Sang Antagonis

Sang Antagonis
Jalan jalan


__ADS_3

Di dalam kamar.


Nana melihat pakayan yang di pesan nya tadi lewat Bi Rita, senyum nya mengembang, " Lumayan juga pilihan Bi Rita, oke ini sempurna " Ucap Nana mengambil pakayan dari tote bag.


Celana jens biru panjang, baju kaos putih lengan pendek tak terlalu longgar di badan nya, dan jaket biru lembut tampak kesan feminim dan alegan.


Walau keinginan Nana bukan warna biru, tapi Nana tampak puas dengan penampilan nya.


Dengan gerak cepat Nana mengoles make up tipis di wajah nya, membiarkan rambut nya terurai, kemudian mengambil ponsel dan dompet nya tanpa tas karna Nana tidak suka hal yang menyulitkan atau kata lain ribet.


Setelah merasa tidak ada yang kurang Nana langsung keluar dari kamar, berlari ke pintu utama tanpa melihat sosok yang duduk di sofa ruang tamu.


Melihat Nana yang berlari keluar rumah, bibir Ibnu berkedut menahan tawa. Dengan santai mengambil ponsel untuk menghubungi kekasih nya itu.


Di depan rumah.


Nana melirik mobil Ibnu dengan kening mengerut, melirik kiri kanan namun tak melihat sosok sang kekasih sama sekali.


Ddeerrttt..

__ADS_1


Ponsel nya berbunyi, dengan cepat Nana mengangkat panggilan nya saat melihat nama pemanggil.


" Woy, Ib! Lo dimana sih, gw liat mobil lo di halaman rumah gw, tapi batang idung lo gak keliat sama sekali " Ucap Nana kesal.


Terdengar suara kekehan di sebrang sana, kening Nana mengerut semakin jengkel sengan kekasih nya itu.


" Kamu yang melewati aku duluan sayang, aku ada di ruang tamu nunggu kamu dari 15 menit yang lalu. Kemari lah "


Nana terdiam, tanpa banyak bicara mematikan panggilan nya dan kembali masuk kedalam rumah nya.


Terlihat seorang pria tampan tengah duduk manis di atas sofa ruang tamu rumah nya, tatapan terus mengarah kearah nya dengan senyuman manis.


" Sejak kapan lo di sini? " Tanya Nana canggung.


" Bukan nya sudah aku bilang tadi? Aku menunggu mu 15 menit lalu, sekarang udh jam 15.15. " ucap Ibnu tersenyum manis.


Nana kembali di buat malu kemudian menarik tangan Ibnu untuk berdiri, " Ya sudah ayo.. Gw gak mau buang banyak waktu " Ucap Nana ketus untuk menutupi rasa malu nya.


Ibnu terkekeh, kemudian mengambil tangan Nana yang memegang pergelangan tangan nya dan mengait kan tangan nya di jemari Nana dengan lembut, kemudian lanjut jalan.

__ADS_1


Nana yang melihat itu tak sanggup lagi menahan kegugupan nya, wajah nya memerah seperti kepiting rebus. Tak ingin Ibnu melihat pipi nya, Nana langsung mengipas pipi nya sambil menetral kan degupan jantung nya.


...


Kini mereka sudah sampai si Mall yang sangat terkenal di kota itu, dan juga Mall yang paling besar di bawah naungan sebuah perusahaan terkenal.


Nana tersenyum, melihat banyak nya orang berlalu lalang. Nana merasa dunia nya kembali hidup, setelah sekian lama hidup nya hanya kegelapan jalanan malam, kini Nana dengan mudah berbaur dengan masyarakat biasa.


Senyum nya tak pernah luntur, sangat jelas raut senang di wajah nya.


Ibnu yang melihat Nana tampak bersemangat tersenyum manis.


" Apa kamu suka? " Tanya Ibnu yang sangat suka dengan pemandangan indah di depan nya.


" Emm.. Ini yang gw impikan sejak dulu, jadi gak ada alasan untuk gw menolak semua ini " Ucap nana penuh makna.


Kening Ibnu mengerut heran mendengar apa yang Nana ucapkan. Ibnu merasa ada yang salah dengan kekasih nya itu.


...

__ADS_1


__ADS_2