SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Pertempuran di Sarang ‘Yang Terlupakan’ Part 2


__ADS_3

Sisa-sisa dari mereka yang masih hidup merupakan makhluk ‘yang terlupakan’ lemah. Sakya kembali tersenyum. Sebentar lagi, mereka akan segera mati terbakar dan harta yang tersimpan di sarang ini akan menjadi miliknya. Tapi tidak lama kemudian, senyumnya berhenti ketika dia merasakan sesuatu yang besar dan berbahaya datang mendekat dari arah belakangnya.


Sakya dengan cepat menjauh dan melihat apa kini yang datang. Bulu kuduknya berdiri, Sakya melihat  makhluk “yang terlupakan’ terbesar yang pernah dia lihat.


Dengan kepala seukuran 2 meter dengan badan sepanjang 15 meter mendekat ke arahnya. Gigi-gigi yang kuat dan tajam terbuka seolah tersenyum. 


Apakah ini raja dari ‘yang terlupakan’? Atau masih adakah yang lebih besar dari ini? Sakya benar-benar tidak ingin tahu jawabannya, karena mungkin pertanyaan seharusnya adalah bertarung atau lari? Jika ini pertempuran biasa, tanpa pikir panjang  dia akan memilih lari bahkan jika memiliki 2 nyawa sekalipun. Tapi keberadaan batu permata yang tersebar di sarang ini mengubah semuanya. 


Sakya sangat membutuhkan batu-batu permata tersebut untuk rencana kedepannya. Sakya harus mencoba terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk lari. 

__ADS_1


Sakya mulai melancarkan serangannya. Panah api dan lautan api tidak memberi pengaruh apa-apa pada makhluk tersebut. Dia mencoba dengan sihir es yang hanya memberikan hasil yang sama. Bahkan ksidra Kacana yang memiliki kekuatan catur praboditha hanya mampu membuat luka gores di tubuh makhluk tersebut. Luka yang tidak berarti karena dengan cepat menutup dan sembuh tanpa meninggalkan bekas.


Segala ilmu dan senjata yang dimiliki Sakya tidak memberi hasil yang diharapkan olehnya. Sementara serangan dari makhluk tersebut mampu membuat Sakya mati dalam sekejap. Pelindung prana Sakya berkelip saat duri-duri melesat ke arahnya. Meskipun mampu ditahannya, Sakya tetap terhempas beberapa meter ke belakang. Terlalu kuat.


Kini, hanya tinggal satu cara yang masih bisa Sakya lakukan yaitu mantra tertulis. 


Di balai Vanuya, Varna mengajarkan Sakya dua jenis mantra. Mantra lisan dan mantra tulisan. Kedua jenis mantra tersebut memiliki tujuan yang sama. Mereka menggunakan prana sebagai media untuk merubah elemen-elemen yang ada disekitarnya menjadi api, es, angin dan sebagainya.


Adapun sumber prana yang diambil oleh mantra lisan adalah prana yang terdapat dalam tubuh astral seorang praboditha sementara mantra tertulis mengambil prana dari alam sekitar sebagai sumbernya. 

__ADS_1


Pada dasarnya kekuatan sihir dari mantra lisan maupun mantra tertulis tergantung pada prana yang tersedia sebagai sumbernya. Semakin besar prana yang digunakan maka sihir semakin kuat. 


Kebanyakan praboditha lebih memilih menggunakan mantra lisan dikarenakan betapapun kuatnya sihir yang dirapalkan, sihir tersebut tidak akan menyakiti perapalnya. Sementara efek dari mantra tulisan bagaikan pedang bermata dua, sihir akan menyerang mereka baik perapal maupun yang menjadi targetnya yang berada dalam jangkauannya. Karenanya ketika membuat mantra tulisan, perapal harus yakin bahwa dia dalam jarak aman atau mampu menahan sihir tersebut.


Jadi ketika membuat mantra tulisan, Sakya harus benar-benar memikirkan apakah dia sanggup menerimanya atau tidak.


Sakya mengeluarkan pil Kalvaraksa dan pil-pil lainnya dari kantong visitranya. Dia masukkan ke dalam mulutnya tanpa ditelan. Dia akan membutuhkannya nanti, tapi tidak sekarang.


Sambil menghindar dari serangan raja ‘yang terlupakan’, Sakya menulis mantra di tanah menggunakan prananya. Sakya bergerak memutar hampir mengelilingi sarang ‘yang terlupakan’, sampai akhirnya dia berhenti dan meletakkan telapak tangan kanannya di permukaan tanah.

__ADS_1


“Aktifkan!”


__ADS_2