
Perut Nayla terasa berat ditindih oleh lengan kekar, matanya mulai mengerjap perlahan. Terlihat cahaya matahari menembus jendela-jendela kamar. Perlahan ia melepaskan lengan kekar yang ia yakini milik suaminya karena tentu saja Nayla mengenali wangi tubuh Abimayu.
"Aahh." Rintihnya memegangi kepalanya yang terasa sakit. Perempuan itu berusaha bangkit.
"Sudah bangun?" Abimayu mengucek matanya menghadap sang istri.
"Kita di mana?" tanyanya belum menyadari keadaan mereka.
"Di hotel." Abimayu kembali memeluk tubuh Nayla bagian perut, hal itu membuat Nayla terperanjat. Ada yang aneh, dan benar saja ia tidak memakai benang sehelai pun.
"A-apa? Kenapa ini? Kau melakukan itu kepada ku?!" Perempuan itu refleks bangun, menarik selimut menutupi tubuhnya erat.
"Tidak, bukan aku yang melakukannya. Tapi kamu." Tunjuk Abimayu pada sang istri, lalu memamerkan tubuhnya yang dipenuhi kemerahan sisa ciuman panas. Rahang Nayla hampir saja terjatuh tidak percaya, benarkah dia yang melakukannya?
"Jangan bohong, aku tidak mungkin melakukannya?" Ia menenggelamkan sebagian wajah pada selimut, malu sekali jika itu benar ulahnya.
"Ais, andai saja ada kamera di sini. Kita pasti bisa menonton adegan panas tadi malam, dan tentu saja kau yang paling aktif sayang." Nayla langsung membekap mulut pria itu, sudah jangan dilanjut. Ia sangat malu.
Perempuan itu berusaha mengingat, tapi hanya sampai pada ingatan ketika ia ijin ke toilet setelah meminum minuman dari Cilla. Ah, perempuan itu! Bisanya dia menjebaknya. Nayla jadi marah mengingat hal itu, untung saja ia ditemukan oleh sang suami terlebih dahulu.
Abimayu melihat raut kemarahan pada sang istri, "Sudahlah, tidak usah memikirkan sesuatu yang tidak penting."
"Tapi—"
"Mereka sudah mendapatkan balasannya." Kata Abimayu enteng, Nayla terkesima mendengarkan.
Dan benar saja, dalam waktu semalam perusahaan itu bangkrut. Para investor mencabut saham mereka serentak. Entahlah apa yang sudah Abimayu lakukan. Nayla jadi merasa kasihan pada Andrea karena ulah istri barunya Cilla.
*****
__ADS_1
Pagi itu seperti biasa, Ayu berangkat sekolah diantar oleh supirnya. Beberapa hari terakhir hubungannya juga semakin dekat dengan Nayla membuat gadis itu merasa lebih baik karena memiliki teman cerita. Juga karena keberadaan Nayla membuat gadis itu merasakan banyak kasih sayang berlimpah dari seorang kakak perempuan. Nayla yang memang tidak memiliki saudara semakin mengistimewakan gadis itu.
Melihat Ayu yang turun dari mobilnya Rizky memanggilnya dan segera menghampiri, beberapa hari terakhir setelah pulang dari rumah sakit ia tidak pernah lagi bertemu dengan perempuan itu.
Ayu terus berjalan menghiraukan panggilan Rizky, ia memang berusaha menghindari cowok itu semenjak mengetahui kebenarannya. Dan juga mendengar nasihat kakak ipar, Nayla.
"Ayu, tunggu." Rizky mencekal lengannya. Ayu ingin menepis, namun cekalannya kuat sekali. Ia pun memutuskan bicara baik-baik dengan Rizky.
"Yu."
"Ky."
Keduanya memanggilnya nama bersamaan, sama-sama ingin mengatakan sesuatu.
Rizky sendiri ingin minta maaf dan jujur bahwa dalang dari kejadian dihadang preman adalah kakaknya. Remaja laki-laki itu tidak enak hati dan ingin meminta maaf sebesar-besarnya. Bagaimana pun Ayu pasti merasa terguncang.
"Kamu duluan." Kata Ayu.
"Aku mau kita putus." Ucapan Ayu membuat Rizky terdiam, cukup lama.
"Aku mau fokus belajar, tidak ingin pacaran lagi." Cicit gadis itu meremas dua sisi roknya. Ternyata ungkapan itu tak semudah yang ia kira. Suaranya sampai tercekat di tenggorokan. Bagaimana pun, sudah banyak kenangan yang ia rangkaian bersama Rizky belum lagi cowok itu selalu ada jika ia menghadapi kesulitan.
Dan keputusan ini sudah ia pikirkan secara matang. Karena jika memang berjodoh makan akan kembali di satukan. Jika memang tidak, maka Tuhan telah menyiapkan yang lebih baik lagi.
"T-tapi, kenapa?" Rizky melepaskan pergelangan tangan Ayu.
"Aku mau fokus belajar."
"Bukan. Maksudku, apa aku ada salah? Atau ada sesuatu dari diri ku yang bermasalah? Katakan saja, tapi tolong jangan ambil keputusan sepihak begini." Mata Rizky terlihat memohon. Jika kemarin-kemarin ia yang mengajak Ayu bertengkar, itu semata hanya karena ke bawa perasaan yang diceritakan oleh kakaknya, Maya.
__ADS_1
Tapi sekarang ia sudah dapat menganalisa bahwa kakaknya lah yang memang bersalah, makanya Abimayu memutuskannya. Dan itu juga terbukti dari tindak kejahatannya kemarin.
Ayu menggeleng pelan. Sekarang bukan lagi masalah Maya yang tak suka padanya, tapi ia ingin benar-benar memperbaiki dirinya. Dan entah juga bagaimana perasaannya pada Rizky, karena salah satu hal yang Ayu sadari ia berusaha meraup kasih sayang dari cowok itu.
"Kita berteman dulu ya, Ky. Terima kasih untuk apa yang kamu kasih ke aku selama ini dan maaf selalu merepotkan mu." Ayu pergi meninggalkan Rizky yang tengah termenung.
*****
Kini Abimayu dan Nayla berada di kamar mereka sendiri, kediaman Bhaskara. Nayla yang baru pulang dari hotel langsung menuju kasur empuk kembali berencana untuk tidur. Selain masih mengantuk, juga untuk menghindari interaksinya dengan sang suami.
"Masih sakit ya?" tanya Abimayu melihat cara jalan istrinya menuju ranjang. Wajah Nayla langsung memerah dibuatnya, ia tidak berbalik malah mempercepat langkahnya. Ingin segera menenggelamkan seluruh tubuh dibalik selimut tebal itu.
"Hei, sayang." Panggilan itu semakin lancar saja di bibir Abimayu, hati Nayla jadi degup-degup sendiri dengarnya.
Terasa pergerakan ranjang di samping kanan Nayla, ternyata sang suami menyusulnya. Perempuan itu membuka sedikit selimut, "Mas—" Eh, sejak kapan lagi mulutnya mulai lancar memanggil Abimayu dengan sebutan itu. "Abi nggak berangkat kerja?"
"Kamu kira aku bisa berangkat kerja setelah apa yang kita lakukan semalam sayang." Nayla langsung menutup wajahnya yang kini kembali merona bak kepiting rebus. Ia tidur membelakangi Abimayu.
Abimayu menurunkan selimut yang menutupi wajah sang istri lalu bergabung dengannya, memeluk perempuan itu dari belakang. Nayla membiarkan saja, ia sudah cukup malu.
Kruyuk...
"Ups." Nayla menutup perutnya.
"Kamu masih lapar?" Nayla tak menjawab, di hotel memang ia hanya makan sedikit.
"Kalau begitu aku akan mengambilkan mu makanan." Kata Abimayu langsung saja turun dari ranjang, tidak akan ia biarkan sang istri kepalanya. Nayla ingin menolak tapi sang suami sudah keluar dengan kursi roda.
Ya, Abimayu memang masih menggunakan kursi roda. Ia belum siap memberitahukan kebenaran tersebut pada Nayla. Takut-takut istrinya merasa tersinggung karena tak diberi tahu, ia memutuskan untuk program tahap kesembuhan di mata sang istri.
__ADS_1
*****
Bersambung...