
Widya memasuki rumah dengan perasaan jengkel, lagi dan lagi ia kembali dicemooh oleh teman sosialitanya. Dan ia terus saja tidak bisa berkutik untuk menjawab cemoohan mereka.
Perempuan paruh baya itu mengedarkan pandangan, rumah tampak sepi. Widya mendengus tidak terlalu peduli dan melanjutkan langkah menuju kamarnya. Ia harus menyusun strategi untuk mengembalikan citra nama baiknya di kalangan teman sosialitanya.
Terdengar canda tawa di ruang keluarga kediaman Arthama, Nayla tertawa lepas bersama kedua orang tuanya.
Mereka memang berkunjung ke sana setelah pulang kerja, dan itu atas usulan dari Abimayu. Laki-laki itu berusaha mengalihkan pikiran sang istri dari perkataan ibunya soal anak, dan sepertinya berhasil. Wajah murung sang istri kini tergantikan oleh senyuman hangat bak mentari yang meluluhkan hati Abimayu.
"Ah, kamu harus tahu lagi. Nayla itu suka sekali tidak mandi." Wajah Nayla cemberut membuat Arsyad dan Nila sontak tertawa.
"Ahhhh, Papaaa... Nayla udah rajin mandi kok. Dua kali sehari malah." Ia melipat kedua tangannya di dada. "Tanya aja Abi kalau nggak percaya." Ia mengerucutkan bibirnya. Abimayu yang melihat jadi gemas sendiri, dan kedua orang tuanya kembali tertawa.
"Itu benar, kok. Nayla sudah rajin mandi, Pah. Dan di penciuman ku, kamu selalu wangi sayang." Kata Abimayu mengusap rambut Nayla lembut.
"Jadi, making sayang." Nayla berhambur memeluk Abimayu.
Arsyad dan Nila tersenyum melihat anak semata wayang mereka tampak bahagia dengan suaminya. Tidak salah mereka menyerahkan Nayla pada Abimayu, laki-laki itu walaupun memiliki kekurangan, nyatanya mampu membahagiakan sang anak.
"Ah, sosweet banget pasangan baru." Kata Nila terdengar iri. Arsyad terkekeh, lalu meraih wanita yang sangat ia cintai itu ke dalam pelukannya. Dua pasangan beda generasi itu saling menunjukkan keromantisan mereka pada pasangan masing-masing.
"Oh ya, Elis mana?" Nila tidak melihat pengawal anaknya sejak tadi.
"Lagi ada urusan, Mah." Abimayu yang menjawab.
Nayla jadi teringat Elis, entah apa yang terjadi. Nayla bisa melihat kepanikan Elis yang berusaha ia sembunyikan dengan wajah datarnya, ia pun memutuskan agar Alex mengikutinya. Alex sendiri tampak tidak masalah, ia juga khawatir dengan perempuan itu.
Elis menyusuri lorong rumah sakit dengan tergesa, rasa khawatir dan takut menjadi satu. Sudah lama ia tidak merasakan perasaan ini sejak dua tahu yang lalu, tepat di mana Arsyad menolong keluarga mereka. Tepatnya Gisella pada kecelakaan maut itu.
Elis tidak menyadari di sampingnya kini ada Alex, laki-laki itu tidak mengatakan sesuatu pun. Tapi ketika melihat air mata Elis yang mengalir begitu saja, dadanya entah kenapa ikut sesak.
"Di sini." Elis terlihat linglung, Alex pun dengan segera menuntunnya menuju resepsionis.
__ADS_1
"Atas nama Gisella, ada di lantai 2 Mawar nomor 4." Beritahu resepsionis setelah mengecek pasien atas nama Gisella.
Elis bersama Alex segera menuju ke sana dengan menaiki lift, keduanya tampak diam satu sama lain dengan pikiran sama-sama berkecamuk.
Alex dengan pikirannya yang sebentar lagi akan bertemu kembali dengan Gisella, dan Elis yang kembali mengingat momen menyakitkan di mana Gisella masuk rumah sakit setelah kejadian menyakitkan itu.
"Ella!" Elis langsung berlari menuju samping ranjang Gisella. Anak kecil itu terlihat pucat dan lemas. Elis tak tega melihatnya, hatinya terasa teriris.
"Maaf, Nona. Saya tidak menjaga nona kecil dengan baik." Seorang perempuan paru baya menghampiri Elis dengan kepala menunduk merasa sangat bersalah. Akibat kelalaiannya sang nona kecil mengalami kecelakaan. Ia meminta maaf berulang kali pada Elis.
Saat itu mereka tengah bermain di taman, Ella ditinggalkan di kursi untuk menunggu pengasuhnya membelikan es krim untuknya. Ella yang sangat antusias menghampiri pengasuhnya itu di seberang jalan dan terjadilah tragedi kecelakaan itu.
"Bagaimana dengan orang itu?" suara Elis terdengar parau.
"Orang itu juga ada di sini, Nona. Beliau juga dirawat." Elis mengangguk. Dilihatnya lagi Gisella yang terdapat beberapa luka gorengan dengan kepala yang luka, sudah ditangani dokter.
Kecelakaan itu tidak separah dengan dua tahu yang lalu, orang yang menabrak Gisella membanting setir membuat anak kecil itu terserempet. Dan dia sendiri juga berakhir di rumah sakit dengan beberapa luka ringan.
"Sudah, Nona."
Elis menghela napas, kini tinggal Gisella yang belum sadar. Ia berharap gadis kecilnya segera membuka mata menampilkan manik jernihnya yang indah.
Alex kini sedikit memahami apa yang terjadi, ia merasa kasihan sekaligus bersalah pada gadis kecil itu. Pertemuan mereka sebelumnya tidak berjalan dengan baik karena ulahnya. Setelah perkenalkan itu, Alex langsung saja meminta ijin untuk pulang. Saat itu terlihat Gisella menatapnya dengan sendu, mungkin karena tak rela ia yang langsung memutuskan pulang.
"Ella." Panggil Elis. Gadis kecil itu perlahan membuka mata dan menyesuaikan cahaya dengan penglihatannya.
"Ta-tante E-elis." Suaranya terdengar lirih, namun sangat jelas terdengar oleh Elis maupun Alex.
Deg...
Deg...
__ADS_1
Dada dua orang itu bergemuruh dengan asumsi masing-masing.
"Kalian dari mana saja?!" Widya langsung memberondong Abimayu dan Nayla dengan pertanyaan, tak kala melihat dua orang itu memasuki rumah.
Mereka memang baru saja pulang diantar oleh supir keluarga Arthama, Alex masih di rumah sakit bersama Elis. Nayla juga sudah mendapatkan kabar dari Elis tentang Gisella yang baru saja kecelakaan. Sebenarnya ia ingin pergi menjenguk. Namun, karena sudah hampir malam ia pun memutuskan menjenguknya besok saja. Dan sekarang hanya bisa berdoa agar gadis kecil yang manis itu segera sembuh.
"Mama, please. Jangan membuat keributan, kami baru saja pulang." Abimayu memberikan kode agar istrinya langsung mendorong kursi rodanya menuju kamar mereka.
"Apa maksud kamu Abi, mama hanya bertanya." Suara Widya naik satu oktaf.
"Suara Mama kaya ngajak ribut." Gumam laki-laki itu. Namun, masih bisa didengar oleh Widya.
Perempuan dengan pakaian bermerek itu sebenarnya ingin membalas, tapi diurungkan karena tidak ingin mengundang keributan. Ia menghela napas dalam untuk meredakan emosinya.
"Kaki kamu bagaimana?" tanyanya dengan lembut.
Abimayu dan Nayla sontak berhenti. Ini untuk pertama kalinya dalam sejarah, Widya mau menanyakan keadaan Abimayu. Pria dewasa itu membalikkan kursi rodanya menatap sang ibu.
"Kenapa? Apa Mama baru merasa peduli pada ku?" tentu saja Abimayu menangkap maksud dari pertanyaan ibunya itu.
Nayla sebenarnya ingin menegur sang suami karena ibu mertua menayangkan dengan baik-bak. Tapi ia tidak bisa ikut campur masalah ibu dan anak ini.
"T-tentu saja mama peduli, apa maksud kamu." Perempuan paruh baya itu sedikit kikuk. "Dan karena itu kamu harus cepat sembuh." Perasaan Abimayu jadi sedikit menghangat, ia jadi merasa bersalah atas dugaannya barusan. Tapi itu hanya sejenak saja, perasaannya kembali dipermainkan oleh sang ibu karena ucapanny menyakitkannya...
"Mama malu karena teman-teman mama selalu mengejek memiliki anak yang cacat, belum lagi istrimu yang belum ham—"
"Mah, Cukup." Tangan Abimayu mengerat di ganggang kursi roda, Nayla menutup mulutnya tidak percaya ucapan itu bisa keluar dari mulut ibu mertuanya.
"Sudah ku duga, Mama tidak tulus peduli pada kami. Hanya mementingkan pandangan dan penilaian orang saja." Ujar laki-laki itu berlalu bersama sang istri meninggal Widya dengan perasaan dongkolnya.
*****
__ADS_1
Bersambung...