
Semua mata tercengang, benarkah apa yang mereka lihat saat ini. Bahkan ada beberapa dari mereka yang mengucek mata karena takut salah lihat.
“Tuan Abimayu sudah sembuh,” gumam mereka berbisik-bisik.
Saat ini Abimayu berjalan dengan gagahnya memasuki kantor pusat keluarga Bhaskara, tidak ada lagi kursi roda yang didorong oleh asisten Alex. Orang yang tak kalah berpengaruh itu juga berjalan dengan gagahnya di belakang sang CEO Bhaskara Group.
Menghentikan keterkejutan, mereka beramai-ramai mengucap selamat atas kesembuhan Abimayu.
Banyak yang terlihat haru, senang, ada juga yang terlihat sebaliknya. Bahkan ada yang ketar-ketir akan kesembuhan Abimayu ini. Pasalnya mereka pernah berencana menggulingkan Abimayu dari jabatannya.
“Selamat atas kesembuhan Anda, Tuan Abimayu.” Seorang pria membungkuk pada Abimayu mengucapkan selamat.
“Hm,” jawab Abimayu singkat, tanpa ingin berbasa-basi pada pria paruh baya itu. Orang itu memberanikan diri menatap Abimayu, tapi langsung ciut tak kala berhadapan dengan tatapan tajam penuh intimidasi dari sang atasan.
Pria tua itu meneguk salivanya susah, semoga saja kejahatannya tidak tercium oleh CEO yang tidak lagi lumpuh ini.
Abimayu menaiki lift khusus bersama sang asisten Alex. “Beritahu mereka kita mengadakan rapat, tikus-tikus ini ternyata juga suka menjilat!” Abimayu terlihat jijik melihat senyum palsu di wajah mereka. Sudah cukup mereka menikmati waktu bermainnya selama ini, saatnya untuk memberantas mereka semua.
“Baik, Tuan.” Angguk Alex mengerti, laki-laki itu juga terlihat tidak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi nanti. Menurutnya, sang tuan sudah cukup baik menampung mereka semua selama ini.
Setelah beberapa saat perintah Abimayu dilaksanakan, berbagai staf dari beberapa tingkatan berkumpul di salah satu ruangan besar khusus dilakukan agenda rapat tahunan perusahaan Bhaskara Group.
Tapi yang membingungkan adalah rapat itu sudah dilakukan beberapa bulan yang lalu, jadi untuk apa lagi rapat ini dilakukan. Mulai dari staf pimpinan paling atas, menengah, hingga ke bawah semuanya dikumpulkan. Tentu beberapa dari mereka bertanya-tanya. Mereka berusaha menduga akan apa yang dibahas. Lain halnya dengan beberapa orang, wajah mereka kini memucat.
Abimayu masuk ke dalam ruang rapat, seketika suasana menjadi hening, mulut mereka rapat bak ditempeli lem perekat. Satu kata dalam benak mereka, suasana ini begitu ‘mencekam’.
Abimayu duduk di kursi kebesarannya, melirik beberapa orang yang terlihat berkeringat. Rapat baru saja dibuka, mereka sudah terlihat ketar-ketir.
“Berikan laporan terkait perencanaan perusahaan.” Perintah Abimayu. Yang bertanggung jawab pada bagian tersebut mengangguk, memberikan laporan pada sang atasan.
__ADS_1
Abimayu memberikan beberapa pertanyaan dan di jawab dengan baik oleh lawan bicaranya. Pria itu mengangguk, sebenarnya laporan terkait perencanaan memang tidak bermalas, ia hanya ingin memberikan waktu pada tikus-tikus itu saja.
“Laporan anggaran perusahaan!” minta Abimayu setelah mengecek laporan lainnya. Orang yang bertugas pada bagian itu meneguk salivanya susah, Abimayu menyunggingkan senyum sinis melihat pria paru baya yang sempat menyapanya beberapa waktu lalu.
“Anda terlihat tidak baik-baik saja, Pak Hendri.” Sapa Abimayu basa basi pada pria paru baya direktur keuangannya.
“Ha hah, saya memang sedikit kelelahan, Tuan.” Balas pria itu kaku.
“Kalau begitu saya akan ajukan cuti untuk ada.” Cuti untuk selama-lamanya! Lanjutnya dalam hati.
“Terima kasih, Tuan. Anda baik sekali.” Pak Hendri tidak menangkap maksud atasannya itu, dalam hati ia malah tertawa girang, ternyata Abimayu masih saja bodoh. Kalau begini pekerjaannya akan semakin menyenangkan.
Orang itu duduk damai dengan senyum tersungging di bibirnya, Abimayu dan Alex saling menukar pandang dan tersenyum menggelikan.
Abimayu mengecek anggaran perusahaan, sudah ia duga ini terjadi. Untuk lebih memastikan, ia menerima table yang disodorkan oleh Alex. Tabel itu berisi akan laporan yang sama. Namun, dikerjakan oleh Alex sendiri. Abimayu sudah curiga, ia pun meminta sang asisten untuk menyelidikinya. Hasilnya, terjadi penggelapan dana secara besar-besarnya.
Brak! Baru saja merasa damai, jantung mereka kini dibuat loncat.
“Benarkah, Anda tidak tahu apa yang terjadi?” tanya Abimayu dengan bibir menyungging miring.
“Saya adalah orang kepercayaan orang tua Anda, Tuan. Tidak mungkin saya melakukan kesalahan, apalagi kecurangan.” Bela Hendri, disambut tawa mengerikan Abimayu. Semua orang yang ada di dalam sana menunduk dengan keringat dingin, bahkan mereka yang tidak melakukan kesalahan ikut menahan napas, saking tegangnya.
“Aku tidak menanyakan kau orang kepercayaan orang tuaku, Hendri!” tidak ada lagi embel-embel ‘pak’ untuk menghormati pria tua itu.
“Saya tidak mengerti apa yang ada maksud, Tuan.” Kilah Hendri, berusaha terus menyangkal. Tanpa diminta, Alex memaparkan laporan Hendri dan menampilkan laporan hasil yang ia selidiki pada layar beras ruang rapat. Kini para staf dapat melihat dan menilai secara langsung mana yang benar dan mana yang salah.
“Masih ingin menyangkal,” wajah Hendri pias, begitu juga dengan antek-anteknya. Berbagai tatapan mencemooh dilayangkan orang-orang pada Hendri yang sudah mengkhianati perusahaan.
“S-saya—“ belum selesai pembelaannya, polisi kini masuk dan meringkus pria itu. “Tuan, saya mohon maaf. Jangan masukan saya ke dalam penjara. Saya mengakui semua kesalahan saya, Tuan.” Hendri memberontak, terlihat Abimayu menggeleng. Tidak ada kesempatan untuk para penghianat!
__ADS_1
Tidak ingin menjalani hukuman seorang diri, Hendri menatap teman-temannya yang ikut terlibat. Orang-orang itu langsung menunduk dalam, harap-harap cemas Hendri tidak membongkar rahasia mereka.
“Saya tidak sendiri, Tuan ....” Akui Hendri, membuat Abimayu menyunggingkan senyumnya lagi. Memang itulah yang ia inginkan. Hendri membongkar sendiri orang yang sudah membantunya.
Pria itu mulai menyebutkan satu persatu rekannya yang berusaha menyangkal. “ Tangkap mereka semua.” Perintah Abimayu dan langsung dilaksanakan oleh pihak yang berwajib.
“Tuan, kami tidak bersalah. Tolong lepaskan kami.” Mohon mereka.
“Cih, semua bukti bahkan sudah diberikan pada pihak polisi. Tidak ada gunanya lagi kalian menyangkal.” Alex yang menjawab.
“Masukkan nama mereka semua ke daftar hitam!” hancur sudah masa depan mereka. Mulai menyesali akan tindakan bodohnya yang tertarik akan tawaran Hendri untuk melakukan korupsi. Orang-orang itu mulai memaki Hendri dalam hati mereka.
*****
Nayla terlihat menikmati camilan dan jus stroberi di balkon kamar, ponselnya berdering membuat perempuan cantik itu mengalihkan fokusnya dari taman belakang ke benda pipih itu.
“Mama? Tumben,” Nayla pun segera mengangkat panggilan itu. “Ya, Mah.”
“Na-nay, papa—“ suara sang ibu terdengar putus-putus.
Wajah perempuan cantik itu terlihat khawatir, perasaannya tiba-tiba saja tidak enak. “Papa kenapa, Mah?”
“Papa masuk rumah sakit ... papa pingsan—“ panggilan berakhir, terputus begitu saja.
“Pingsan kenapa? Mah? Mah ....” Tidak ada jawaban, Nayla segera bangkit, mengambil tas dan kunci mobilnya. Bersamaan dengan itu, Elis membuka pintu. Wajahnya tak kalah khawatir dengan Nayla. Bagaimanapun Arsyad adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Lagi pula mereka sudah menganggapnya sebagai keluarga, bagian dari mereka.
“Tuan Arsyad masuk ke rumah saki—“
“Antar aku ke sana, Elis.” Potong Nayla, matanya sudah dibanjiri oleh air mata.
__ADS_1
*****
Bersambung...