
“Matikan simbol.” Dengan cepat Sakya menonaktifkan mantra tertulis dengan meletakkan tangan kirinya di permukaan tanah. Tidak lama kemudian cahaya simbol mulai redup, api yang kemudian padam dan hawa panas mulai menurun. Akhirnya, Sakya mulai bisa bernapas kembali.
Setelah suhu yang ada di dalam sarang kembali ke panas normal, Sakya menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit dan mencabut duri yang menancap di bahu kanannya.
Dia sudah merasakan sakitnya kematian, ratusan kali bahkan; terbelah dua oleh pedang, dipenggal, terjatuh dari ketinggian, terbakar, beku, karena racun, terinjak kuda, dan lain sebagainya, tapi rasa sakit karena terluka tidak berarti hilang begitu saja dan tidak pernah berkurang. Sakya hanya memiliki toleransi yang tinggi terhadap rasa sakit, dia tidak akan pingsan atau menangis.
“Akhh,” erang Sakya, ketika duri mulai tercabut. Dia sengaja mengerang hanya untuk menunjukkan dirinya bahwa dia masih seorang manusia. Hanya patung yang tidak mengerang saat tubuhnya tertembus sesuatu.
__ADS_1
Prananya bekerja keras berusaha meyakinkan agar tubuhnya memproduksi lebih banyak darah, daging yang terluka atau terbakar segera sembuh dan kulit cepat tumbuh menggantikan kulit yang sudah melepuh. Sebenarnya tidak memakan waktu yang lama, hanya saja Sakya harus duduk semedi agar semuanya berjalan dengan baik.
Setelah sembuh dan menyerap prana disekitarnya untuk mengisi chakranya, Sakya mulai mengelilingi sarang. Sarang sudah kosong sekarang, yang tersisa hanya bangkai sang raja dan sisanya sudah menjadi abu.
Ruangan-ruangan kecil mulai ditemukan, semuanya dalam keadaan kosong kecuali batu-batu permata yang menempel di dinding ruangan. Abu-abu berserakan di permukaan tanah, ada sisa-sisa bekas kulit seperti telur yang sudah hangus. Ini telur? Itu berarti bangkai yang ada bukan raja tapi ratu.
Sekarang ada dua harta yang tidak ternilai di sarang ini. Batu permata dan bangkai sang ratu. Yang pertama akan dipanennya adalah bangkai sang ratu ‘yang terlupakan’.
__ADS_1
Waktunya untuk ‘peningkatan’, pikir Sakya.
Pada dasarnya manusia memiliki tubuh yang lemah, daging yang mudah sobek atau tulang yang mudah patah. Tidak peduli seberapa kuat usaha manusia untuk merubahnya, kenyataannya tidak akan berubah. Seorang eka praboditha manusia akan berbeda dengan eka praboditha seorang rakshasa. Kualitas dasar dari makhluk itu sendiri yang menentukan. tomat tidak akan pernah lebih keras dari apel.
Untuk merubah kualitas dasar tubuhnya sebagai manusia, Sakya harus melakukan ‘peningkatan’. Sakya sudah berhasil meningkatkan kualitas daya tampung prana di dalam chakranya dengan memakan bunga Kalvareksa dan sekarang dengan bangkai sang ratu, dia berniat meningkatkan kualitas dasar yang lainnya.
Sakya berdiri di samping bangkai sang ratu. Memperhatikan tubuh yang hampir kering karena cairannya sudah banyak menguap. Kemudian dia memasukkan kedua tangannya ke dalam bangkai. Dia menarik kedua tangannya setelah menemukan apa yang dicarinya―darah sang ratu.
__ADS_1
Segumpal darah berwarna hijau tergenang di kedua telapak tangannya, tanpa keraguan dia meminumnya. Rasa sedikit asin, amis masuk ke mulutnya. Agak susah melewati tenggorokannya karena lengket tapi dengan sedikit usaha, akhirnya Sakya berhasil. Kemudian dia duduk semedi dan memulai proses peningkatan kualitas dasar tubuhnya, untuk menjadi lebih kuat dari sebelumnya.