SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Persiapan Perang bag 2


__ADS_3

"Balapati Sakya, apa perintahmu selanjutnya?" tanya Abuba pada Sakya yang mulai mendekat.


Sakya memandangi pasukan yang sudah berkumpul. Wajah-wajah yang berusaha menunjukkan bahwa mereka tidak takut mati, namun mata tidak pernah bisa berbohong. Tatapan mereka memancarkan kepasrahan akan kematian yang ada di depan mereka. Apa yang bisa mereka lakukan? Bahkan jika mereka lari pun mereka akan mati dalam pelarian. Untuk sekali dalam hidup mereka, mereka ingin mencoba berusaha hidup dengan segala upaya mereka.


Sakya mengetahui hal tersebut. Di dalam hatinya dia ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan. Bahwa semuanya akan berjalan sesuai harapan mereka. Bahwa hanya dengan dirinya sendiri pun, umat manusia bisa memenangkan pertempuran melawan rakshasa. Akan tetapi, dia tidak bisa mengungkapkannya. Jika mereka bisa menyerahkan takdir hidupnya pada satu orang, maka selamanya mereka akan menggantungkan harapannya pada seseorang. Itulah sifat manusia, selalu bersandarkan pada seseorang. Dan jika tidak ada seseorang maka mereka akan bersandar pada sesuatu yang mereka anggap lebih kuat, bahkan jika sesuatu tersebut hanyalah hasil imajinasi mereka sendiri.


Atas dasar itulah Sakya mendatangkan perang ini. Bukan untuk membunuh jiwa mereka tapi membunuh ketergantungan mereka. Bahwa ketika tidak ada sesuatupun tempat mereka untuk bersandar, mereka hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk mengubah takdirnya.


"Hari ini mereka bisa berlatih memanah. Dan besok, aku ingin mereka berlari mulai dari pagi hari sampai siang hari. Kemudian istirahat untuk makan siang. Mereka yang datang terakhir akan mendapatkan jatah makan siang setengah bagian. Setelah makan siang mereka berlatih kekuatan tangan sampai sore kemudian dilanjutkan dengan latihan memanah kembali," titah Sakya pada Abuba.


"Sampai kapan mereka akan berlatih seperti itu?" tanya Abuba.


"Sampai mereka menjadi satu. Abuba, yang aku inginkan adalah satu pasukan tempur. Bukan pasukan yang terdiri dari yang terbaik dan yang terlemah."


"Aku mengerti keinginanmu balapati Sakya. Aku akan mewujudkannya."


Abuba tersenyum pada Sakya. Matanya berbinar karena bahagia. Balapatinya yang baru mengetahui yang lebih penting yang harus ada pada sebuah pasukan. Yaitu kebersamaan. Dalam kebersamaan ada kepercayaan. Untuk bertarung bersama-sama dalam hidup dan mati, setiap prajurit harus percaya pada prajurit lainnya. Mereka saling melindungi satu sama lain.


Setelah berbicara dengan Abuba, Sakya kembali ke komplek Adipati Sena. Dia menghabiskan malam dengan semedi.


✤✤✤


Hari 1 persiapan perang.


Di pagi hari, Sakya memeriksa kelompok Bayana. Para pembuat tungku tanah sudah berhasil mengumpulkan bahan untuk membentuk tungku. Begitu pula dengan ahli kayu yang akan membuat manjanik dan balista, mereka sudah menebang kayu besi sebagai bahannya. Sakya pergi setelah berbicara dengan para ahli mengenai desain yang akan mereka buat.


Kemudian Sakya melihat para wanita di bawah koordinasi Shinta. Kelompok pencari batu langit dan racun sudah pergi melakukan tugasnya. Sisanya mulai menyiapkan logistik untuk penduduk yang siap bertarung. Semuanya sesuai dengan arahan.

__ADS_1


Sakya keluar menuju gerbang timur dan melihat satu kelompok menggali parit, jebakan dan sebagainya, sekaligus Aida yang sedang semedi di bawah pohon beringin.


Selanjutnya Sakya mengunjungi para prajurit saat makan siang. Mereka yang benar-benar terlambat tiba di lapangan sehabis lari setengah hari, setengah jatah makannya diberikan pada kelompok  yang tiba duluan. Mereka yang tiba terlebih dahulu,  kebanyakan adalah mantan prajurit tempur dan keamanan Lokapatti. Sementara yang terlambat adalah penduduk biasa yang baru bergabung.


Terakhir setelah memeriksa semuanya, Sakya menuju ujung daerah Lokapatti. Dia mengembangkan kesadarannya puluhan kilometer untuk mendeteksi jika rakshasa sudah mulai tiba di daerah Lokapatti. Sakya menunggu sampai malam tiba, jika tidak ada rakshasa maka dia kembali lagi ke kota dan semedi.


Hari kedua persiapan perang.


Tungku tanah sudah selesai, Sakya mulai memasukkan batu-batu langit yang sudah dikumpulkan hari kemarin ke cawan tungku. Setelah menyalakan tungku dan menunggu beberapa waktu, batu-batu langit mulai meleleh.


Satu hal yang Sakya ketahui dari batu langit adalah bahwa mereka mengandung bijih logam yang bisa langsung diolah. Sakya sudah menyiapkan cetakan mata anak panah sebelumnya dan mulai menuangkan cairan logam ke pencetaknya. Setelah mengeras, mata anak panah dari logam mulai dipasang ke anak panah yang ada. Sekarang anak panah yang ada lebih kuat dan memiliki daya tembus yang tinggi dari sebelumnya yang hanya terbuat dari batu atau kayu yang tajam.


"Bisakah mata anak panah ini membunuh rakshasa?"


"Bisa, jika tepat pada daerah vital seperti kening, mata atau tenggorokan. Jika tidak, anak panah logam ini akan menyusul lebih dalam dari anak panah yang kita miliki sebelumnya."


Mendengar penjelasan Sakya, Bayana dan yang lainnya merasa lebih tenang. Melihat hasil pekerjaan Sakya. Merasakan kekuatan anak panah yang terbuat dari logam menambah kepercayaan diri mereka. Bagi mereka yang pernah menjadi budak ras Vamana mereka tahu apa itu logam dan kekuatannya. Akhirnya, mereka bisa melukai rakshasa bahkan membunuhnya. Mereka percaya bahwa mereka bisa memenangkan pertempuran ini.


Abuba terlihat sedang memarahi sebagian pasukan tempur yang sedang makan. Ternyata, pasukan tempur yang tiba pertama dari latihan lari memberikan sebagian makanannya pada mereka yang tiba terakhir.


"Kalian konyol, memberikan makanan pada yang lemah. Di dalam perang, nyawamu berada di tangan kawan prajurit lain. Tapi prajurit lemah tidak bisa melindungi kalian, jadi ambil kembali makanan yang diberikan dan makan untuk menambah kecerdasan kalian!"


Sakya tersenyum mendengarnya. Selanjutnya dia pergi menuju ujung kota untuk mengawasi apabila rakshasa tiba.


Di hari ketiga. Mata anak panah sudah terpasang di anak panahnya dan bisa digunakan oleh prajurit tempur untuk berlatih.


Di latihan prajurit siang hari ini, prajurit yang kuat mulai melambatkan larinya sehingga seluruh prajurit tiba secara bersamaan. Abuba tersenyum melihatnya. Lokapatti tidak membutuhkan prajurit kuat dan lemah, Lokapatti hanya membutuhkan prajurit yang kompak di perang yang akan tiba.

__ADS_1


Sementara itu, kabar baik datang dari para ahli kayu. Batang kayu sudah selesai dipotong sesuai dengan permintaan Sakya. Sore itu Sakya mengarahkan ahli kayu untuk merakit manjanik dan balista perang.


Matahari telah terbenam ketika satu manjanik dan balista selesai dirakit sementara sisa bahan akan dirakit keesokan harinya.


Selama dua hari kemudian, 3 buah manjanik dan balista selesai dirakit. Mereka kerjakan manjanik di belakang gerbang dalam kota sementara balista di tempatkan di tempat tinggi di atas bukit batu yang berbatasan dengan pagar kota.


Sebagian prajurit tempur sudah mulai berlatih dengan manjanik dan balista. Mempelajari cara mengoperasikan dan mengukur jarak tembak keduanya.


Pada saat prajurit tempur berlatih dengan kedua alat tersebut, para penduduk berkumpul untuk melihat pertunjukkan tersebut. Mereka bersorak ketika baru besar jatuh berdebum di depan gerbang atau panah besar yang sebesar tombak menancap dalam ke batang pohon.


Pada hari ke 6, Aida mulai kembali ke kota. Auranya semakin menguat, walaupun hanya duduk bersemedi selama 6 hari. Wajahnya tetap segar dengan senyuman dan tampak bercahaya. Shanti dan Shrie menyambut Aida dan menghabiskan waktu seharian bersama.


 ✤✤✤


Menjelang malam, Sakya tiba dari batas kota dan langsung memasuki pendopo Adipati Sena. Di dalamnya sudah berkumpul Adipati Sena, Abuba,  Shinta, Shrie dan Aida.


"Bersiaplah!" ujar Sakya.


Shinta, Shrie dan Aida saling berpandangan. Abuba langsung berdiri menghadap Sakya.


"Aku akan menyiapkan pasukan."


"Jangan!" Sakya berkata. "Biarkan mereka istirahat yang cukup. Besok saat ayam jantan berkokok, baru siapkan mereka. Rakshasa akan tiba menjelang siang."


"Sesuai titahmu, Balapati. Hamba pamit untuk beristirahat."


Selepas Abuba pergi, Adipati bertanya pada Sakya, "Berapa rakshasa yang datang?"

__ADS_1


"Sekitar 50 rakshasa. Ada seorang ketua klan yang ikut."


Adipati Sena menarik napas panjang. Besok akan ada pertempuran berdarah.


__ADS_2