagi?"

__ADS_1


"Sebentar, Apakah kau bisa mengurangi rasa sakitnya saat mati?"


"Tidak. Aku sarankan kau agar tidak mati sehingga tidak merasakan  sakit  rasanya mati."


"...."


Setelah menenangkan diri kemudian Sakya meminta Varna untuk mengulang lagi ilusi yang sama.


"Kau ingin memulai dari awal sesi latihan bersama instruktur Zasit?" tanya Varna.


"TIDAK... Tidak...terima kasih. Kita mulai saja dari aku berjalan berbaris menuju Padang gabala,"  jerit Sakya. Bagi Sakya, seminggu bersama instruktur Zasit rasanya lebih menyakitkan daripada tertimpa batu.


Sakya kembali ke barisan para prajurit berjalan menuju padang Gabala. Kali ini dia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya mengenai peralatan perang yang dibawa oleh prajurit Nikala. Dia bertanya mengenai Manjanik yang bisa melontarkan batu besar ke arah musuh. Sakya percaya bahwa dengan mengetahui cara kerja alat-alat tersebut dia akan mengetahui bagaimana cara menghindari bahayanya.


Sakya sudah tiba di padang Gabbala berjajar bersama prajurit  lainnya.  Kemudian bunyi genderang perang dibunyikan sebagai tanda perang dimulai. Sakya melihat  ke arah langit dan menyalurkan prananya ke kedua kakinya. Ketika batu dan panah datang ke arahnya dia langsung menghindar dan melesat maju ke depan berlari ke arah  pasukan Pinggala.


Di medan perang situasinya benar-benar kacau. Pedang mengayun dari kanan ke kiri, anak panah yang turun dari atas bagai hujan, dan batu besar yang berdebam, semuanya bisa mengambil nyawanya setiap waktu.


Sakya  mengalirkan prana ke arah kaki dan tangannya. Ayunan pedangnya terasa berat bagi prajurit pinggala. Dia berhasil membunuh seorang prajurit pinggala. Sakya  tidak bisa istirahat karena  di depannya datang lagi 2 orang prajurit.  Dia menghindar ke arah kiri seperti yang diajarkan instruktur Zasit, dengan cara seperti itu maka dia hanya melawan satu orang saja. Kemudian Sakya mengayunkan pedangnya ke arah leher lawan. Lawan  mengangkat tamengnya, terdengar bunyi pedang berbenturan dengan tameng.


Tangan kanan Sakya sakit terpental sedikit ke belakang akibat benturan. Musuh tidak tinggal diam, dia ayunkan pedangnya ke arah pinggang Sakya, Sakya turunkan tamengnya untuk melindungi pinggangnya,  kemudian dia angkat kaki kanannya dan menendang perut lawan. Lawan  membungkuk karena sakit dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan Sakya langsung ayunkan pedangnya ke arah kepala lawan.


Dua prajurit Pinggala mati di tangan Sakya, sisa tinggal 1 orang lagi yang ada di dekat dia. Dengan cepat dia melompat ke depan prajurit lawan sambil menusukkan pedangnya ke arah dada lawannya dan langsung menembus baju zirah lawan.  Tiba tiba terasa rasa sakit menyerang  kepalanya...


"Aku mati lagi?" tanya Sakya saat menyadari dirinya kembali ruangan balai Vanuya.


"Tepat sekali, lima anak panah mengenai kepalamu," jawab Varna.


"Kenapa anak panah dan batu batu ini seolah sengaja mengincar aku?" Sakya benar-benar penasaran atas kejadian aneh dimana panah dan batu selalu datang padanya mengincar saat dia lengah.


"Itu karena hanya kau yang ada di ilusi ini."

__ADS_1


"Bagaimana caranya aku menghindar sesuatu yang tidak aku lihat?" Sudah dua kali dia mati karena anak panah yang datang dari atas sementara dia sibuk membunuh prajurit. Sakya merasa dia harus menyelesaikan masalah tersebut secepatnya.


"Sama seperti kau mengalirkan prana ke kaki dan tanganmu, kau bisa mengalirkan prana ke seluruh panca inderamu. Hal itu akan membuat panca inderamu lebih tajam." Varna menjelaskan.


"Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal."


"Ilmu yang didapat dari hasil pengamatan dan hasil percobaan sendiri akan selalu kau ingat. Aku menyarankan kau untuk selalu bertanya dan mencoba hal yang baru dengan kekuatan barumu. Sangat disarankan kau berbuat banyak kesalahan agar kau tahu apa kekuranganmu hingga kau bisa memperbaikinya di masa depan."


"Tapi mati itu rasanya sakit sekali." Sakya mengeluhkan situasinya. Keadaan dimedan perang sangat kacau. Segalanya berlangsung dengan cepat, dia tidak punya waktu untuk mengamati dan melakukan percobaan.


"Untuk mendapatkan kekuatan yang lebih dari manusia ..."


"Mulai Ilusinya." Sakya memotong ucapan Varna. Dia sudah pernah mendengar kalimat itu sebelumnya.


Sakya kembali lagi dalam barisan pasukan Nikala. Saat sang jendral memberi motivasi Sakya mengalirkan prananya ke seluruh tubuhnya dan panca inderanya. Kemudian segalanya tampak berubah, dia bisa melihat lebih jauh dan tidak hanya lurus searah pandangannya tapi sekelilingnya. Di benak Sakya dia seperti  elang yang  melihat seluruh tubuhnya dan sekelilingnya, baik di samping maupun di belakang. Gerakan semua prajurit  seperti melambat.


Sakya langsung maju ke medan perang setelah aba-aba dibunyikan. Musuh pertama satu orang prajurit, kemudian dua, bertambah tiga, selanjutnya empat dan seterusnya... Dia membunuh semuanya seraya menghindar dan menangkis panah dan batu yang datang padanya.  Akhirnya dia menyelesaikan masalah yang membuatnya terbunuh.


Kini Sakya harus menghadapi 15 orang  prajurit, kali ini dia tidak membuat kemajuan sama sekali. Sakya hanya bisa menghindar dan menangkis serangan. Semuanya terjadi karena pedangnya mulai tumpul yang diakibatkan oleh darah yang melekat pada badan pedang mulai mengering sehingga serangannya tidak lagi mematikan lagi.


Sakya sempat berpikir untuk mengganti pedang tapi anehnya, di medan perang dimana banyak prajurit yang mati, tidak ada satupun pedang yang tergeletak. Setelah prajurit mati, senjatanya menghilang. Sakya lebih senang apabila hal tersebut merupakan kelemahan dari ilusi Varna, akan tetapi perasaan dia mengatakan sebaliknya.


Sakya menyadari jika keadaan ini terus berlangsung maka akan sangat berbahaya baginya. Dia harus melakukan sesuatu.


Sakya mundur sambil menghindari serangan yang datang. Otaknya bekerja keras untuk mengubah keadaan. Sebuah ide mulai terbersit dalam benaknya. Bagaimana jika dia mengalirkan prana ke tameng dan pedangnya. Akankah berhasil? Setidaknya dia harus mencoba, walaupun gagal kemungkinan terbesar dia akan mati.


Akhirnya setelah ditunggu lama kedatangannya, dewi keberuntungan menghampiri Sakya. Caranya berhasil, tameng dan pedangnya sedikit bersinar transparan saat prana melapisinya.


Sakya mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah pada seorang prajurit pinggala terdekat. Prajurit tersebut mengangkat tamengnya akan tetapi pedang Sakya membelah tamengnya sekaligus leher sampai dada kanan prajurit.


Sakya tidak bisa berhenti untuk bersorak gembira karena prajurit yang lain mulai berdatangan.  Maka pembantaian prajurit Pinggala pun dimulai.

__ADS_1


__ADS_2