SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Pertarungan Sakya dan Sagara


__ADS_3

Sakya dan Karka meninggalkan hutan bagian Barat setelah berhasil membunuh Durta. Mereka berlari secepat mungkin ke arah selatan untuk kembali ke tempat Mahan.


Ketika mereka tiba, Mahan sudah menunggu di cabang pohon ulin besar.


 "Aku sudah menyelesaikan tantangannya," ucap Sakya, seraya memberikan ksidra Durta pada Mahan.


 "Aku terkejut kau berhasil, kurasa Jagad Atma tidak keliru memilihmu." Mahan memperhatikan ksidra Durta yang hitam.


 "Baiklah, aku siap membantumu di hari Pralaya nanti. Aku akan memberimu sebuah hadiah yang bisa kau gunakan di perjalananmu."


Mahan kemudian menggenggam ksidra Durta. Cahaya keluar dari telapak tangannya menyinari ksidra Durta.


Sakya memperhatikan bentuk ksidra yang semula bulat lonjong berubah menjadi pipih dan mulai memanjang sepanjang satu lengan.  Cahaya dari telapak tangan Mahan memudar dan menampakkan ksidra Durta telah berubah menjadi sebilah pedang yang memiliki satu bilah sisi yang tajam.


Mahan mengambil sebuah dahan kayu Ulin dan memasangnya pada ksidra bagian bawah sehingga menjadi gagang pedang.


"Aku berikan padamu pedang ini. Aku namakan ini pedang ksidra. Nama yang sempurna, tentu saja dengan otakmu yang kecil kau tidak bisa memahaminya. Uh uh uh." Mahan tertawa setelah melemparkan pedang pada Sakya.


Pedang yang sangat indah.  Berwarna hitam mengkilat dan transparan seperti kristal, gemerlap saat diterpa cahaya matahari. Ulirnya membentuk ukuran yang unik di badan pedang.  Dengan berat yang sempurna, tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan. Sakya mencoba memainkan pedangnya dan merasa pedangnya menyatu menjadi bagian anggota tubuhnya.


"Bilah pedang terbuat dari ksidra sehingga lebih kuat dari pedang yang terbuat dari besi. Kau bisa membelah seorang tri praboditha  dengan mudah, gagang pedang terbuat dari kayu Ulin dari sarangku yang berumur ribuan tahun. Nama lain dari kayu Ulin adalah kayu besi sehingga kekuatannya tidak perlu kau ragukan lagi."


Mahan kemudian mengambil satu dahan lagi dan membentuknya menjadi sarung pedang dan memberikannya pada Sakya.


"Aku berterima kasih,  yang Mulia Mahan," ujar Sakya.


"Tidak perlu, kau sudah berjasa dalam menjaga keseimbangan hutan Vanaya. Kau layak mendapatkannya. Apa rencanamu sekarang?" tanya Mahan.


"Aku akan menemui menemui penguasa Vanaya lainnya. Aku akan ke timur terlebih dahulu," jawab Sakya.


"Ah, kau akan bertemu dengan Sagara. Sebaiknya kau berhati-hati! Kau tahu? dia penguasa hutan yang paling gila. Egonya lebih besar daripada otaknya. Uh uh uh.... " Mahan memberi peringatan kepada Sakya.


"Baiklah, terima kasih atas masukan yang mulia. Akan aku ingat selalu."

__ADS_1


Sebelum Sakya dan Karka meninggalkan sarang Mahan, Mahan memberikan tanda sihirnya bergambar muka Markata di pangkal lengan kiri Sakya.


✤✤✤


Sakya dan Karka meneruskan perjalanan ke arah timur.  Rapatnya pepohonan dan semak belukar menghambat perjalanan mereka. Di hari kelima mereka mulai memasuki hutan Vanaya bagian timur.


Vegetasi tumbuhan bagian timur dan selatan tidak jauh berbeda. Semuanya penuh dengan tumbuhan tropis. Yang berbeda hanyalah kabut. Di hutan Vanaya bagian selatan, kabut turun sepanjang hari. Sementara Vanaya bagian timur, kabut turun pada malam hari.


Di hutan, selalu ada sattva. Akan tetapi di bagian timur ini, Sakya dan Karka belum bertemu sattva seorangpun.


Apa yang terjadi disini? Karka menajamkan indera penciumannya untuk menemukan sattva. Tidak lama kemudian Karka menemukan sekelompok kecil sattva sedang melakukan perjalanan ke arah tenggara.


Sakya dan Karka dengan mudah mengejar mereka.  Tujuh ayata sattva menghentikan perjalanannya ketika melihat Sakya dan Karka di depan jalan mereka.


"Apa mau kalian, kalian akan membunuh Kami?" tanya ayata coklat yang berada di depan barisan.


"Salam, kami tidak bermaksud mengganggu perjalanan kalian. Kami hanya ingin bertemu dengan yang mulia Sagara. Bisakah kalian menunjukkan arahnya?" jawab Sakya, sedikit membungkuk tanda penghormatan.


"Apa keperluan kalian?" Ayata coklat bertanya kembali.


"Sssst, kebetulan kami sedang menuju ke tempatnya. Kau bisa ikut bersama kami," jawab ayata coklat. Dia mengijinkan Sakya dan Karka ikut bersama mereka karena dia tidak tahu bisa mengalahkan mereka dan walaupun mereka membuat masalah, Yang mulia Sagara pasti memakan mereka.


Sakya dan Karka akhirnya melanjutkan perjalanan dengan kelompok ayata menuju tempat Sagara. Di dalam perjalanan, Sakya dan Karka akhirnya mengetahui alasan mengapa hutan Vanaya bagian timur kosong tanpa sattva. Hal ini disebabkan karena Sagara telah memanggil mereka ke tempatnya.


 


 


Sesuatu yang besar telah terjadi. Sesuatu milik Sagara telah hilang dicuri oleh Kacana sang penguasa Vanaya bagian Utara. Sekarang, Sagara berniat mengambil miliknya kembali dari Kacana. Perang antara dua penguasa Vanaya akan berlangsung dalam waktu dekat.


Tidak lama kemudian mereka tiba di depan muka sebuah gua yang besar. Berbagai jenis ayata dari mulai warna dan ukuran tersebar di luar gua.


Di depan mulut gua seekor ayata hijau yang paling besar dari semua ayata yang ada melingkar sambil mengangkat kepalanya.

__ADS_1


"Arda, aku membawa dua orang, mereka mempunyai kabar yang ingin disampaikan  pada Sagara." Ayata coklat berkata setelah mendekati Arda.


Arda kemudian memperhatikan Sakya dan Karka. Arda mengetahui dari aura Karka yang terpancar bahwa dia adalah seorang tri praboditha. Sedangkan saat melihat Sakya, dia tidak bisa melihat tahap praboditha Sakya.


Arda adalah tri praboditha, dia merupakan salah satu sattva terkuat bawahan Sagara. Hanya sedikit makhluk hidup yang bisa membuatnya takut. Sekarang bertambah satu lagi yaitu manusia yang ada di depannya.


Meskipun Sakya terlihat seperti manusia biasa namun, nalurinya mengatakan bahwa dia seorang yang kuat. Ada perasaan takut yang muncul saat dia menatap mata Sakya. Saat ini Arda merasa seperti sedang berada di tepi tebing yang tinggi, apabila dia melompat, maka dia akan mati. Karenanya Arda memutuskan untuk tidak membuat masalah dengan Sakya.  Arda lebih memilih untuk tetap diam di tepi jurang daripada melompat ke dalamnya.


"Siapa kalian?" tanya Arda, memberanikan dirinya.


"Salam, aku Sakya dari Paraka dan dia adalah Karka. Kami berharap bisa bertemu dengan yang mulia Sagara."


"Yang mulia Sagara sedang sibuk dengan sesuatu. Kalian bisa datang setelah urusan yang Mulia selesai,” jawab Arda.


"Tolong katakan pada yang mulia Sagara bahwa kami mungkin bisa membantu menyelesaikan masalah yang Mulia," jawab Sakya, meminta kesempatan pada Arda.


"Membantuku? Kau pikir yang Mulia yang kuat ini memerlukan bantuan?" Suara Sagara terdengar disusul dengan kepala dan badannya keluar dari gua.


"Sungguh lucu. Makhluk kecil sepertimu berpikir bisa membantu yang mulia ini."


Sagara memperhatikan Sakya dan Karka. Tiba tiba dia mengibaskan ekornya ke arah Sakya dan Karka. Sebelum ekor Sagara menghantam tubuhnya, Sakya memalangkan tangannya di depan tubuhnya. ‘Buuk…’ Ekor Sagara menghantam Sakya. Sakya terpental ke belakang menumbangkan dua batang pohon sebelum berguling di tanah.


Karka mengalami hal yang sama dengan Sakya, namun dia cepat membalikkan badannya dan mendarat dengan kedua kakinya setelah menumbangkan sebuah pohon.


Karka mengambil ancang untuk menyerang Sagara, akan tetapi suara Sakya menghentikannya,  "Karka berhenti, biar aku saja." Karka Pun mundur kebelakang. Ternyata bukan hanya Karka. Ayata yang memenuhi tempat di luar gua langsung menyingkir jauh-jauh.


Sakya bangkit dari tanah dan menepis tanah yang menempel di baju dan celananya.


"Sepertinya yang mulia tidak percaya apabila hanya dengan kata-kata kalau aku bisa membantumu. Ayo mari, kita bermain-main dulu sebentar sampai yang mulia yakin," kata Sakya, seraya menatap mata Sagara yang kuning besar.


"Cih... Yang mulia ini tidak punya waktu bermain dengan kalian. Matilah!" Sagara meludahkan racun ke arah Sakya. Dia ingin segera menyelesaikan pertarungan ini.


Sakya mengetahui cairan yang diludahkan Sagara bukan cairan biasa. Dia menyalurkan prana di depannya membentuk tameng.

__ADS_1


Cairan racun menghantam tembok yang tidak kasat mata kemudian luruh di atas tanah, asap mengepul tebal karena racun yang dahsyat. Mengetahui serangan racunnya tidak berhasil, Sagara melancarkan serangan lain.  Kabut tiba-tiba datang menyelimuti daerah sekitar sarang Sagara.


Sakya merasakan pekatnya kabut yang turun, jarak pandangnya hanya lima langkah dan semakin lama semakin mengecil.


__ADS_2