
“Kamu berselingkuh dari ku?” desis Barra dengan kepalan tangan menampilkan buku-buku jarinya. “Jawab Maya!” teriak laki-laki itu yang amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. Maya terlihat menciut, ketakutan.
Perhatian para tamu undangan terpecah, ada yang masih tertuju pada layar, juga pada pertengkaran raja dan ratu acara malam ini.
Bukan hanya Maya yang terlihat mencium dan ketakutan, Cilla juga demikian. Perempuan dengan kesombongan di atas rata-rata itu terlihat menunduk takut di bawah tatapan jijik seseorang.
“Mulai saat ini kita cerai, jangan harap mendapatkan sepersen pun dari harta ku!” kata Andrea dengan rahang terkatung, menahan emosi. Pria itu mengusap wajahnya kasar, berusaha menghilangkan adegan ciuman panas antara Cilla dan Barra yang berakhir di sebuah kamar hotel yang baru saja ia lihat pada layar.
“T-tidak, aku tidak ingin bercerai!” Cilla berlari menyusul Andrea yang telah pergi meninggalkannya.
“Jawab Maya, jangan menunduk!” Barra mengguncang dagu Maya agar menatap matanya.
“Kamu juga melakukan hal yang sama.” Cicit Maya mengingat kelakuan Barra yang tak jauh berbeda dengannya.
Barra melepaskan dagu Maya dengan kasar membuat perempuan itu mundur beberapa langkah.
“Arghhh!” teriak Barra meluapkan segala emosi. Maya seolah lupa kalau Barra melakukan itu adalah atas perintahnya!
“T-tuan.” Panggil asistennya mendekati Barra dengan takut. Suasana pesta itu sudah sangat kacau. Sebagian tamu memilih pergi, sebagian lagi memilih bertahan untuk menonton drama secara langsung di depan mata.
“T-tuan, para dewan direksi dan pemegang saham tengah melakukan rapat. Para investor banyak mencabut saham mereka,” dipastikan posisi Barra akan digulingkan di perusahaannya sendiri. Barra semakin kacau mendengar laporan itu.
“Lepaskan.” Mita menepis tangan suaminya, lalu berteriak tak jelas. Darian tidak menghiraukan, ia menarik istrinya untuk meninggalkan tempat ini. Tidak ingin semakin mempermalukan diri. Sebelumnya ia juga sudah membawa ibunya di tempat yang tertutup.
“Selamat malam, Tuan. Anda dan istri Anda kami tangkap.” Polisi langsung menarik pergelangan tangan Barra dan memborgolnya.
“Ada apa ini?! Lepaskan, aku tidak bersalah.” Barra memberontak.
__ADS_1
“Ck! Pergilah dengan tenang, jangan memberontak.” Barra melayangkan tatapan tajam pada Alex, asisten Abimayu.
“Apa maksud mu baj*ngan! Kalian yang melakukan ini?!” Barra menatap sengit pada Abimayu juga Alex.
“Terima kasih atas bantuan, Anda Tuan.” Polisi berterima kasih pada Abimayu yang membalas dengan anggukan singkat, lalu membawa Barra. Tentu saja telah banyak kejahatan yang dilakukan Barra dan Maya, mereka sangat menyimpannya dengan rapi sampai pihak berwajib tidak mengetahuinya.
Abimayu melaporkannya, memberikan bukti atas insiden kebakaran gudang yang dialami keluarga Arthama. Tidak hanya itu, polisi juga mendapat bukti kejahatan mereka yang di kirim oleh orang-orang Nayla. Mulai dari kasus kecelakaan Abimayu, ayahnya, hingga kasus Ayu yang dihadang preman semua di usut tuntas. Belum lagi kasus lain di mana Barra menjadi salah satu tersangka atas kematian mantan istri dari Andrea.
Maya yang mengetahui polisi mengincar dirinya juga segera melarikan diri, ia menabrak siapa saja yang menghalanginya.
“Kamu tidak berniat melarikan diri ‘kan?” seseorang menahan pergelangan tangan Maya. Perempuan itu berusaha meloloskan diri. Namun, tak bisa. Maya membalikkan badan, melihat siapa yang menahannya.
“N-nay—“ suara Maya tercekat, lalu amarah kembali membuncah dalam dirinya. “Kamu yang melakukan semua ini?!” Nayla mengedikkan bahu.
“Apa yang kamu ingin ‘kan, hah?!” Maya berteriak marah.
Nayla menggeleng, “Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, apa yang kamu inginkan? Menghianati, mencelakai orang-orang terdekat ku, menjebak ku ... semua itu ... kenapa kamu melakukannya?” Nayla bertanya lirih. Menyayangkan segala tindakan yang dilakukan Maya tanpa ia ketahui penyebabnya. Maya terdiam, tatapannya kosong. Hati perempuan itu berkecamuk. Dua orang yang pernah menjalin persahabatan itu saling menyelami pikirannya masing-masing.
Byur!
Hentakan air terdengar, kejadian begitu cepat terjadi. Nayla tak menyadari dirinya yang telah terdorong, jatuh ke kolam yang cukup dalam. Maya menggigit bibirnya, menatap Nayla sejenak lalu berlari.
“T-tolong.” Nayla berteriak lemah, tangannya menjulur ke atas memukul air. Napasnya semakin menipis membuat tubuhnya perlahan tenggelam. Potongan ingatan Nayla kembali tertuju pada kehidupannya yang sebelumnya. Mungkin kah kesempatan kehidupannya telah habis? Nayla semakin tenggelam menuju dasar kolam. Dadanya sesak, sungguh menyakitkan.
Abimayu dengan dada yang membuncah melempar jasnya sembarang arah, menceburkan diri masuk ke kolam. Tak peduli bila nanti ia akan basa kuyup.
“Bertahanlah!”
__ADS_1
*****
Pria paru baya dengan setelan mahal berlari tergesa di tolong rumah sakit. “Bagaimana?” tanyanya dengan raut khawatir.
“Pah,” Widya menyambutnya. Indra menoleh pada sang istri dan kembali bertanya. Ia yang baru saja pulang dari negara asing langsung menuju ke sini ketika mendapat kabar menantu mereka yang masuk rumah sakit.
Rentetan kejadian selalu Widya ceritakan pada sang suami. Bagaimana perilaku mereka yang terlalu mementingkan harta dan jabatan. Sikap mereka yang tidak peduli akan perkembangan anak mereka. Membuat ikatan keluarga tidak terlihat dan terasa asing satu sama lain. Indra sadar, telah membuat banyak kesalahan pada kedua anaknya juga menantunya. Kedatangan Nayla dalam keluarga mereka bahkan tidak mereka sambung dengan baik.
“Dokter sedang menanganinya,” Widya memandang ruang gawat darurat dengan raut cemas. Indra mengusap wajahnya. Ia belum memperlakukan menantunya itu dengan baik, semoga saja dia baik-baik saja.
Setiap detik terasa sangat lama, dan itu sungguh menyiksa bagi Abimayu. Pria itu menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga istrinya dengan baik. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada sang istri.
“Nak, gantilah baju mu terlebih dahulu.” Pinta Nila melihat Abimayu sangat kacau. Sebelumnya Widya dan Alex juga sudah menyarankan hal yang sama, namun di abaikannya.
“Ya, gantilah baju mu. Papa tidak mau Nayla menyalahkan kami karena tidak mengingatkan mu.” Arsyad ikut menimpali, ia juga berada di sana walau baru saja keluar rumah sakit.
Alex menyodorkan baju ganti membuat Abimayu mau tidak mau pergi mengganti bajunya dengan cepat. Sekembalinya, keluarga terlihat mengerubungi dokter yang menangani istrinya.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” Abimayu maju dan menjadi paling terdepan. Dapat dokter lihat raut khawatir dari semua orang.
“Pasien memang sempat kritis, namun sekarang keadaannya sudah stabil. Untung saja pasien cepat dilarikan ke rumah sakit dan segera mendapatkan penanganan. Kalau tidak, saya tidak tahu apa yang akan terjadi, juga dengan bayinya.” Jelas dokter.
Semua orang tampak terkejut, termaksud Abimayu. Untuk beberapa saat, suasana tampak hening. Abimayu memegang dadanya yang berdebar, “B-bayi? Istri saya hamil, Dok?” tanya Abimayu masih tidak percaya.
“Benar. Istri Anda hamil, sudah memasuki usia satu bulan.” Dokter membenarkan, seraya memberi hasil pemeriksaan pada Abimayu.
Abimayu menerimanya dengan tangan bergetar, membaca hasil laporan dengan seksama. Bulir air mata kebahagiaan mengalir di matanya. Untuk pertama kali, laki-laki itu menangis haru. Keluarga dilingkupi kesenangan tak terduga. Kupu-kupu kebahagiaan bertebaran di sekitar mereka.
__ADS_1
*****
Bersambung...