
Ketika bau udara mulai berubah, Sakya tahu bahwa dia hampir tiba di ujung lorong. Bau menyengat menusuk hidungnya. Ketika dia tiba di ujung lorong, Sakya tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat.
Ada dua hal yang membuat Sakya menggertakan giginya. Pertama di depannya terdapat rongga seukuran kota Lokapatti. Sangat besar jika memperhitungkan posisinya di dalam tanah. Yang paling buruk\, ada ratusan makhluk 'yang terlupakan' di situ. Dari yang terlemah sampai yang terkuat setara dengan level tri praboditha. *****\, maki Sakya.
Seperti ungkapan di balik kemalangan ada keberuntungan, atau di samping berita buruk selalu disertai dengan berita baik. Di dalam ruangan tersebut menempel begitu banyak batu permata yang berukuran besar. Paling kecil pun hanya seukuran kepalanya, sementara yang besar seukuran 1 kakinya. Terpujilah Dewa, puja Sakya.
Batu permata merupakan batu yang sangat berharga, setidaknya bagi Sakya. Bukan hanya karena keindahannya saja tapi karena keistimewaan lainnya. Batu permata tersebut mampu menyerap, menyimpan dan memancarkan prana. Itulah sebabnya batu permata merupakan terkuat di dunia.
Dengan prana yang tersimpan didalamnya, Sakya dapat menggunakannya dalam keadaan darurat. Jika suatu hari saat bertarung dia kehabisan prananya, maka dia bisa menggunakan prana yang terdapat dalam batu permata tersebut. Itupun hanya baru salah satu fungsi penggunaan sederhana dari batu permata tersebut. Sementara untuk fungsi lainnya, ada banyak yang bisa Sakya lakukan. Dengan batu-batu permata di tangannya, peluang untuk menghentikan hari Pralaya akan meningkat lebih besar lagi.
Inilah jawaban dari pertanyaan mengapa mereka ‘yang terlupakan’ yang tidak memiliki ksidra bisa mempunyai kekuatan setara dengan seorang praboditha. Mereka terekspos prana yang terpancar dari batu-batu permata tersebut setiap saat. Prana mengubah struktur kulit mereka menjadi lebih kuat dan keras.
Mereka 'yang terlupakan' seolah sudah tahu akan datangnya tamu tak diundang. Seolah menunggu, semua mengarah pada lorong tempat Sakya berdiri. Menunjukkan gigi-gigi mereka yang tajam.
__ADS_1
SKREET!
Mereka maju bersama-sama menyerang Sakya.
"Agni mahasagara*"
Gelombang api muncul menerjang mereka 'yang terlupakan'. Bawa panas menghentikan gerakan mereka. Mereka yang setara kekuatannya dengan eka praboditha hanya mampu berteriak sebelum diam selamanya. Sementara yang setara dengan dwi praboditha mampu bertahan lebih lama sebelum pedang ksidra Sakya membelah tubuh mereka.
Sakya merapal pelindung prana.
BUM!
Sakya terhempas beberapa langkah. Kekuatan yang menyerangnya setara dengan seorang tri praboditha, dan bukan hanya satu. Dari sebelah kirinya datang lagi serangan baru. Tidak ingin mengambil resiko, Sakya melompat tinggi dan merapal panah apinya.
__ADS_1
BUSHH!
Panah api tepat sasaran, pada tubuh mereka yang menyerangnya. Api membakar punggung mereka sebelum kemudian padam kembali. Panah api tidak berhasil, dan mereka masih sangat hidup dan lebih ganas.
SHIING!
Duri-duri yang ada di tubuh mereka melesat terbang ke arah Sakya yang masih berada di udara. Pelindung prana sekali lagi muncul, menghempaskan duri-duri yang keras bagai tulang ke tanah. Sakya berhasil mendarat dengan selamat. Tanpa menunggu serangan berikutnya dengan cepat dia mengeluarkan pedang ksidranya.
Ketika dia mengira bahwa hanya dua ‘yang terlupakan’ dengan kekuatan setara dengan tri praboditha, nalurinya memperingatkan bahwa dia salah. Serangan datang lagi, kali ini dibelakangnya. Sebelum menghantam tubuhnya, Sakya telah berpindah posisi.
--------------------------
*Mantra lautan api
__ADS_1