Sang Antagonis

Sang Antagonis
Membantu Istri


__ADS_3

Mata tajam seorang pria menangkap siluet Nayla, ia pun membelah jalan untuk menghampirinya. Tanpa banyak bertanya, pria itu menarik Nayla dalam pelukannya.


"A-abi." Nayla merintih seperti orang kesakitan, rasa panas yang menjalar di tubuhnya mulai terasa menyiksa.


"Sayang, kamu kenapa?" lelaki di atas kursi roda itu tentu saja khawatir, ia meraih pipi Nayla yang tampak memerah.


Sentuhan Abimayu sontak membuat Nayla memekik, seolah ada sengatan listrik. Perempuan itu membawa tangan Abimayu menangkup kedua pipinya, rasa dingin membuatnya nyaman. Abimayu mulai paham apa yang dialami sang istri saat ini. Dengan cepat ia menghubungi sang asisten.


"Pesan 'kan aku kamar hotel di dekat sini." Usai mengatakan itu dan memberitahu lokasi mereka, Abimayu pun mematikan gawainya dan kembali fokus pada Nayla.


"Abiii, panas. Aaaah" Keluh Nayla merasa semakin tidak nyaman, ia bergerak tak tentu arah, menggeser sana sini. Kesadarannya mulai menipis.


Deg!


Jantung Abimayu dibuat pompa olehnya, ia menelan salivanya susah payah. Gesekan tubuh Nayla dan suara rintihannya membuat naluri nya bangkit. Ia memaki Alex dalam hati yang lama sekali bertindak.


"Tuan." Alex datang juga bersama Elis.


"Nona, saya mencari Anda." Perkataan Elis tidak di dengar oleh Nayla. Perempuan itu sedang sibuk memonopoli dada bidang Abimayu serta melingkarkan tangannya pada pinggang prianya.


Elis nampak bingung, tapi tidak ada waktu lagi untuk bertanya karena Abimayu memerintahkan mereka membawa ke kamar hotel yang sudah di pesan.


"Shhh," desiran Nayla saat kulit panasnya yang seolah terbakar bersentuhan dengan kulit Abimayu yang dingin. Perempuan itu segera mengalungkan tangannya pada leher Abimayu.


Mereka tiba di sebuah kamar hotel, Alex langsung saja membuka pintu tersebut.


Abimayu adalah suami dari Nayla, jadi apapun yang akan keduanya lakukan bukanlah urusannya. Alex langsung menutup pintu setelah keduanya masuk.


"Harusnya kita menjaga pintu?" tanya Elis polos.

__ADS_1


"Kau gila!" Alex tidak mungkin melakukan pekerjaan konyol itu, ia tidak ingin mendengar suara-suara horor yang nanti akan keluar dari kamar. Suara-suara yang akan membuat telinganya tidak lagi perjaka.


"Kita pesan kamar lain saja untuk istirahat." Tujuan lainnya juga agar bisa dijangkau oleh sang bos, jika sewaktu-waktu mereka dibutuhkan.


"Kamu dan aku." Elis menunjuk Alex lalu dirinya.


Alex yang tidak paham, mengangguk saja. "Tentu saja."


"Dasar mesum!" Elis berniat menendang kaki pria itu, Alex dengan sigap menghindar. Ia kembali ingin menampar, tapi Alex lebih cepat meraih tangannya lalu memutar tubuh pengawal cantik itu dengan gerakan cepat dan tak terbaca. Kini keadaan keduanya sudah seperti berpelukan.


"Mungkin pikiran mu saja yang mesum." Alex membisikkan tepat di telinga Elis, bahkan perempuan itu bisa merasakan nafas hangatnya. "Atau kau ingin memesan satu kamar bersama ku?" aroma parfum Elis tercium di hidung Alex membuat laki-laki itu memejamkan mata.


Gerakan Elis yang meronta-ronta membuat Alex kembali membuka matanya, ia melepaskan perempuan itu dengan cepat. Lalu meninggalkan Elis yang baru kali ini tidak bisa meluapkan emosinya. Benarkah, pikirannya yang terlalu mesum? Kelamaan menjomblo beginilah jadinya.


"Nayla sadarlah, aku tidak ingin melakukan ini saat kamu terpengaruh obat." Abimayu berusaha melepaskan tangan Nayla, iman laki-laki itu benar-benar diuji sekarang.


Baru saja ia kembali ingin mengatakan sesuatu, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir sang istri. Kalau begini, Abimayu jadi ikutan tidak waras. Kewarasan Nayla sepenuhnya hilang sudah, ia hanya mengikuti nalurinya akibat pengaruh obat tersebut.


Ciuman Nayla turun ke rahang tegas sang suami membuat ******* lolos di bibir tebal Abimayu.


"Akh." Kursi roda itu menabrak tembok, aksi Nayla terhenti sejenak. Abimayu berdiri dengan keduanya kakinya, Nayla melingkarkan kaki pada pinggang sang suami dengan tangan yang mengalung pada leher pria itu dan kembali melanjutkan tautan bibir mereka.


Persetan dengan kelumpuhan yang ia sembunyikan selama ini. Lagi pula tidak ada gunanya, karena kedua orang tuanya sama saja tidak peduli.


Ya, laki-laki itu memang sudah sembuh sejak lama. Dan ia menyembunyikan itu untuk menarik simpati kedua orang tuanya. Tapi nyatanya itu semua itu percuma saja, malah kenyataan pahit yang ia dapat. Bahwa kedua orang tuanya lebih mementingkan dunia mereka sendiri.


Abimayu membawa Nayla ke atas rajang, pelukan keduanya terlepas membuat Nayla merasa kehilangan.


"Aku tidak ingin memanfaat situasi ini, aku akan mengisi air di bak." Kewarasan Abimayu kembali, ia melepaskan jasnya lalu menggulung kemeja hingga siku.

__ADS_1


"Tunggu sebentar." Kata laki-laki itu ingin beranjak pergi, Nayla terlihat menatapnya dengan sayu.


"Sebentar saja, ok."


Terlambat. Nayla menarik dasi pria itu membuat Abimayu terjatuh di atas tubuh sang istri. Untung saja ia sigap sehingga tidak sampai menyakiti wanitanya.


Abimayu kini mengaku kalah, ia tidak bisa lagi melepaskan dirinya pada keagresifan sang istri. Tubuhnya juga terus memberikan reaksi. Dan entah siapa yang melakukan, tubuh keduanya kini polos tanpa sehelai benang pun.


Bibir Abimayu ******* bibir sang istri sepenuh hati, lalu turun ke leher dan bagian yang sensitif dua gundukan. Jari kaki Nayla menegang lurus menahan sensasi itu. Sentuhan-sentuhan itu membuat sekujur tubuhnya semakin panas, dan berkumpul pada satu titik perut bagian bawah.


Keduanya melayang saling memberikan reaksi kenikmatan surganya dunia. Pertukaran peluh tak terelakkan lagi, hingga pagi menjelang.


“Terima kasih sayang, maaf aku telah menyakiti mu. Love you. Kamu adalah milikku selama-lamanya.” Abimayu mencium kening Nayla yang nampak kelelahan akibat penyatuan mereka.


Nayla mencari posisi ternyaman dan membenamkan kepalanya pada dada bidang sang suami. Keduanya pun tidur dalam keadaan berpelukan.


Di sisi lain, hal yang sama juga dilakukan oleh pasangan Maya dan Barra.


“Kau tidak melihatnya?” Maya menelusuri dada Barra yang telanjang.


“Tidak, mungkin sudah diambil pria mesum lain.” Setelah mendapatkan pesan dari Maya, Barra pergi menuju toilet bersama seorang laki-laki untuk mencari keberadaan Nayla. Tapi perempuan itu tidak ditemukan di sana.


“Semoga saja.”


Keduanya pun tertawa. Dalam benak mereka, Abimayu tidak akan mungkin bisa menyelamatkan istrinya. Kalau pun bisa, ia hanya akan melihat pemandangan istrinya yang tengah bertukar peluh dengan pria lain.


Usaha Maya dan Barra untuk menghancurkan Nayla dan Abimayu malah tak sengaja semakin mempererat hubungan keduanya.


*****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2