Sang Antagonis

Sang Antagonis
Sebuah Telfon


__ADS_3

Setelah Helda keluar dari kamar anak nya karna ada urusan penting. Kini tinggal lah Nana dan Ibnu lagi di kamar luas itu.


Nana menatap Ibnu dengan tatapan binggung, bimbang, cemas, dan tak enak menjadi satu.


Dddrrtt.. Ddrrtt..


Dering ponsel Ibnu dari atas meja, membuat Nana urung ingin bicara.


" Lo bisa angkat telfon dulu " Ucap Nana, Ibnu mengangguk kemudian mengambil ponsel yang ada di atas nakas, seketika Ibnu terdiam melirik Nana kemudian merijek panggilan di ponsel nya.


Berlanjut dengan bunyi ketikan pesan dari ponsel Ibnu, pria itu tampak mengirim pesan singkat kemudian kembali meletak ponsel nya di atas nakas.


" Kenapa gak di angkat? " Tanya Nana heran.


" Orang nawari pinjaman, oh ya apa aja yang mama bilang sama kamu? " Tanya Ibnu mengalih kan topik.

__ADS_1


" Pertanyaan sederhana aja, gak terlalu sulit. Hanya saja gw masih ragu, dan gw harus terus terang sama lo. Gw gak mau beri harapan palsu, besar resiko nya. Lebih baik gw bilang sama lo awal awal, setidak nya ketika gw pergi lo udah tau hal itu pasti akan terjadi " Ucap Nana hati hati.


Ibnu yang mendengar itu langsung terdiam dan menunduk, kini Ibnu tau kemana arah pembicaraan mereka.


" Ibnu, gw gak mau nyakitin hati lo. Tapi gw gak bisa janji buat terus ada di sisi lo, jujur aja gw gak ada perasaan apa pun sama lo. Dan gw takut nya, di saat gw suka sama cowok lain, apakah lo siap buat tersakiti? Gw gak menjamin hati gw buat suka sama lo, gw gak bisa pastikan hubungan ini akan baik baik aja. " Ucap Nana terus terang.


Ibnu masih tertunduk, mendengar kata kata nana. Namun Ibnu akui Nana termasuk gadis yang terus terang, tidak ingin menyakiti hati seseorang dengan harapan palsu. Tapi tetap saja hati pria itu sangat sakit saat mendengar penuturan Nana yang tidak bisa menjamin hati nya.


" Iya, Aku ngerti kok Na. Nana tenang aja, setelah Nana mendapat cowok yang benar benar sayang sama Nana, dan nana juga sayang sama dia. Ibnu rela kok, Ibnu ikhlas melepas Nana. Walau bahagia nana bukan sama Ibnu, tapi setidak nya Ibnu sudah merasakan menjadi orang spesial di hidup nana. Nana jangan khawatir ya? Ibnu gak papa kok " Ucap Ibnu dengan mata merah dengan genangan air, tatapan lembut nan tulus itu membuat Nana semakin tidak karuan.


" Thanks Ib, makasih ya? Lo baik banget tauk. Dan makasih juga udah cinta sama gw dengan tulus, gw janji akan berusaha buat membalas cinta lo, tapi gw gak janji untuk bisa membalas juga. Sebab kalau pun sudah di paksakan, kalau cinta itu tidak hadir, siapa pun gak akan bisa memaksakan. " Ucap Nana lembut, dengan senyuman manis.


Tatapan mata nya yang cantik nan indah, wajah putih mulus dengan bibir ranum. Membuat Ibnu beberapa detik menahan nafas, jantung nya berdegup dengan kencang.


Perlahan Nana mengambil kacamata yang bertengger di hidung mancung Ibnu, poni panjang Ibnu Nana sisir keatas, senyum gadis itu terukir sangat manis.

__ADS_1


" Ternyata lo ganteng juga, cuma kenapa lo sembunyi di balik gaya lo yang cupu? Gw liat juga, lo bukan pribadi yang cupu Ib, lo terlalu keren untuk di bilang cupu. Berbeda dengan gaya lo waktu di sekolah. Bisa jelaskan sama gw? " Tanya Nana serius.


Seketika kesadaran pria itu kembali, dan baru sadar kalau diri nya bersikap apa adanya di hadapan Nana. Mendengar pertanyaan Nana membuat Ibnu binggung harus menjawab apa.


Ddeett.. Ddrrtee..


Dering ponsel Ibnu, pria itu hanya diam tidak menghiraukan. Nana binggung kenapa Ibnu hanya diam santai tanpa memperdulikan ponsel nya.


" Ib, ponsel lo sedari tadi bunyi, gak lo angkat? " Tanya Nana.


Ibnu hanya menggeleng, Nana yang penasaran langsung bangkit ingin melihat siapa yang menelfon kekasih nya, namun kalah cepat dengan Ibnu yang kini sudah mengambil ponsel nya.


" Hanya orang gak penting Nana, jangan hiraukan " Ucap Ibnu tersenyum manis membuat kadar ketampanan nya berkali kali lipat lebih sempurna.


Nana hanya diam seraya membatin.

__ADS_1


Aneh.


•••


__ADS_2