
Saat mereka keluar dari celah, dua buah patung tinggi menyambut mereka. Kedua patung berbentuk manusia namun ada sayap terlipat di punggung mereka. Mereka menempelkan tangannya, satu tangan kanannya dan yang satu lagi tangan kirinya membentuk seperti gerbang. Tangan yang lainnya ada di depan dada masing-masing seolah-olah menyambut para tamu yang datang. Tumbuhan lumut dan beberapa tumbuhan tanduk rusa menempel pada kedua patung tersebut menandakan patung ini ada sudah lama sekali.
Mereka melewati gerbang di bawah kedua tangan patung yang menempel. Di depan mereka menjulang tinggi bangunan berbentuk piramida setinggi 25 meter. Dindingnya tersusun dari balok-balok batu. Satu balok batu memiliki tinggi yang sama dengan tubuh Sakya sementara panjangnya sekitar 2 meter.
Seperti halnya patung yang menyambut mereka, keadaan dinding piramida tertutup tumbuhan lumut dan tumbuhan merambat lainnya. Di sisi depan ada bagian yang menonjol dengan dua daun pintu yang lebar juga dari batu. Di tulang pintunya terdapat tulisan-tulisan yang belum pernah Sakya lihat.
Tentu saja Sakya tidak bisa membacanya. Tidak ada yang mengajarinya membaca. Bagi ayahnya dan penduduk desa, kemampuan yang harus dikuasai oleh para lelaki adalah berburu. Membaca hanyalah pekerjaan yang sia-sia. Apa yang bisa dibaca ketika tidak ada prasasti yang harus dibaca.
"Kakek, Apakah kau yang membangunnya?" Tidak dapat menahan rasa penasaran dalam dirinya, Sakya bertanya.
"Tentu tidak, aku hanya menemukan bangunan ini." Si Kakek hanya tertawa ringan kemudian dia mendorong pintu batu dengan kedua tangannya.
"Masuklah!" Si Kakek mempersilahkan mereka masuk.
Di dalam bangunan, ruangan luas terhampar luas. Diterangi bola-bola seperti mutiara yang bercahaya. Terangnya seperti siang hari berada di padang rumput, namun tidak terasa panas.
"Selamat datang di kuil Vayuna. Ruangan yang ada di depanmu adalah balai Vayuna." Si Kakek menjelaskan pada Sakya sambil menunjuk pintu di seberang ruangan. Pintu dengan bahan dan ukiran yang sama dengan pintu yang dilihat namun berukuran lebih kecil.
"Siapa yang membangun bangunan ini kek?" Sakya tidak pernah melihat bangunan semegah ini. Tekstur dinding yang halus menunjukkan pekerjaan yang hampir mustahil dikerjakan. Dengan kata lain, seluruh bangunan ini seharusnya mustahil ada. Bagaimana cara mereka membangunnya?
"Kuil ini sudah ada sejak puluhan ribu tahun yang lalu. Dibangun oleh ras Ajada atau yang kita sebut para leluhur. Tidak ada catatan darimana mereka berasal dan bagaimana mereka menghilang." Si Kakek menjelaskan asal bangunan dengan tenang.
"Di kuil ini terdapat kekuatan yang luar biasa," lanjut si Kakek.
"Kekuatan apa Kek? Apakah pedang api? Panah cahaya? Tombak petir?" tanya Sakya semakin penasaran.
"Ilmu, nak. Disini ada ilmu pengetahuan."
"Apa yang bisa dilakukan dengan ilmu pengetahuan?" Sakya heran dengan jawaban si Kakek.
"Banyak hal, dengan ilmu pengetahuan kau bisa mengubah nasib rasmu sebagai kaum tertindas menjadi penguasa benua Pangea. Apakah kau tidak ingin mengubah takdir rasmu?"
"Kakek, harapan itu terlalu tinggi untukku. Jika punya kekuatan, aku hanya ingin menyelamatkan keluargaku dan penduduk desa lainnya," jawab Sakya teringat akan keluarganya.
"Nak, Aku ikut berduka. Tapi keluargamu telah wafat," ujar di kakek lirih.
Kabut kecil mulai muncul, didalamnya terdapat gambar kejadian saat ayah, ibu dan kakeknya mati terbunuh serta penduduk desa yang diikat dan dibawa pergi.
__ADS_1
"Tidak mungkin. Ini bohongkan Kek? Kenapa kau lakukan itu?" Sakya menangis dan terduduk.
"Nak, aku punya pengetahuan untuk mengetahui apa yang terjadi di sekitar hutan Vanaya. Aku tidak berbohong padamu. Tahukah kau bahwa apa yang terjadi padamu hampir terjadi pada semua umat manusia di benua Pangea? Nak, apa yang terjadi padamu mungkin sudah tidak bisa kamu cegah. Tapi, kau bisa mencegah hal yang sama terjadi pada orang lain." ucap di kakek memegang pundak Sakya.
"Apakah aku orang yang terpilih, Kek?" tanya Sakya, sambil menghapus air matanya yang jatuh di pipi.
"Tidak ada orang yang terpilih … Jika kau orang yang terpilih, maka seharusnya kau lahir di sini dan mempelajari ilmu pengetahuan di sini sejak kecil. Kita hanya bertemu karena kebetulan, aku menunggu seseorang yang bisa menerima karunia ini. Sedangkan di hutan ini hanya ada ras sattva dan kau. Maka kau yang menerimanya karena umatmu ras yang paling lemah." jawab si Kakek kikuk. Dibelai-belainya janggutnya yang panjang.
Tentu saja Sakya semakin bingung mendengar jawaban si Kakek. Tidak terpilih, tapi terpilih. Haruskah dia bahagia atau menangis setelah mengetahui bahwa dia hanyalah objek kebetulan?
"Aku masih tidak mengerti mengapa Kakek mewariskan karunia ini. Apa tujuanmu?"
"Setiap awal pasti ada akhir. Begitu juga kehidupan di dunia ini. Sebentar lagi hari Pralaya akan datang … Apakah kau tahu apa itu hari Pralaya?"
Sakya menggelengkan kepalanya.
si Kakek kemudian menyentuh kening Sakya dengan jari telunjuknya.
Seluruh ruangan tiba tiba berubah menjadi pemandangan tanah-tanah rengkah, gunung-gunung meletus gulungan ombak tinggi menuju daratan menghantam semua yang menghalangi jalannya. Jutaan makhluk hidup mati. Manusia, rakshasa, sattva dan ras lainnya yang tidak Sakya kenali. Pemandangan yang mengerikan sampai Sakya merasa mual. Untungnya diperutnya tidak ada isi makanan yang bisa dimuntahkan.
"Ingatlah ini Nak! Ukirlah dalam benakmu sehingga kau tidak akan melupakannya, hari Pralaya adalah hari dimana seluruh kehidupan di dunia ini musnah. Seluruh makhluk hidup yang kau tahu ada di benua ini. Mereka semua akan mati. Hari Pralaya adalah akhir dari semua kehidupan."
"Ha ha ha …, maafkan aku membuatmu bingung, sudah lama sekali aku berbicara dengan seseorang. Intinya nak, kau bisa merubah nasib umatmu, kau bisa jadi penguasa benua ini sampai tiba hari Pralaya. Kecuali …" Si Kakek menghentikan ucapannya.
"Kecuali apa Kek?" tanya Sakya penasaran.
"Kecuali kalau kau bisa menghentikan hari Pralaya."
"Kakek, bagaimana aku bisa menghentikan semua itu? Kekuatan apa yang aku miliki? Aku tidak memiliki kekuatan untuk menghancurkan gunung atau membakar hutan atau membelah lautan. Aku hanya manusia," pekik Sakya. Dia tidak memahami maksud si Kakek. Kekuatan apa? Sakya berpikir bahwa agar bisa menghentikan hari Pralaya tersebut maka diperlukan kekuatan yang tidak bisa dimiliki oleh seorang manusia.
"Pengetahuan, Nak. Kau akan memiliki pengetahuan... Di dalam balai Vanuya ini terdapat pengetahuan warisan dari bangsa Ajada. Kau akan mempelajari semuanya, dari pengobatan, kebudayaan, sihir dan banyak lagi. Terakhir yang kau perlukan hanyalah sekutu-sekutu yang kuat."
"Kakek, kau bilang aku perlu sekutu yang kuat. Dimana aku mencarinya?"
"Untuk permulaan kau bisa menemui empat penguasa hutan Vanaya. Tapi, aku sarankan kau meningkatkan kekuatanmu lebih dulu sebelum menemui mereka. Di hutan ini, hanya yang kuat yang didengarkan."
__ADS_1
Ucapan si Kakek difahami dengan baik oleh Sakya. Dia membayangkan jika bertemu dengan penguasa hutan Vanaya dalam keadaan lemah, mereka mungkin akan menganggap menertawakan dia. Sebagai sekutu mereka harus memiliki kekuatan yang setara.
"Siapa saja penguasa hutan Vanaya?"
"Dengarkan! penguasa hutan Vanaya bagian barat adalah Bhati dari resana sattva. Penguasa Selatan adalah Mahan dari markata sattva. Penguasa Timur adalah Sagara dari ayata sattva dan penguasa Utara adalah Kacana dari garuda sattva."
"Mereka sattva? Bagaimana aku bicara dengan mereka?" Sakya terkejut, sekarang dia yakin mereka tidak akan menertawakannya. Mereka akan memakannya.
"Jangan banyak bertanya! Kau akan tahu nanti... Sebenarnya tujuanku hanya untuk membawamu ke kuil ini. Sekarang aku harus pergi..."
"Pergi??? Kita baru sampai. Memangnya kakek mau kemana? Aku bahkan tidak tahu nama Kakek." Sakya merasa aneh dengan tingkah si Kakek.
"Namaku Jagad Atma, tugasku sudah selesai. Mengenai takdirmu, kau bisa memilih jalanmu sendiri. Kau boleh tinggal disini sepuasmu." Jawab si Kakek sambil membalikkan badannya.
"Tunggu kek!... Kakimu terkilirkan? Makan ini! Ini akan menyembuhkan kakimu." Sakya ingat bahwa kaki si Kakek terkilir. Dia mengambil bunga Kalvaraksa dari balik bajunya. Bunga Kalvaraksa yang sudah mulai mengering.
"Ini... Ini bunga Kalvaraksa. Bunga ini... (bla bla) Dan ... (bla bla) konon ... (bla bla) Harusnya kau ... (bla bla) Darimana kau mendapatkannya?" Si kakek bicara panjang lebar mengenai keajaiban dan khasiat bunga Kalvaraksa sebelum akhirnya bertanya. Mata si Kakek berbinar-binar melihat bunga di tangan Sakya.
Kemudian Sakya menceritakan pengalamannya dari awal sampai akhir pada si Kakek.
Mendengarkan kisah Sakya Si Kakek mendesah pilu. Jika dia sudah tidak malu untuk menangis maka dia akan menangis. Hatinya remuk redam. Bagaimana seseorang bisa begitu tega mencabut bunga yang penuh dengan keajaiban ini. Apakah dia tidak tahu sehebat apapun bunga yang ada di dunia apabila sudah tercabut maka dia akan layu. Khasiatnya akan hilang. Sedangkan, ini adalah bunga yang hanya ada satu-satunya di dunia.
"Mengapa kau masukkannya kedalam bajumu?" Si Kakek harus bertanya. Dia harus tahu alasannya. Berharap jawaban Sakya yang lebih masuk akal bisa mengobati hatinya.
"Erm... Aku tidak punya makanan jadi aku menyimpannya kalau aku lapar diperjalanan" Sakya tertawa sambil menggaruk kepalanya.
Si Kakek mengernyit mendengar jawaban Sakya. Siapa sangka jawaban Sakya seperti pedang yang menusuk jantungnya sekarang. Secara tidak sadar dia meremas dada kirinya. Untuk pertama kalinya terasa sakit.
Argh...Sekarang dia menganggap bunga yang paling berharga di dunia ini hanya sebagai cemilan... Jika seluruh dunia tahu apa yang kau lakukan, kau akan mati tenggelam dalam ludah mereka.
"Aku pergi.. ini, aku tidak sanggup memakannya.” Si Kakek memberikan kembali bunga Kalvaraksa. “Carilah kotak penyimpanan disalah satu ruangan yang ada di kuil ini untuk menyimpan bunga itu." Dia tidak sanggup lagi mendengar cerita Sakya.
"Kek bagaimana dengan ..." Si Kakek tiba-tiba menghilang sebelum Sakya menyelesaikan ucapannya. Sakya kaget sampai jatuh terduduk, sementara Karka terbaring sambil menutupi mukanya dengan kedua kaki depannya.
---
Setelah si Kakek pergi, air mata Sakya jatuh kembali membasahi kedua pipinya. Terbayang kembali kebahagiaan hidup bersama keluarganya. Untuk alasan tertentu dia mempercayai ucapan si Kakek. Tidak ada alasan mengapa si Kakek berbohong padanya.
__ADS_1
Sakya sedih tapi menangis tiada henti tidak akan merubah segalanya. Ada masa depan yang harus dia siapkan, jika dia gagal, akan banyak anak seperti dia yang kehilangan keluarganya.