Sang Antagonis

Sang Antagonis
Nayla Hilang


__ADS_3

Seminggu berlalu Arsyad sudah diperbolehkan pulang. Nayla dan Abimayu juga ikut menjemput kepulangannya. Dan kini mereka berempat sedang berada di ruang tamu kediaman keluarga Arthama.


“Makasih, kalian berduaan sudah sangat banyak membantu.” Arsyad mengucapkan dengan tulus menatap Nayla dan Abimayu bergantian. Penyangga pada lehernya juga sudah dilepas.


“Aisss, Ayah. Udah kaya orang lain aja sama anak sendiri, pake terima kasih pula.” Anaknya ini memang tidak tahu situasi, padahal orang lagi serius juga. Jadilah wajah pria paruh baya itu terlihat merengut.


“Wajahnya jangan gituin, Pah. Ingat baru sembuh.” Terlihat wajahnya semakin masam saja, membuat sang anak terkekeh diikuti mamanya, Nila. “Waktu dan kesempatan Nayla kasih, Pah. Silakan mau ngomong apa.” Ayahnya pun hanya bisa menghela napas dengan tingkah sang anak, semoga saja menantunya itu tidak ilfil.


Dugaan Arsyad salah besar, laki-laki yang menyandang sebagai suami anaknya itu merasa gemas melihat tingkah sang istri. Apalagi hal tersebut jarang ditunjukkan padanya.


“Oya, perusahaan Wijaya undang Papa buat menghadiri pesta pernikahan CEO mereka. Perusahaan mu diundang tidak?” tanyanya merujuk pada Abimayu.


Abimayu mengangguk sebelum menjawab, “Iya,  Pah. Mereka juga mengundang Bhaskara Group.”


“Eh, itu ... nama pemimpinnya Andrea Wijaya ‘kan?” Nila ikut dalam pembicaraan.


“Iya, Mah.” Jawab Abimayu.


“Mama kok tahu?”


“Iya, itu istrinya teman arisan mama.” Nila menatap pada anaknya yang bertanya. “Dia meninggal seminggu yang lalu setelah diceraikan suaminya.”


“Hah, suaminya kok tega langsung nikah lagi.” Nayla tidak habis pikir, secepat itu kah hati laki-laki berpaling. Ia jadi menatap pada Abimayu, antisipasi. Mengirimkan sinar laser yang langsung saja membuat Abimayu menciut.


“Ya, namanya juga sudah cerai.”


“Ya nggak bisa gitu dong, Pah! Harusnya ada perasaan-perasan belasungkawa gitu. Ini seminggu loh, buka sebulan. Kan nggak enak sama perasaan pihak mantan istrinya.” Nayla terlihat berapi-api mengatakan itu, sembari melirik Abimayu dengan tajam.


Memikirkan hati laki-laki yang cepat berpaling membuat ia tidak suka. Dan itu berimbas pada Abimayu. Karena ayahnya tentu saja setia pada sang ibu. Lihat saja sekarang, ayahnya sudah membawa kepala sang istri di bahunya. Padahal belum sembuh total, dan urat malunya pada dua pasutri lain sepertinya tidak ada. Untung saja tidak ada para jomblo di sini.


“Itu nama istri barunya siapa sih?” Nayla jadi penasaran.


“Kalau nggak salah sih Cilla, dan sekarang jadi Cilla Wijaya.” Papanya yang menjawab. Entah juga dari keluarga mana, ia pun tidak tahu. Ya pasti ia tidak bisa menghadiri pesta mereka karena baru saja sembuh, dan biarlah sang anak yang menjadi penggantinya.

__ADS_1


*****


Pesta pernikahan yang kini Nayla dan Abimayu hadiri begitu meriah, aula itu ditata dengan sangat indah dan mewah. Interiornya terlihat memanjakan mata para tamu undangan.


“Memang beda ya, kalau pesta pernikahan raja minyak.” Celetuk Nayla, Wijaya Group memang perusahaan yang bergerak di perminyakan.


“Kamu mau adakan pesta pernikahan yang kaya begini juga?” Nayla terkesima mendengar tanggapan Abimayu yang serius.


“Nggak, pesta kemarin sudah cukup kok.” Nayla menggeleng cepat. Tidak sanggup lagi jika kakinya harus berdiri di atas altar untuk waktu yang cukup lama, belum lagi melihat para tamu undangan sebanyak ini yang hilir mudik sudah membuatnya pusing duluan. Jadi ia sangat bersyukur di pesta pernikahannya hanya dihadiri keluarga saja.


Kini acara memasuki dua pengantin yang menyambut tamu undangan. Andrea dan Cilla terlihat menghampiri Abimayu dan Nayla setelah menyapa tetua keluarga mereka. Tujuan tentu ingin menjalin hubungan baik dengan perusahaan nomor satu di negara ini, Abimayu, sang CEO Bhaskara Group.


“Terima kasih atas waktu luangnya untuk menghadiri acara sederhana kami Tuan Abimayu dan Nyonya Bhaskara.” Andrea menyapa sopan.


“Tentu saja, Tuan Andrea Wijaya.” Abimayu menyapanya tak kalah sopan, tentu saja karena laki-laki itu lebih berumur darinya.


Mereka pun larut dalam pembahasan bisnis yang membuat kedua perempuan di sisi mereka merasa bosan. Andrea terlihat sekali memonopoli suaminya, dan entah kenapa membuat Nayla tak senang.


Cilla membawa Nayla pada perkumpulan sosialita, dan yang membuatnya terkesima adalah keberadaan Maya di sana. Perempuan itu tengah mengobrol asik dengan perempuan-perempuan kalangan atas.


“Hai,” Cilla melakukan cipika-cipiki pada teman-temannya itu. Nayla memutar bola mata. Jengah. Terlebih karena ada si Sulastri di sana.


“Aduhhh, Ratu kita cantik banget hari ini.”


“Benar, sangat-sangat bersinar.” Cilla jadi tersipu malu mendengar pujian dari teman-temannya.


“Aduhhh, Kak Cilla. Aku sampai pangling loh lihat kecantikan Kakak.”


Rahang Nayla hampir saja merosot mendengar sapaan Maya. ‘Kakak?!’ Panggilan itu sangat tidak cocok karena usia Cilla yang 2x lipat dari usia Maya. Benar-benar pengambil hati yang ulang.


“Wah, ternyata Nyonya Bhaskara ada di sini.” Salah satu perempuan yang baru menyadari memekik girang. Teman-temannya yang lain ikut mengerubungi Nayla.


“Perkenalkan saya dari keluarga Lauren.” Nayla tersenyum manis menerima uluran tangan wanita paruh baya itu. Dandanannya terlihat glamor dengan barang-barang branded.

__ADS_1


Dan datang lagi dari yang lain, terlihat sangat tidak sabar untuk memperkenalkan keluarga mereka. Nayla hanya bisa pasrah saja bertemu dengan orang-orang sok akrab dan suka mencari perhatian. Nahas sekali hidupnya terjebak di tengah para perempuan ini. Hanya Maya dan Cilla lah yang tidak ikut mengerubunginya dan Nayla pun tidak terlalu peduli pada dua manusia itu.


“Kak lihat deh, dia udah ambil semua perhatian yang seharusnya menjadi milik Kakak. Bagaimana pun Kakak adalah Ratu di acara ini.” Bukan Maya Sulastri namanya kalau tidak hasut-menghasut. Tangan Cilla terlihat mengepal, memandang tak suka pada perempuan yang telah mengambil seluruh atensi teman-temannya.


“Bagaimana kalau kita lakukan sesuatu padanya?” senyum miring terukir di bibir Maya.


“Nyonya Bhaskara, Anda belum mencicipi minuman di acara ini.” Cilla mengambil salah satu gelas minuman yang baru saja pelayan bawakan untuk ditawarkan pada para tamu.


Sejenak Nayla menatap minuman berwarna merah itu.


“No, alkohol.” Cilla menjelaskan tanpa diminta. Nayla pun menerima minuman tersebut dan meneguk nya satu tegukan saja untuk menghormati pemberi. Lalu ia kembali mengobrol bersama yang lain.


Beberapa saat kemudian, kepalanya terasa berat, mata perempuan itu berkunang-kunang. Ia mengedipkan matanya berulang kali untuk menetralisir, dan memutuskan pergi ke toilet untuk menyegarkan wajah.


“Permisi, saya ke toilet dulu.” Ijin Nayla. Sudut bibir Cilla dan Maya melengkung sempurna. Maya mulai mengirim pesan pada seseorang.


“Oh astaga, apa yang salah pada diri ku?” Nayla berjalan gontai menuju toilet, badannya juga terasa panas sekarang.


Mata tajam seorang pria menangkap siluet Nayla, ia pun membela jalan menghampirinya.


Elis memencet tombol panggilan pada sang nona berulang kali, namun sama sekali tak pernah dijawab. Ia pun berusaha mencarinya di tengah kerumunan tersebut. Dan untunglah ia memakai gaun saat itu sehingga orang-orang tidak menatapnya aneh.


Tidak bisa menemukan keberadaan sang nona, Elis pun memberi kabar sesama bawahan. Perasaan pengawal cantik itu mulai tidak tenang.


“Apa? Hilang! Kok, bisa?!” Alex kaget mendapatkan notifikasi pesan dari Elis, keduanya memang bertukar nomor untuk memudahkan pekerjaan. “Kamu tidak menjaganya baik-baik ya?” tuduh laki-laki itu, padahal para bawahan memang dilarang masuk kecuali orang-orang mereka yang meminta.


Tadi saja Elis hampir adu jotos dengan para penjaga pintu jika ia tidak wanti-wanti bahwa yang menyuruhnya masuk adalah Nyonya Bhaskara.


Alex beranjak dari tempatnya, ia akan mengabari kabar buruk ini pada sang bos.


*****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2