Sang Antagonis

Sang Antagonis
Kado Pernikahan


__ADS_3

Nayla menuruni tangga dengan anggun, gaun malam yang di kenakan semakin membuat tampilannya memukau. Abimayu bahkan sampai tak berkedip melihat sosok yang amat sempurna di depannya.


“Ih, istrinya siapa, sih?” goda Abimayu mendekati perempuan cantik itu, Nayla sendiri tak berkedip karena mengagumi penampilan suaminya yang mengenakan tuxedo berwarna senada dengan gaunnya.


“Istrinya Abi, dong.” Nayla mengedipkan matanya berulang kali, semakin membuat Abimayu gemas.


“Cantik banget, jadi pengen bawa ke kamar.” Ceplos Abimayu, benar-benar ingin mengurung istrinya di kamar saja untuk dirinya sendiri.


“Hm,” dehem seseorang di belakang mereka. Satunya lagi memberikan gestur ingin muntah mendengar percakapan pasutri itu. Dua orang itu memang tidak tahu tempat jika bermesraan.


“Kalian jadi menghadiri resepsi itu?”


Abimayu mengangguk, “Iya, Mah.” Widya terlihat tidak suka. Selain karena memang tidak menyukai Mita, juga karena sudah mendengar cerita sang anak bungsu akan kelakuan Maya tempo hari yang hampir membuat Ayu mengenaskan ditangan para preman. Ayu sendiri mulai terbuka dengan mamanya.


“Buat apa Kakak menghadiri resepsi mereka?” tanya Ayu tidak habis pikir, belum lagi Maya adalah mantan dari kakaknya. “Kakak mau balas dendam ya, karena sudah dicampakkan?” tebak Ayu membuat Abimayu membelakangkan matanya.


“Sembarangan, Kakak ‘kan sudah punya bidadari cantik.” Kata-kata Ayu seolah mengatakan Abimayu belum move on pada mantan pacarnya, Maya. Laki-laki itu takut istrinya cemburu. Ah, percaya diri sekali!


Nayla mengangguk dengan bibir yang mengulum senyum akan perdebatan kakak beradik itu. Perkataan Ayu juga ada benarnya, walaupun dalam konsep berbeda.


Keduanya memang akan menghadiri resepsi pernikahan Barra dan Maya karena memang mendapatkan undangan, sebenarnya Nayla sudah ingin mengajak Abimayu untuk menghadiri pesta itu, tapi suaminya mengajak lebih dulu.


Abimayu dan Nayla tiba di sebuah hotel bintang lima yang sudah di reservasi oleh penyelenggaraan acara, sepertinya Barra tidak main-main memberikan pesta yang amat mewah untuk Maya.


Abimayu memberikan kartu undangan sebagai akses masuk, penjaga di sana melayaninya sebagaimana prosedur yang ditetapkan.


“Permisi,” perempuan paruh baya terlihat menyilaukan dengan barang-barang branded nya melewati Nayla dan Abimayu begitu saja.


“Permisi, Bu.” Tahan penjaga, meminta kartu akses perempuan itu bersama pasangannya.

__ADS_1


“Tuan Abimayu,” panggil pasangan dari perempuan itu.


Nayla dan Abimayu menoleh pada dua orang yang telah melewati mereka dan semua tamu undangan yang tengah mengantri, dua orang itu ternyata Andrea Wijaya dan juga Cilla, istrinya.


Nayla jadi mengingat cerita ibunya akan Andrea yang langsung menikah setelah mantan istrinya meninggal satu minggu sebelum pernikahannya dengan Cilla.


“Tidak menyangka kita bisa bertemu di sini, ngomong-ngomong kenapa belum masuk?” tanya Andrea dengan ramah, menampilkan citra baik pada Abimayu. Bagaimanapun akan sangat menguntungkan jika dapat bekerja sama dengan laki-laki nomor satu yang merupakan raja bisnis.


Terdengar kekehan dari Cilla, “Kamu tidak lihat, Sayang. Mereka bukan tamu kehormatan yang mendapatkan kartu VIP seperti kita.” Cilla terkekeh sekali lagi, kini nadanya terdengar merendahkan. Ia juga menunjukkan kartu akses VIP nya pada penjaga.


Abimayu dan Nayla saling pandang. Sama sekali tidak terkejut, apalagi iri. Cilla memang sudah dekat dengan Maya tempo lalu di acara pernikahannya. Acara dimana Nayla dijebak dengan obat perangsang, untung ada Abimayu yang menolongnya saat itu.


Andrea terlihat tidak enak dengan sikap yang ditunjukkan Cilla, ia memberikan kode agar bersikap sopan pada Abimayu maupun istrinya.  Namun, Cilla sama sekali tidak menangkap maksudnya itu membuatnya semakin bertingkah. Dengan cepat Andrea menariknya masuk sebelum menyinggung Abimayu.


Pesta pernikahan penerus satu-satunya keluarga Munandra diadakan sangat mewah. Banyak petinggi dari kalangan atas yang datang, para artis tersohor ikut meramaikan pesta tersebut. Sangat terlihat ingin menunjukkan pangkat dari keluarga kalangan atas. Abimayu bisa melihat, acara ini juga dijadikan ajang bagi keluarga Munandra untuk mengait para investor.


Mita tersenyum semringah melihat kedatangan Nayla, buru-buru perempuan paru baya itu menghampiri Nayla.


Sudah dipastikan perempuan ini sangat iri akan pesta mewah sang anak. Batin Mita, penuh yakin.


“Terima kasih telah mengundang kami, Tante.” Angguk Nayla ramah. Menarik salah satu sudut bibirnya sejenak, tidak terlalu kentara. Mita melihatnya, namun tidak ingin terlalu ambil pusing. Toh, dia sepertinya sedang iri.


Abimayu tidak mengindahkan ajakan dari para kenalannya, ia hanya berdiri di samping sang istri. Memeluk pinggangnya dengan posesif dan menatap tajam siapa saja yang berani menatap lekat sang istri. Abimayu melihat jam di pergelangan tangannya, menyunggingkan senyum menyeringai menatap panggung yang sudah ditata sedemikian mewahnya.


Acara pernikahan Barra dan Maya diadakan di outdoor, terdapat kolam renang di tengah-tengahnya. Bermacam-macam makanan tersaji di setiap meja prasmanan. MC mulai membuka acara, Mita tanpa berpamitan pada Abimayu dan Nayla segera melampirkan diri menuju panggung. Ia berjalan dengan dagu terangkan. Dalam hati ia cekikik kesenangan karena tatapan iri yang dilayangkan oleh teman-temannya.


Acara bergulir sesuai arahan pembawa acara, layar-layar segi empat di setiap sudut tiang menampilkan rekaman secara live menyorot kebahagiaan kedua pengantin. Senyum lebar terlihat di bibir Maya, juga mertuanya. Wajah keluarga Munandra berseri-seri penuh suka cita, mengabaikan dosa yang telah mereka perbuat.


Nayla tersenyum kecut, tidak adakah perasaan bersalah pada dua manusia itu? Atau mereka sangat menikmati mendengar kehancuran keluarganya? Ya, dari penyelidikan yang pelit Nayla tahu insiden kebakaran itu adalah ulah dari Barra dan Maya. Dan kini keduanya mengadakan pesta dengan hati yang ringan. Tanpa memikirkan segala resiko dari kejahatan yang telah mereka perbuatan. Ayahnya masuk rumah sakit, perusahaan yang mengalami kerugian, serta tidak ‘kah mereka memikirkan para karyawan yang menggantungkan nasib mereka pada perusahaan Arthama?

__ADS_1


“Abi, aku haus.”


Abimayu menoleh pada sang istri, menghentikan pembicaraannya sejenak dengan rekan kerjanya.


“Kalau begitu tunggu di sini, aku akan mengambilnya.” Ujar Abimayu buru-buru ditolak Nayla.


“Tidak, tidak usah. Aku bisa mengambilnya sendiri.” Nayla melirik tidak enak pada teman bicara suaminya.


“Tapi—“


“Hanya mengambil minum.” Nayla pun segera pergi dari sana setelah mendapatkan anggukan Abimayu.


Para tamu undangan satu persatu mulai memberikan ucapan selamat pada kedua pengantin. Mita sebagai ibu mertua yang baik menjadi penerima kado dari tamu undangan dengan senyum lebarnya.


Nayla menyeruput minuman berwarna oranye, bibirnya menyeringai. Ia juga akan memberikan hadiah terbaik untuk sang mantan dan mantan sahabatnya. Perempuan cantik itu terlihat mengotak-atik ponselnya.


Layar-layar segi empat di setiap sudut tiang berganti menampilkan hitungan mundur. Para tamu undangan tampak bingung, apakah ini bagian dari acara? Tapi seperti bukan, karena wajah anggota keluarga Munandra juga menyiratkan kebingungan. Semua orang pun menjadi penasaran.


3 ... 2 ... 1 ...


Tubuh Maya tegang, begitu juga Barra, para tamu undangan tercengang sendiri. Mata lebar dengan mulut terbuka menonton apa yang ditampilkan oleh layar.


“Hentikan!” teriak Barra kalap. Bagaimana tidak, layar itu tengah mempertontonkan adegan tidak senonoh yang dilakukan dirinya dan juga Maya. Segala aktivitas mereka di masa lalu yang bergonta-ganti pasangan ditampilkan semua di sana.


Hati Barra panas mengetahui bahwa dirinya bukan hanya satu-satunya untuk Maya, nyatanya perempuan itu telah menghabiskan malam dengan banyak pria. Barra jadi ragu akan anak yang dikandung Maya adalah anaknya.


Mita mengedarkan pandangan, tatapan iri beberapa saat lalu kini berganti menjadi tatapan cemoohan dan jijik tertuju pada keluarganya.


“Tidak ...!” teriak perempuan itu tidak bisa mengendalikan dirinya, tepatnya tidak sanggup menanggung malu sebesar ini. Seharusnya keluarganya mendapatkan pujian, agungan, buka malah seperti ini.

__ADS_1


*****


Bersambung...


__ADS_2