
Abimayu memarkirkan mobilnya di sebuah rumah sakit. Setelah dari pantai ia dan sang istri memutuskan untuk menjenguk Gisella, keponakan Elis. Sore nanti gadis manis itu sudah diperbolehkan pulang.
Nayla melepaskan seatbeltnya, keluar dari mobil. Sebelum itu ia meraih beberapa paper bag makanan yang mereka beli dari restoran. Nayla dan Abimayu menyempatkan waktu untuk makan siang, dan membelikan makanan untuk Ella dan yang lain.
“Biar aku saja, Sayang.” Abimayu mengambil semua paper bag dari tangan sang istri agar berpindah ditangannya.
Nayla memberikan dengan senang hati, “Makasih, Sayang.” Suaminya ini memang pengertian.
“Uncle Alex cukup ... aduh, geliii. Iya, iya, Ella minta maaf.” Terdengar tawa membahana di ruang rawat Gisella. Tawanya membuat Nayla ikut tersenyum, belum masuk saja gadis kecil itu sudah membuat hati Nayla tampak hangat.
“Wah, wah, sepertinya Tuan Putri Ella sudah embuh, nih.” Atensi mereka yang ada di kamar itu berpindah pada pintu yang terdengar dibuka.
“Kak Nayla.” Ella sangat girang melihat perempuan cantik itu, bahkan ia sudah ingin turun dari ranjangnya jika saja Elis tak menahan. Dua perempuan berbeda generasi ini memang tampak cukup dekat, tepatnya setelah Nayla meneleponnya saat itu untuk kembali menjadi pengawalnya. Keduanya memang jarang bertemu, tapi karena banyak kesamaan dari keduanya membuat mereka sangat dekat jika bertemu.
“Kak Nayla.” Beo Abimayu dan Alex bersamaan, pasalnya Alex saja di panggil dengan sebutan paman dan Elis dengan sebutan bibi.
Nayla mengibaskan rambutnya, pamer akan panggilan itu pada dua pria yang tengah melongo. Ella terlihat cekikikan melihat aksi Nayla, ia ikut mengibaskan rambutnya. Elis hanya bisa menggeleng. Ella kembali pada prinsipnya, bahwa Nayla adalah panutan!
“Kak Nayla kangen,” Ella membuka lebar tangannya, meminta peluk.
“Gadis imutnya kakak, kakak juga kangen.” Nayla balas memeluk gadis kecil itu, lalu menghujani nya dengan ciuman. Abimayu menatapnya iri, ia juga mau diperlakukan seperti itu.
“Udah, Kak. Geliii ....” Ella kembali tertawa kegelian, setelan Alex menggelitik perutnya, kini Nayla yang menciumnya bertubi-tubi. Abimayu menatap horor. Gawat. Gadis ini berpotensi mengambil perhatian sang istri. Tidak bisa dibiarkan.
“Aduh, apaan sih.” Seseorang menarik ujung baju Nayla, dan pelakunya tentu saja Abimayu. Alex ingin tertawa meledek, tapi takut dipecat. Sedangkan Elis memutar jengah bola matanya. Alex dan Elis tentu tahu laki-laki itu cemburu pada gadis kecil, Ella.
Nayla mengangkat satu alis, menayangkan tindakan sang suami yang sudah mengganggu acara melepas rindu mereka.
“Ini makanannya,” Abimayu menunjukkan paper bag yang ia bawa.
“Oh iya, kakak bawa makanan untuk Ella.” Nayla menunjukkan makanan yang tentunya aman untuk gadis kecil itu makan. Ia juga menyodorkan makanan pada Alex dan Elis, makanan itu berbeda dengan makanan yang Nayla berikan pada Ella.
“Asiikk ... makasih, Kak.”
__ADS_1
Alex dan Elis ikut mengucapkan terima kasih, kebetulan sekali mereka belum makan siang. Ella dari tadi hanya makan buah saya, karena tidak suka dengan makanan rumah sakit.
Sekarang gadis itu memakan makanannya dengan lahap disuapi oleh Nayla, Abimayu semakin cemburu. Wajahnya amat masam.
Alex berpindah pada sofa, diikuti Elis. Mereka memakan makanannya di sana. Elis sesekali tampak tersenyum melihat keponakannya yang kini kembali ceria. Ia amat bersyukur akan kehadiran orang-orang baik di sekitarnya.
Alex mengusap kepala Elis, membuat perempuan itu menoleh. “Kamu tambah cantik kalau senyum gini.” Katanya tanpa malu-malu.
Wajah Elis berubah datar, sedatar-datarnya. Tapi, semburan merah memenuhi kedua pipinya tidak bisa disembunyikan. Alex terkekeh, untung saja tidak ada makanan yang sedang ia kunyah. Tiga orang lainnya menatap bingung.
“Sepertinya uncle Alex kesurupan.” Ujar Ella dengan suara polosnya.
*****
Rizki memicingkan mata, melihat seseorang yang duduk di kursi rotan samping kamar kosnya. Pria muda itu baru saja pulang dari pekerjaannya.
“Siapa yang bertamu?” tanyanya, karena baru kali ini ada orang yang bertamu di kaosnya. Lagi pula tidak ada yang tahu tempat tinggalnya sekarang kecuali ...
“Ayu, kok kamu di sini.” Hanya gadis itulah yang ia beritahu tempat tinggalnya sekarang. Ayu yang tengah duduk memeluk lutut dengan kepala menunduk segera mendongak mendengar suara yang ia kenali.
“Aku nggak papa, kok.” Potong Rizki tidak ingin memperpanjang, lagi pula ia tidak ingin membuat gadis yang kini berstatus sebagai temannya itu merasa bersalah. Lagi pula ia sudah melupakannya. Ayu terlihat menunduk, memilin jari-jarinya.
“Sekarang ayo aku antar kamu pulang, orang-orang rumah pasti akan khawatir kamu tidak pulang jam segini.” Benar, sekarang sudah jam 7 malam.
“Tapi—“ Ayu ingin menyela.
“Tunggu, aku ambil dulu jaket buat kamu.” Rizky membuka pintu kosnya, lalu mengambil salah satu jaketnya yang bersih di dalam lemari. Pintu itu kembali dikunci, Rizki memberikan jaket hitamnya pada Ayu. Tanpa kata, Ayu mengenakannya dan berjalan mengikuti Rizky menuju motornya.
Tak berapa lama, motor yang mereka kendarai berhenti tepat di pagar besi mansion keluarga Bhaskara.
“Aku antar sampai sini, ya.” Kata Rizki terdengar tidak enak, karena biasanya dulu ia akan selalu mengantar Ayu hingga ke dalam.
“Iya, nggak papa. Makasih, ya.” Ayu mengembalikan jaket Rizky. Setelah gadis itu masuk, baru Rizki menjalankan motornya.
__ADS_1
“Aku pulang.” Beritahu Ayu berjalan memasuki rumah. Orang-orang tampak menikmati makan malam mereka.
Mendengar suara sang anak, Widya segera bangkit dari duduknya. “Ayu, sini kamu.” Katanya terdengar membentak sang anak. Rupanya kejadian tadi menjelang siang, masih ingin Widya usut.
“Ayu!”
Anaknya itu tidak mendengarkan, langsung berlari menuju kamarnya. Padahal rencananya ingin makan, perutnya lapar tidak terisi apa pun sejak siang tadi. Tepi melihat keberadaan sang ibu, ia pun mengurungkan niat untuk makan.
Nayla dan Abimayu saling menoleh, sepertinya telah terjadi sesuatu antara keduanya. Dan yang pasti ibunya yang menjadi akar pemicu itu semua. Yakin Abimayu.
“Bi, tolong siapkan makanan.” Rencananya ia akan membawakan makanan untuk sang adik.
Dan di sinilah dia, mengetuk pintu kamar Ayu. “Dek buka, kakak bawa makanan. Enak ini, makanan kesuksesan kamu.” Kata Abimayu membuat Ayu di dalam sana meneguk salivanya susah.
“Kalau kamu nggak buka, kakak bawa kem—“ belum selesai ucapan Abimayu, pintu itu sudah dibuka oleh sang empunya.
“Eit, kakak boleh masuk ‘kan.” Ayu ingin mengambil makanannya dan kembali menutup pintu. Tapi sang kakak tidak membiarkan. Gadis itu jadi menghela napas pasrah. Sepertinya ia harus menyampirkan egonya demi perutnya.
Abimayu menyimpan makanan di meja, lalu menduduki dirinya di sofa kamar sang adik. Ayu berjalan memberengut menghampiri makanannya. Ia terlihat ogah-ogahan untuk makan, padahal ingin segera menelan makanan itu.
“Kenapa?” tanya Abimayu setelah sang adik menghabiskan makanan. Wajah Ayu terlihat berseri-seri, tidak lemas seperti tadi.
Tanpa bertanya dua kali, Ayu menjawab pertanyaan sang kakak. Bahkan jawabannya kelewat panjang.
“Aku nggak abis pikir, mulut mama itu lemes sekali kalau pasal hina menghina. Semua selalu saja di ukur dari tampilan lah, kekayaan lah, dari keluarga mana lah, levelnya setara lah.” Nada Ayu menggebu-gebu, dengan mimik wajah yang berubah setiap detiknya berusaha mencontohkan ekspresi ibunya tadi.
“Pokoknya mama udah keterlaluan sama teman aku.” Gadis itu membekap tangannya di dada. Abimayu terlihat mangut-mangut. “Mama juga kenapa sih, kenapa nggak kaya dulu aja, kenapa harus sok peduli seperti sekarang ini!” gadis itu menyuarakan semua unek-uneknya pada sang kakak.
“Tindakan mama memang tidak dibenarkan, tapi ... ada benarnya juga kalau kamu itu harus memilih teman.” Ayu terlihat sangsi jika kakaknya menilai orang atas dasar kasta dan ke kekayaan. “Maksud kakak, kamu harus memilih teman-teman yang baik. Teman yang tulus, tidak ada maksud terselubung dalam pertemanan kalian. Jika kamu tahu mereka ada maksud tertentu, segera jauhi saja.” Tegas Abimayu, sang adik mengangguk mengerti.
“Satu lagi, bagaimana pun mama. Beliau tetap ibu kita juga.” Keduanya tidak akan pernah bisa menampik kebenaran tersebut, bagaimanapun Widya dan Indra tetaplah orang tua mereka.
Tanpa mereka berdua sadari, ada sosok yang ikut mendengarkan pembicaraan keduanya. Orang itu menutup mulut dengan mata berkaca-kaca, lalu meninggalkan pintu kamar itu tanpa ingin masuk.
__ADS_1
*****
Bersambung...