Sang Antagonis

Sang Antagonis
Sekarang ada dua


__ADS_3

Kehadiran Ben, membangkitkan semangat Rachel setelah sebelumnya melemah. Putra pertama Henry dan Margareth Taylor berhasil membuatnya terpesona. Untuk pertama kali sejak menapak kaki di Atlanta, Rachel Merrin tak alergi pria ganteng lagi.


"Kamu membuatku penasaran, Ben. Aku tak menyangka kamu mencuri kecurigaanku tentang Amara lebih awal."


Ben mengangkat sebelah alisnya. "Andai aku tak melihat kejanggalan depan mata, mungkin aku sendiri akan menyangkal tudinganmu pada Amara."


"Sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu meragukan status Amara?"


"Dia menyukaiku bukan dalam artian sebagai saudara, melainkan antara wanita dan pria."


Rachel nyaris terpental dari sofa. Tatapannya menelusuri garis wajah Ben. Mengamati seksama dua alis tebal yang menaungi sepasang mata tajam yang indah, dia memiliki garis rahang tegas yang menyiratkan maskulinitas kuat.


Tubuh Ben tinggi dan tegap dengan kulit kemerahan. Rambut pirangnya sedikit acak, tetapi justru terlihat seksi. Melengkapi itu semua, Ben adalah putra kesayangan Henry Taylor, pewaris perusahaan keluarga.


Dia sempurna! Sukar memalingkan wajah dari pesona Ben.


Oke, aku harus menarik napas sekarang. Ben memang tampan. Sekarang fokus Rachel, fokus.


"Kapan kamu mengetahui hal ini, Ben?"


Mata Ben menerawang. "Saat aku sudah bekerja dan Amara baru masuk kuliah. Dia kerap kali cemburu pada pacarku atau wanita yang sedang berkencan denganku. Awal mula dari semua itu, saat prom night, Amara memintaku menjadi partnernya dan tahu apa yang terjadi?"


"Apa?" Telinga Rachel seakan membesar dua kali lipat dari seharusnya.


"Dia menciumku tiba-tiba dan mengatakan menyukaiku."


"Hah," seru Rachel kaget tak menyangka keagresifan Amara dan lebih dari itu. "Bearti Amara sudah lama tahu dia bukan putri kandung Gustevano. Terbukti dia jatuh cinta dengan sepupu sendiri."


Ben mengangguk kecil. "Aku mengira saat itu karena dia sedang mabuk. Okelah, aku berhasil menghindar ciuman Amara dan mengabaikan ungkapan cintanya, tapi, selanjutnya laporan wanita yang kencan denganku tentang Intimidasi Amara serta pacar terakhirku yang mengatakan, saat ia mengalami kecelakaan mobil, sebelumnya melihat Amara berada di sekitar kendaraannya. Aku curiga, tapi tak punya bukti kuat."


"Apakah kamu punya ide memastikan kebenaran prasangka kita? Saksiku lenyap begitu saja, Raymond, detektif bayaranku mengatakan ada informasi yang ditemukan, tapi ia akan menyampaikan nanti ketika kami bertemu."


"Tunggu dulu, jelaskan padaku tentang penyelidikanmu."


Rachel mendekat ke arah Ben, duduk di samping putra pertama keluarga Taylor. Jantungnya kebat-kebit tatkala mencium aroma parfum khas dari Ben. Sekuat tenaga ia memusatkan perhatian, pada pria tampan yang menarik ini.


"Semua berawal saat aku bertemu dengan perempuan yang sangat mirip Bibi Sarah. Seharusnya itu tak menjadi persoalan besar, karena bisa saja hanya wajah serupa, suatu kebetulan yang dapat terjadi. Namun, aku merasa terganggu dan instingku mengarahkan untuk melakukan penyelidikan tentang gadis bernama Arlenne."

__ADS_1


Rachel menceritakan pertemuan dengan Arlenne, kegagalan yang terjadi dan kemungkinan besar ada yang mengetahui dan menghalangi rencananya. Dia tidak melewati semuanya karena Ben kelihatan menahan geram. Pria itu terlihat bisa dipercaya.


Sebenarnya, aku melakukannya agar bisa kembali ke tubuhku jika berhasil melanjutkan misi gagal Rachel Taylor.


"Arlenne namanya ... Oke, bearti kita mesti menemui wanita ini dan juga paman Gustevano."


Rachel menghela napas berat. "Paman Gustevano tak sudi bertemu denganku. Dia masih sakit hati karena masalah Justin yang lalu."


"Aku dan Dad yang akan menemui paman."


"Dad? Kamu akan mengatakan padanya."


"Opsi terakhir jika paman masih bersikeras menolak kebenaran."


Yes! Sedikit lagi langkahku berhasil.


"Ben, aku benar-benar berterima kasih padamu."


Pria itu merangkul adiknya dan mengacak rambut Rachel. "Kamu sangat formal hari ini dan aku kesal."


Rachel hanya bisa tertawa, menutupi kebingungan interaksi antaranya dan Ben. Dia tidak tahu sikap Antagonis payah itu dengan kakaknya.


Suara deham pura-pura mengalihkan perhatian kakak dan adik. Pandangan mereka mengarah ke sumber suara. Ada Justin dan Anna berdiri di belakangnya dengan menunjuk-nunjuk. Memberi kode Justin memaksa masuk.


"Suamimu datang, Rachel," ucap Ben tak suka. Ia melakukan secara terang-terangan, tanpa peduli bakal terdengar Justin.


Rachel mengerti akan sikap Ben, karena pria itu tahu Amara sebenarnya berpura-pura menyukai Justin. Dialah yang sebetulnya mengacaukan hidup sang adik. Namun, dengan pandainya Amara memutar balik fakta seolah Rachel Taylor yang brengsek.


"Kapan kamu datang, Ben?" tanya Justin duduk merapat di samping Rachel. Mengabaikan wajah jengkel istrinya.


Ben tak menjawab pertanyaan Justin, seraya melepaskan rangkulan pada Rachel. Dia berkata dengan nada menyindir. "Aku akan pulang, Rachel, dan jika ada masalah terjadi di sini. Lapor saja, aku akan menghajar siapapun yang mengganggumu."


"Siap!" seru Rachel melirik ke arah wajah kecut Justin. Ia beranjak dari sofa mengantar Ben ke pintu lift pribadi.


"Aku akan menghubungimu nanti, Rachel."


"Jangan lama-lama ya, Ben."

__ADS_1


"Pasti."


Rachel berdiri melihat Ben memasuki lift dan baru bergerak ketika kakaknya sudah tak terlihat. Dia nyaris menubruk Justin yang menghadang di belakang.


"Kenapa kamu pulang ke sini?" tanya ketus Rachel. Dia tak suka pengganggu.


"Aku akan tinggal di sini sampai kamu lahiran nanti."


Rachel membulatkan mata melihat ke arah Justin. Rasa kesalnya menumpuk karena selama ini, suaminya adalah penghalang yang mengesalkan.


"Kamu harus menjauh dari hidupku, Justin."


"Tidak, Rachel," ucap Justin tegas. Dia kembali berkata sebelum kalimat protes Rachel keluar. "Aku percaya padamu sekarang tentang Amara."


Kalimat Justin mengunci mulut Rachel. Terpana karena Berhari-hari terlewati, akhirnya Justin mengatakan kalimat yang tak disangka akan keluar dari dirinya.


"Aku harus menjadwalkan pergi ke dokter THT. Pendengaranku sedang bermasalah," kata Rachel skeptis, sukar percaya Justin bisa berubah begitu saja.


"Rachel, dengar aku dulu. Aku menyelidiki Arlenne dan mendapat informasi, seorang saksi melihatnya bersama Amara di bandara Desa Muryen, tetapi dia mengatakan saat di bandara Atlanta. Arlenne melarikan diri dari Amara. Sumber itu mengatakan Arlenne kelihatan ketakutan."


"Benarkah? Mengapa gadis itu tak menemui petugas keamanan bandara?"


"Saksinya tidak mengetahui hal itu, Rachel. Dia hanya melihat dan sedang terburu-buru karena urusan pribadi."


Rachel berdecak kesal karena kurangnya kepedulian manusia terhadap manusia lain. Kondisi seperti ini terabaikan.


"Rachel," panggil Justin lagi. "Aku menemui Amara dan dia mengatakan kebohongan yang membuatku curiga. Dia terus-menerus menanyakan keberadaanmu. Sungguh aneh, karena kepala pelayan mengatakan Amara kerap ke rumah hanya memastikan kamu ada di sana atau tidak."


"Dia pasti curiga aku sedang menyelidikinya," kata Rachel dengan nada tinggi. Bibirnya menipis menyiratkan kemarahan karena langkahnya untuk bertemu Arlenne terlambat. Amara lebih dulu datang ke sana.


Justin menatap Rachel, pelan dia berkata. "Aku akan membantumu."


"Aku tak perlu bantuanmu. Ini urusan keluarga Taylor. Ben akan bergerak untuk membantuku."


"Dan, aku, suamimu. Aku akan bergerak untuk mencari keberadaan Arlenne."


Rachel terdiam saat Justin melangkah ke pintu lift. Dia menekan panel dan masuk ke dalamnya. Sama seperti Ben, pria itu meninggalkan dirinya dan berjanji untuk membantu.

__ADS_1


Wow, apakah ini serius?


Berarti aku sekarang punya dua sekutu. Rachel bersorak senang dalam hati. Dia segera menghampiri Anna. Tak disangka sekarang dia punya dua orang yang akan membantu untuk menyelesaikan urusan tertunda Rachel Taylor.


__ADS_2