
Hari demi hari berlalu dengan sangat cepat. Keluarga Arthama dan Bhaskara jadi sering berkumpul ketika Nayla sudah mendekati detik-detik melahirkan. Bahkan Nila dan Arsyad tak jarang menginap di mansion keluarga Bhaskara demi menemani sang anak. Tentu atas persetujuan Indra dan Widya yang memang menganjurkan hal tersebut. Hubungan dua keluarga besar itu semakin erat dan hangat.
“Sayang, kamu mondar-mandir mulu. Kenapa?” Abimayu menyampingkan laptop dan menghampiri sang istri. Nayla memang diperkirakan akan melahirkan tiga hari lagi. Abimayu tak ingin jauh-jauh dari istrinya itu sehingga ia pun bekerja di rumah saja.
“Mules, Bi.” Ujar Nayla lalu kembali berlalu ke dalam toilet. Jika dihitung, ini sudah ke sekian kalinya ia bolak balik ke toilet.
“Jangan-jangan Baby mau keluar, Sayang.” Raut Abimayu tampak panik, ia dengan segera menghampiri sang istri yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Kayaknya gitu, Bi. Akhhh....” Nayla meringis memegang perutnya yang amat sakit. Abimayu semakin gelagapan dibuatnya. Pria itu dengan segera berlari keluar kamar dan meneriaki orang-orang rumah akan istrinya yang sebentar lagi melahirkan.
Nayla mendesah akan kehebohan suaminya, segera beranjak dari tempatnya untuk mengambil perlengkapan yang telah jauh-jauh hari ia siapkan dengan para ibu.
“Heh! Lihat istrimu, jangan sibuk berteriak di situ!” Widya menampoli anaknya itu yang kini mendadak terlihat bodoh menurutnya.
Abimayu baru tersadar berkat teguran sang ibu, ia segera kembali masuk ke dalam diikuti yang lain. Dengan lekas Abimayu membopong sang istri dengan hati-hati menuju mobil yang sudah disiapkan ayah mertuanya.
Nayla dibawa ke rumah sakit dengan suasana jalan yang legam, karena sebelumnya Indra sudah memerintahkan bawahan untuk mengamankan jalan.
Tibanya di sana sudah ditunggu oleh beberapa dokter dan perawat yang sudah diberi tahu terlebih dahulu untuk menyambut Nayla.
Abimayu membaringkan istrinya ke ranjang, wajah laki-laki itu pias dengan raut takut. Tidak tahan melihat istrinya yang terus menahan kesakitan.
“Bagaimana kalau kita operasi saja, ya....” Saran Abimayu tidak tahan lagi jika membiarkan istrinya itu terus merasakan kesakitan. Nayla menggeleng di sela-sela mengatur napas dan menahan kesakitan. Perempuan itu ingin melahirkan secara normal.
Plak!
Widya kembali menampoli anaknya itu, “Kamu tidak lihat air ketuban istrimu sudah pecah,” bahkan Abimayu terkena basah.
“Benar, Tuan. Tidak ada waktu lagi untuk melakukan operasi.” Ujar dokter, lalu memasukkan Nayla ke dalam ruang persalinan. Abimayu mengikutinya tanpa ragu, ia akan menemani istrinya dengan berani walau sadar tenaganya tidak memungkinkan. Ia amat terguncang dengan kejadian ini, membuatnya tidak bertenaga.
“Abi sakit,” ringis Nayla dengan air mata meleleh. Tangannya berpegang erat pada tangan sang suami.
__ADS_1
“Iya, Sayang. Kamu pasti kuat, aku yakin kamu bisa.” Kata Abimayu dengan air mata semakin menganak sungai. Andai bisa, ia ingin berganti posisi dengan sang istri. Biarlah dirinya yang merasakan sakit itu.
“Baik, Bu. Silakan atur napasnya.” Dokter mulai memberi instruksi melihat pembukaan sudah lengkap. Nayla mengikuti arahan dokter, begitu juga dengan Abimayu. Ketika Nayla menarik napas, Abimayu mengikuti, ketika Nayla mulai mengejan Abimayu pun mengikuti tak kalah hebohnya.
Dan sesaat kemudian, bayi perempuan lahir ke dunia. Suara tangisannya terdengar hingga ke uar membuat para kakek dan nenek bernapas lega.
“Terima kasih, Sayang. Kamu memberi kebahagiaan yang amat luar biasa.” Abimayu mencium kening Nayla dalam dan mengusap keringat sang istri.
*****
Nayyara Thara Bhaskara.
Nama itu Abimayu kumandangkan di tengah keluarga, kerabat, serta teman-temannya. Kediaman Bhaskara ramai akan acara tersebut, acara yang Abimayu buat terkhusus untuk sang anak perempuan, Thara. Acara itu juga ia buat agar sanak keluarga dan teman-temannya ikut menikmati kebahagiaan dirinya dan Nayla akan kelahiran anak pertama mereka.
Banyak doa, ucapan selamat, serta hadiah yang diberikan untuk bayi mungil itu yang tampak tenang di dekapan sang ayah.
“Tidak salah aku memberikannya nama Thara,” Nayla terkekeh melihat banyaknya hadiah untuk sang putri.
“Tentu saja, dan tak kalah bersinar seperti ayahnya.” Balas Abimayu membuat Nayla cemberut.
“Lihatlah Sayang, dia sangat cantik. Wajahnya mirip sekali dengan ku.” Nayla semakin mengerucutkan bibirnya. Itu benar, anak pertama mereka sangat mirip Abimayu membuat Nayla merasa hanya dikontrak saja untuk mengandung. Anaknya itu versi perempuan dari wajah suaminya dan hanya bulu mata lentiknya yang mirip dengannya.
“Curang sekali, padahal aku yang mengandungnya 9 bulan.” Abimayu tertawa kecil akan gumaman sang istri. “Anak kedua harus mirip dengan ku!” tekat Nayla.
“Tentu, Sayang.” Angguk pria itu lalu mencium pipi sang istri dengan mesra. Baby Thara menggeliat dalam gendongan membuat Abimayu juga mendaratkan ciuman pada sang anak.
Tidak lama kemudian suara cempreng Gisella memenuhi ruangan, bayi kecil itu tersentak dibuatnya.
“Ella, pelan kan suara mu Sayang. Kasian baby Thara jadi kaget.” Elis langsung menegur keponakannya itu dengan halus.
“Maafkan Ella, Kak.” Gadis kecil itu sepertinya merasa bersalah dan langsung minta maaf pada Nayla, ia sedikit menjaga jarak dengan bayi itu yang sudah dibaringkan ke dalam box bayi.
__ADS_1
Nayla tidak mempermasalahkan, “Sini, kamu tidak mau melihat keponakan kamu yang cantik ini.” Mendapat tawaran seperti itu, Ella tentu mengangguk dengan antusias. Pujian menghiasi bibir lembapnya untuk bayi mungil itu yang memang sudah menampakkan aura kecantikannya.
“Kamu tidak berniat membuat bayi sendiri, Honey.” Bisikan halus ditelinga Elis membuat tubuh perempuan itu meremang. Dilihatnya sang pelaku yang ternyata adalah tunangan dadakannya. Ya, Alex telah memasang cincin pengikat di jari manisnya. Dan dirinya tak menolak karena sebagian hatinya telah dimiliki oleh lelaki itu.
“Kalian berdua jangan sibuk kucing-kucingan di situ. Segerakan saja ke pelaminannya.” Nayla menyela pada dua insan yang lagi kasmaran itu.
“Secepatnya, Nona.” Jawab Alex mantap.
“Bagus, suamiku nanti akan jadi sponsornya.” Nayla sangat senang, akhirnya sang pengawal menemukan belahan hatinya. Alex tidak menolak, ia tersenyum bungah. Sedangkan Elis tanpa meringis tidak enak.
“Kak Nayla temanku sudah datang.” Seru Ayu menyambut tamu yang ia undang. Nayla menoleh ke sana dan tampaklah seorang pemuda dengan gadis kecil di gendongannya.
“Rizky,” gumam Abimayu mengenal pemuda itu. Benar, dia adalah Rizky adik dari Maya dan keponakannya. Nayla mengamati gadis kecil dalam gendongan itu, wajahnya sekilas sangat mirip dengan wajah sang mantan sahabat.
Rizky tampak kikuk menghampiri Nayla dan Abimayu. Ia merasa bersalah sekaligus malu pada dua orang itu, kakaknya telah menceritakan semua kejahatannya yang dilakukan pada mantan sahabat dan mantan kekasihnya. Dan sekarang ia datang untuk menyampaikan permohonan maaf atas permintaan sang kakak.
Ketika waktu persalinan mendekat, Maya menghubungi adiknya. Memohon dengan sangat agar mau menjaga anaknya. Rizky yang tak mau keponakannya hidup di sel yang dingin atau di bawa ke panti asuhan pun menyetujui menjaga anak dari kakaknya itu. Dan saat itu juga lah Maya menceritakan segalanya, ia tampak sangat menyesal dan meminta sang adik untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Nayla dan Abimayu.
Rizky mengucapkan terima kasih karena telah diundang, juga ucapan selamat. “Saya juga ingin menyampaikan permohonan maaf kakak saya, beliau sangat menyesal atas tindakannya selama ini.” Nayla dan Abimayu saling pandang. Memandang Rizky yang menyampaikan permohonan maaf kakaknya dengan amat tulus.
Sebenarnya keduanya tidak lagi memiliki dendam, dan mungkin juga sudah memaafkan Maya juga lainnya. Nayla sadar bahwa balas dendam bukanlah hal yang baik, salah satu akan menjadi debu dan yang lain menjadi arang. Juga Maya serta lainnya telah menemui karmanya sendiri.
“Kami memaafkannya, semoga Maya bisa menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan.” Doa Nayla tulus.
Dalam jeruji besi Maya menangis menyesali segala perbuatannya, tapi semua itu tidaklah berguna lagi. Bagikan vas yang telah terpecah berkeping-keping yang tak bisa dikembalikan lagi seperti semula.
Ia sangat menyesal karena memiliki rasa iri yang amat besar pada Nayla, rasa iri yang berubah benci dan menjadi dendam. Dan sekarang ia mendapatkan karma akibat dari apa yang ia tabur sendiri.
*****
Tamat
__ADS_1