
Bau anyir memenuhi gudang dimana empat preman itu disekap, keadaan mereka sungguh memprihatinkan. Wajah lembam ungu, darah mengalir di sudut bibir yang terlihat mulai mengering. Belum lagi tubuh mereka di penuhi goresan-goresan yang amat cukup dalam.
Byyuuur ...
Salah satu pria dengan tubuh kekar menyiramkan air pada ke empatnya. Para preman meronta pada kursi yang mereka duduki, tali melilit tubuh dari tangan hingga kaki. Gerakan mereka terbatas dan gesekan-gesekan yang ditimbulkan malah membuat tubuh mereka terasa semakin sakit.
"Apa kalian masih ingin tidur?" suara bariton seseorang yang mengenakan masker membuat ke empat preman itu tersadar sepenuhnya. Tubuh mereka menegang, pria itu adalah pria masker yang menyerang dan memukul mereka tanpa ampun.
"Bagaimana, apa tidur kalian nyenyak?" ditanya seperti itu, tubuh para preman semakin gemetar saja.
Apa dia bercanda? Bagaimana bisa nyenyak, jika orang-orang pria itu terus saja memberikan luka pada tubuh mereka. Yang serasa sudah dikuliti hidup-hidup.
Pria bermasker membuka maskernya dan menampilkan senyum devil.
"Tuan, mereka tidak mau mengakui siapa yang menyuruh mereka." Alex datang menunduk hormat pada pria itu.
Bukan penyesalan kalau tidak datang terlambat. Para preman itu meringis, menyesali diri karena telah tergiur dan menerima job itu. Andai waktu bisa diputar, mereka ingin menolak pekerjaan itu mentah-mentah bahkan seberapa banyak pun tawaran gajinya yang diberikan.
"Oh ya?" pria itu mengangkat salah satu alis.
"Tuan, ampuni kami. Kami sungguh tidak tahu siapa yang menyuruh kami." Jawabannya sama persis dengan jawaban yang dipertanyakan oleh Alex kemarin.
"Benar, Tuan. Kami benar-benar tidak tahu. Orang itu berhubungan dengan kami hanya lewat pesan saja."
Dua lainnya mengangguk membenarkan dengan wajah memelas. Mereka sama sekali tidak tahu siapa orang yang menyuruh mereka.
Alex mengetahui maksud dari tatapan pria yang berdiri di depannya, "Nomor tersebut sudah tidak aktif lagi, Tuan. Lokasi terakhirnya berada di jembatan yang jarang dilewati. Di sana tidak ada akses CCTV untuk bisa kita lacak."
Terdengar helaan nafas gusar dari sang pria. Ia pun hendak berbalik badan untuk pergi, tidak ada gunanya lagi berada di sini.
Para preman sedikit menghela napas lega, karena pria mengerikan atasan dari orang-orang ini akan meninggalkan mereka begitu saja. Tapi sedetik kemudian, tubuh keempatnya merosot tak kala mendengar titah yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Buat mereka merasakan hukuman dari perbuatan jahatnya ... terserah kalian mau melakukan apa!" terlihat senyuman mengerikan penuh maksud dari pria-pria kekar itu.
"Baik, Tuan." Anggun mereka serentak.
Setelah pria itu keluar bersama Alex, terdengar jeritan dari keempatnya saling sahut-menyahut. Dua orang yang berjalan pergi itu sama sekali tidak memedulikan.
*****
Ayu berjalan menyusuri lorong rumah sakit dimana tempat Rizky dirawat. Ia menanyakan kamar pada pihak resepsionis.
"Atas nama Rizky Febian, ada di kamar mawar nomor 03." Resepsionis memberitahu, Ayu pun mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju ke sana. Tangannya menenteng buah yang disukai cowok itu.
Sebelum Ayu membuka pintu ia mendengar desah-desus di dalam sana membuat ia mengurungkan niatnya.
"Apa-apaan kamu, Ky?! Kakak sudah bilang jangan melawan mereka atau tinggalkan saja gadis itu!" Maya memarahi adiknya yang masih lemas di atas ranjang pasien. "Sekarang lihat, kamu babak belur begini."
"Tidak bisa, Kak. Aku tidak bisa meninggalkannya." Rizky berkata lirih menanggapi kemarahan kakaknya.
"J-jadi, para preman kemarin utusan Kakak?!" Remaja laki-laki itu tampak tidak percaya, kakaknya melakukan hal sekejam itu. Ya, kejadian kemarin hampir saja menghancurkan dua orang. Dirinya dan Ayu.
Ayu di luar pintu menutup mulut juga tidak percaya, ia mundur perlahan dengan kaki gemetar. Rentetan kejadian menyakitkan kemarin kembali terulang. Tak sanggup lagi bertahan di sana, ia pun memilih pulang. Tujuannya menjenguk Rizky sirna seketika.
Maya menuntut mulutnya, ia pun menggeleng untuk berdalih. Tapi gerak-geriknya sudah terbaca oleh sang adik.
"Sudahlah, Ky. Kakak tidak mau bahas lagi." Maya memutus kontak pertemuan mereka, mengakhiri pembicaraan dan berlalu.
"Kak, cukup satu orang saja yang menjadi monster di kelurahan kita." Remaja itu memperingati kakaknya, tidak ingin sang kakak mengikuti jejak ayah mereka yang bagaikan monster mengerikan. Bahkan ibu mereka sendiri meninggal di tangannya.
Tubuh Maya berhenti sejenak, tangannya terkepal tak kala wajah bajingan tua itu yang muncul di benaknya. Ia sangat benci sosok yang diagungkan dengan nama ayah itu. Maya menganggapnya tiada lain dan tiada bukan adalah sosok iblis berwujud manusia.
Ayu tiba di rumah dengan langkah sempoyongan, fakta kebenaran yang baru saja ia ketahui sungguh mengguncangnya. Orang yang selalu ia bela dihadapkan kakaknya, bahkan rela memusuhi Nayla, kakak iparnya, adakah orang yang sama ingin mencelakai dirinya.
__ADS_1
Apa salah gadis itu? Kenapa Maya melakukan itu? Tapi apapun tujuannya, tetap saja itu adalah hal yang salah. Tidak bisa dibenarkan atas dasar apapun.
Gadis itu jadi berpikir, apakah ia harus melajukan hubungannya dengan Rizky. Ya, mungkin saja Maya tidak suka dengan hubungan mereka 'kan. Ayu menyandarkan kepalanya di sofa, pikirannya kacau sekali.
"Ada apa?" Nayla datang membawa dua jus jeruk. Maksudnya tentu baik, ingin menjalin hubungan baik dengan sang adik ipar.
Ayu menoleh pada Nayla, dan langsung duduk tegak. Sejenak, gadis itu ingin menceritakan masalahnya pada sang kakak ipar. Tapi urung mengingat hubungan keduanya baru saja sedikit membaik kemarin. Tentunya gadis itu gengsi dan nanti takut dikira sensitif.
"Nggak apa-apa, Kak." Ayu kembali merebahkan kepalanya di sofa.
"Kalau ada sesuatu cerita aja, anggap saja kakak teman cerita kamu." Nayla meraih tangan Ayu dengan hangat, "Jika ada sesuatu jangan dipendam sendiri, nanti bisa berbahaya atau bahkan akan meledak suatu saat."
Perkataan Nayla membuat Ayu berpikir dalam, haruskah ia bercerita?
Apa yang dijalaninya selama hidup ini selalu saja ia pendam sendirian. Bagaimana tidak begitu, ia tidak memiliki teman bercerita. Jika remaja perempuan lain akan bercerita sembari tidur di paham ibunya, maka Ayu selalu saja memendam, menelan, memakannya seorang diri. Mamanya tidak terlalu punya banyak waktu untuk hal remeh seperti itu. Dan kini ada Nayla yang mau menjadi pendengar suka rela nya.
"Kak, aku punya temen. Dia cerita kalau hubungan dia dengan pacarnya baik-baik saja, tapi kakaknya tidak suka dengan cewek itu. Cowoknya baik, baik banget malah. Jadi temen ku bingung mau putusin si cowok atau tetap lanjut. Karna hubungannya kayak nggak direstui gitu."
Ya, kalau Maya merestui hubungan mereka kenapa dia tidak suka padanya. Itulah yang mengganggu pikiran gadis itu, harus lanjut atau berhenti saja. Karena tentu ia masih tahu cara mencintai dirinya, dengan menghindar pada orang-orang yang mau menyakitinya.
Nayla diam sejenak, hubungan tanpa direstui memang rumit apalagi setelah menikah. Banyak rintangan dan tantangan yang harus dihadapi. Masalah suka dan tidak suka, tentu harus bertanya pada orang yang bersangkutan agar kita tahu dimana letak kesalahan dan ketidaksukaan mereka agar bisa memperbaiki diri. Tapi bukan berarti kita harus menjadi orang lain.
"Kalau memang cinta sih, memang harus patut untuk diperjuangkan. Tapi kalau salah satunya tidak mau sama-sama berjuang untuk mendapatkan restu, lebih baik mundur saja. Hubungan itu akan sangat rumit dan mengecewakan salah satu pihak. Jadi coba tanya deh sama keduanya, mau nggak memperjuangkan bersama?"
Ayu terlihat melamun, apakah Rizky benar-benar mencintainya? Atau hanya perintah Maya mendekatinya?
Nayla melihat Ayu melamun, tangannya pun terulur mengusap rambut Ayu lembut. "Tapi bilang aja nggak usah mikir sejauh itu, kalian 'kan masih remaja. Masih banyak yang ingin kalian lakukan, ingin kalian raih dan capai. Jadi kalau jatuh cinta ditahan, perbaiki diri dulu, terus meningkatkan potensi diri. Biar nanti kalaupun kita tidak dapat orang yang dicintai minimal kita tidak merusak diri, atau tidak menjadi wanita yang ditindas." Ayu terdiam cukup lama, mencerna segala nasihat dari sang kakak ipar.
*****
Bersambung...
__ADS_1