
Di lain tempat.
Terlihat gedung yang menjulang tinggi di dominasi dengan kaca membuat kesan mewah dan megah.
Di lantai 58.
Tampak seorang Pria muda yang sedang mengenakan jas nya. Kulit nya yang tak terlalu putih tampak bersih, dengan jass mahal yang dia gunakan membuat kesan nya yang berkarisma juga bukan orang yang mudah untuk di singgung.
Memasang jam tangan mahal nya di pergelangan tangan sebelah kiri, sambil menatap pantulan diri nya di cermin. Wajah nya yang datar tak tersentuh membuat orang akan segan dan menunduk hormat ketika melihat diri nya, jiwa kepemimpinan nya sangat kuat walau di umur nya yang masih sangat muda.
Tok tok..
Ceklek..
" Tuan muda, ruang rapat sudah di siapkan. Para klien juga sudah menunggu, apa Tuan Muda sudah siap? " Tanya seorang pria paruh baya yang masih tampak gagah muncul di balik pintu.
Pria mudah itu belirik pantulan asisten nya di cermin, mata nya yang tajam dan sedingin Es membuat Pria paruh baya itu menjadi kaku sendiri.
__ADS_1
" Hm " jawab pria itu kemudian berbalik menghampiri pria paruh baya yang dia angkat sebagai asisten pribadi sekaligus sekertaris utama di perusahaan nya.
Ya, pria muda itu adalah Ibnu. Kekasih Nana yang selalu berpenampilan culun ketika di sekolah, tidak ada yang menarik di dalam diri nya, namun setelah tau lebih jauh sosok Ibnu orang orang pasti akan tercengang.
Latar belakang Ibnu tidak lah sesederhana itu, dan bagi orang yang meremeh kan Pria itu, justru dia lah yang sampah. Posisi mereka bahkan sangat tidak sebanding dengan Ibnu.
Dan pria paruh baya yang menjadi asisten pribadi sekaligus Sekertaris utama nya adalah Regan, papa dari Nana.
Ayah dari sang kekasih sendiri, dan itu Ibnu baru tau fakta nya hari ini. Sungguh mengingat fakta itu, Regan hanya bisa menghela nafas dengan kecemasan yang terus berselumut di hati nya.
Melihat punggung tegap Ibnu dari belakang, Regan hanya bisa berdoa dalam hati semoga Ibnu bisa melindungi Putri nya dengan baik.
...
2 jam lama nya.
Kini Ibnu tampak duduk di ruangan nya, dan membolak balik kan kertas. Sesekali tangan nya akan menulis kan sesuatu di kertas kemudian melempar nya di sisi lain meja, dan mengambil kertas lain nya, begitu pula seterus nya.
__ADS_1
Regan yang kebetulan menunggu berkas nya selesai di cek, hanya bisa terdiam menatap Ibnu yang sangat fokus, dan profesional.
Bahkan sejak tadi, pria itu tak menyinggung masalah putri nya sama sekali. Regan jadi ragu untuk menanyakan lebih jauh hubungan putri nya dengan pria itu.
" Emm.. Tuan muda, maaf kan saya.. apa saya boleh membahas hal pribadi beberapa menit? " Tanya Regan ragu ragu.
Ibnu tanpa menoleh dan masih fokus mengangguk kan kepala nya. Masih dengan wajah nya yang datar.
" Emm.. Putri saya mungkin tidak terlalu mengenal Tuan Muda, dan putri saya terkesan terburu buru, mungkin keputusan nya sedikit meragukan " Ucap Regan ragu ragu, hati nya cemas, hingga tangan nya berkeringat.
Ibnu hanya diam tak menjawab, tangan nya terus aktif menyesesaikan pekerjaan nya. Hingga kertas terakhir, Ibnu menghentikan kegiatan nya dan menatap Regan datar.
Seketika suasana tampak dingin, aura tak enak membuat Regan merasa semakin gugup, keringat dingin muncul di kening nya tanpa izin.
Ya tuhan, apa perkataan nya menyinggung pria muda itu?
•••
__ADS_1