
Nana melangkahkan kaki nya di lantai mar mar yang tampak cantik, dan mengkilat, dekorasi yang dominan warna emas membuat kesan mewah dan megah.
Nana menatap punggung Ibnu, pria yang Nana tau adalah si cupu miskin, hari ini Nana tau sebuah fakta yang sangat mengejutkan. Kini Nana yakin, Ibnu bukan lah pria culun sesuai dengan gaya nya setiap berangkat sekolah.
" Bi, mama sudah pulang? " Tanya Ibnu kepada maid yang menyapa mereka tadi.
" Belum Tuan, ada yang perlu saya bantu? " Tanya maid itu tersenyum manis kearah Nana yang saat ini hanya diam dengan wajah kaku.
" Buat kan minum, antar ke kamar ku saja bi " Ucap Ibnu melirik Nana yang masih terdiam kaku.
" Baik Tuan muda " Ucap Maid menunduk hormat kemudian berjalan menuju dapur.
Ibnu menatap Nana yang tampak kaku dengan wajah binggung, " Nana.. " Panggil Ibnu mengembalikan kesadaran Nana.
__ADS_1
" Eh, Ah ohh.. Ya? " Tanya Nana salah tingkah, rasa tidak enak tiba tiba hadir begitu saja, Nana merasa insecure untuk masuk lebih dalam. Jiwa miskin nya meronya ronta melibat semua kemewahan yang ada di depan mata nya.
" Nana, kamu gak papa? " Tanya Ibnu berjalan mendekat kearah Nana yang tampak kaku seperti orang bodoh.
Spontan Nana mundur saat Ibnu ingin menyentuh baju nya. Entah kenapa Nana merasa tidak pantas berteman atau bahkan mengenal Ibnu, saat mengetahui kenyataan yang mencengangkan ini.
" Emm.. Ibnu, maaf.. Gw pulang dulu ya, gw kek nya ada janji deh sama temen gw, hehe.. Gak papa kan? " Ucap Nana dengan senyum yang di paksa kan.
Pilihan nya tak salah, di sisi lain para wanita mengejar harta, namun Nana malah menjauh dari itu semua. Sangat jelas di mata gadis itu yang ingin segera pergi dari mansion nya, walau sebenar nya tidak ada janji apa pun dengan teman gadis itu.
Ibnu tersenyum, " Jam berapa janjian nya Nana? " Tanya Ibnu menatap mata cantik Nana yang saat ini bergerak gelisah.
" I' itu, emm.. Jam 5, ah ya jam 5. Jadi gw harus pulang cepet cepet, tau lah ya kalo cewek dandan tu lama banget " Ucap Nana dengan alasan juga senyum di paksakan.
__ADS_1
Ibnu melirik jam di tangan nya, " Masih jam 3 Nana, yakin gak mau masuk dulu? Kan masih ada waktu banyak " Tanya Ibnu melumpuh kan semua alasan Nana yang tampak buntu sekarang.
Nana menggerak gerak kan mulut nya ingin mencari alasan lagi, namun tak ketemu, akhir nya Nana terkekeh canggung, menggaruk kepala nya yang tak gatal dengan senyum masam.
Ibnu terkekeh kemudian menarik tangan Nana, " Sudah lah, ayo.. Ada yang ingin aku tunjuk kan sama kamu " Ucap Ibnu semangat.
Nana yang sejujur nya tak pandai bohong binggung mau alasan apa lagi, kini gadis itu hanya pasrah di bawa Ibnu menaiki tangga menuju lantai atas.
Tangga yang di pijak mereka berdua di lapisi karpet merah, dengan ukiran warna hitam dan emas. Tidak meninggalkan kesan mewah sedikit pun, Nana yang melihat itu tersenyum kecut.
" Orang kaya mah enak menghambur hamburkan uang nya lewat properti " Gumam Nana tersenyum kecut merasa miris dan juga insecure, padahal dia termasuk orang kaya.
•••
__ADS_1