Sang Antagonis

Sang Antagonis
Makan Malam


__ADS_3

Pagi harinya, sinar matahari menembus celah-celah jendela. Nayla membuka matanya yang terasa cukup berat, tidak menyangka kalau ia masih bisa melihat dunia. Saat tenggelam malam itu, ia sudah pasrah akan takdirnya. Nafasnya yang sesak ditambah ingatkan kejadian masa lalu yang begitu menyakitkan membuatnya yakin bahwa hidupnya berakhir. Tapi ternyata tidak, Tuhan masih sangat baik padanya.


Nayla ingin menggerakkan tangannya yang terasa tertimpa beban, rupanya tangan kokoh suaminya yang menggenggamnya dengan erat.


Abimayu tertidur di samping Nayla dengan posisi duduk. Nayla meringis, suaminya pasti tidak nyaman dengan posisi itu semalaman. Ia memutuskan menarik tangannya dan mengelus  rambut Abimayu pelan.


“Mm. Kamu sudah sadar, apa yang kamu rasakan? Mau minum? Atau aku panggilkan dokter untuk cek kondisimu?” suaranya serak khas orang bangun tidur, Abimayu langsung memberondong istrinya dengan pertanyaan.


“Hei,” Nayla meraih pipi Abimayu yang masih kelihatan linglung. “Duduklah,” pintanya saat Abimayu ingin memanggilkan dokter. Abimayu mengangguk patuh. Matanya memancarkan kelegaan melihat istrinya yang membuka mata. Jujur saja ia sangat khawatir. Dunianya seakan berhenti tak kala sang istri tenggelam kemarin.


“Biar aku bantu, Sayang.” Abimayu dengan sigap membantu Nayla untuk duduk. Bibir pria itu melengkung tak kala matanya melihat perut sang istri yang masih datar. Namun, ada buah cinta mereka di sana.


Tak lama kemudian seorang suster masuk membawakan bubur untuk pasien. Nayla menatapnya tidak berminat.


“Ayo, Sayang. Makan,” Nayla menggeleng tidak ingin. Pasti rasanya hambar, tentu saja.


“Nggak mau.” Tolak perempuan itu.


“Sayang, kamu belum makan dari kemarin. Aku tidak mau kamu dan anak kita kelaparan.”


“Anak?” Nayla mengernyit.


Abimayu tersenyum lebar, “Iya, Sayang. Di sini,” Abimayu menyentuh perut Nayla yang datar. “Di sini ada calon anak kita,” senyum tak lepas dari bibir pria itu. Wajahnya memancarkan kebahagiaan.


Nayla tertegun, menatap suaminya dalam. Menyelami manik mata hitam pekat suaminya mencoba mencari kebohongan di sana. Namun, hanya pancaran kebahagiaan di sana membuat Nayla sadar kalau suaminya tidak sedang membohonginya.


Kristal bening menghiasi matanya, perempuan itu menutup mulut, merasa terharu. Sedetik kemudian ia menangis, menangis bahagia. Abimayu segera membawanya dalam dekapan. Laki-laki itu juga tak bisa menahan tangis bahagianya.


“K-kamu nggak bohong ‘kan?” tanya Nayla bergetar.


Abimayu menggeleng, “Tidak, Sayang. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua.”


Rasa haru menjalar di dada Nayla, ia mengangguk antusias. Memegang perutnya, lalu membelainya dengan sayang. Abimayu mengikuti, ia juga mengecup perut yang masih datar itu.


“Sehat-sehat ya, Sayang.” Bisik Abimayu, mengecupnya sekali lagi. Lalu berpindah mengecup kening sang istri, dan menghapus jejak air matanya.


“Sekarang makan ya,” pinta Abimayu kembali menyodorkan satu sendok bubur. Nayla tak menolak lagi, ia makan dengan tenang disuapi sang suami.

__ADS_1


*****


Semua orang dilingkupi kebahagiaan, kabar kehamilan Nayla disambut begitu antusias. Keluarga Bhaskara dan Arthama menyiapkan makan malam mewah. Mereka mengadakan di mansion Bhaskara atas permintaan Widya. Para pelayan hilir mudik menyiapkan acara. Wajah mereka berseri-seri ikut merasa bahagia atas kabar baik tersebut.


Nayla sudah diperbolehkan keluar, dokter mengatakan semuanya baik-baik saja. Memberikannya petuah terkait seputar kehamilan.


Nayla mengangguk akan semua saran dokter, sedangkan Abimayu terus menanyakan ini itu jika merasa tidak puas akan penjelasan dokter.


“Jadi apakah kami masih bisa melakukan hubungan dokter?” tanyanya tanpa malu-malu dan langsung mendapatkan cubitan sayang dari sang istri.


Dokter mengulum senyum, “Berhubungan intim tetap bisa dilakukan kok, asalkan dilakukan secara perlahan dan tidak terlalu sering. Tapi untuk sekarang sebaiknya di tahan dulu ya, Pak, karena kehamilan istrinya baru memasuki Trimester pertama. Usia kehamilan tersebut sangat rawan terjadi kontraksi maupun keguguran.” Abimayu mengangguk mengerti, siap berpuasa untuk beberapa bulan ini. Nayla sendiri sudah menunduk dengan pipi memerah.  Setelah mendengar penjelasan dokter, keduanya pun berkemas untuk siap-siap pulang ke rumah.


Indra dan Arsyad tengah bermain catur di teras halaman belakang, sedangkan para istri tengah sibuk di dapur.


“Pah, jemput anak-anak.” Terdengar teriakkan di dalam rumah. Widya kembali mengingatkan sang suami yang tengah asik bermain bersama sang besan.


“Siap, Mah.” Indra dan Arsyad pun bangkit untuk menjemput anak-anak mereka. Arsyad sudah membaik dari hari ke hari.


“Mau ke mana?” Ayu baru saja menuruni tangga dan langsung mencegat dua laki-laki paru baya itu.


“Jemput kakak iparmu.” Jawab Indra melanjutkan jalan bersama Arsyad.


“Heh, nggak boleh. Mobil nggak muat,” cegah Widya.


“Aku naik mobil lain sama supir, kok.”


“Tetap nggak boleh,” tolak Widya. “Lagi pula kamu ke sana hanya nyusahin orang.” Padahal ia khawatir anak gadisnya pergi sendiri, walaupun sudah ada supir. Karena hari sudah beranjak malam.


“Ih, Mama berpikiran negatif mulu.” Ayu cemberut, lalu menatap memelas pada sang Ayah.


“Dengerin Mama ya, Sayang.” Indra mengusap kepala anak bungsunya, memberi pengertian. Ia tahu maksud perkataan sang istri.


“Ayu, gimana kalau kamu cicipin brownies buatan tante aja?” Nila mengeluarkan brownies dari oven membuat aromanya tercium.


Ayu mencium aroma nikmat itu, ia langsung mengangguk antusias menghampiri Nila. “Umm, aku mau Tante.”


Dengan begitu, Indra dan Arsyad pun dengan tenang menuju rumah sakit menjemput Nayla dan Abimayu.

__ADS_1


“Sebenarnya kita bisa pulang sendiri, Pah.” Kata Abimayu melihat kedatangan sang mertua dan ayahnya.


“Tidak apa-apa, kita memang ingin menjemput kalian.” Jawab Arsyad.


“Benar,” angguk Indra. Mereka pun bersama-sama pulang ke rumah, kediaman Bhaskara.


Ketika memasuki rumah, aroma masakan langsung menyambut mereka. Nayla mengenali masakan ini, ia menghirupnya dalam-dalam, langsung merasa lapar.


Perempuan hamil itu memang tidak terganggu akan aroma masakan ataupun makanan yang bisa membuatnya mual ataupun muntah. Anaknya memang pengertian, tidak membuat dirinya susah.


“Kak, Naylaaa ...!” suara cempreng yang sangat Nayla kenali langsung menggema di telinganya.


Gisella berlari sembari merentangkan tangannya menuju Nayla, sang panutan, meminta perempuan itu menggendongnya. Ia, Elis, dan Alex juga ikut diundang dalam acara makan malam ini.


“Ella,” panggil Elis berusaha menahannya. Ia takut tubuh gempal Ella bertubrukan dengan sang Nona yang tengah berbadan dua. Kalau dulu tentu tidak apa-apa, Nayla dengan senang hati menyambut gadis kecil berbadan gempal itu.


“Hai, baby girl.” Abimayu langsung membawa Ella ke dalam gendongannya.


“Iihhh, Uncle Abi. Aku mau digendong sama Kak Nayla!” protes Ella dengan bibir manyun beberapa senti. Nayla yang melihatnya tertawa lucu.


“Nanti ya, kalau sekarang nggak bisa. Kak Nayla lagi bawa baby di perut.” Jelas Nayla, mencubit pipinya pelan. Merasa gemas pada gadis kecil itu.


“Baby?” Ella tidak mengerti.


“Iya, itu bayi ku. Anakku!” tekan Abimayu, menunjukkan kepemilikannya. Tidak ingin Ella ikut memonopoli anaknya nanti.


“Wah, Ella suka main sama bayi.” Ujar gadis itu penuh antusias. Ia pun meminta turun pada Abimayu dan mulai mengelus perut datar Nayla. Seolah memang tahu di sana terdapat bayi. Sebelumnya Ella memang suka bermain bersama bayi semenjak tetangga kompleknya melahirkan.


Wajah Abimayu pias, percuma saja ia menjelaskan kepemilikannya. Nyatanya Ella mulai memonopoli anaknya sejak dalam kandungan. Pria itu merasa cemburu, dan istrinya tidak mengerti akan hal itu.


“Ini Sayang, kamu makan yang banyak ya,” Abimayu menambah lauk pada piring Nayla.


“Kata Aunty Elis, sayur baik untuk kesehatan.” Ella memberikan sayuran di piring Nayla. Abimayu tak ingin kalah, ia juga mengambil sayuran untuk sang istri.


“Aduh, cukup-cukup.” Nayla menjauhkan piringnya dari dua manusia itu. “Perutku sudah mengembun kekenyangan karena kalian berdua.” Sungut Nayla. Orang-orang terkekeh melihat aksi ketiganya.


*****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2