Sang Antagonis

Sang Antagonis
Tetap Bersama Mu


__ADS_3

“Apa maksud Mama?” Abimayu bertanya tidak suka. Apalagi melihat istrinya yang diam, melamun akan pertanyaan mamanya. Abimayu tidak tega melihat itu. Pertanyaan tentang anak, memang sensitif di kalangan pengantin muda.


Suasana di meja makan itu menjadi mencekam dan canggung. Bukan hanya dirasakan Nayla maupun Abimayu, tapi Ayu juga yang tidak ikut terlibat dalam obrolan ikut merasakan. Gadis itu membatin, seharusnya sang mama tidak membicarakan topik tersebut. Bagaimana pun pernikahan kakaknya juga belum masuk satu tahun, jadi wajar-wajar saja mereka belum dikaruniai anak.


Diraihnya tangan Nayla oleh Abimayu untuk membawanya kembali duduk di sampingnya. Perempuan itu sedikit tersentak akan sentuhan tersebut, matanya dan sang suami saling beradu pandang. Ia pun memberikan seulas senyum, menandakan dirinya tidak apa-apa. Padahal jauh di dalam hatinya ia tak tenang, apakah dirinya yang divonis tidak bisa mempunyai anak juga akan terjadi di kehidupan ini?


“Mama berbicara sesuai kenyataannya. Seharusnya, pernikahan satu dua bulan. Kalian sudah dikaruniai anak.” Widya berbicara dengan nada tidak mengenakan. Apalagi ketika ia mengingat para teman sosialitanya mulai memamerkan cucu-cucu mereka. Terutama Mita, yang selalu saja memojokkannya. Widya sangat tidak suka akan hal itu, ia ingin selalu tampil paling sempurna dari teman-temannya.


“Anak itu karunia Tuhan, Mah. Ada karena atas ijin-Nya, dan kami hanya bisa berusaha.” Abimayu menghela napas. “Lagi pula masih banyak yang ingin kami lakukan sebelum menjadi orang tua, jadi Mama bersabarlah.” Terlihat Widya mendengus.


Nayla menunduk dalam. ‘Orang tua’ dua kata itu apakah mungkin akan terjadi pada dirinya?


“Halah.” Widya melambaikan tangan. “Jangan bilang salah satu dari kalian tidak subur?!” Mata perempuan itu memicing. Nayla semakin menunduk, meremas kedua tangannya di bawah meja.


“Mamah!” Ujar Abimayu dan Ayu bersamaan. Widya tidak peduli, kini mulai memakan makannya.


Abimayu mengusap wajahnya kasar, mamanya sudah sangat keterlaluan.


“Kita makan di kamar.” Ia meraih tangan Nayla. Perempuan itu mendongak lalu menggeleng, merasa tidak sopan makan di kamar sedang ibu mertua di sini. Bagaimanapun ia tetap harus menghormati perempuan paruh baya itu setelah ucapan menyakitkannya. Nayla tidak bisa membalas bukan karena ia lemah atau terlalu menghormati Widya, tetapi karena hatinya pun membenarkan perkataan mertuanya.


“Jangan menolak.” Katanya terdengar tegas. Bahkan Nayla yang kembali ingin menolak dibuat bungkam olehnya. “Harus 'kah aku tegaskan posisiku saat ini!” maka, Nayla pun mengikuti suaminya untuk menyantap makanan di kamar mereka. Beberapa pelayan mengikuti untuk membawa nampan berisi makanan.


“Dan ya... aku sangat berterima kasih atas perhatian Mama yang sudah mau mencampuri kehidupanku.” Gerakan kursi roda Abimayu terhenti. “Biasanya juga Mama tidak peduli akan kehidupan aku dan Ayu.” Widya dan Indra selalu saja sibuk dengan kehidupan mereka, Abimayu dan Ayu sejak kecil selalu mereka tinggalkan bersama pengasuh mereka. Ketika beranjak dewasa, kedua orang tuanya malah memilih untuk tinggal di negeri orang. Pulang bahkan bisa dihitung dengan tangan dan itu pun hanya sebentar. Sikap yang ditunjukkan kedua orang tuanya memunculkan pertanyaan tersendiri bagi Abimayu maupun Ayu, apakah kedua orang tuanya peduli pada mereka?


Abimayu berlalu dengan Nayla di sana, meninggalkan Widya yang masih mencerna perkataan sang anak.

__ADS_1


Ayu tersenyum kecut, “Kakak benar.” Widya langsung meliriknya. Anak gadisnya itu menyimpan kembali alat makan yang sudah ia pengang sedari tadi, lalu berlalu dari sana. Widya semakin termenung dibuatnya.


*****


Berbanding terbalik dengan suasana keluarga Bhaskara, keluarga Munandra kini tampak hangat menikmati sarapan pagi mereka.


“Makan yang banyak sayang, ibu hamil butuh asupan gizi yang banyak.” Ujar mama Barra begitu perhatian pada seorang perempuan yang kini tampak menyemburkan kemilau merah di pipinya yang mulai tembem.


“Ahhhh, cukup Barra. Piringku sudah penuh, aku tidak akan bisa menghabiskannya.” Barra menggeleng pelan dengan seulas senyum melihat bibir Maya yang mengerucut lucu. Perempuan hamil itu memelas agar tidak disodorkan lagi makanan pada piringnya. Semua orang yang melihat tampak tersenyum dengan tingkahnya.


Sejak kehamilan Maya terungkap, Barra langsung mengajaknya menikah saat itu juga. Pernikahan mereka memang tidak terlalu ramai. Namun, sangat berarti bagi keduanya.


Keluarga besar Munandra ikut hadir, mereka tidak ada alasan untuk menolak pernikahan tersebut. Apalagi setelah Barra menjelaskan bahwa kebangkitan kembali perusahaan Munandra Group juga atas kerja keras Maya, ibu dari anaknya.


Ya, ia langsung mengklaim bahwa anak yang dikandung oleh Maya adalah anaknya. Walaupun bukan cinta pertamanya, tapi dia adalah orang pertama yang menyentuhnya. Tidak ada dalam kamusnya untuk meragukan perempuan itu, ia sangat mencintai Maya.


“Nenek senang, rumah ini sebentar lagi akan dihiasi tangisan dan tawa anak kecil.” Nenek Barra yang biasanya tampak berselisih paham dengan yang lain kini lebih kalem dan sering menampilkan senyum karena terlampau senang dengan keberadaan cicit pertama keluarga Munandra.


Dan yang paling senang di sana adalah Mita, mama dari Barra, perempuan itu puas sekali memamerkan pernikahan anaknya sekaligus langsung memiliki cucu. Para teman sosialitanya tampak iri dengan keberadaan cucunya, apalagi ia yang puas memojokkan Widya sampai tak berdaya. Mengingat itu, Mita jadi terkikik sendiri.


“Pokoknya kamu harus menjaga kandungan kamu sayang dan melahirkan dengan selamat.” Pesan Mita sudah berulang kali pada Maya. Darian, suami Mita, mengangguk setuju.


“Kesehatan kamu juga paling terpenting.” Kata Barra, menggenggam tangan Maya.


“Ah, tentu saja kesehatan Maya paling penting.” Mita ikut menyambung.

__ADS_1


Maya bukannya tidak tahu bahwa keluarga ini lebih condong pada janin dalam kandungan, dan bukan karena memang mereka tulus menyukainya. Namun, tidak masalah. Ia bisa mengabaikan itu semua selama dirinya mendapatkan kebahagiaan di sini.


“Tolong jangan ambil hati ucapan mama.” Nayla menoleh pada Abimayu, lalu mengangguk. Pandangan kembali pada hamparan bunga yang ada di taman belakang.  Keduanya memang berada di balkon kamar, setelah menikmati sarapan.


“Sayang.” Abimayu langsung memeluk istrinya yang tampak melamun sejak kejadian tadi. Nayla terlihat murung, makannya juga hanya sedikit saja dari biasanya. Laki-laki itu langsung membawa sang istri dalam dekapan dadanya.


“Bagaimana kalau aku mandul?” tanya Nayla tiba-tiba, menciptakan keheningan di antara mereka. Tidak mendapatkan respon dari Abimayu, Nayla memberanikan diri untuk mendongak melihat reaksi suaminya secara langsung. Bagaimana pun ia harus bisa menerima jika Abimayu ingin menikah kembali.


“Kalau aku yang mandul bagaimana?” Abimayu malah membalikkan pertanyaan. Nayla jadi mengernyit sendiri.


“Kok, malah balik nanya.”


“Jawab saja.” Wajah Abimayu terlihat biasa saja. Tidak tahu istrinya sedang dilema, menyiapkan hati untuk membiarkan sang suami menikah lagi.


“Tentu saja aku akan bersamamu, apa pun yang terjadi, ada anak ataupun tidak.” Kata Nayla dengan tegas, matanya menunjukkan kesungguhan. Tapi di sini, akulah yang mandul. Batin perempuan itu.


“Tapi bagaimana? Kamu ‘kan anak satu-satunya papa Arsyad dan mama Nila.” Abimayu menaikkan keduanya alisnya menatap sang istri.


“Pokoknya akan tetap bersamamu.” Nayla memeluk erat Abimayu, mengenyahkan pikiran suaminya menikah kembali. Biarkanlah waktu yang akan menentukannya nanti, untuk saat ini Abimayu adalah miliknya seorang.


“Maka, aku pun begitu. Apa pun yang terjadi aku akan tetap bersamamu. Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikanmu menjadi istri satu-satunya seorang Abimayu Bhaskara.” Ucapan itu bukan sekedar untuk menenangkan sang istri, tetapi memang tulus dari dalam hatinya.


“Banyak cara untuk mendapatkan anak, teknologi sudah semakin canggih asalkan ada uang. Dan kamu tahu sendiri, uang suamimu ini banyak.” Abimayu mengakhiri dengan kekehan agar sang istri tidak terlalu mengkhawatirkan tentang anak. Ia buka orang yang memegang prinsip 'harus ada anak dalam sebuah pernikahan'. Jika diberikan kepercayaan untuk memiliki anak, maka ia akan bersyukur. Jika pun tidak, ia tidak masalah.


“Kalau itu semua tidak berhasil, kita akan mengadopsi anak.” Ya, apa pun akan Abimayu lakukan asalkan sang istri tetap bersamanya. Nayla semakin mengeratkan pelukan.

__ADS_1


*****


Bersambung...


__ADS_2